Makna dibalik sebuah doa, Doa Pernikahan

Sepanjang tahun 2010 ini tercatat lebih dari 20 teman saya telah menggenapkan setengah agamanya. Setengah agama? Ya, setengah agama. Karena yang yang ‘setengah’ ini memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembangunan dan pembinaan sebuah generasi pengganti. Sebuah proses yang sangat panjang, karena lebih dari setengah ‘jatah’ perjalanan hidup kita di dunia ini mengemban amanah ini. Dalam prosesnya kita dituntut tidak hanya sekedar berteori di depan anak kita (nantinya), tetapi juga sekaligus mengamalkan dan memberi contoh kepada mereka mana yang patut untuk ditiru dan mana yang tidak. Jadi, ini bisa dikatakan merupakan salah satu parameter penting dalam menilai seberapa baik agama seseorang.

Nah, berkaitan dengan hal itu, karena sampai saat ini saya hanya bertindak sebagai pengamat (mengamati pernikahan-pernikahan teman-teman :D) saja, saya jadi terpancing untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pernikahan ini (sebagai sarana pembelajaran dan persiapan tentunya), terutama mengenai sebuah doa yang seringkali kita ucapkan kepada kedua mempelai saat walimatul ursy dilaksanakan atau saat menuliskan RSVP di facebook’s event invitation. Sebuah doa yang diucapkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah di dalam Sunan At-Tirmidzi (1/316) yang bebunyi :

ٍبَارَكَ اللهُ لَكُمَا وَ بَارَكَ عَلَيكُمَا وَ جَمَعَ بَينَكُمَا فِى خَير

Doa di atas sering diterjemahkan sebagai berikut :

“Semoga Allah memberkahi kalian dan memberi berkah atas kalian serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”

Sekilas, terjemahan di atas sudah tampak benar. Akan tetapi, dari terjemahan tersebut, kita belum mengetahui apa makna sebenarnya yang terkandung dalam doa walimah tersebut. Kalo kita melihat pada struktur kalimatnya, kita akan mendapati adanya perbedaan yang sangat tipis, yaitu preposisi atau penggunaan huruf lam (اللام) pada rangkaian kalimat pertama, dan huruf  ‘alaa (على) pada rangkaian selanjutnya yang keduanya disematkan pada kata Baraka (بارك). Apa sebenarnya perbedaan makna antara rangkaian kalimat pertama dan kedua, antara “memberkahi kalian” dan “memberi berkah atas kalian”?

Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikiiiiiit saja (ga banyak kok..hehehe.. :D) mengenai makna tersembunyi dibalik dua kalimat tersebut.

Pembaca yang budiman (Pak Budi dan Bu Diman :D), preposisi اللام  secara harfiyyah artinya memang bisa diterjemahkan sebagai ‘pada’ dan adapun على dapat diterjemahkan sebagai ‘di atas’. Akan tetapi, jika kedua preposisi tersebut digunakan dalam satu kalimat secara bersamaan, makna preposisi tersebut tidak bisa lagi diterjemahkan secara harfiyyah’ pada’ atau ‘di atas’ lagi. Namun, makna اللام menunjukkan makna yang baik, sedangkan على menunjukkan makna yang buruk. Oleh karena itu, jika memperhatikan hal ini, maka doa walimah di atas bisa diterjemahkan menjadi (sedikit) panjang seperti berikut ini:

“Semoga Allah memberkahi kalian (dalam setiap kebaikan yang terjadi di dalam rumah tanggamu) dan memberi berkah atas kalian (dari setiap keburukan atau prahara rumah tangga yang menghampirimu) serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”

Nah, karena konteks kalimat di atas adalah dalam konteks pernikahan, maka sedah pasti dalam mengarungi bahtera rumah tangga, pastinya akan ada kondisi dimana kita merasa senang/bahagia/harmonis dan ada pula kondisi dimana kita merasa susah/sedih/prahara karena satu dan lain hal.

