Kondangan di Korea

Berawal dari sebuah obrolan ringan tentang perkembangan riset di sebuah lab di SNU, tiba-tiba saja dikejutkan oleh sebuah kalimat yang meluncur dari bibirnya “Do you know that I will get marry this month? I will let you have the invitation letter”. Wow…tak disangka rekan kerja saya bakal naik ke pelaminan di bulan ini. Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah calon pengantin wanitanya. Pastinya orang Korea dong. Dalam situasi yang lain, seorang kawan bertanya kepada saya “Do you know who is the bride?”. “I guess, she is his junior in same university”. Kebetulan mereka berdua bukanlah mahasiswa SNU (rekan kerja saya dan calon istrinya). Dan ternyata jawaban saya benar. hwehehehe….sayang tidak dapat hadiah (karena ini bukan tebak-tebak berhadiah) :D.

Amplop dan undangan

Seminggu sebelum hari-H, undangan pun tiba. Ketika sedang bertarung dengan hasil eksperimen, tiba-tiba dia memanggil saya ke ruangannya. Dan di situlah undagan itu diberikan.  Dia juga memberi tahu bahwa bulan madunya akan ke Bali. hohoho….ada sedikit rasa bangga di dada, jiwa nasionalisme seketika timbul. Akhirnya terjadilah provokasi dan promosi tentang Bali. “Pokoknya Bali itu…wuaaahh….mantap…keren lah…sebutannya aja pulan dewata”. Begitulah kira-kira provokasi dan promosi yang saya lontarkan. Tiba-tiba kawannya nyeletuk “Hady, when will you get married?”. Ini pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab. “Someday”. “You said that you will get married soon. When you get married, please bring your wife to Korea. I will let her know some nice place for you and your wife”. Hwahahaha…ternyata serangan balasan. 😀 Saya pun hanya senyum-senyum saja. Di “iya” kan saja, biar seneng. hwehehe…Setelah itu calon pengantin pun kembali berkata “Hady, do you have suggestion what place or what should I do during my honeymoon in Bali?”. hmmm….skak mat…Pasalnya, saya aja yang orang Indonesia belum pernah tuh yang namanya ke Bali. Saya pun pura-pura berfikir. Dan keluarlah jawaban “I’ll let you know later”. Malamnya saya bertanya kepada mbah, mbah google namanya. Dari situ keluarlah 4 tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi oleh pasangan yang berbulan madu. hahahaha…thanks to mbah google… 😀

***

H minus satu, tepatnya hari Jum’at, saya kaget, yang mau nikah besok hari ternyata masih eksperimen. Tampak di wajahnya raut kelelahan. Cukup aneh. Bayangkan saja, besok akan menikah, hari ini masih bereksperimen. Dan dia juga mengatakan bahwa segala sesuatu yang akan dibawanya untuk bulan madu, belum disiapkan. Waduuhh..Emang orang Korea style nya beda. Kalo di negri sendiri udah ga boleh kemana-mana. Namun, sekitar jam 2 siang dia pergi meninggalkan lab. Sebelum pergi dia berpamitan untuk ‘menghilang’ sejenak dari lab selama seminggu.

 

Sabtu, 20 November 2010

Pagi yang redup ditambah dingin yang menggigit kulit. Ada orang yang sedang kebingungan memilih kostum. Setelah bertanya kembali kepada mbah google sejenak, akhirnya dapat sedikit bayangan, mau pake kostum apa. hahaha… PSL alias Pakaian Sipil Lengkap (kemeja, jas, dasi) + jaket. Cuma sayang dasinya lupa bawa, jadi ya sudahlah, ala kadarnya aja. Lagipula emang saya ga bakat ngelipet dasi, kecuali dasi SD. Tujuan pertama adalah Lab di SNU. Berkumpul dengan lab member yang lain, lalu berangkat bersama-sama menuju TKP (Tempat Kejadian Pernikahan).

 

CSN lab member at Nakseongdae station (낙성대 역)

Perjalanan menuju TKP memakan waktu sekitar 1 jam menggunakan subway dengan rute SNU – Nakseongdae – Yangjae. Sepanjang perjalanan saya mengamati beberapa keanehan di antara teman-teman lab saya. Keanehan itu tampak seperti air dan minyak, terpolarisasi dalam 2 kutub. Cuma waktu itu belum ngeh ada apa sebenarnya. Pura-pura tidak tau saja dan tidak bertanya. Mungkin ada hal yang mereka sangat tidak ingin saya ketahui.

Selama di dalam subway, salah seorang labmate yang pernah ke Indonesia mengajak diskusi tentang bulutangkis mengingat momen saat itu adalah sedang ada ASIAN GAMES di China. Dia bercerita tentang pengalamannya bermain bulutangkis dengan orang Indonesia. Dia bilang, “bermain bulutangkis melawan orang Indonesia sangat melelahkan. Padahal saya sudah berkeringat waktu itu. Tapi saya lihat orang Indonesia tidak lelah sama sekali. Malah senang.” Dia memang pernah tinggal di Indonesia selama 3 tahun di Jakarta di awal-awal tahun 2000 an. Dia juga pernah merasakan banjir, ikut demonstrasi, dsb. Bahkan nyasar di Jakarta pun dia pernah dan dengan lugunya dia berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Padahal ketika itu dia punya supir pribadi. Yah, cerita dengannya memang butuh waktu lama. Karena selain dia bisa berbahasa Indonesia juga memang doyan bercerita.

