Distorsi makna ibadah dan kemunduran umat

Pengantar

Sungguh sebuah kenyataan yang memilukan apabila kita membandingkan kondisi umat islam dulu dan sekarang. Dulu mereka maju, jaya dan menguasai dunia, sehingga raja-raja Eropa meratap meminta uluran tangan dan belas kasihan kaum muslimin untuk meminta perlindungan di bawah naungan khilafah islamiyah. Umat islam mundur dan terpecah belah sehingga menjadi santapan empuk bagi Negara-negara kafir. Kondisi ini memang sudah diprediksi oleh Rasulullah tercinta. Beliau menyatakan bahwa kondisi ini terjadi karena umat ini telah terjangkit penyakit wahn, yaitu hubbuddunya (cinta dunia) wa karohiyatul maut (dan takut mati di jalan Allah). Penyebab penyakit wahn ini adalah terpisahnya umat dari islam yang utuh, termasuk salah satunya dalam hal pemahaman tentang makna ibadah dalam islam.

Tulisan ini dibuat untuk memaparkan bagaimana distorsi makna ibadah sebagai sumber penyakit wahn telah menyebabkan umat ini mundur. ”Sesungguhnya umat ini tidak akan bisa meraih kemuliaannya kecuali dengan apa-apa yang telah menyebabkan para pendahulunya menjadi umat yang mulia”.

Kesempurnaan Islam

Islam secara umum berarti berserah diri secara total, tunduk dan patuh sepenuhnya hanya kepada seluruh aturan Allah. Dalam Al-Quran Surat Al-An’am 162-163, telah dinyatakan bahwa : “Katakanlah (Muhammad) : sesunggguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)”. Hal ini menegaskan bahwa apabila kita mengaku sebagai seorang muslim berarti kita harus tunduk dan patuh dengan penuh keikhlasan untuk menerima dan menjalankan seluruh aturan-aturan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam menjelaskan kesempurnaan islam, Imam syahid Hasan Al-Banna menyatakan bahwa : “Islam adalah sistem yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan ummat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih”. Penerapan Islam sebagai sistem yang mencakup seluruh aspek kehidupan (minhajul hayah) inilah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Hal tersebut tercermin dari pernyataan Abu Bakar r.a : “Seandainya tali unta ku hilang, niscaya aku mendapatkan (jawaban/hukumnya) dalam Kitabullah”. Islam yang mereka amalkan adalah islam yang utuh bukan islam yang parsial.

Ibadah dalam Islam

Sesungguhnya Allah telah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat 56 dinyatakan : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Kata ibadah mengandung makna ; ketaatan, kepatuhan, ketundukan, kecintaan, dan kepasrahan. Ibnu Taymiyah mendefinisikan ibadah sebagai : “suatu istilah yang menyeluruh dan mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah, baik yang zhahir atau pun bathin”. Dari definisi ini kita dapat menyimpulkan bahwa segala aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan ini yang bertujuan untuk memperoleh kecintaan dan keridhoan dari Allah adalah ibadah. Dakwah kepada Allah adalah ibadah, meneguhkan agama Allah adalah ibadah, jihad fi sabilillah adalah ibadah, dan semua amalan yang mendukung pelaksanaan ibadah adalah ibadah. Jadi, makan dan minum kita, bila diniatkan agar lebih kuat lagi dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah termasuk ibadah. Mengkaji ilmu oleh seorang mahasiswa adalah ibadah, bila ia berniat untuk kemuliaan islam dan kaum muslimin. Bekerja juga beribadah, bila diniatkan berkhidmah untuk kaum muslimin serta mewujudkan kemandirian serta menjauhkan diri dari sesuatu yang haram dan syubhat. Menikah dengan segala konsekuensi nya juga termasuk ibadah, jika diniatkan untuk menjaga diri dari perzinahan dan mewujudkan rumah tangga muslim yang menghasilkan generasi muslim teladan. Olahraga juga termasuk ibadah, bila diniatkan agar memiliki kekuatan jasmani agar ia mampu mengemban amanah dakwah. Begitulah, pada hakikatnya seluruh aktivitas kaum muslimin yang orientasi nya untuk Allah adalah bernilai ibadah.

