Waktu…

Hari ini jadikan lebih baik dari hari kemarin
Berusahalah…………
Hari esok jadikan lebih baik dari hari sekarang

Itulah sepenggal syair dari salah satu kelompok nasyid asal Bandung. Yah, itulah slogan yang seharusnya kita realisasikan dalam kehidupan nyata. Namun, pada kenyataannya, kita belum mampu atau terkadang lalai dengan waktu yang kita miliki. Terkadang, hari-hari dibiarkan berlalu begitu saja, tanpa ada karya yang kita hasilkan. Marilah sama-sama kita merenungkan akan makna sebuah waktu.

Berbicara mengenai waktu, di dalam Al-qur’an ternyata Allah SWT telah mewanti-wanti masalah waktu ini. Banyak sekali ayat al-qur’an yang berkaitan dengan waktu. Bahkan dalam beberapa ayat, Allah bersumpah demi nama-nama waktu tersebut. Seperti Wadh-dhuhaa (والضحى), Wal-ashr (والعصر), Wal-fajr (والفجر), Wal-lail (والليل), Wan-nahaar (والنهار), dan lain-lain. Dalam kaidah bahasa arab, huruf wau (و) memiliki 2 fungsi, yaitu sebagai harf jar dan harf qosam (sumpah). Harf jar berfungsi sebagai kata penghubung, memiliki arti “dan”. Sedangkan harf qosam memiliki makna “demi”. Pada ayat-ayat di atas, wau memiliki makna sebagai kata sumpah, demi. “Demi waktu Dhuha”, “Demi waktu Ashr (Demi Masa)”, “Demi waktu Fajr”, “Demi malam”, dan “demi siang”. Mengapa Allah bersumpah demi waktu-waktu tersebut di dalam quran? salah satu jawaban yang memungkinkan adalah, agar kita benar-benar memperhatikan masalah waktu. Bahkan dikatakan dalam surat Al-Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian. Ya..rugi, jika manusia tidak bisa mengatur waktunya dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Oleh karenanya, Allah sangat mewanti-wanti masalah ini.

Bahkan ada sebuah pepatah arab yang mengatakan :

الوَقْتُ كَاالسَيْف إنْ لَمْ تَقْطَعَهُ قَطَعَك

“Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak dapat mematahkannya, maka ia yang akan mematahkanmu”

Kita kembali ke awal, mengenai pembagian waktu menjadi 3, yaitu kemarin, sekarang, dan esok hari.

Kemarin………..

Kemarin telah menjadi sejarah. Kita tidak bisa mengubah apapun yang telah terjadi. Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Kita tidak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang kita rasakan kemarin. Biarkan kemarin berlalu. Introspeksilah! Catatlah kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat kemarin. Jadikan catatan ini sebagai feedback untuk melakukan perubahan yang lebih baik lagi dimasa mendatang.

Esok Hari……….
Esok hari masih misteri. Hingga mentari esok hari terbit, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Kecuali, kita telah merencakannya pada hari sebelumnya dan melihat kembali catatan-catatan kesalahan kita di hari selemunya. sehingga kita tidak jatuh pada ‘lubang’ yang sama untuk kedua kalinya. Kita tak tahu apakah esok kita akan merasakan kesenangan atau kesulitan. Atau bahkan, kita tak tahu apakah kita masih dapat melihat mentari esok hari terbit, apakah kita masih dapat menghirup gas oksigen, apakah kita masih dapat melihat pemandangan yang indah? Esok hari
belum tiba, rancanglah hari esok agar menjadi lebih bermakna, agar menghiasi catatan kehidupan dengan penuh warna.

Rencanakan kerja anda...kerjakan rencana anda..

Sekarang…………

Yang tersisa kini hanyalah hari ini. Ya, hari ini……. Apa yang akan kita lakukan hari ini? Pintu masa lalu telah tertutup, pintu masa depan belumlah tiba. Pusatkan saja diri kita untuk hari ini. Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila kita mampu memaafkan kemarin, dan melepaskan ketakutan esok hari. Lakukan yang terbaik hari ini. Hindari kesalahan-kesalahan kemarin terulang kembali hari ini. Berusahalah..!! Berusahalah semampu kita, dan sekuat tenaga kita. Warnai catatan hari ini dengan catatan kebaikan. Jangan biarkan hari ini berlalu tanpa makna. Gapailah ‘mimpi-mimpi’ melalui hari ini!

Dan ketahuilah………….
Waktu ibarat sehelai kertas kehidupan yang harus ditulis dengan deretan kalimat kerja dan prestasi. Kita akan merasakan kehampaan yang luar biasa apabila waktu yang dilalui tidak diisi dengan kreasi. Kalimat kerjanya terputus, atau bahkan kita akan merasakan kekosongan jiwa apabila ada waktu yang kosong serta tidak memiliki nilai apapun. Bila sampai saat ini kita berumur 19 tahun, seharusnya ada 19 jilid kehidupan yang berjudul nama kita. Setiap jilid terdiri atas 12 bab, 365 halaman, dan setiap halaman terdiri atas 24 baris atau sedikitnya 8760 setiap jilidnya. Apakah baris-baris itu penuh dengan cerita yang mengasyikkan (exciting), kisah tentang persaingan, kisah tentang perjalanan menuju perpustakaan, diskusi, membaca, ibadah, dan lain-lain, ataukah hanya sederetan kisah tentang tidur, sakit, atau bermalas-malasan. Atau setiap lembarnya justru kosong tidak berisi tulisan apapun! Lantas, bagaimana kita akan berkata pada para pembaca kehidupan kita bila setiap lembarnya penuh dengan kertas kosong?

Sekali saja kehidupan datang
Sesudah itu kematian menghadang
Sekali saja kematian datang
Sesudah itu perpisahan panjang

Hidup tidak untuk melawan kematian
Tapi menyiapkan hidup sesudah kematian
Diantara puing-puing hati yang perih
Kita haturkan harap
Semoga Allah memaafkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s