Mengapa Allah menggunakan kata “nahnu” (kami)?

Hmmm….sudah lama rasanya jejari tangan ini tidak menari-nari menghasilkan sebuah tulisan. Padahal sudah banyak hal di kepala yang ingin ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Lagi-lagi tulisan ini bermula dari sebuah tanya jawab yang terjadi tepat sebelum memasuki bulan Ramadhan tahun lalu. Jadi singkat ceritanya ada yang bertanya kepada saya. Kira-kira begini pertanyaannya : “Kenapa di dalam Qur’an Allah menggunakan kata “nahnu” yang berarti kami? Bukankah Allah itu ahad (satu, tunggal)? Kenapa menggunakan kata ganti (dhomir) jamak (dalam bahasa Arab, nahnu merupakan kata ganti plural yang berarti “kami”)?

Awalnya saya hanya bisa menjawab (dengan sedikit ragu), itu hanya masalah bahasa Arab, mirip dengan kata “antum” (arti : kalian). Walaupun artinya jamak (plural), tetapi sering kita dengar bahwa kata itu digunakan untuk menunjuk kepada seorang. Nah, waktu itu saya ketahui alasannya adalah untuk menghormati lawan bicara. Jadi, jika kita menyebut “antum” kepada seseorang (bukan “ente” atau “anta”), maka itu tandanya orang yang menyapa atau memanggil anda, menghormati anda. Waktu itu saya ragu dengan jawaban saya. Hingga pada akhirnya saya bertanya kepada guru saya nun jauh di Indonesia sana. Kata beliau jawaban saya benar, jika menggunakan analogi demikian. Namun, masih ada rasa kurang puas dalam diri ini. Masih butuh penjelasan yang lebih lengkap lagi mengenai hal ini. Setelah sekian lama mencari akhirnya saya dapatkan juga jawaban yang cukup memuaskan. Berikut jawaban lengkap yang saya dapatkan. Selamat membaca. 🙂

***

Didalam kitab “Fatawa al Azhar” disebutkan bahwa sesungguhnya Al Qur’an al Karim diturunkan dari sisi Allah swt dengan bahasa arab yang merupakan bahasa Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan diturunkan dengan tingkat balaghah dan kefasehan tertinggi.

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

“Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syuara’ : 195)

Dan merupakan suatu kebiasaan dikalangan orang-orang Arab bahwa seorang pembicara mengungkapkan tentang dirinya dengan menggunakan lafazh أنا (saya) dan jika terdapat orang lain bersamanya maka menggunakan lafazh نحن (kami). Sebagaimana lafazh نحن (kami) digunakan si pembicara untuk mengagungkan dirinya sendiri (walaupun hanya sendiri). Pengagungan manusia terhadap dirinya sendiri dikarenakan dirinya memiliki berbagai daya tarik untuk diagungkan.

Bisa jadi hal itu dikarenakan dia memiliki jabatan, reputasi, kedudukan atau nasab lalu dia membicarakan tentang dirinya itu sebagai bentuk keagungan dan kebesaran. Bisa jadi juga untuk memberikan perasaan takut didalam hati orang lain seakan-akan dirinya sebanding dengan beberapa orang bukan dengan hanya satu orang. Bisa jadi seseorang mengungkapkan dirinya dengan lafazh نحن (kami) karena begitu banyak keahliannya seakan-akan beberapa orang ada didalam diri satu orang. Sehingga bentuk plural dan jama’ itu adalah pada pengaruhnya bukan pada si pemberi pengaruh.

Bentuk pengagungan diri pembicara atau orang yang diajak bicara terdapat pula didalam bahasa-bahasa lainnya bukan hanya didalam bahasa arab dan digunakan pula untuk tujuan-tujuan seperti disebutkan diatas.

Apabila Allah swt Tuhan Pemilik Keagungan berfirman :

نَّحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ ۖ وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا

Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.” (QS. Al Insan : 28)

Posisi Allah di situ sebagai pemberi karunia kepada semua makhluk, pemberi nikmat, memberikan perasaan takut dan membuat lari orang-orang kafir sesuai dengan kata ganti pengagungan terhadap diri-Nya yang memberikan makna kuat dan gagah.

Dan apabila Allah berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)

Posisi di situ sebagai pemilik kemampuan yang mampu memberikan ketenangan berupa pemeliharaan Allah terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan dengan kekuasaan dan hikmah-Nya. Dan apabila Allah berfirman :

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)” (QS. Ghafir : 51)

Didalamnya terdapat dua ketenangan berupa pemeliharaan Allah terhadap Rasul-Rasul-Nya dan memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka seakan-akan berbagai pemeliharaan dengan sarana-sarana yang bermacam-macam.

Saya —Syeikh Athiyah Saqar (mufti Al-Azhar)— mengatakan bahwa saya yakin ketika seorang mukmin membaca al Qur’an dan didalamnya terdapat bentuk pengagungan untuk Allah maka tidak ada didalam dirinya keraguan terhadap keesaan Allah swt bahwa Dia lah Pemilik segala kebesaran dan keagungan dan selain-Nya tidak mungkin memiliki kemampuan dan pemberian nikmat yang bisa memalingkan manusia dari menyembah-Nya saja.