Dan tak terasa kami sampai di TKP, Yangjae station. Salah satu dari kami membuka peta yang ada di undangan. Kemudian mempelajari peta tersebut dan menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Setelah berdiskusi akhirnya kami putuskan untuk mengambil arah tertentu untuk menuju wedding hall. Perlu diketahui, bahwa pernikahan di Korea mayoritas menggunakan wedding hall sebagai tempat upacara dan perayaan. Berbeda dengan pernikahan yang pernah saya hadiri di negri sendiri yang mayoritas diadakan di rumah mempelai wanita walaupun ada sebagian yang melaksanakannya di gedung. Tak jauh dari lokasi pintu keluar subway stasiun Yangjae, ternyata ada mobil jemputan untuk mengangkut para tamu undangan menuju lokasi (wedding hall). Kesan pertama saya, tentu aneh dan bertanya-tanya. Dan menurut penjelasan salah satu kawan, jika wedding hall letaknya tidak dekat dengan stasiun, maka pihak pengelola wedding hall menyediakan fasilitas antar-jemput menuju lokasi. wow… Sekitar 10-15 menit setelah mobil jemputan berjalan, mobil tersebut mengarah masuk ke area yang jika di Indonesia mirip mall. Dalam hati berkata, “kok masuk sini ya?”. Dan ternyata, wedding hall itu terletak di lantai 6 dari bangunan mall tersebut. waahahaha….beginilah jika terjadi perbedaan budaya, buanyak pertanyaan, buanyak keanehan.

Sebelum memasuki mall, kami berkumpul untuk berdiskusi dan menyiapkan amplop berisi uang. Ternyata di sini ada tarifnya. hehehe… teman dekat, 50rb sampe 100rb won. Ya sudah, terpaksa harus merogoh dompet sedalam-dalamnya berhubung yang menikah adalah rekan kerja riset. Kemudian menuju lantai 6. Selama perjalanan menuju lantai 6, seorang teman berpesan kepada saya, “please follow me. Please follow what I do”. hahaha…Mungkin dia khawatir jika saya berbuat yang aneh-aneh dan bikin malu. Saya sendiri sebenarnya juga bingung mau ngapain nanti.

 

The Groom and the Bride...

Dan beginilah urutan kronologis ketika sampai di wedding hall.

  1. Bertemu dengan mempelai pria (karena mempelai wanita berada di ruangan lain). Bersalaman dan mengucakan selamat (chukaeyo).
  2. Kemudian mengambil amplop yang sudah disediakan oleh panitia. Mengisi amplop tersebut dengan sejumlah fulus dan menuliskan nama di amplopnya.
  3. Menuju resepsionis untuk menyerahkan amplop tadi, lalu menulis buku tamu. Dan resepsionis akan memberikan kupon untuk masuk ke ruang makan. Jika kupon hilang, maka anda tidak bisa masuk ruang makan.
  4. Menyaksikan ceremonial (upacara) pernikahan yang kiranya berlangsung selama 30 menit dengan berdiri. Di sini sebenarnya saya tidak menyaksikan ceremonial secara keseluruhan, karena diajak ngobrol dengan professor. Kebetulan professor saya juga hadir. hihihi…untungnya tidak mendiskusikan kerjaan, tapi mendiskusikan seputar pernikahan. 😀
  5. Photo session
  6. Makan di ruang makan yang sudah disediakan khusus oleh pihak wedding hall. Di sini tersedia beragam jenis makanan. Dari yang cuma daun mentah sampai daging mentah, dari nasi sampai mie, dari minumal soda sampai bir. Ada semua. Tapi saya jelas pilih yang bisa saya makan dan halal tentunya. Di sini kita bisa makan sepuasnya sampe benar-benar kenyang.
  7. Jika sudah kenyang, maka saatnya pulang.

Ya begitulah urutannya. Dan tak terasa kaki lecet. Maklum, ga biasa pake pantopel. 😀

Perjalanan menuju stasiun juga diantar menggunakan jemputan yang merupakan fasilitas wedding hall itu sendiri. Selama perjalanan banyak kejadian menarik sebenarnya. Salah satunya adalah pertanyaan “suka dan tidak suka”. Seorang bertanya “Apakah kamu suka pada A?” (A adalah rekan kerja saya juga, laki-laki. Dia bertanya dalam bahasa Korea). Mendengar pertanyaan ini, saya bingung jawab apa. Karena di Indonesia, jika saya ditanya begini dan saya jawab ya, maka saya akan disangka gay. Jika tidak, maka mengundang aroma permusuhan. Tetapi ternyata dalam Korea berbeda. “Saranghae” (cinta) dan “chuae” (suka) itu sama bisa diekspresikan ke lawan jenis atau sesama jenis. Jika ke sesama jenis artinya kita bersahabat. Dan dari sinilah mereka curhat dengan saya mengenai kondisi lab. Ternyata jadi tempat curhat juga di sini. Dan dari sinilah, alasan terjadinya kisah di awal permberangkatan (seperti air dan minyak) menuju TKP itu terjawab.

Saya pun masih harus bereksperimen di lab dengan pakaian sipil lengkap tadi demi mengejar setoran sebelum berlibur pulang ke Indonesia Januari nanti. Sebuah pengalaman baru, kondangan di negri ginseng. Ini adalah kisah kondangan pertama, insya Allah masih ada 1 kondangan lagi, teman lab juga yang akan menikah di bulan Desember.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s