30 hari mencari cinta dan meraih gelar M.Tq (Bagian 1 dari 3)

Pendahuluan

Bismillah…

ياأيها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كم كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, [Q.S. Al-Baqarah (2):183]

Judul diatas mungkin sedikit terdengar aneh. Ya memang sedikit aneh…karena kalau tidak aneh, maka tidak ada yang akan mencoba melirik tulisan ini. 😀 Tulisan ini merupakan sebuah nasehat buat diri sendiri yang mungkin juga berguna bagi teman-teman yang membacanya. Pada kesempatan kali ini saya mengambil judul “30 hari mencari cinta dan meraih gelar M.Tq”. Ada apa dengan 30 hari? Mengapa mencari cinta selama 30 hari? Gelar M.Tq itu apa? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini menggelayuti pikiran pembaca sesaat setelah membaca judulnya saja. Ya, tulisan ini berkaitan dengan Ramadhan yang sebentar lagi akan kita jelang. Selama 30 hari kita akan ditempa untuk mencari ‘poin’ pahala sebanyak-banyaknya, agar dari ‘poin-poin’ pahala yang kita dapatkan menjadikan pribadi-pribadi yang bertaqwa kepada-Nya, atau bahkan meningkatkan derajat ketaqwaan kita kepada-Nya (M.Tq = Master of Taqwa atau Manusia Taqwa 😀 ). Jika kita analogikan dalam dunia MLM, supaya naik tingkat, kita harus mendapatkan banyak poin dari downline. Nah, bagaimana kemudian kita bisa mengais poin-poin pahala tersebut di bulan ramadhan? Salah satunya adalah kita harus memahami betul apa itu ramadhan, ada apa di dalam ramadhan, dan perbuatan apa saja yang bisa ditukarkan menjadi pahala?. Nah, tulisan ini insya Allah akan mencoba mengulas tentang hal itu. Satu hal yang perlu diperhatikan ketika membaca tulisan ini adalah penulis bukanlah seorang ustadz. Penulis hanyalah seorang mahasiswa S2 jurusan fisika (bukan jurusan syari’ah) di sebuah universitas antah berantah di negeri yang antah berantah pula. Jadi, mohon dimaklumi, dikoreksi dan bila perlu dikritisi jika terdapat beberapa kesalahan dalam penggunaan kata atau penggunaan dalil atau bahkan penafsiran sebuah ayat atau hadits yang tidak sesuai, karena saya masih belajar.

Berbicara mengenai persiapan, saya teringat dengan ucapan seorang dosen pembimbing saya ketika masih kuliah di salah satu universitas di Indonesia. “Setiap kali kita ingin menggunakan alat untuk melakukan eksperimen, bacalah manualnya terlebih dahulu sebelum bereksperimen walaupun kita sudah hafal manualnya. Karena bukan tidak mungkin kita akan melakukan kesalahan akibat lupa, yang bisa mengakibatkan kerugian”. Begitu pula ketika kita akan memasuki ramadhan, usahakan baca ‘manual’nya dengan baik agar tidak terjadi kesalahan. Karena ramadhan ini hanya datang setahun sekali. Boleh jadi tahun ini akan menjadi ramadhan terakhir bagi kita. So, mari kita baca bersama dan pelajari kembali manual tentang ramadhan. Mungkin ada salah satu poin dalam manual tersebut yang terlupakan karena sudah setahun tidak dibuka dan dibaca. Nah, mari kita ingat kembali apa isi manual itu. Manual tersebut saya terjemahkan ke dalam sebuah bagan seperti gambar berikut ini.

Bagan pembahasan

Kajian semacam ini menjadi sangat penting, dimana masyarakat kita mungkin banyak terlena dengan rutinitas kerja setahun penuh, dan terkadang hanya bisa terperanjat saat menyadari ramadhan semakin dekat. Dalam prinsip manajemen manapun, kita akan temui tentang urgensi perencanaan. Maka begitu pula kita semua dalam menyambut Ramadhan, membutuhkan perencanaan yang matang. Namun sebelum merencanakan, maka ada baiknya jika kita mengenal apa tujuan akhir dari madrasah ramadhan ini? Ingin dapat apa kita dari Ramadhan? Oleh karenanya, jika pada umumnya pembahasan dilakukan berdasarkan urutan nomor (1 -3), maka pada tulisan ini, saya balik dari 3-1. Kenapa? Karena saya ingin memulai pembahasan dari tujuan akhir, dari sesuatu yg bisa memotivasi kita semua. Sehingga kita semua memahami dengan sepenuh hati mengapa kita berpuasa.

