Selalu ada hikmah dibalik peristiwa

Pasti ini terasa begitu menyakitkan
Saat kau kehilangan sesuatu yang kau sayang
Bilakah tak tahu mungkin itu yang terbaik
Ada rahasia terindah yang diinginkanNya

Ku hanya ingin agar engkau bisa pahami
Memaknai yang terjadi dengan tulus hati
Meski kuakui tak mudah untuk terima
Segala yang tlah menjadi ketetapanNya

Leraikanlah gundah Tabahkanlah hati
Dan yakinilah semua itu rencana dariNya

Sudahlah lupakan segala yang membuatmu merana
Hanya kan membuat dirimu dihantui gelisah
Biarkanlah semua kan berlalu dengan apa adanya
Karena dibalik yang terjadi pasti ada hikmahnya untuk kita

(Tashiru – Hikmah)

Korea bukanlah negara dengan mayoritas penduduk muslim. Oleh karenanya Islam memang tidak terlalu populer di negri ginseng tersebut. Dari beberapa episode kehidupan yang saya lalui di negri berjuluk “negri gingseng” ini, ada beberapa hikmah yang terpendam dibaliknya.

Story #1

Seorang profesor mengetahui bahwa saya adalah seorang muslim. Beliau juga mengetahui bahwa seorang muslim memiliki kewajiban untuk sholat 5 kali dalam sehari. Dan dia juga menerima saya sebagai mahasiswanya.

Ketika sampai di negri ini, profesor tersebut menanyakan mengenai jadwal sholat dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Namun, ketika saya jelaskan mengenai waktu sholat dan lama waktu yang dibutuhkan untuk sholat 5 waktu dan sholat Jumat, beliau tampak kecewa / keberatan dan mengatakan “kalau bisa sholatnya di skip saja”. Hmmm…sebuah pilihan yang cukup sulit. Apalagi untuk sholat jumat yang kala itu memakan waktu total kurang lebih 3 jam (untuk perjalanan kampus – mushola terdekat + sholat jumat). Namun, email dari beliau saya balas dengan mengatakan kepadanya “Jangan khawatir, saya tahu kapan saya harus sholat. Dan saya lebih paham mengenai hal itu. Saya akan mengaturnya dengan sangat baik”. Dan sang profesorpun tidak membalas email saya tersebut.

Sebulan setelah itu, sang profesor menawariku untuk menjadi operator di universitas lain (SNU) sekaligus melakukan riset di sana. Saya pun menerima tanpa pikir panjang. Pikir saya waktu itu adalah mungkin jarak tempuh ke dari SNU ke Masjid Itaewon cukup dekat dan disamping itu Prof. juga tidak akan mengawasi selama di sana. Jadi ya sudahlah ambil saja kesempatan ini, barangkali bisa lebih baik di sana. Begitulah yang terbesit di benak kala itu.

Hikmah dari kisah ini adalah, ternyata di SNU sendiri ada sholat jum’at berjama’ah di sana yang dilakukan di dalam salah satu kelas. Dan inilah yang tidak saya ketahui sebelum menerima tawaran prof. Mengenai prosedur peminjaman kelas tersebut, aku tak terlalu paham. Tetapi manfaat yang dapat dirasakan cukup besar. Karena jarak yang sangat dekat, hanya dengan berjalan kaki kurang lebih 5-10 menit, membuatku cukup merasa senang. Serasa seperti di Indonesia. Mau sholat jum’at, tinggal jalan kaki beberapa menit saja menuju masjid. Allah menunjukkan sesuatu dengan menggerakkan hati saya untuk menjawab “ya” saat ditawari ke SNU, bahwa di sini saya bisa sholat jum’at.

Story #2

Karena jarak tempuh Yongin-SNU adalah 2 jam dengan menggunakan bus dan subway, maka saya pun harus lebih giat untuk bangun lebih pagi dari biasanya. Jika mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan, jam 9 pagi saya harus sudah di SNU, berarti maksimal jam 7 pagi saya sudah meninggalkan rumah. Supaya bisa mengatur agar jam 7 bisa keluar rumah, maka saya memberi toleransi 1 jam untuk persiapan (mandi dan sarapan). Jadi minimal saya harus sudah bangun tidur jam 6 pagi. Tetapi, jadwal sholat subuh di sini sangat dinamis. Jika musim panas, maka subuh jatuh pada (antara) jam 3 – 4 pagi dan jika musim dingin tiba, maka waktu subuh sekitar jam 5-6 pagi. Dengan perubahan waktu yang seperti ini maka, saya tidak boleh bangung jam 6 pagi saat musim panas, karena subuh akan sangat terlambat. Sehingga untuk musim panas, saya harus bangun lebih pagi lagi. Begitulah dinamika kehidupan saya di Korea ini. Tarik-ulur waktu.

