30 hari mencari cinta dan meraih gelar M.Tq (Bagian 2 dari 3)

Bulan seribu bulan

Kedatanganmu dinantikan

Bulan seribu bulan

Penuh rahmat dan ampunan

Andai insan tahu keutamaan Ramadhan

Kan berharap semua bulan adalah Ramadhan

 Begitulah penggalan syair dari sebuah soundtrack sinema ramadhan di era 90-an, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Syair tersebut memang disitir dari sebuah hadits. Ya, ramadhan memang merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat islam. Banyak sekali keutamaan-keutamaan di dalamnya. Pada bagian kedua dari tulisan ini, saya ingin mencoba menyampaikan beberapa hal yg terkait dengan ramadhan, ada apa saja di bulan ramadhan? Keutamaan-keutamaan apa saja yang terdapat di dalamnya? Dan lain sebagainya. Untuk hal tersebut saya akan ambil dalil quran yaitu surat Al-baqarah ayat 183-187 dan sebuah hadits mengenai khutbah Rasulullah SAW di akhir bulan Sya’ban.

1. Dalil Quran

Pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya adalah ada berapa kata shaum dan shiyam dalam quran? Lalu terletak di surat apakah perintah tentang shaum ramadhan ini? Berdasarkan sebuah software Zekr (miliknya Ubuntu), saya mendapatkan 1 kata shaum (صوم) dan 8 kata shiyam (صيام) dalam quran. Dari 9 kata tersebut, hanya 3 yang berkaitan dengan Ramadhan, yaitu di dalam surat Al-baqarah ayat 183 dan 187, sisanya berkaitan dengan kafarat, seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah ini ini.. Uniknya, kedua ayat yang mengandung kata “shiyam” ini, diakhiri dengan kata taqwa.

Oleh karenanya, pada bagian ini saya akan coba mengupas sedikit tentang ayat shaum ramadhan ini (183-187).  Mari kita bahas ayat per ayat secara ringkas.

Surat Al-Baqarah183-187
  • Ayat 183

Ayat ini secara umum menjelaskan kepada kita tentang diwajibkannya puasa bagi orang-orang yang beriman. Ya, hanya bagi orang-orang yang beriman saja. Siapakah orang-orang yang beriman itu? Dalam tafsir Al-muyassar disebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang membenarkan adanya Allah dan Rasulullah dan juga mengikuti syariatnya. Puasa ini sebenarnya tidak hanya diwajibkan bagi umat muslim saja, bahkan umat-umat sebelumnya pun diwajibkan untuk berpuasa dengan sebuah tujuan akhir, yaitu meraih gelar taqwa, sebagaimana yang telah dibahas pada tulisan bagian 1. Dan puasa yang dimaksud di dalam ayat ini adalah puasa di bulan Ramadhan. Jadi, dari ayat 183 ini kita bisa ambil sebuah kesimpulan bahwa hukum dari puasa adalah WAJIB sebagaimana telah diwajibkan juga bagi umat-umat terdahulu sebelum islam dengan tujuan akhir agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa.

  • Ayat 184

Ayat ini berbicara mengenai rukhsoh (keringanan). Telah ditetapkan pada ayat sebelumnya bahwa hukum dari puasa di bulan Ramadhan adalah WAJIB. Lalu bagaimana dengan orang yang sakit di bulan ramadhan dan sedang dalam berpergian? Ada keringanan yang Allah berikan, yaitu menggantinya di hari lain di luar bulan Ramadhan. Jika ternyata melakukan puasa di hari yang lain pun terasa berat untuk dilakukan, seperti contoh kasus adalah wanita hamil dan menyusui, dan orang yang sudah lanjut usia, maka bisa menggantinya dengan fidyah. Apa itu fidyah? Fidyah adalah memberi makan seorang miskin. Berapa banyak? Nah, inilah yang kemudian harus kit abaca kembali ‘manual’ nya. Nah, dari ayat 184 ini kita bisa melihat, bahwa puasa ramadhan memiliki aturan main yang khusus, salah satunya adalah seperti yang dijelaskan diayat tersebut : ada aturan bagi orang yang sakit dan berpergian (safar). Ini berbeda dengan puasa-puasa di hari-hari lainnya.

  • Ayat 185

Di ayat 185 ini, salah satu keistimewaan bulan ramadhan disebutkan, yaitu bulan dimana Alquran untuk pertama kalinya diturunkan dari lauhul mahfudz menuju langit dunia. Di ayat ini juga dijelaskan mengenai fungsi dari alquran yaitu sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Jadi, secara tidak langsung, adanya ayat ini ditengah-tengah ayat tentang shaum adalah seolah-olah menganjurkan kepada kita semua agar mengoptimalkan ramadhan dengan berinteraksi secara intensif dengan al-quran, baik itu melalui tilawah, menghafal, mentadabburi, dan juga mengamalkannya. Telah dijelaskan pada bagian pertama dari tulisan ini bahwa salah satu hakikat taqwa adalah beramal sesuai dengan wahyu (alquran). Oleh karenanya, hiasi hari-hari kita selama ramadhan nanti dengan quran dan jadikan itu sebagai akhlak kita sehari-hari walaupun tidak di bulan ramadhan.

