Eid Adha (part 2)

16 November 2010, 08:30 WKS

Tak seperti di Indonesia, di sini tidak terdengar suara takbir. Dan juga tak seperti di Indonesia yang hanya berjalan kaki menuju Masjid terdekat dengan mengenakan alat sholat lengkap, di sini saya harus menempuh perjalanan selama 30 menit menggunakan bus hijau (no. 60) menuju Masjid Gwangju dengan mengenakan pakaian lengkap musim dingin (jaket tebal, sepatu, kupluk, dan sarung tangan) yang dipadu dengan Baju Batik (baju koko nya ga kebawa pas berangkat ke Korea…hehehe… 🙂 ). Saat saya keluar rumah, suhu di luar saat itu tidak jauh dari nol derajat celcius. Tetapi tidak menyurutkan langkah menuju Masjid untuk sholat Id bersama jamaah lain.

Berkenaan dengan sholat Id ini sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum melaksanakan sholat Id tersebut. Ada ulama yang berpendapat bahwa sholat id hukumnya wajib dengan (salah satu) dalil berikut ini

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.” (HR. Muslim no. 890, dari Muhammad, dari Ummu ‘Athiyah.)

Ada pula Ulama (Imam Syafi’i) yang berpendapat bahwa hukum sholat id adalah sunnad muakkad dengan dalil berikut ini (salah satunya).

Dari Thalhah bin Ubaidillah, ia berkata : Telah datang seorang laki-laki penduduk Nejed kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepalanya telah beruban, gaung suaranya terdengar tetapi tidak bisa difahami apa yang dikatakannya kecuali setelah dekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Shalat lima waktu dalam sehari dan semalam . Ia bertanya lagi : Adakah saya punya kewajiban shalat lainnya ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja . Beliau melanjutkan sabdanya : Kemudian kewajiban berpuasa Ramadhan . Ia bertanya : Adakah saya punya kewajiban puasa yang lainnya ?. Beliau menjawab : Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja . Perawi mengatakan bahwa kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan zakat kepadanya. Iapun bertanya : Adakah saya punya kewajiban lainnya ?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Tidak, kecuali hanya amalan sunnah saja . Perawi mengatakan, Setelah itu orang ini pergi seraya berkata : Demi Allah, saya tidak akan menambahkan dan tidak akan mengurangkan ini . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Niscaya dia akan beruntung jika ia benar-benar. (Muttafaq ‘alaih)

Tapi bagi saya, lebih baik melaksanakan daripada tidak. Oleh karena itu, saya berusaha untuk selalu meminta izin kepada professor untuk sholat Id bagaimanapun kondisinya. Karena seharusnya ketika kita mendengar kata “sunah” untuk sebuah hukum ibadah, yang seharusnya terlintas di pikiran kita adalah “berarti kalau saya kerjakan akan mendaptkan pahala yg besar“, instead of “kalau gitu ditinggalkan tidak apa-apa“.

Masjid Gwangju (광주 사원)

Masjid Gwangju, 09:00 WKS

Suasana di masjid pun tidak sama dengan di Indonesia, tidak terdengar kumandang takbir di dalamnya. Saya bisa memaklumi hal ini karena beberapa hal. Pertama, saya teringat dengan sholat Idul Fitri 2009 di KBRI. Saat itu kebetulah saya menjadi panitia. Dan ketika briefing malam hari, seorang pekerja di KBRI mengatakan untuk bisa takbiran saja harus meminta izin dari gedung-gedung di sekitarnya. Mereka merasa terganggu dengan ‘kebisingan’ yang kita buat. Kedua, jika memang alasan pertama benar terjadi di masjid Gwangju, sepertinya takbiran di dalam masjid tanpa TOA pun bisa. Tapi ini tetap tidak ada. Jadi kemungkinan kedua adalah terkait kebiasaan dari imam masjid tersebut. Kebetulan imam masjid Gwangju ini berkebangsaan Pakistan yang bisa sedikit berbicara Indonesia (hanya kalimat “apa kabar?”), sedikit bisa berbahasa Arab (namun ketika saya ajak berbicara bahasa Arab, beliau tidak bisa menjawabnya), dan sedikit bisa berbahasa inggris (ketika saya coba dengan bahasa Inggris, juga tidak bisa berkata banyak). Ya, cuma sedikit. Yang banyak adalah bahasa Urdu. Atau mungkin juga karena alasan yang ketiga, mungkin ada madzhab yang mereka anut dan saya tidak ketahui mengenai ini. But anyway, I just read Quran instead of Takbir.

