Cinta…Jatuh Cinta atau Bangun Cinta?

Tulisan ini dilatar belakangi oleh sebuah kisah curhat jarak jauh (Jakarta – Yongin) di malam hari melalui sebuah media chat. Berikut adalah petikan awal chat nya. (nama disamarkan. Karena saya lebih suka menggunakan inisial yg dekat dengan inisial nama saya, maka saya gunakan H sebagai saya, dan G sebagai lawan bicara saya. Tidak ada satu huruf pun dari namanya menggunakan huruf G. Jadi G merupakan inisial pemberian saya pribadi.). Siapakah gerangan G ini? Ah, tak perlulah kalian tau. Sebagai sedikit gambaran G ini laki-laki yang usianya hampir 20 tahun.

G : mas, aku boleh curhat ga?

H : ya boleh, mau curhat apa tho? kok tumben kamu mau curhat sama saya… hehehe…

G : Begini ceritanya mas, aku jatuh cinta sama seseorang. Aku sudah mengutarakan bahwa aku cinta padanya.

H : ooo…sudah mengutarakan…lalu? Sudah di-selatankan belum? Di-baratkan atau di-timurkan? Hehehe…

G : apaan seh? Serius dong…

H : OK…trus?

G : ya sampai saat ini sudah 5 bulan aku jadian sama dia. Tapi sekarang2 ini ada yang pihak ketiga yang mencoba mengacak-acak hubungan aku sama dia. Aku sudah mencoba memberi penjelasan sama dia, tapi dia tidak mau mendengarkan penjelasanku. Aku bingung harus bagaimana mas…

(dalam hati : wah sinetron Indonesia nih…)..

H : trus?G: padahal aku sudah menjaga diri tidak ingin menyentuhnya, dan dia juga sudah bilang bahwa aku adalah yang terakhir baginya walaupun sebelumnya dia pernah berpacaran dengan yang lain.

(dalam hati : wedew…cinta segitigakah, persegikah, atau segi enam seperti krstal ZnO? wah itu topik riset saya tuh)…

H : trus?

G: kok trus trus melulu sih…

H : ya selesaiin dulu ceritanya..saya jadi pendengar dulu deh…trus? Lanjuuuuttt…

G : ya udah…aku merasa aku tak bisa hidup tanpanya…rasanya aku mau mati aja…

H : (dalam hati : widiiiiihhh…jerooo pisan euy…besok bisa masuk media elektronik nih..) Trus kalo kamu mati, apa dia tiba-tiba berubah jadi cinta sama kamu? Kalo dia sudah kembali mencintai kamu karena kematianmu, apa kamu bisa hidup lagi dan mencintainya? (mencoba menerobos celah logika berfikirnya)

G : ya ga tau deh…abis aku sudah bener-bener cinta mati sama dia…aku ga bisa hidup tanpanya…

***

STOP (background music : Justice Voice – STOP…lho kok???) sampai di sini saja petikan kisahnya… Sebenarnya chat ini masih panjang, karena menghabiskan waktu kurang lebih 1.5 jam.

