Balada sebuah nama

Sudah lama rasanya tidak menulis di blog ataupun di notes. Baiklah kali ini saya hanya sekedar ingin sedikit cerita tentang sebuah nama.

Awalnya saya mengira nama saya ini tak akan menimbulkan masalah ataupun pertanyaan. Namun, belakangan ini nama yang diberikan oleh sang kakek ini, menimbulkan beberapa pertanyaan dan sedikit masalah.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul seputar nama saya adalah tentang arti nama dan pemenggalan nama. Tapi yang ini Alhamdulillah dapat dijelaskan dengan mudah karena kebanyakan dari mereka adalah orang Indonesia (penanya) yang notabene sudah tau tentang negerinya sendiri dan juga bagaimana orang-orang dari berbagai etnis/suku memberikan nama pada anak-anak mereka. Seperti orang Medan yang memberi nama lalu diikuti nama marganya dan nama marga tersebut diambil dari silsilah keluarga kerajaan. Atau orang Makasar yang memberikan nama pada anaknya dengan nama kehormatan. Ada juga yang memberikan nama yang memiliki arti tertentu karena nama juga berarti doa orang tua untuk anaknya, atau juga mengikuti nama para tokoh islam atau tokoh lainnya. Namun, ada juga etnis/suku yang tidak memberikan nama keluarga atau marga pada nama anaknya, seperti suku Jawa. Sebenarnya saya tidak terlalu nama saya masuk kategori yang mana. Dikatakan masuk kategori mengikuti nama tokoh, iya. Dikatakan masuk kategori yang memiliki makna juga iya. Dan nama saya hanya terdiri dari satu kata, tanpa nama keluarga (family name) seperti nama bapak saya. Dan hal ini saya ketahui ketika menjelang lulus SD, saat itu saya menanyakan langsung kepada bapak saya, mana diantara nama saya yang benar. Dan beliau menjawab yang satu kata itu (tanpa pemenggalan) yang benar, kemudian menunjukkan akte kelahiran kepada saya. Padahal di daftar hadir SD tertulis “Hadi Yawarman”, sedangkan di daftar hadir madrasah ibtidaiyah “Hadiya Warman”.

Saat hari-hari pertama di negri gingseng ini, nama saya dianggap terdiri dari 2 kata dengan pemenggalan sebagai berikut : “Hadiya” dan “Warman” dan beberapa dari mereka menganggap family name saya adalah “warman”. Wajar jika mereka menganggap demikian karena beberapa alasan. Pertama, ID email yang saya gunakan adalah “warman”, entah itu email di yahoo, gmail, atau yang lainnya. Semuanya menggunakan kata “warman”. Sebenarnya alasan saya menggunakan “warman” sebagai ID email adalah tidak lebih karena ingin numpang beken. Banyak nama-nama raja dalam sejarah kebudayaan Indonesia yang menggunakan kata tersebut pada namanya. Belakangan ketika saya berbincang dengan seorang mahasiswa post-doctoral dari India, saya mengetahui darinya bahwa kata “warman” berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki arti “raja”. Jadi wajar saja jika pada raja zaman dahulu menggunakan kata tersebut pada namanya. Nah, maksud saya menggunakan nama tersebut sebagai ID email saya adalah supaya ‘dianggap’ ada keturunan raja. Padahal saya sendiri tidak tahu, apakah saya ini keturunan raja atau bukan dan itu tidak terlalu penting buat saya.

Alasan kedua, yang menurut saya sangat wajar adalah, kebiasaan orang Korea dalam memanggil nama. Mungkin kita semua sudah pernah menonton drama-drama Korea, dan sedikit tau bagaimana mereka memanggil nama teman mereka. Misalkan ada seorang Korea bernama Eun-Byul (은 별), maka dalam pergaulan, temannya akan memanggil Eun-Byula (은별아), seperti ada huruf ‘a’ yang ditambahkan di akhir namanya. Nah, begitu pula dengan saya. Salah satu professor saya pernah memanggil saya “Hadiya”. Mungkin bagi mereka lebih mudah memanggil seperti itu. Tapi tak apalah. Ini analisis pribadi aja sih sebenarnya, terlepas dari benar atau tidaknya.

Sampai suatu ketika, salah satu labmate saya bertanya kepada saya, “what is your family name?”. “I don’t have any” jawab saya. Dia pun sempat terkejut. Karena pada umumnya seseorang memiliki “family name” dan “given name”. Kemudian saya jelaskan kepadanya tentang kebiasaan orang Indonesia dalam memberikan nama anak-anaknya. Setelah kejadian itu, saya katakan kepadanya bahwa saya akan memberikan family name pada anak saya nanti. Akhirnya terlintaslah beberapa nama dengan family name “hadi”. Namun, untuk saat ini saya harus bersabar untuk memberikannya pada anak saya. Kenapa? Karena saya harus mencari ibunya terlebih dahulu, “ibunya anak-anak”, mencari tulang rusuk yang paling bengkok yang entah terjatuh dimana dan hilang entah kemana….Hwehehehe…. OK..pembahasan yang ini cukup sampai di sini, mari kembali ke pembahasan pokok mengenai nama.