09:30 WKS

Sang imam naik mimbar dengan membawa dua buah kitab (kitab tebal yang saya rasa itu adalah kitab Fadha’il Amal dalam bahasa Urdu dan kitab tipis yang isinya dalam bahasa Arab) dan selembar kertas. Yang pertama beliau sampaikan kepada jama’ah adalah membacakan isi salah satu bab dari kitab yang tebal. Terus terang saya tidak paham apa yang beliau sampaikan, karena beliau menyampaikannya dalam bahasa Urdu. Jadi pada bagian ini, otak saya mengawang-awang tidak fokus. Namun, saya mencoba menebak-nebak, sepertinya beliau menyampaikan tentang kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, karena dari isinya, beliau menyitir ayat Qur’an tentang peristiwa Nabi Ibrahim mendapat wahyu melalui mimpi. Setelah beberapa menit berlalu, beliau meletakkan kitab tersebut, dan kali ini membacakan tulisan yang ada di beberapa lembar kertas tersebut. Masya Allah, rupanya itu berbahasa Inggris. Dan sepertinya ini adalah khutbahnya. Tidak terlalu jelas apa yang beliau ucapkan dari kertas tersebut. Tetapi pada intinya, beliau mengucapkan tahni’ah dalam bahasa inggris dan diikuti dengan beberapa materi. Jadi ternyata yang beliau bawa itu, semuanya dalam 3 bahasa berbeda.

Setelah itu, beliau menyampaikan sedikit panduan dalam sholat Id yang akan dilaksanakan. Namun, lagi-lagi, saya tidak mengerti apa yang beliau sampaikan. Karena beliau menyampaikannya dalam bahasa Urdu. Sama sekali tidak mengerti. Setelah itu beliau berdiri dan berjalan menuju tempat imam, menandakan akan dimulainya sholat Id tepat pada pukul 10:00 WKS. Dan sholatpun dimulai.

Saat imam takbir, saya tidak menaruh rasa apapun. Hanya rasa syukur dan senang yang saya rasakan karena bisa sholat Id berjamaah di masjid terdekat setelah kemarin diizinkan oleh Professor. Alhamdulillah. Namun selanjutnya, saya merasa ada yang aneh. Takbiratul ihram pada rakaat pertama tidak sebanyak 7 kali. Saya heran. Dan ini sempat mengganggu konsentrasi saya kepada sholat. Saat itu, saya mencoba menenangkan otak saya dengan sebuah kalimat “Saya seorang ma’mum, dan beliau adalah imam. Maka seharusnya saya mengikuti beliau dalam gerakan sholat.” Alhamdulillah otak ini kembali tenang selama rakaat pertama.