Namun, hikmah yang bisa saya petik dari sini adalah, terkadang saya bangun jauh lebih awal. Akibatnya adalah, sepertiga malam terakhir masih bisa saya peroleh walaupun hanya beberapa rakaat. Sebuah nikmat yang tiada terkira karena dalam kondisi yang seperti itu, Allah masih memberi kesempatan buat saya untuk menikmati indahnya sepertiga malam terakhir. Belum lagi ditambah perjalanan panjang dari Yongin-SNU, yang akhirnya membuat saya memanfaatkan waktu tersebut untuk tilawah, murojaah, dsb tanpa mempedulikan perhatian orang-orang lain yang ada di bus. Alhamdulillah.

Dan masih banyak lagi kisah lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Tanpa sadar ternyata Allah memberikan berbagai kemudahan dalam kondisi yang sulit. Saya jadi teringat akan sebuah ayat yang sering saya lantunkan ketika mengimami sholat berjamaah.

فإنّ مع العسر يسراَ – إنّ مع العسر يسرا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-insyirah : 5-6)

Ayat tersebut diulang sebanyak 2 kali dengan lafadz yang berbeda. Dalam kaidah bahasa Arab, jika ada kalimat yang diulang-ulang itu menandakan ada sebuah penguatan (ta’kid). Selain itu, kata “ العسر” menggunakan huruf alif-lam yang menandakan ini isim ma’rifat (khusus), sedangkan kata ” يسراَ” disebutkan tanpa huruf alif-lam yang berarti nakiroh (umum). Jadi, untuk sebuah masalah tertentu, kemudahan itu sebenarnya banyak sekali (karena menggunakan kata nakiroh/umum).

Sempat terfikir juga, mungkin ini adalah jawaban yang Allah berikan atas doa-doa saya dan orang tua saya panjatkan agar diberikan jalan yang terbaik dan dikabulkan apa yang kita inginkan, dan Allah memberikan apa yang terbaik dan apa yang kita butuhkan. Seperti dalam sebuah ayat di quran.

وعسى أن تكره شيئا و هو خير لكم و عسى أن تحب شيئا و هو شر لكم و الله يعلم و أنتم لا تعلمون…

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 216)

Seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut, boleh jadi sesuatu yang kita tidak suka ternyata itulah yang sebenarnya kita butuhkan. Atau, boleh jadi apa yang kita sukai, ternyata itu tidak baik bagi diri kita. Boleh jadi, perjalanan 2 jam dari Yongin ke SNU hampir setiap hari merupakan suatu hal yang tidak kita sukai, tapi jika kita jalani dengan penuh keikhlasan dan kita menikmatinya, kita akan menemukan sebuah hikmah dibalik itu semua. Dan ayat tersebut ditutup dengan kalimat “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Kalimat ini secara tidak langsung dapat diartikan sebagai ujian terhadap keimanan kita kepada Allah. Sejauh mana kita yakin dengan apa yang Allah janjikan. Kata Allah (terjemahan bebasnya) “Aku lebih tau, sedangkan kamu tak tau, kamu percaya ga terhadap apa yang telah Aku takdirkan kepadamu, itulah yang terbaik untukmu?“.

Dan setelah melalui perenungan yang cukup panjang pun, saya kembali teringat atas peristiwa memilih salah satu diantara 2 pilihan kala itu. Pilihan tersebut adalah pilihan melanjutkan study, ke Jepang kah atau ke Korea kaki ini kan melangkah? Karena waktu itu, saya diterima di salah satu universitas di Jepang, dan pada saat yang sama salah satu universitas di Korea pun menerima saya. Alhamdulillah saat itu, saya memutuskan untuk ke Korea daripada Jepang, karena di Jepang nanti saya tidak mendapat financial support. Dan ternyata, di sini Allah juga memberikan sebuah pelajaran berharga. Dari hati yang paling dalam, sebenarnya saya sangat ingin belajar ke negri sakura. Namun, Allah tidak mengabulkan doa saya kali ini. Inilah sebuah pelajaran keikhlasan. Ikhlas menerima putusan Allah. Dan ternyata Allah menggantinya dengan yang terbaik buat saya, Korea, dengan beasiswa yang lebih dari cukup.

Selalu saja ada hikmah dibalik setiap detik episode kehidupan yang kita lalui. Oleh karena itu, berhusnudzon lah kepada Allah atas setiap peristiwa yang kita lalui dan bersyukurlah. Nikmati setiap episode kehidupan kita, niscaya kita akan temukan sesuatu yang luar biasa di sana.  “Ana ‘inda dzonniy ‘abdi biy” (Aku seperti persangkaan hambaKu kepada Ku).

-Yongin-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s