 3. Output: La’allakum tattaquun

Taqwa…apa itu taqwa? Taqwa secara bahasa berasal dari bahasa arab (وقى – يقى – وقاية – تقوى) yang bermakna mengambil tindakan penjagaan dan memelihara dari sesuatu yang mengganggu dan memudaratkan.  Sedangkan menurut istilah syariah adalah menjaga dan memelihara diri dari siksa dan murka Allah Ta’ala dengan cara melaksanakan segala hal yang diperintahNya, taat kepadaNya dan menjauhi segala hal dan perbuatan yang dilarang oleh-Nya. Sebenarnya banyak sekali definisi taqwa secara istilah, tetapi definisi di ataslah yang lebih sering kita dengar. Jika kita memperhaitkan dari sisi kalimatnya “melaksanakan segala perintah-Nya, taat kepada-Nya dan menjauhi segala hal dan perbuatan yang dilarang oleh-Nya”, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa taqwa adalah wujud cinta kepada Allah. Lho kok demikian? Bayangkan jika anda jatuh cinta kepada lawan jenis anda. Segala hal yang disukainya akan dengan sekuat tenaga dilakukan dan dipenuhi segala permintaannya, begitu pula dengan hal-hal yang dibenci olehnya, dengan sekuat tenaga pula akan kita jauhi perbuatan itu. Itulah cinta. Begitu juga seharusnya dengan taqwa. Maka tanyakanlah kepada diri sendiri sudahkan kita merasakan hal itu kepada perintah dan larangan Allah?

Sebenarnya banyak sekali parameter-parameter taqwa. Kita bisa jumpai dalam berbagai ayat dalam quran dan juga hadits Rasulullah SAW. Sebagai contoh ciri seorang yang bertaqwa (muttaqiin) adalah seperti yang Allah sebutkan dalam surat Al-Baqarah : 3-5 dan surat Ali Imraan : 133-136. Agar pencapaian peningkatan taqwa bisa kita raih dan dapat kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi penting bagi kita memahami hakikat taqwa yang sesungguhnya. Dalam bukunya Ahlur Rahmah, Syekh Thaha Abdullah al Afifi mengutip ungkapan sahabat Nabi Muhammad saw yakni Ali bin Abi Thalib RA tentang taqwa, yaitu:

الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ

Takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit)

Dari ungkapan di atas, ada empat hakikat taqwa yang harus ada pada diri kita masing-masing dan ini bisa menjadi tolok ukur keberhasilan ibadah Ramadhan kita.

  • Takut Kepada Allah.

Salah satu sikap yang harus kita miliki adalah rasa takut kepada Allah swt. Takut kepada Allah bukanlah seperti kita takut kepada binatang buas yang menyebabkan kita harus menjauhinya, tapi takut kepada Allah swt adalah takut kepada murka, siksa dan azab-Nya sehingga hal-hal yang bisa mendatangkan murka, siksa dan azab Allah swt harus kita jauhi. Sedangkan Allah swt sendiri harus kita dekati, inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah).

Karena itu, orang yang takut kepada Allah swt tidak akan melakukan penyimpangan dari segala ketentuan-Nya. Namun sebagai manusia biasa mungkin saja seseorang melakukan kesalahan, karenanya bila kesalahan dilakukan, dia segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada orang yang dia bersalah kepadanya, bahkan bila ada hak orang lain yang diambilnya, maka dia mau mengembalikannya. Yang lebih hebat lagi, bila kesalahan yang dilakukan ada jenis hukumannya, maka iapun bersedia dihukum bahkan meminta dihukum sehingga ia tidak menghindar dari hukuman. Allah swt berfirman:

و سارعوا إلى مغفرة من ربكم و جنة أرضها السموات والأرض أعدت للمتقين

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS Ali Imran [3]:133).

Sebagai contoh, pada masa Rasul ada seorang wanita yang berzina dan ia amat menyesalinya, dari perzinahan itu ia hamil dan sesudah taubat iapun datang kepada Rasul untuk minta dihukum, namun Rasul tidak menghukumnya saat itu karena kehamilan yang harus dipelihara. Sesudah melahirkan dan menyusui anaknya, maka wanita itu dihukum sebagaimana hukuman untuk pezina yang menyebabkan kematiannya, saat Rasul menshalatkan jenazahnya, Umar bin Khattab mempersoalkannya karena ia wanita pezina, Rasulullah kemudian menyatakan:

لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ    

Ia telah bertaubat, suatu taubat yang seandainya dibagi pada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya masih cukup. Apakah ada orang yang lebih utama dari seorang yang telah menyerahkan dirinya kepada hukum Allah? (HR. Muslim).