Ah..lagi-lagi masalah cinta. Sebenarnya saya ini bukanlah seorang yang ahli dalam hal beginian. Tapi apa boleh buat, minimal saya ingin memberikan sebuah solusi buatnya atau menenangkan jiwanya yang sedang labil untuk mencegah hil-hil yang mustahal terjadi. Begitu pikirku saat itu. Sebenarnya pada malam itu, saya sudah mengeluarkan ‘jurus-jurus’ jitu yang mungkin bisa dia terima. Dari yang terhalus, sampai yang paling kasar, sudah saya keluarkan semua. Yang terhalus saya katakan kepadanya (penuh perasaan dibumbui logika) “cari aja yang lain, masih banyak kok…Indonesia punya 200 juta penduduk. Kalo ambil rataan perbandingan laki-laki dan perempuan 1:1 maka masih ada 100juta wanita yang katakanlah 50% masih usia produktif. Jadi masih ada 50 juta wanita yang bisa kamu pilih. Bohong saya kalo diantara 50 juta wanita itu ga ada yang cantik dan kamu sukai”. Sedangkan yang terkasar (berupa ejekan dengan sedikit emosi sekaligus tantangan) “Jadi laki-laki jangan cengeng lah, jantan sedikit dong. Sedikiiiiit aja…kalo kamu bener2 suka sama dia, buktikan. Jangan cuma ngomong doang kalo kamu suka. Tapi buktiin. Kalo perlu datengin tuh rumahnya, temuin bapaknya, bilang sama bapaknya, saya mau menikahi putri bapak. Kalo ditolak, ya cari yang lain berarti dia bukan jodoh kamu. Ga usah kamu paksakan”. Tetapi ternyata hasilnya masih nihil. Begitu banyak alasan yang meluncur dari mulutnya. Namun sebenarnya alasan-alasan tersebut merupakan bukti bahwa dirinya belum siap. Jurus saya ternyata tidaklah terlalu ampuh untuk meruntuhkan dinding penghalang itu pada malam itu. Mungkin saat itu jiwanya masih sangat labil, ditambah lagi curhatnya hanya melalui tulisan yang tak berbunyi. Nah, tulisan ini sebenarnya saya perembahkan khusus untuk saudara saya G yang baru merasakan apa yang disebut dengan “cinta”. Selamat datang cinta (background music : Afgan – selamat datang cinta…huahahaha…). Semoga tulisan ini bisa bermanfaat baginya. Maafkan mas mu (orang yang kau panggil dengan sebutan ‘mas’) ini yang tak terlalu pandai berbicara tentang cinta dan mengurai maknanya. Setelah baca ini, pikirkan kembali niatmu untuk mati karena cintamu padanya, tak usahlah kau bunuh dirimu, insya Allah suatu saat kau pasti akan mati jua tanpa kau bunuh dirimu sendiri. Hanya saja yang perlu kita lakukan adalah mengolah seni kematian itu, apakah kita akan mati sedang dalam keadaan berbuat baik, atau sedang dalam keadaan berbuat buruk? Semangatlah untuk mempersiapkan  dan mulailah mencari. (saingan kita klo gitu ya…wekekekeke… :D). eitttsss…sambil senyum yah bacanya…

***

Diawali dengan sebuah kisah klasik dalam mencari definisi yang paling keren dari kata “cinta”, berikut petikan ceritanya.

“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.”

Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”

“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”

Ada pelajaran teramat berharga yang bisa kita petik dari kisah mulia ini. Terutama bagi kita yang terbiasa berbunga-bunga mendengar kata cinta. Bagi kita yang teramat sering membicarakannya tapi mungkin salah menerjemahkannya. Sebegitu mudahkah bagi orang semacam ‘Umar ibn Al Khaththab menata ulang cintannya dalam sekejap? Sebegitu mudahkah cinta akan diri dan keluarga terkasih digeser untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada sang Nabi? Tak ada hitungan jam, begitu singkat. Ah, alangkah indahnya. Semoga kita bisa begitu, insya Allah.

Bagi sebagian kita mungkin tidak segampang itu. Sepertinya lebih sering cinta “mengurung” diri kita dalam lemah tak berdaya. Tetapi ‘Umar bisa. Tanya kenapa???

Ternyata bagi ‘Umar cinta adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya.

Erich Fromm, dalam The Art of Loving pernah mengeluh kesah. “ Cinta merupakan seni”, tulisnya, “Maka cinta memerlukan pengetahuan dan perjuangan. Sayang, pada masa ini cinta lebih merupakan masalah dicintai (to be loved), bukan mencinta (to love) atau kemampuan untuk mencintai”.

Persoalan cinta kemudian menjadi tidak sederhana, karena cinta dalam terjemah kita adalah persoalan ‘dicintai’. Itu adalah perkara diluar kendali kita, karena lingkungan di luar sana punya perasaannya sendiri, yang kadang secara aneh memutuskan siapa yang layak dan tak layak dicintai. Tidak bisa kita paksakan.

Maka, mari menyederhankan persoalannya. Bahwa cinta, sebagaimana ‘Umar memahaminya, adalah persoalan berusaha mencintai. Cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau setampan wajah. Bahwa cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah.

Di sini kita jadi paham bahwa kita tidak layak JATUH CINTA. “Jika kita menghijrahkan cinta, dari JATUH CINTA menjadi BANGUN CINTA, maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”, Indah bukan? Karena memang begitulah seharusnya. Kita adalah kstaria berkuda cinta, yang dengan gagah memegang kekang kendalinya. Kita bukan budak cinta, yang tunduk patuh tak berdaya apa-apa.

Di sini, sebagai sang kstaria kita harus menengok kembali perjalanan kuda kita. Adakah tapak-tapak kakinya telah tepat melangkah? Atau justru semua keringat lelah terserak di jalan-jalan yang tak seharusnya ditapak? Bagi kita, manusia yang dicipta oleh Yang Maha Mencipta, kerja membangun cinta tak boleh lepas dari ridlo-Nya. Dia-lah yang kita cinta di atas segala-galanya. Sedangkan cinta kita kepada selain-Nya hanyalah wujud cinta kita kepada-Nya. Artinya, kerja-kerja cinta kita haruslah sesuai dengan apa yang Dia perintahkan, dan menjauh dari apa yang Dia tidak perbolehkan.

