Doa ulang tahun?

Sore itu, sebelum sholat maghrib, ibuku berpesan, “nanti ada makan-makan bareng di tempatnya Pak RT, ikut ya?”. “ya, insya Allah” jawabku seraya pergi menuju masjid. Sepulang dari masjid, tak terasa perut sudah terasa sangat lapar. Tak ada cemilan yang bisa dimakan sambil menunggu panggilan dari Pak RT. Ya sudah, kubuka laptop dan menyibukkan diri dengannya untuk melupakan sejenak rasa lapar itu.

Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang di depan rumah seraya mengucapkan salam berkali-kali. Rupanya dia adalah orang suruhan Pak RT untuk mengundang para warganya untuk makan bersama sebagai bentuk rasa syukur atas ulang tahun anaknya yang terakhir yang ke-20. Tanpa pikir panjang, langsung saja aku keluar rumah dengan pakaian yang masih sama dengan saat sholat di masjid tadi, baju koko beserta sarung, menuju kediaman Pak RT. Hmmm….rupanya acara makan-makan bukan di dalam rumahnya, tetapi di jalanan depan rumah. Ah tak apa, yang penting makan, pikirku saat itu. Tibalah di depan rumah Pak RT, tampak tikar sudah digelar dengan nasi kuning, bihun, ayam, oreg tempe, sambal beserta lalap dan emping sudah tertata di atasnya dan turut memeriahkan hidangan malam itu. Tampak pula ibu-ibu di lingkungan setempat sudah hadir dan mempersilahkan saya untuk duduk. Ya…ibu-ibu beserta anak dan cucunya yang masih digendong. Waw, Cuma saya dan Pak RT yang laki-laki. Ckckckck…sedikit canggung bergabung dengan ibu-ibu. Mau pulang ke rumah, tak mungkin, karena sudah sampai di lokasi. Ya sudahlah, saya ikuti saja acara ini.

Tak lama kemudian Pak RT berkata kepada saya “ayo Di, duduk…didoain dulu”. “yang didoain apanya Pak?” tanyaku. “Ya, kamu pimpin doa dulu lah untuk acara ini, doa ulang tahun gitu”. “biasanya kan kalo di acara-acara, doa itu ada di urutan terakhir Pak. Lagipula, saya kan diundang untuk makan Pak, bukan untuk berdoa atau mendoakan” elakku dengan sedikit tertawa, mencandai Pak RT. Ibu-ibu pun menimpali “Iya Di, duduk dulu, trus didoain…pimpin doa lah buat yang ulang tahun”. Hmmm…doa ulang tahun tuh doanya kayak apa ya? Saatnya mencari ide untuk mengalihkan perhatian. “Pak, itu ada mobil yang mau keluar gang, ini tikernya dilipat dulu”. Kemudian saya coba berpura-pura mengamati dedaunan yang ada di pinggir jalan sambil terus berfikir, doa apa yang mau saya bawakan nanti. Jujur, ini pertama kalinya keringetan karena disuruh berdoa. Bukan karena tidak bisa, tapi bingung, doa apa yang cocok. Doa rabithoh, ga cocok. Doa ‘sapu jagat’, juga tak cocok. Doa-doa yang ada di dalam ma’tsurat pun sepertinya tak ada yang cocok. Lalu doa apa yang harus saya bacakan nanti. Masih berpikir.

Kemudian saya coba mengingat-ingat ke belakang, sejarah kehidupan beberapa tahun silam sampai saat ini dengan momen-momen ulang tahun. Tetapi, tak saya temukan sejarah dalam hidup saya mengenai doa ulang tahun ini meskipun dulu sering menghadiri acara ulang tahun, tapi rasa-rasanya tak pernah ada ‘doa khusus’. Hmmmm….ya memang saya dibesarkan di keluarga tanpa perayaan ulang tahun. Sejarah mencatat, setiap tanggal 12 Juni, yang saya dapatkan biasanya adalah tepung terigu di kepala, telor mentah di kepala, siraman air, atau ‘todongan’ permintaan traktiran dari teman-teman. Hadiah? Ah tak pernah terpikirkan dapat hadiah pada tanggal segitu. Kalaupun ada yang member hadiah, paling ibu dan kakak saja yang member. Hadiah dari ibu berupa masakan spesial, sedangkan dari kaka, ya sesuai dengan permintaan. Tapi itu dulu, sekarang sudah tak pernah lagi. Beberapa tahun terakhirpun sudah tak pernah mendapat todongan traktiran, mungkin karena jaraknya yang jauh.

Kondisi ini terbalik dengan saat di Korea. Di Lab tempat saya bekerja, setiap anggota yang berulang tahun, dialah yang ditraktir, dibelikan kue dan makanan, lalu bernyanyi bersama. Bagaimana dengan saya? Itu juga sama. Bedanya, yang membeli kue adalah saya dan tanpa nyanyi. Ya tahun lalu, saya yang membeli kue dengan niat berinfak saja karena belum pernah saya membelikan mereka makanan. Ketika saya memotong kue, mereka bertanya “Should we sing a song for you?”. “No, thanks. You can only watch me dividing this cake”. Mereka pun heran dan bertanya, mengapa tidak perlu bernyanyi. Saya katakan “Di Indonesia, jika diiringi nyanyian, itu biasanya untuk anak kecil. Sedangkan saya sudah tua, master student, rasanya tak pantas untuk dinyanyikan. Tapi kalo mau nyanyi boleh saja. Dalam hati saja ya…hehehehe”. Bahkan, ada pula seorang anggota lab memberikan saya tempat pensil bergambar “One Piece”. Dia memang tau saya penggemar anime one piece setelah melihat wallpaper laptop saya yang bercorak one piece.

Yah, akhirnya mobil pun lewat, dan saya pun duduk. Dengan modal cuap-cuap tak jelas kumulai dengan ucapan bismillah dan salam. Isi cuap-cuap saya adalah seperti kebanyakan orang di FB ketika ada temannya yang berulang tahun. Ada ucapan WYATB, dll. Ya hanya ucapan-ucapan ini yang terlontar dari mulut. Setelah cuap-cuap, saya meminta semua yang hadir untuk membaca alfatihah bersama-sama dan diiringi dengan doa makan. Agak aneh sih. Cuma mau bilang apa lagi. Niat saya datang untuk makan, bukan untuk memimpin doa, jadi ya doanya doa makan saja. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s