Wallahu A’lam

-Yongin-

9 thoughts on “Mengapa Allah menggunakan kata “nahnu” (kami)?

  1. Jawaban yg terbaik selama ini yg saya cari2 sebagai seorang mualaf. Terima kasih semoga Allah memberkati kita semua keimanan yg lebih kuat.

    wasallam

    T.Juleo

    Like

  2. T.Juleo :

    Jawaban yg terbaik selama ini yg saya cari2 sebagai seorang mualaf. Terima kasih semoga Allah memberkati kita semua keimanan yg lebih kuat.

    wasallam

    T.Juleo

    Subhanallah…salam kenal mas/pak….silahkan dibaca2 tulisan saya yang lainnya….semoga bermanfaat…
    Wassalam

    Like

  3. Jika berhubungan dengan penciptaan manusia dan alam semesta, Allah SWT menggunakan kata “Kami” . Sedangkan Jika berhubungan dengan perintah Allah SWT menggunakan Kata “Aku”.

    wallahualam .

    Like

  4. ayat 70:40 terdapat kata AKU, Rabbku dan KAMI dalam satu kalimat. saya perlu jawaban yg masuk akal, bukan apologi yg tetap tidak memberi jawaban.

    Like

    1. pertama, arahkan pada satu hadits : tafakkaruu fii khalqillaahi walaa tatafakkaruu fii dzaatihii… fatahlik ! (fikirkanlah segala ciptaan Allah, dan jangan sekali-kali memikirkan dzat-NYA.. binasa (bagi yang berfikir dzat Allah) )
      Maka yang disebut ciptaan Allah itu adalah yang disebut sebagai assamaawaati wal-ardh, meliputi semesta angkasa yang tujuh lapis dan bumi. Jika kita analogikan semua ciptaan Allah itu sebagai satu buah lingkaran, di mana matahari sebagai pusat edar dan bintang kemintang semuanya adalah sebagai satelitnya. sehingga jika kita mau singgung sedikit masalah perjalanan Rasulullah saat mi’raj, maka beliau sampai pada batas lingkaran alam yang disebut sebagai shidratul munthaha. kaitkan pula dengan Surat Ar Rahman 1 -13, Surat Yunus ayat 5, Surat Fushilat ayat 9 – 12, sebagaimana proses awal penciptaan pada Surat Al Anbiya ayat 30, yang mana Yahudi mengambil dari ayat tsb sbg kasus “the Big Bang” !
      dengan demikian jika satu bulatan lingkaran tersebut mencakup Alam semesta ciptaan Allah, maka pertanyaannya, apakah anda akan memposisikan Allah ‘Azza wa jalla itu di luar lingkaran, ataukah di dalam lingkaran ??
      fatal akibatnya jika anda menempatkan Allah menjadi di dalam lingkaran, karena akan mensejajarkan dengan makhluq ciptaan-NYA. Namun begitu, tidak boleh juga kita menggambarkan Allah yang berada di luar lingkaran, karena fatal juga memikirkan dzat Allah yang maha Tinggi.
      Untuk berjalannya sistem dan mekanisme di dalam lingkaran (CIptaan), maka Allah telah menciptakan semacam perangkat gerak alam yakni Malaikat yang mencakup kemampuan 600 dimensi (almalaikatu sittu mi-atin ajnihah) atau digambarkan dalam Surat Az Zumar 75, bahwa malaikat meliputi Al Arsy, sehingga yang disebut Al Arsy itulah lingkaran ciptaan Allah SWT.
      Di kala Allah menjelaskan perihal hubungan semesta alam raya beserta mekanisme geraknya, maka saat itulah Allah dalam kalimat-Nya menggunakan kata ganti subyek NAHNU (Kami), yakni Allah beserta segenap perangkat geraknya yakni Malaikat. namun hati-hati supaya tidak terjebak ke dalam pemikiran bahwa Allah membutuhkan makhluq, melainkan Allah jualah yang menggerakkan Malaikat.
      Lalu dalam beberapa ayat atau keterangan Allah menyebut dirinya dengan kata ganti ANA (Aku / Saya), maka saat itulah Allah menjelaskan perihal jati diri-Nya secara tunggal sebagai Dzat yang hanya DIA yang berhak menguraikannya. Karena segala yang berada di luar lingkaran bukanlah porsi manusia untuk menganalisa. sehingga analisalah segala yang berada di dalam lingkaran. Bahwa semua yang di dalam lingkaran beserta dimensi geraknya semua Allah rangkum menjadi satu Buku / kitab yakni Al Qur-an. Untuk itulah seisi alam ini adalah Al Qur-an.
      mohon maaf, hanya sebatas pendapat..

      Like

  5. dalam QS 70:40 terdapat AKU, Rabbku dan KAMI dalam satu kalimat/ayat . bisa dijelaskan siapa AKU, Rabb(Tuhan)KU dan KAMI dalam ayat tsb. Tolong jawabn bukan apologi lagi tapi yg benar2 menjawab. Simplenya kenapa tidak Aku saja terus atau Kami saja terus.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s