Cinta, ah saya memang bukan orang tepat untuk membahasnya. Tak sebanding dengan kawan-kawan yang lebih akrab dengannya. Tetapi, betapa sedihnya melihat ‘tulang-tulang punggung bangsa’ kini meringkih di sudut lorong cinta. Lemas tak bertenaga terbelenggu cinta. Cinta, yang semula adalah anugerah dari-Nya berubah menjadi musibah yang menjauhkan kita dari-Nya. Kenapa??? Karena kita tak pandai mengelolanya. Kita sudah dikalahkan olehnya! Ingat Octopus di sekuel kedua Manusia Laba-laba??? Chip yang dipasang sebagai alat kendali justru berbalik mengendalikan. Kacau jadinya!

Awalnya, ini memang anugerah-Nya. Ya, cinta memang anugerah-Nya. Cinta, adalah satu dari tiga pilar Ibadah yang tak boleh ditinggalkan. Harap, takut, dan cinta. Dengan tiga pilar inilah kita melakukan kerja-kerja ibadah kita. Tidak bisa ditinggalkan salah satunya. Tidak bisa menyembah Allah, beribadah kepada Allah hanya dengan takut saja. Pun hanya dengan harap atau cinta saja. Muslim, menyembah-Nya dengan harap, takut, dan cinta.

Sayangnya, betapa banyak di antara kita yang terlalu mudah mengumbar perasaan cinta. Sekali lagi, awalnya ia memanglah fitrah yang diberikan kepada manusia. Wajar. Tetapi kalau cinta disalahposisikan maka ceritanya akan beda. Jika kemudian cinta kepada si dia tiba-tiba menyeruak dari dalam dada itu tidak apa-apa. Tetapi kalau terus diperturutkan mengikut nafsu akan jadi musibah yang berujung binasa. Kemudian kita jadi orang yang selalu memikirkan si dia. Tatapan matanya, senyumnya, keberaniannya, kelembutannya, keramahannya, rambutnya, dan lainnya yang ada padanya. Astaghfirullah. Kemudian kita menjadi orang yang begitu suka dengan lagu-lagu ‘cinta’, yang jujur sebenarnya justru membuat lemah jiwa. Kemudian kita menjadi orang yang begitu mudah berkata “iya” pada si dia, tak peduli benar salahnya. Kemudian kita menjadi orang yang tidak produktif karena terus memikirkan si dia. Kemudian kita menjadi orang yang membuat tandingan atau justru lupa akan cinta kepada-Nya. Astaghfirullah.

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan untuk Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, padahal orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

(Al Baqarah 165)

Jangan ada tandingan untukNyadalam cinta! Apa jadinya bila Ia (Allah) cemburu??? Maka, kita harus pandai-pandai mengelolanya.

Dan cinta bisa berubah menjadi zina jika tidak baik dikelola. Bermula dari pandangan mata atau mendengar lembut suara, menjadi perasaan yang mendominasi jiwa lalu memunculkan perbuatan yang tidak diperbolehkan. Apakah perbuatan itu masih dalam pikiran saja, atau bahkan sudah menjadi bentuk nyata.

“Telah ditulis atas anak adam nasibnya (bagiannya) dari zina, maka dia pasti menemuinya, zina kedua matanya adalah memandang, zina kakinya adalah melangkah, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan, dan dibenarkan yang demikian oleh farjinya atau didustakan.”

(HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)

Atau dalam riwayat lain,,

“Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium.”

(HR Muslim dan Abu Dawud)

Memikirkan (berangan-angan) itu sudah termasuk zina. Apalagi dipuas-puaskan. Saling menatap dengan mengumbar nafsu kenikmatan itu adalah zina. Apalagi dipuas-puaskan. Menyentuh dengan sengaja bukan mahram itu adalah zina. Apalagi dipuas-puaskan. Hiiii, syereeeemmm!

Dan ada yang menarik, dari persoalan cinta ini. Dari kisah seorang Mekkah yang hijrah ke Madinah lantaran satu kata ini, cinta. Si fulan hijrah dari Mekkah ke Madinah bukan untuk mendapatkan pahala hijrah, melainkan untuk ‘mengejar’ wanita yang dicintainya bernama Ummu Qais. Peristiwa inilah yang kemudian ‘memunculkan’ hadits tentang pentingnya niat.