Di ayat ini pula disebutkan kapan puasa pertama kali dimulai. Yaitu ketika suatu daerah tempat kita tinggal sudah tampak bulan baru, yaitu bulan ramadhan. Maka pada saat itulah kita sudah memasuki bulan ramadhan dan diwajibkan untuk berpuasa. Ayat ini pula yang menjadi dalil tentang ru’yatul hilal, yaitu salah satu metode dalam ilmu falaq (astronomi) untuk menentukan awal bulan dalam system kalender hijriyah.

  • Ayat 186

Ayat selanjutnya secara umum berbicara tentang doa. Terselipnya ayat tentang doa ini di dalam kumpulan ayat tentang shaum ramadhan seolah mengisyaratkan kepada kita untuk banyak-banyak berdoa kepada-Nya, banyak-banyak meminta selama bulan Ramadhan. Mintalah kepada-Nya apa yang kita butuhkan. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, bahwa di bulan ramadhan ini Allah benar-benar memberikan fasilitas-fasilitas yang istimewa kepada umat islam. Maka pergunakanlah segala fasilitas-fasilitas yang ada di bulan ramadhan ini semaksimal dan seoptimum mungkin untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya.

  • Ayat 187

Di dalam ayat yang terakhir ini, ayat 187, Allah memberikan sebuah aturan khusus lain yaitu tentang hubungan suami istri. Allah tidak melarangnya selama menjalankan ibadah shaum di bulan suci ramadhan, hanya saja Allah mengatur waktunya. Bagaimana jika kita melanggar waktu yang sudah ditetapkan? Tentu ada konsekuensi yang harus kita terima. Jadi ada ‘aturan main’ yang khusus di bulan Ramadhan ini. Selain itu pula, ayat ini secara tidak langsung menyiratkan kepada kita untuk beri’tikaf di bulan ramadhan. Dan I’tikaf ini diletakkan di ayat terakhir dalam rangkaian ayat tentang shaum. Bahkan ketika kita sedang beri’tikaf pun, kita dilarang untuk keluar dari masjid lalu berhubungan dengan istri (maksudnya hubungan suami istri). Ini salah satu dari ‘aturan main’ itu.

Kesimpulan :

Dari paparan singkat di atas, kita bisa melihat bahwa shaum di bulan ramadhan adalah shaum yang special karena memiliki ‘aturan main’ yang khusus dan hukumnya WAJIB. Aturan main itu banyak sekali tertuang dalam fiqh shaum yang disarikan dari berbagai hadits. Rasulullah dan para sahabat melaksanakan shaum selama 9 kali. Ini artinya banyak sekali hal yang terjadi selama 9 kali shaum tersebut, dan tentunya banyak sunnah yang telah Rasulullah ajarkan dan contohkan kepada para sahabat. Oleh karena itu, pada tulisan di bagian awal saya sudah singgung mengenai pentingnya membaca ‘manual’. Ya, buku manual itu bisa berupa fiqh shaum ini. Mari kita review kembali pengetahuan fiqh shaum kita, karena bukan tidak mungkin ada hal-hal yang terlupa dalam rentang waktu 1 tahun.

2. Dalil hadits

Dalil dari hadits ini saya ambil dari sebuah hadits yang menceritakan tentang khutbah Rasulullah SAW di akhir bulan Sya’ban. Hadits ini kemudian oleh beberapa ulama di dhaifkan karena ada perawinya yang bermasalah. Karena derajat hadits ini dhaif, maka sebenarnya kita tidak bisa menjadikannya sebagai dalil utama. Tetapi kita tidak serta merta membuang hadits ini begitu saja. Kenapa? Karena ini bukan hadits maudhu’ (hadits palsu). Bedakan antara hadits lemah dengan hadits palsu. Kalo palsu itu jelas bukan perkataan Rasulullah, tetapi hadits dhaif itu sebenarnya ada dan Rasulullah pernah mengucapkannya hanya saja bermasalah pada orang-orang yang merawi-kannya terutama untuk hadits ini. Sehingga kita masih bisa menggunakan hadits dhaif ini sebagai fadha’il amal (targhiib wa tarhiib). Berikut adalah hadits yang dimaksud.

