Ranjangnya Miring…

Oleh : Ust. Zulfi Akmal

Pada tahun ke-8 Hijriah, Rasulullah mengirim sekelompok pasukan menuju Mu’tah. Ekspedisi ini bermula dari terbunuhnya utusan Rasulullah yang bernama Al-Harits bin Umair yang dilakukan oleh Syurahbil bin Amr al-Gassany, seorang gubernur Kaisar Romawi untuk daerah Syam. Membunuh utusan adalah perbuatan yang sangat tercela, sama artinya dengan mengumumkan perang, bahkan lebih keras dari itu. Oleh karena itu Rasulullah sangat murka dengan peristiwa ini.

Pasukan Islam ketika itu berjumlah 3000 orang yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Sebelum berangkat Rasulullah memberikan wasiat, apabila Zaid bin Haritsan gugur maka digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Kalau Ja’far juga gugur maka Abdullah bin Rawahah yang tampil untuk memegang panji perang. Andai kata Abdullah bin Rawahah juga gugur maka kaum muslimin berijtihad memilih salah seorang di antara mereka untuk jadi pemimpin.

Singkat cerita, di waktu terjadi pertempuran sengit antara pasukan Islam melawan tentara Romawi yang berjumlah jauh lebih besar, apa yang dikabarkan  Rasulullah sebelumnya betul-betul menjadi kenyataan. Pertama Zaid bin Haritsan  menemui syahidnya dengan gagah berani. Tanpa pikir panjang Ja’far bin Abi Thalib langsung menyambar panji perang dan memimpin perperangan dengan semangat berkobar-kobar, sampai akhirnya menemukan juga syahidnya. Di saat Ja’far gugur Abdullah bin Rawahah kelihatan bimbang sejenak sebelum menangkap panji perang dari tubuh Ja’far yang sudah tercabik-cabik akibat tebasan pedang lawan. Akhirnya, Abdullah bin Rawahah mampu maju dengan memberikan perlawanan yang tidak kalah sengitnya dari dua orang pendahulunya setelah mencoba memotivasi diri dengan melantunkan bait-bait syair yang mengandung jiwa kepahlawanan. Setelah berjuang dengan mencurahkan seluruh kemampuan, Abdullah bin Rawahah juga memperoleh kemuliaan mati syahid, menyusul dua orang shahabatnya ke surga Allah. Untuk selanjutnya perperangan dipimpin oleh Khalid bin Walid, pahlawan yang mendapatkan julukan “Pedang Allah”.

Di Madinah, dalam tidurnya Rasulullah bermimpi melihat tiga orang shahabat beliau; Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah lagi istirahat di atas ranjang yang sangat indah di surga. Namun, Rasulullah melihat ranjang tempat tidur Abdullah bin Rawahah agak miring sedikit sehingga istirahatnya pun tidak senyaman yang kelihatan pada dua orang shahabatnya yang lain. Setelah bangun dari tidurnya Rasulullah mentakwilkan mimpinya itu dengan sifat ragu-ragu Abdullah bin Rawahah ketika akan maju memegang panji perang.

Dari sepenggal cerita para shahabat yang mulia ini, kita bisa memahami bahwa Allah mempunyai hitung-hitungan yang sangat detail dan terpetakan. Sedikit rasa ragu saja mengurangi penilaian dalam pandangan Allah, sekalipun hasil yang dicapai tetap sama. Di sisi lain, Allah juga tidak menilai hasil, tapi yang diperhatikan adalah proses untuk menuju hasil. Kita bisa menilai diri kita masing-masing berapa banyak amalan yang telah kita lakukan dengan spontanitas, tanpa didahului rasa ragu atau kebimbangan dan mengulur-ulur waktu.

Kalau kita merenung sejenak, berapa kali kita segera berjalan menuju mesjid di saat azan berkumandang tanpa ada rasa mau mengulur waktu? Berapa malam kita sudah bangun dari tidur pulas untuk shalat tahajud tanpa ada perperangan dulu dalam hati dengan perasaan ingin melanjutkan tidur? Berapa kebaikan yang kita lakukan dengan segera di saat kondisi membutuhkan tanpa diiringi oleh was-was ke duniawian? Mari kita hisab (instropeksi) satu persatu dari amalan keseharian kita.

Hasilnya, tentu kita sendiri yang tahu. Kalau kita nanti masuk surga kira-kira ranjang kita bentuknya bagaimana? Apakah datar dan nyaman untuk ditiduri, atau miring, atau bahkan ranjangnya goyang terus dan terbalik? Wallahu a’lam. Dan Nauzhubillah kalau ranjang kita patah-patah, apalagi tidak ada sama sekali yang artinya kita sama-sama maklumi.Selanjutnya, dari perenungan kisah ini kita bisa melihat bahwa orang yang sanggup maju ke medan jihad adalah orang yang sudah terbiasa dengan segala perintah Allah. Jangan kita merasa sok berani meniru kepahlawanan saudara-saudara kita di Gaza, kalau hanya untuk bangun shalat Subuh saja kita masih berpikir panjang dan tarik ulur dengan selimut. Apalagi yang lebih sering kalah dengan kehangatan selimutnya, ketimbang memenuhi panggilan muadzin. Tentu saja orang yang selalu kalah melawan kantuk tidak masuk hitungan di sini. Kekuatan mental dan ketsabatan dalam medan juang adalah anugerah dari Allah untuk hamba-hambanya yang sudah berlatih sebelumnya untuk taat. Bukan bagi orang yang punya suara lantang menyorakkan perjuangan tapi kosong dari amalan. Bagi yang minus latihan tentu mustahil akan menang dalam medan pertempuran. Sementara kita sering lupa bahwa kehidupan kita ini sesungguhnya medan pertempuran yang tidak akan pernah berhenti sampai ruh meninggalkan jasad. Siapa yang akan tsabat? Jawabannya tentu orang yang diberi kekuatan oleh Allah. Dan siapa yang akan diberi kekuatan? Tentu saja mereka yang sudah terbiasa taat tanpa ragu dan bimbang, plus tanpa mengulur-ulur waktuHadanallahu wa iyyakum.

Mengumpulkan kembali ma’ani yang sudah tercecer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s