Hal ini membawa pelajaran penting bagi setiap orang yang akan menikah, sudah sepatutnya mereka benar-benar mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Dari doa Rasul tersebut, dan dengan memahami makna penggunaan preposisi اللم dan على, Rasulullah sudah mengisyaratkan dalam rumah tangga yang akan dihadapi tidaklah selamanya dalam keadaan yang bahagia dan harmonis. Setelah menikah nanti, seorang istri akan melihat sisi lain dari sang suami, yang tidak ia ketahui sebelum menikah. Demikian pula sebaliknya, sang suami akan melihat banyak hal yang tidak diketahuinya dari si istri setelah ia bergaul dengan istri beberapa hari pasca pernikahan. Pertengkaran sangat mungkin terjadi antara suami dengan istri, yang bisa muncul karena adanya kecemburuan, kesalahan dari salah satu pihak, bahkan karena adannya hal-hal sepele sekalipun. Dalam kondisi prahara ini, Nabi mengisyaratkan bahwa Allah bisa akan tetap memberi berkah pada suami istri tersebut. Bagaimana sikap suami ketika mengadapi kesalahan istri, demikian pula bagaimana istri ketika menghadapi kesalahan suami adalah hal-hal yang telah diajarkan dalam syariat Islam.

Dari penjelasan tersebut di atas jelaslah bahwa anggapan bahwa rumah tangga selamanya 100% akan harmonis, tanpa ada perselisihan dan pertengkaran adalah anggapan yang keliru. Bagi yang sudah menikah, tentu sudah mengetahui hal ini. Nabi kita yang mulia, memberi gambaran kepada kita tentang sifat bagi wanita bahwa mereka adalah kaca-kaca, sebagaimana dalam sabdanya,

ارفق بقوارير

“Lembutlah kamu kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)”

Dalam kitab Fathul bari, dijelaskan bahwa wanita disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridho menjadi tidak ridho, dan karena tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran), sebagaimana kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan.

Bahkan, Nabi sendiri juga menjelaskan bahwa sangat memungkinkan suami akan mendapati hal-hal yang tidak ia kehendakai pada istrinya, tetapi hal tersebut Nabi larang dijadikan alasan untuk membenci istrinya tersebut, sebagaimana dalam sabda beliau

لايفرك مؤمن مؤمنة إن كره منها خلقا رضي منها اخر

Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya). Jika ia membenci sebuah sikap (akhlak) istrinya, maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain)”

hmmm…Penulis jadi teringat sebuah kisah tentang Aisyah yang membanting piring di depan tamu Rasulullah. Ketika itu seorang tamu datang bertamu ke rumah Rasulullah dan salah satu istri Rasulullah menyuguhi tamu tersebut dengan hidangan. Sampai suatu saat ditengah hangatnya perbincangan, ketika tangan sang tamu tersebut hendak mengambil hidangan yang tersedia di atas piring, tiba-tiba Aisyah datang dan membanting piring tersebut. Namun, Rasulullah dengan tenang berkata kepada tamunya, “ibu kalian sedang cemburu”. Begitulah kehidupan rumah tangga (nih penulis kayak yang udah pengalaman aja ngomongnya begini…hehehe… :D) bahkan dalam kehidupan Rasulullah pun diwarnai dengan kecemburuan seorang Aisyah. Mungkin juga kita ingat ketika Rasulullah mengenang masa-masa dengan Khodijah, Aisyah pun cemburu.

Dengan demikian wajar jika sebuah rumah tangga itu dikatakan ‘setengah agama’ mengingat begitu berat tugas yang diemban. Dan doa pernikahan yang sering kita dengar tersebut, ternyata doa yang sangat ringkas namun syarat akan makna, padat dan berisi.

Mungkin segitu aja dulu bagi-bagi ilmunya. Semoga bermanfaat bagi para pembaca terutama bagi pembaca yang masih ‘ganjil’ (belum genap, single = ganjil, double = genap… hehehe…just kidding :D).

5 thoughts on “Makna dibalik sebuah doa, Doa Pernikahan

  1. “Baarokallah laka wa baaroka ‘alaika wajama’a bainakumaa fii khoir..”
    Hemmm, tak prnah trfikir sblumnya bahwa do’a trsebut memiliki makna sedahsyat itu..
    Alhamdulillah dapet ilmu baru.,
    Aigoo,, nampaknya ust, Hadi sudah sangat amat begitu siap ni..:p
    so, onje..??? he,:D
    ‘ala kulli hal, smoga dipermudah urusan jodohnya.. amiiin,

    Like

  2. Hemmm, ye, arasseo.. onde-onde *nama sjenis kue.. 😀
    btw tulisan ni g da marojihnya y? wah, brarti bner2 hasil analisa pribadi,.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s