Memasuki rakaat kedua, saat imam kembali bangkit dari sujudnya. Kembali otak saya tidak tenang. Rakaat kedua ini tidak ada takbir sebanyak 5 kali seperti yang biasanya saya lakukan saat sholat Id di Indonesia. Namun kembali saya mencoba menenangkan dan berusaha berkonsentrasi dengan sholat saya. “Beliau seorang yang di awal tadi saya sepakat beliau adalah imam saya dalam sholat Id ini. Beliau tau dan sadar apa yang beliau lakukan. Tak mungkin beliau berbohong dalam gerakan sholat.” Mencoba kembali konsentrasi dengan taujih robbani yang beliau bawakan dalam sholatnya. Setelah surat pendek selesai dibaca, kembali saya terkejut dan otak kembali tidak tenang. Takbir yang biasanya saya lakukan setelah bangkit dari sujud di awal rakaat kedua ini, ternyata dilakukan sebelum ruku pada raka’at kedua. Belum pernah saya mengalami ini. Di sini terjadi pertentangan hebat dalam otak, “Should I end this prayer or continue? Cuz I don’t have any basic or any idea what he did right now. I know nothing about this kind of prayer. Even if this is another madzhab that he used, I never heard of such prayer before. Astaghfirullah“. Tetapi kembali saya teringat sebuah tausiyah dari Mudir Ma’had dulu saat masih jadi seorang santri, “Kalau kita jadi ma’mum dalam sholat, kita ikut gerakan imam. Imam Qunut, kita qunut. Iman ga pake qunut, kita juga ga pake qunut selain karena qunut itu juga berbeda pendapat di kalangan para ulama“. Benar-benar sholat id yang luar biasa heboh buat saya pribadi. Akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan sholat dan kembali berkonsentrasi. Dan sholatpun berakhir dengan menyisakan sebuah PR besar yang harus saya peajari. Adakah perbedaan di kalangan ulama tentang tata cara sholat Id? Haruskan saya belajar bahasa urdu?

Selesai sholat, imam kemudian bangkit lagi menuju mimbar dan kembali berkhutbah. Kali ini menggunakan kitab yang tipis dan disampaikan dalam bahasa arab. Masih terngiang dalam pikiran saya, ini sholat id ‘teraneh’ yang pernah saya lakukan. Tetapi orang-orang di sekitar saya tidak banyak ‘protes’. Berarti bisa diambil sebuah kesimpulan sementara bahwa tata cara sholat Id seperti ini, bagi mereka adalah hal yang biasa. Hanya saya sepertinya yang tidak biasa.

Sempat juga saya mencari hikmah dari sholat Id hari ini. Bayangkan saja, dalam pelaksanaan sholat dengan gerakan yang mengikuti imam saja, ketika terjadi perbedaan pahamyang kita tidak tau alasannya, kadang kita tidak setuju dan bahkan tidak sedikit pula ada rasa jengkel di hati. Apalagi terhadap pemimpin lain (selain pemimpin sholat, imam -red), yang kita juga kadang tidak tau alasan pemimpin tersebut melakukan suatu hal. Ya, mungkin ini adalah salah satu hikmah diantara beberapa hikmah lainnya dari kejadian hari ini.

Benar-benar pengalaman yang sangat berharga. Dan pada akhirnya, kembali saya harus menyusun puzzle yang belum sempurna ini. Banyak hal yang belum saya ketahui. Oleh karena itu, saya masih harus terus memaksa diri ini belajar dan belajar dan belajar. Terima kasih ya Rabb atas nikmat yang telah Engkau berikan dan atas pelajaran berharga hari ini. Kembali saya harus membuka kita Fiqh Sunnah dan kitab-kita lain, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan hari ini. Mungkin ini juga sebagai penyeimbang paper-paper (tentang riset) yang saya baca. Supaya jangan baca paper mulu, bacaannya ganti dikit ama yang laen. 😀

Yongin, Korea Selatan

2 thoughts on “Eid Adha (part 2)

    1. Hasrul :

      Subhanallah, ternyata sama persis pengalaman solat iednya dengan saya.
      Di Cheonan, imamnya dari Pakistan, dan persis sama seperti itu.

      hohoho..ternyata benar….mereka menganut madzhab yang berbeda. Tapi bener2 saya ga tau madzhar siapa yang mereka ikuti. Karena terus terang belum pernah denger sebelumnya tata cara sholat Ied seperti itu…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s