Syarat diterimanya Ibadah

Pada hakikatnya Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Allah memerintahkan kita beribadah kepada-Nya demi kebaikan dan kemaslahatan kita. Oleh karena itu, syarat diterimanya ibadah seorang hamba adalah ikhlas lillahi ta’ala (memurnikan seluruh orientasi dan tujuan hanya kepada Alllah) dan mengikuti syariah Allah dan Rasul-Nya. Prinsip ini merupakan esensi dari syahadatain.

Distorsi Makna Ibadah

Ketika makna ibadah menyempit dan terbatas pada ibadah mahdhoh saja seperti sholat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain, maka konsep ibadah dalam islam terpisah dari semua aspek kehidupan. Akibatnya, muncul suatu tembok pemisah yang menjadi penghalang kemajuan ummat. Dengan terjadinya distorsi makna ibadah seperti ini, umat islam berpaling dari memakmurkan bumi, karena dianggap bukan ibadah. Tidak sedikit umar islam yang merasa telah berislam secara kaffah bila telah melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa, berzakat, dan menunaikan haji. Padahal masih banyak seali kebaikan lain yang merupakan bentuk-bentuk ibadah yang masih harus dilakukan, seperti mendidik dan membina generasi muda menyiapkan sumber daya manusia unggulan, mengentaskan kemiskinan dan kebodohan, serta program-program social kemasyarakatan lainnya. Boleh jadi pemahaman yang sempit tentang ibadah inilah yang mnyebabkan masih banyak orang yang rain sholat tapi masih korupsi, aktivis masjid tapi kalau ujian masih suka nyontek, dan lain-lain.

Kalau kita kembali ke masa lalu, Rasulullah dan para sahabatnya memahami bhwa ibadah meliputi seluruh aspek kehidupan. Rasulullah telah memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Suryani (bahasa orang Yahudi), dan Zaid mampu menguasainya hanya dalam waktu 14 hari (kita belajar bahasa inggris atau arab berapa tahun ya…???). Demikianlah generasi pendahulu kita memaknai ibadah, mereka tidak memisahkan ibadah dari seluruh aspek kehidupannya. Dan inilah yang membuat Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah sehingga mereka terukir dalam sejarah menjadi generasi terbaik.

Islam tidak memisahkan masalah dunia dan akhirat, bahkan beberapa ulama ummat ini seperti Asy-Syahid Sayyid Quthb bependapat bahwa orang yang menganggap ibadah hanya kewajiban ritual, I’tikaf di masjid dengan menjauhi dunia maka mereka adalah orang-orang yang sesat. Jauh sebelum beliau, Ibnul Qoyyim Al-Jauzy, berpendapat bahwa orang yang memisahkan ibadah dari kehidupan dunia adalah para pendusta agama. Pendapat-pendapat ini dikuatkan oleh hadits-hadits Rasulullah, salah satu hadits yang terkenal tentang hal tersebut adalah hadits tentang seorang yang dipuji karena mengisolasi dirinya di masjid untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah, namun ketika Rasulullah menanyakan siapa yang menanggung kebutuhan jasmaniyahnya, para sahabat menjawab : “kami semua yang menaggungnya” maka Rasulullah berkomentar : “kamu sekalian lebih baik darinya”.

Ketika umat islam meninggalkan makna ibadah sebagai suatu aktivitas yang melputi seluruh kehidupannya maka mereka telah mengosongkan makna ibadah itu sendiri dan telah menutupi keistimewaan islam atas agama-agama lainnya. Oleh karena itu, mengembalikan makna ibadah yang benar merupakan salah satu upaya mengangkat ummat ini dari keterpurukannya.

Wallahu a’lam bi shawab.

One thought on “Distorsi makna ibadah dan kemunduran umat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s