Khutbah Rasulullah SAW di akhir bulan Ramadhan

Artinya :

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasaNya suatu kewajiban dan qiyam (sholat) pada malam harinya suatu tahawwu’ (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan). Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan (sunnah) di dalamnya, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan kewa­jiban (fardhu) di bulan yang lain. Dan siapa saja yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan, (ia diganjar pahala) sama de­ngan orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga (al jannah). Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi pengampunan atas dosa-dosanya, ke­merdekaan dirinya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

 Para sahabat berkata, “Ya Rasu­lulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa.” Rasulullah Saw pun menjawab, “Allah memberikan pahala terse­but kepada orang yang memberikan sebutir korma sekalipun atau sekedar seteguk air atau sehirup susu. Bulan Ramadhan ini adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Siapa saja yang meringankan beban dari orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Karena itu perbanyaklah empat perkara di bulan Ramadhan ini. Dua perkara yang dengannya kalian menyenangkan Tuhan kalian dan dua perkara lainnya sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang kalian lakukan untuk menyenangkan Tuhan kalian adalah: mengakui dengan sesungguhnya bahwa tiada Tu­han melainkan Allah dan kalian memohon ampunan kepada- Nya. Adapun dua perkara yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surgaNya dan berlindung dari api neraka. Si­apa saja yang memberi minum kepada orang yang berpuasa niscaya Allah akan memberinya minum dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasa haus lagi sesudahnya hingga ia masuk surga.”

Dari paparan hadits tersebut dapat kita ambil beberapa poin penting, diantaranya :

  • Bulan ramadhan adalah bulan yang agung dan penuh berkah, karena di dalamnya terdapat malam lailatul qadr, yaitu suatu malam yang lebih baik daripada seribu malam.
  • Di dalam bulan ramadhan shaum hukumnya wajib dan menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamullail merupakan ibadah sunnah yg dianjurkan.
  • Ini salah satu keistimewaan ramadhan : jika kita mengerjakan sebuah ibadah yang sunnah di bulan ramadhan, maka nilainya akan sama dengan mengerjakan sebuah ibadah yang wajib. Jika kita mengerjakan ibadah wajib, maka nilainya sama dengan 70 kali lipat dibandingkan dengan mengerjakannya di bulan selain bulan ramadhan. Dari poin ini kita bisa menangkap sebuah sinyal penting, bahwa di dalam bulan ramadhan, sebaiknya kita tidak menyianyiakan kesempatan untuk mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, seperti sholat sunnah, qiyamullail, dsb. Karena ternyata Allah akan mengganjarnya setara dengan nilai ibadah wajib. Maka seharusnya kita mempersiapkan fisik kita, kesehatan kita, stamina kita, agar dapat mengerjakan ibadah-ibadah sunnah sebanyak mungkin.
  • Satu keistimewaan lain dari bulan ramadhan yaitu bahwa bulan ramadhan adalah bulan kesabaran. Bulan dimana kesabaran kita benar-benar ditempa. Di dalam bulan ramadhan memang kita dianjurkan untuk menjaga stabilitas emosional kita. Ini juga disebutkan dalam hadits rasulullah yang lain dengan lafadz yang berbeda.
  • Keistimewaan lain dari bulan ramadhan bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi pengampunan atas dosa-dosanya, kemerdekaan dirinya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu. Maka banyak-banyaklah kita memberikan hidangan untuk berbuka bagi shoimin wa shoimaat karena ganjarannya yang begitu besar. Oleh karenanya perlu persiapan harta juga di bulan ramadhan ini untuk banyak-banyak bersedekah dengan memberikan hidangan untuk berbuka. Jika kita tidak memiliki banyak harta untuk melakukannya, maka tak perlu kemudian kita berkecil hati, karena hanya dengan memberi seteguk air saja, atau sebutir kurma saja, itu ganjarannya sama. Jadi ramadhan ini benar-benar bulan dimana Allah obral besar-besaran, berbuat sedikit atau kecil, tetapi memiliki nilai besar.
  • Keistimewaan lain dari bulan ramadhan adalah bahwa di dalamnya terdapat rahmat, maghfiroh, dan pembebasan dari neraka. Kalimat pembagian ramadhan menjadi 3 bagian ini sebenarnya menjadi perdebatan di kalangan ulama. Tetapi di sini saya tidak akan memaparkan secara rinci perdebatannya. Alih-alih menjelaskan perdebatan, saya hanya merangkum, bahwa di dalam ramadhan terdapat 3 hal ini. Maka sepantasnyalah kita benar-benar mempersiapkan ramadhan itu dengan sebaik-baiknya.

Dari penjelasan bagian kedua ini, kita bisa melihat betapa agungnya bulan ramadhan ini. Bulan yang special, bulan yang memiliki beberapa keitimewaan, bulan memiliki aturan khusus, bulan yang di dalamnya ada sebuah malam yang nilainya setara dengan 1000 bulan, dan lain-lain. Oleh karena itu, persiapan dan perencanaan untuk menjalankan ibadah-ibadah di dalam benar-benar dibutuhkan agar kita tidak mensia-siakan ramadhan dan benar-benar bisa mengoptimalkan ibadah di bulan ramadhan. Setelah bagian kedua ini, setidaknya kita sudah mendapatkan gambaran tentang keistimewaan bulan ramadhan. Lalu persiapan apa saja yang bisa kita lakukan menjelang memasuki ramadhan? Insya Allah, ini akan saya tuliskan di bagian ke tiga.

Bersambung ke bagian 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s