Ibadah shaum dan ibadah-ibadah lainnya mendidik kita untuk menjadi orang yang takut kepada Allah swt yang membuat kita akan selalu menyesuaikan diri dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya. Kok bisa ibadah shaum di bulan Ramadhan membuat kita takut kepada Allah? Bayangkan saja jika kita sedang puasa kemudian karena tidak sahur dan tergoda untuk berbuka, apa yang kita lakukan? mencari tempat sembunyi. Kenapa kita bersembunyi? tentunya karena takut ketahuan. Nah, masalahnya ketika kita berfikir untuk sembunyi, kita lupa satu hal, bahwa Allah Maha Tahu. Ini contoh yang paling simple saja. Kalau kita ukur dari sisi ini, kenyataan menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang belum bertaqwa karena tidak ada rasa takutnya kepada Allah swt. Dan bukan tidak mungkin, kita adalah salah satu diantara yang belum bertaqwa tersebut. Astaghfirullah.

  •  Beramal Berdasarkan Wahyu (Al-Quran)

Di dalam Quran surah Al-baqarah ayat 3 dikatakan, bahwa Quran adalah petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Ini jelas sekali Allah sebutkan dalam quran. Umat muslim seluruh dunia baik itu muslim yang baik maupun yang buruk sepakat bahwa Alquran adalah kitab suci mereka. Tidak ada sedikitpun perbantahan dikalangan mereka. Mereka semua sepakat. Tetapi ketika kita diperintahkan untuk menjalankan apa yang Allah perintahkan di dalam quran, tak sedikit orang berbantah-bantahan. Malah terkadang ayat-ayat quran hanya dijadikan sebagai tameng belaka.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar bisa bertaqwa kepada-Nya. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu beramal atau melakukan sesuatu berdasarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt, termasuk wahyu adalah hadits atau sunnah Rasulullah saw karena ucapan dan prilaku Nabi memang didasari oleh wahyu. Dengan kata lain, seseorang disebut bertaqwa bila melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam konteks inilah, menjadi amat penting bagi kita untuk selalu mengkaji, mengambil manfaat dan mengamalkan al-Quran dan al Hadits, sehingga segala perbuatan yang kita lakukan adalah berdasarkan Quran dan hadits. Sebab bagaimana mungkin kita akan beramal sesuai dengannya, bila memahaminya saja tidak dan bagaimana pula kita bisa memahami bila membaca dan mengkajinya saja tidak. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengambil manfaat dari Al-Quran untuk kemudian diamalkan? Insya Allah ini akan dituliskan pada tulisan-tulisan berikutnya. 😀

Dalam kehidupan para sahabat, mereka selalu berusaha untuk beramal berdasarkan wahyu, karenanya mereka berusaha mengkajinya kepada Nabi dan para sahabat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang suka bertanya. Meskipun mereka suka melakukan sesuatu, tapi bila ternyata wahyu tidak membenarkan mereka melakukannya, maka merekapun berusaha untuk meninggalkannya.

Dalam kehidupan kita saat ini, untuk melakukan sesuatu berdasarkan wahyu rasanya sangat berat sekali. Mungkin mudah bagi lisan untuk mengucapkan, tetapi tidaklah mudah untuk dilakukan dan istiqamah dalam melakukannya. Sebagai contoh saja, di negeri kita sendiri, seorang muslim yg berpoligami lebih dahsyat hujatannya daripada yang terang-terangan berzina. Padahal poligami ada disebutkan dalam Al-Quran dan diperbolehkan. Sebaliknya zina sangat jelas dilarang. Bukan perbuatan zinanya yang dilarang, tetapi mendekati hal-hal yang memicu untuk melakukannya. Jika mendekati perbuatan zina saja dilarang apalagi melakukannya. Bahkan ada dari mereka yang membentuk sebuah komunitas menolak poligami, dan malah memberi dukungan kepada public figure yang melakukan zina. Naudzubillah tsumma naudzubillah…

  •  Mempersiapkan Diri Untuk Akhirat.

