D O A

Beberapa hari yang lalu, saya diminta oleh seorang kawan untuk menjelaskan kepadanya mengenai doa. Apa sih sebenarnya doa itu? Bagaimana sebaiknya berdoa itu? Apa saja pantangannya? Bagaimana doa itu supaya makbul? dan sebagainya. Nah, sebelum saya menuliskan penjelasan tentang doa ini yang saya persembahkan khusus untuk kawan saya, ketahuilah saya bukanlah orang yang ahli dalam berdoa. Maksudnya, saya ini hanya manusia biasa yang kualitas doanya juga jauh berbeda dengan para ulama-ulama terdahulu. Tetapi, demi memenuhi permintaannya, maka saya akan coba menuliskan apa yang saya pahami selama ini tentang doa. Jadi, apa yang saya tuliskan ini adalah hanya pemahaman saya (yang dangkal) mengenai doa. Ok, sekarang mari kita lihat, seberapa jauh pemahaman saya (menurut anda) mengenai doa.

Definisi Doa

Kita berangkat dari sebuah definisi tentang doa, apa itu doa? Apa definisi doa? Saya ambilkan definisi doa ini dari sebuah kitab yang dulu pernah diajarkan kepada saya, kitab Subulussalam (سبل السلام) karangan Ash-Shan’ani (الصنعانى), yang merupakan syarh (penjelasan) kitab hadits Bulughul Maram (بلوغ المرام) karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani (ابن حجر الأسقلانى), dalam Kitab Jami’ bab Adz-dzikru wa ad-du’aa (Dzikir dan Doa). Di dalam bab tersebut disebutkan bahwa definisi doa dibagi menjadi 2, secara bahasa (etimologi) dan secara istilah (terminologi). Secara bahasa, kata “doa” (الدعاء) berasal dari bahasa arab, yang merupakan bentuk mashdar dari kata “دعا” yang berarti meminta (الطلب). Sedangkan secara terminologi, doa diartikan sebagai

طلب الأدنى إلى الأعلى

Permintaan hamba (Al-adna = bawahan, dalam hal ini diartikan sebagai hamba) kepada Allah (Al-A’la = atasan, dalam hal ini diartikan sebagai Allah)

Nah, jadi kita bisa lihat di sini, bahwa doa adalah sebuah permintaan seorang hamba kepada Tuhannya (Allah). Sekarang mari kita renungkan maknanya lebih dalam. Meminta. Seperti apa meminta itu? Pernah melihat seorang anak balita meminta sesuatu kepada ibunya atau bapaknya? Ya, seperti itulah meminta. Mereka tau apa yang mereka minta walaupun sebenarnya mereka tidak atau belum bisa mempertimbangkan baik dan buruknya. Kadang diiringi dengan tangisan dan rengekan bila permintaannya tidak dipenuhi. Sekarang kita kembalikan kepada diri kita, ketika kita berdoa, sudah pahamkah diri kita akan apa yang kita minta kepada Allah? Tanyakan kembali kepada diri kita, benarkah itu (apa yang kita pinta dalam doa) yang kita sangat inginkan? Atau justru sebaliknya, apa yang kita ucapkan atau panjatkan kepada Allah hanya sebuah pengulangan kata tanpa paham maknanya karena kita sudah terlalu sering mengucapkan kalimat tersebut bahkan hapal ngelotok di luar kepala? Karena banyak diantara kita, setelah selesai berdoa, ya sudah semuanya selesai. Tak ada sesuatu yang membekas di hati kita. Kalau kita paham dengan apa yang kita minta, maka sepantasnyalah ketika kita meminta kepada Allah, kita tidak cuek (berdoa dengan nada yang datar), tetapi dengan penuh kekhusyu’an dan setelahnya diiringi dengan usaha yang maksimal. Begitu kira-kira definisi doa yang saya pahami.