“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.”

(HR Bukhari Muslim)

Nah, ada yang menarik bukan??? Gampangannya begini. Perkara cinta kepada si dia, jangan sampai menjadi alasan atau motivasi untuk beribadah kepada-Nya. Kita jadi rajin beribadah karena si dia juga taat beribadah. Kita jadi rajin sholat jamaah karena si dia juga shalat jama’ah (wah, asik bisa ketemuan!, hehe). Kita jadi rajin shodaqoh karena si dia juga gemar shodaqoh. Jadi kalau ketemu ada bahan untuk ngobrol. “Eh, sudah shodaqoh belum hari ini?” Dan dijawab, “Saya sudah shodaqoh 50 rb, kemaren juga segitu. Tapi maaf, jangan sampai tangan kiri kita tahu lho. Cukup tanan kanan saja yang tahu!” Nah, loh! Jangan sampai begitu. Jangan sampai begitu.

Tentang cinta adalah kata kerja, ada kisah luar biasa. Kita tengok lagi lembaran sejarah, dalam kisah wanita yang luar biasa ini.

Nailah binti Farafishah Al Kalbiyah. Di usia 18 tahun dia dinikahi ‘Utsman ibn ‘Affan yang saat itu menjelang usia delapan puluhan.

“Apakah engkau tak keberatan menikah dengan seorang pria tua?”, Tanya ‘Utsman.

Nailah tersenyum dan menunduk sambil berkata, “Saya termasuk wanita yang lebih suka memiliki suami lebih tua.”

“Tapi aku telah jauh melampaui ketuaanku?”

Kembali Nailah tersenyum dan berkata, “Tapi masa mudamu sudah kau habiskan bersama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan itu jauh lebih aku sukai dari segala-galanya.”

Dan ada pula seorang lelaki bernama Zaid ibn Haritsah. Suatu hari ia mendengar sebuah sabda yang tak biasa. “Barangsapa ingin menikahi seorang wanita ahli surga”, kata Rasulullah, “Maka nikahilah Ummu Aiman.” Semua orang mengenal Ummu Aiman. Beliaulah yang mengasuh Rasulullah sejak kecil. Dan semua orang mengenal Zaid ibn Haritsah. Dia pernah dipanggil Zaid ibn Muhammad karena beliau angkat sebagai putera kesayangannya. Maka selisih dua generasi itu tak menjadikan Zaid ragu untuk memperistri Ummu Aiman. Dan cahaya surga bersinar di rumahnya. Dari pasangan inilah lahir Usamah ibn Zaid, yang selalu kita kenang dalam sejarah dengan kemudaannya dan kepahlawanannya.

Sederhananya, jangan sibuk memikirkan cinta yang belum menjadi hak kita, belum halal bagi kita. Tapi mari kita siapkan untuk mencintai yang sudah menjadi hak kita, yang sudah halal bagi kita. Tentu, bukan berarti kita tidak boleh mencintai seseorang sebelum dia menjadi hak kita. Bukan, bukan begitu. Tetapi bagaimana kita tidak menyibukkan diri dengan perasaan cinta sebelum waktunya (halal). Yang seringkali nafsulah yang membersamai perasaan ini.

Dan ada satu lagi pesan penting yang sayang bila terlewat. Yang ini urusannya dengan keluarga, lahan ekspresi cinta yang halal dan luas tak terperi. Gairah keluarga Umar dan Zaid adalah surga! Ya, gairah keluarga mereka adalah surga.

Ah, sekali lagi memang saya bukanlah orang yang tepat untuk membahas topik cinta. Tetapi, kewajibanlah yang membuat saya berusaha untuk ‘memaksa’ diri berkata-kata melalui goresan pena. Dan sebenarnya hanya pesan singkat ini yang ingin saya sampaikan.

Mari menata ulang cinta kita. Mari menjadi ksatria cinta. Yang dengan gagah mengendalikan cinta kita. Agar cinta menjadi istana, tinggi menggapai surga. Agar cinta tidak membuat kita binasa karena murka-Nya.

Aku berlindung kepada Allah dari kedangkalan ilmu dan buruknya amalku,,


Selidikilah arti hidupmu, carilah kelezatan buat jiwamu, siapkan bekal kepulanganmu (HAMKA)

-Yongin-

1 Muharram 1432 H

Referensi :

Jalan cinta para pejuang, Salim A. Fillah

Saksikan bahwa aku seorang muslim, Salim A. Fillah

One thought on “Cinta…Jatuh Cinta atau Bangun Cinta?

Leave a Reply to xstepnort Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s