Mati merupakan sesuatu yang pasti terjadi pada setiap orang. Keyakinan kita menunjukkan bahwa mati bukanlah akhir dari segalanya, tapi mati justru awal dari kehidupan baru, yakni kehidupan akhirat yang enak dan tidaknya sangat tergantung pada keimanan dan amal shaleh seseorang dalam kehidupan di dunia ini. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu mempersiapkan dirinya dalam kehidupan di dunia ini untuk kebahagiaan kehidupan di akhirat, sebagaimana yang Allah katakan dalam Quran :

ياأيها الذين أمنوا اتقواالله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hasyr : 18)

Bila kita sudah menyadari kepastian adanya kematian, maka kita tidak akan mensia-siakan waktu yang diberikan oleh Allah di dunia yang tidak lama. Kita akan berusaha mengefektifkan perjalanan hidup di dunia ini untuk melakukan sesuatu yang bisa memberikan nilai positif, dalam bentuk apapun itu tetapi kerangkanya ibadah kepada Allah. Karena pada hakikatnya tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. Seperti yang sudah pernah saya tuliskan di sini. Nah, dari sini kita bisa dapatkan satu poin, bahwa untuk meraih gelar taqwa, maka mindset nya bukan lagi dunia, tetapi akhirat. Sehingga segala hal yang kita lakukan di dunia ini semuanya ditujukan untuk menggapai ke arah sana. Dan jika sudah begitu, maka tak ada lagi waktu yang disia-siakan.

Dan ibadah shaum Ramadhan ini merupakan salah satu bentuk persiapan untuk bekal di akhirat kelak. Kenapa? karena di bulan Ramadhan, Allah menyediakan ‘big sale’ untuk semua jenis ibadah. Sehingga memudahkan kita untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat kelak dengan berbagai macam cara. Apa saja caranya? Insya Allah akan dituliskan di bagian kedua. 😀

  • Ridha Meskipun Sedikit

Setiap kita pasti ingin mendapat sesuatu khususnya harta dalam jumlah yang banyak sehingga bisa mencukupi diri dan keluarga serta bisa berbagi kepada orang lain. Namun keinginan tidak selalu sejalan dengan kenyataan, ada saat dimana kita mendapatkan banyak, tapi pada saat lain kita mendapatkan sedikit, bahkan sangat sedikit dan tidak cukup. Orang yang bertaqwa selalu ridha dan menerima apa yang diperolehnya meskipun jumlahnya sedikit, inilah yang disebut dengan qana’ah, sedangkan kekurangan dari apa yang diharapkan bisa dicari lagi dengan penuh kesungguhan dan cara yang halal. Korupsi yang menjadi penyakit bangsa kita hingga sekarang adalah karena tidak ada sikap ridha menerima yang menjadi haknya, akibatnya ia masih saja mengambil hak orang lain dan administrasi serta penguatan hukum atas penyimpangan yang dilakukannya bisa diatur, karenanya Allah swt mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:

Ÿولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل و تدلوا بها إلى الحكام لتأكلوا فريقا من أموال الناس بالإثم و أنتم تعلمون

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.(QS Al Baqarah [2]:188).

Sikap menerima membuat kita bisa bersyukur dan bersyukur membuat kita akan memperoleh rizki dalam jumlah yang lebih banyak, bahkan bila jumlahnya belum juga lebih banyak, rasa syukur membuat kita bisa merasakan sesuatu yang sedikit terasa seperti banyak sehingga yang merasakan manfaatnya tidak hanya kita dan keluarga tapi juga orang lain. Inilah diantara makna yang harus kita tangkap dari firman Allah swt:

وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim [14]:7).

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa bertaqwa kepada Allah swt memerlukan kesungguhan sehingga kita dituntut untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Lalu apa balasan bagi orang yang bertaqwa? Tidak ada balasan yang paling pantas bagi seorang yang bertaqwa selain ampunan dan syurga seperti yang disebutkan oleh Allah dalam surah Ali-Imran : 136. Maka sekarang saatnya kita tanyakan kepada diri sendiri, maukah kita merasakan nikmat di surga-Nya? Maukah kita mendapatkan ‘fasilitas-fasilitas’ yang Allah berikan tersebut? Maukah kita menjadi orang yang bertaqwa? Jika kita menginginkannya, maka tanamkan tekad yang kuat dalam diri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan di Ramadhan tahun ini. Karena di bulan Ramadhan Allah memberikan banyak kemudahan untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Mau tau ada apa saja di bulan Ramadhan? Ini akan dibahas pada tulisan berikutnya.

Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s