Beberapa bulan setelah itu, timbul sedikit masalah. Masalahnya tidak terlalu besar, tapi cukup membuat saya bingung dan tertawa sendiri (karena memang belum ada yang bisa diajak bingung dan tertawa bersama…hahahaha…). Kejadian ini diawali ketika penulisan manuscript untuk paper pertama saya dengan topik graphene-ZnO nanostructures. Saat itu labmate saya yang bekerja sama dengan saya dalam penulisan manuscript bertanya mengenai family name saya. Dan seperti biasa, lagi-lagi saya harus menjelaskan kepadanya tentang hal ini. Dan akhirnya diapun memahami dan meletakkan hanya given name saya di manuscript tersebut. Setelah itu tidak ada masalah yang berarti.

Ketika manuscript sudah semakin mendekati sempurna dan sudah siap untuk di-submit, timbul masalah. Ya, masalahnya adalah family name saya. Hari itu, selasa 14 September 2010, jadwal saya untuk lab meeting di HUFS dan otomatis saya tidak di Lab SNU. Hari itu ada jadwal ‘makan malam gratis’ bersama professor di salah satu rumah makan di daerah Seohyeon station (서 현역). Setelah selesai acara saya langsung pulang, lalu sholat maghrib dan stand by di depan laptop sambil menanti film dokumeter tentang UFO (Unidentified Flying Object) selesai diunduh dan azan isya berkumandang dari laptop. Sekitar jam 9 malam waktu Korea, HP berdering.  Kulihat di layar HP, nama labmate tersebut muncul dengan Hangeul yang dulu ia tulis sendiri. Dan terjadilah percakapan.

H : Hallo

K : Hi Hady, this is Yongjin

H : yup, what’s the matter?

K : right now, I try to submit our manuscript from website and it requires you family name. I already tried without it, but it should be filled by your family name.

H : hah? Really? But, I don’t have family name. How’s that?

K : hahahaha… yeah, I know. But it needs to be filled.

H : 어떻게요?

K : ahahahaha… So, what family name do you want?

H : hah?

Kok dia bertanyanya begitu ya? Menarik juga sih…hmmm…Emang boleh milih gitu? Hahaha…Pikiran saya langsung melayang-layang mencari family name yang pas, tepat, pantas, dan enak di dengar. Seketika itu pula saya memutuskan untuk mengirim family name saya via email malam itu juga.

Sejurus kemudian kertas kosong dan pulpen sudah ada di depan saya. Mulai mencorat-coret kombinasi apa yang pas (masih berpikir main-main). Setelah itu, teringat dengan kejadian yang sama menimpa salah satu dosen saya, dan waktu itu dosen tsb menggunakan nama bapaknya sebagai family name. Tanpa pikir panjang, langsung saya gabungkan nama bapak dengan nama saya. Tapi, kok kedengerannya kurang enak ya?…hmmm…tapi mau gimana lagi, tidak ada pilihan lagi selain itu. Ah, dapet ide, mungkin bapak saya punya nama kecil. Segera saya ambil HP dan menelpon ke HP bapak saya. Namun sayang, tidak cocok juga. Akhirnya saya kirimkan saja apa adanya via email. Setelah pesan terkirim, pertanyaan labmate saya tadi masih terngiang-ngiang, “what family name do you want?”. Masih penasaran, dengan pertanyaan yang konyol, emangnya boleh milih sendiri? Dan muncullah ide gila itu di sini, family name apa yang cocok untuk saya?

Pertama-tama marilah kita tuliskan satu persatu nama-nama orang korea yang sering di dengar dan lazim digunakan. Hmmm…dari beberapa teman Korea yang saya kenal, tersebutlah beberapa nama : Kim, Park, Lee, Yoo, Hong, Chung, Baek, dsb. Namun, jika nama itu disandarkan di depan nama saya, rasanya kurang cocok. Atau malah ga sedap dan ga enak didengar. “Kim Hadi”, “Park Hadi”, “Lee Hadi”. Tak ada satupun yang cocok. Pengguna nama-nama tersebut (sepertinya) harus bermata sipit, tidak berjenggot, tidak berjambang panjang dan berkulit sangat cerah. (mulai bermain fisik). Berarti mengambil salah satu nama tersebut sama sekali tidak cocok buat saya. Hmmm..lalu apa ya? Pikiran ini terus melayang-layang, mencari-cari nama yang pas sembari menunggu unduhan film beres. Kali ini bukan hanya menunggu unduhan film, sekalian liat OVJ di youtube. Aha… teringat ada satu teman korea yang kelihatannya cocok kalo dijadikan family name buat saya. Teman saya ini bernama Kang Ina. (Family name : Kang). Hmmmm… Kalo “Kang Hadiyawarman” ini baru cocok… pas… sempurna…perfecto… bwahahahaha… (tertawa puas) mengingat zaman di kampus gajah duduk dulu sering dipanggil dengan sebutan ini oleh junior. Bahkan di Korea pun terkadang ada saja yang memanggil saya dengan sebutan itu. Wekekeke… hmmm…kalo dipikir-pikir, saya ini kan bukan orang sunda? Saya dari suku jawa (walaupun ada yang tidak percaya kalo saya orang jawa)…atau haruskah saya menjadi orang sunda terlebih dahulu? (semakin malam, semakin gila). Ok kalo gitu, gimana kalo diganti dikit jadi “Mas”. Halah…cocok sih, tapi orang Korea ga ada yang punya family name “mas”. Bahkan untuk sekedar mengucapkannya saja tidak bisa, paling banter mengucapkan “mas” jadi “maseu” (마스). Hmmm…. Jadi kesimpulannya yang cocok hanya family name “Kang” (강). Kemudian saya membayangkan, bagaimana kalau ini saya beritahu kepada labmate saya itu yah? Kira-kira apa reaksi dia?

– Yongin, Kyounggi-do, South Korea-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s