Pengabulan Doa

Berangkat dari sebuah ayat quran dalam surat Al-mu’min (ghafir) :

و قال ربكم ادعونى أستجب لكم إنّ الذين يستكبرون عن عبادتى سيدخلون جهنم داخرين

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min : 60)

dan juga sebuah ayat di dalam surat Al-Baqarah

وإذا سألك عبادى عنى فإنى قريب أجيب دعوة الداعى إذا دعان فليستجيبوا لى وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S Al-Baqarah : 186)

Di dalam ayat ini Allah menyuruh kita untuk berdoa (memohon, meminta) kepada-Nya. Dan di ayat ini pula Allah menyatakan akan menjawab (mengabulkan) doa-doa kita semua. Kemudian timbullah pertanyaan, ah saya ini sudah sering berdoa, tapi mana doa saya tidak ada satupun yang jadi kenyataan? Mana buktinya kalau Allah mengabulkan doa saya? Nah, di sini kita perlu menelaah kembali, definisi ‘mengabulkan’ itu seperti apa. Mari kita tinjau kembali kitab yang sudah saya sebutkan tadi di atas. Di dalam kitab tersebut dijelaskan mengenai sebuah hadits tentang penjelasan definisi ‘mengabulkan’ itu. Berikut saya kutipkan dari kitabnya langsung.

واعلم أنه قد ورد من حديث أبي سعيد عند أحمد:”أنه لا يضيع الدعاء بل لا بد للداعي من إحدى ثلاث إما أن يعجل له دعوته،، وإما أن يدخرها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها” وصححه الحاكم

Dan ketahuilan sesungguhnya telah disebutkan dalam hadits Abi Said : “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Akan tetapi bagi seorang hamba yang berdoa, baginya salah satu dari 3 hal : doanya benar-benar dikabulkan dengan sebenar-benarnya pengabulan (sesuai dengan permintaan), atau akan dicatat sebagai sebuah amal kelak di akhirat, atau dengan doanya tersebut, Allah menyelamatkannya dari keburukan. (Dishahihkan oleh Hakim)

Nah, dari sini kita bisa ketahui, bahwa :

  1. Allah tidak pernah sedikitpun menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa lelah untuk berdoa. Kita bisa lihat dalam kisah Nabi Ibrahim A.S yang tidak pernah letih untuk meminta kepada Allah agar dikaruniai keturunan.
  2. Ada 3 cara Allah mengabulkan doa seorang hamba :
  • Dikabulkan sesuai permintaan
  • Diakhirkan di akhirat kelak sebagai pemberat timbangan amal kebaikan. Karena sebenarnya doa merupakan tulang sumsum Ibadah (الدعاء مخ العبادة – الحديث).
  • Diselamatkan dari hal-hal yang buruk. Ini juga kadang kita temui. Sering kita berdoa, meminta kepada Allah agar dikabulkan tetapi di sisi lain, banyak kejadian yang ternyata menyelamatkan diri kita dari hal-hal yang buruk. Dan ini merupakan salah satu bentuk jawaban doa kita kepada Allah

So, dari penjelasan ini, kesimpulannya adalah, jangan pernah lelah berdoa karena Allah pasti mengabulkan doa tersebut dengan cara-Nya. Ini adalah penjelasan dalil naqli nya. Sekarang mari kita renungi dengan menggunakan akal kita (dalil aqli). Masih menggunakan perumpamaan yang sama, yaitu seorang anak yang merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya. Katakanlah si anak minta dibelikan es krim padahal tubuhnya sedang tidak sehat, apa yang kita-kira orang tuanya akan lakukan? Apakah orang tuanya akan memberikan es krim kepada si anak? tentu tidak. Tapi terkadang tetap saja si anak merengek, nangis, mengiba, merajuk, berguling-guling di lantai supaya permintaannya dituruti. Dan orang tua pun tetap tidak mengabulkannya. Malah orang tua memberinya obat yang rasanya pahit dan tidak semanis dan selezat es krim. Kenapa? Karena orang tua tau itu tidak baik buat kesehatan anaknya saat itu. Begitu juga Allah. Kita ini diciptakan oleh Allah. Tentunya Allah lebih tau apa yang saat itu hamba-Nya sedang butuhkan. Jadi Allah mengabulkan doa kita, dalam bentuk yang sedang kita butuhkan. Kita meminta keberanian, Allah berikan ujian pada diri kita agar kita berani. Kita meminta supaya diberikan sifat kejujuran, Allah beri kita ujian mengenai kejujuran. Dan sebagainya. Begitulah cara Allah mengabulkan doa kita. Allah tidak selalu mengabulkan permintaan sama persis dengan apa yang kita pinta. Dan juga Allah tidak serta merta langsung mengabulkan doa itu berwujud di depan mata kita, karena doa bukanlah sulap yang dapat terwujud seketika setelah mulut komat-kamit membaca mantra. Oleh karenanya, yang namanya berdoa harus diiringi dengan usaha sebagai wujud nyata kita kepada Allah, bahwa kita benar-benar besungguh-sungguh untuk mendapatkannya.

Adab Berdoa

Jika kita meminta atau memohon sesuatu kepada seseorang, maka sebaiknya menggunakan adab yang santun ketika memintanya. Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika kita memohon atau meminta sesuatu tanpa adab, tentu orang yang diminta pun akan enggan untuk memenuhi permintaan kita. Atau mungkin bisa jadi kita dibentak atau disumpah serapahi oleh yang kita mintai pertolongan. Begitu juga halnya dengan meminta kepada Allah (berdoa). Kita harus memiliki adab ketika memohon kepada-Nya. Bayangkan seperti ini, apa yang membuat ibu kita memenuhi permintaan kita ketika kita meminta kepadanya? Bisa dengan memujinya terlebih dahulu, menuruti perintahnya, menghindari segala sesuatu yang dibencinya, dsb. Nah, ini juga berlaku ketika kita memohon sesuatu kepada Allah (berdoa). Adab yang perlu kita jaga ketika memohon kepada Allah salah satunya adalah memuji-Nya, kemudian menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini digambarkan dalam sebuah hadits dalam kumpulan Hadits Arba’in An-Nawawiy yang ke 10.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى :  ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً – وَقاَلَ تَعَالَى : , يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ – ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ .[رواه مسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. [HR. Muslim]

Hadits ini juga berbicara mengenai salah satu adab berdoa, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang haram. Dahulu pernah ada seorang ulama yang selama beberapa tahun tidak memakan daging tertentu. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, “aku hanya takut daging tersebut berasal dari ternak hewan salah satu penduduk sini yang dicuri”. Ya begitulah para senior-senior kita dalam menjaga dirinya

Di dalam kitab Fiqh Sunnah karangan Sayid Sabiq dan juga dalam kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali disebutkan beberapa adab berdoa, diantaranya adalah sebagai berikut

  1. Dengan hati menunduk dan penuh rasa takut kepada Allah (Q.S. Al-A’raaf : 55)
  2. Dengan suara yang lembut, diantara tidak berbunyi dan suara keras (Q.S. Al-Israa : 110, Q.S. Maryam : 3)
  3. Menghadap Allah dengan isi perut dan pakaian yang halal (hadits di atas)
  4. Mengamati saat-saat yang baik bagi doanya. Seperti hari Arafah, Bulan Ramadhan, hari jum’at, di tengah malam, akhir shalat, dll (Q.S. Adz-Dzariyaat : 18)
  5. Menghadap kiblat (HR Muslim)
  6. Mengangkat kedua tangan sampai kira-kira sebahu
  7. Tidak menjadikan doanya untuk dipuisikan
  8. Memantapkan apa yang dimintanya
  9. Mengulanginya 3 kali
  10. Tidak menganggap lambat atas doanya
  11. Memulai doa dengan beristighfar, memuji Allah, dan bershalawat atas Rasulullah

Ya kira-kira begitulah adab-adab dari berdoa.

Demikianlah pembahasan ringkas mengenai doa dari saya. Sekali lagi ini hanya sebatas pemahaman saya saja mengenai doa. Terakhir, saya tutup tulisan ini dengan sebuah untaian kata mutiara yang saya buat bersama seorang rekan di Korea ini.

Jika doa kita dikabulkan Allah
maka Allah sedang mnyapa kita dengan Maha Pemurahnya
Jika doa kita tidak dikabulkan Allah
maka Allah sedang menyapa kita dengan Maha Tahu & Maha Kuasanya
Ketika doa kita dikabulkan Allah
maka Allah sdg menguji rasa syukur kita
Ketika doa kita tidak dikabulkan Allah
maka Allah sedang menguji kesabaran & keikhlasan kita
Karena itu, pengabulan doa tidaklah lebih penting daripada diperkenankannya berdoa
Karena doa adalah tulang sumsum ibadah
(Rahayu Abdullah dan Hadiyawarman)

Wallahu A’lam bish-shawaab

-Yongin-
1 Januari 2011

One thought on “D O A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s