Lebaran 1433 H KBRI-Seoul : Lautan Muslim Indonesia

Tahun ini adalah yang keempat kalinya saya berlebaran di Korea dan sudah ke-6 kalinya berlebaran tidak bersama keluarga di rumah. Rekor bang thoyyib pun berhasil saya pecahkan. Bangga? Ah, enggak juga. Justru jauh di dasar hati yang paling dalam (widiiih..) ada keinginan untuk bisa berlebaran bersama keluarga lagi. Begitu juga orang tua menginginkan hal yang sama. Karena setiap kali berbincang melalui telepon kalimat itulah yang selalu terucap dari mereka. Tapi untuk saat ini memang hal tersebut belum bisa terwujud. Insya Allah suatu saat nanti (entah kapan) hal itu akan terwujud dengan suasana yang berbeda. Amiiiinn…

Lebaran memang merupakan salah satu momen yang sangat tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan juga sebagai ajang silaturahim. Tidak sedikit kita lihat di facebook, banyak sekali yang mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya berkumpul bersama keluarga saat lebaran dengan mengunggah foto-foto bersama keluarganya. Ah, jadi pengen. Tapi apa daya. Daripada berlarut-larut dalam kerinduan yang sama sehingga jadi galau, mendingan kita share juga pengalaman lebaran di negri orang tanpa keluarga. Hmmm… Tetapi jika kita ubah sudut pandang “keluarga” dengan keluarga besar perantau, maka jadilah lebaran di negri orang juga bersama keluarga. Keluarga para perantau, entah itu TKI atau mahasiswa, yang penting sama-sama perantau.

Lebaran tahun ini agak sedikit berbeda dengan lebaran sebelumnya walaupun tanggal pelaksanaannya sama yaitu 1 syawal :D. Yang membedakan idul fitri tahun ini dengan tahun sebelumnya adalah hari pelaksanaan, yaitu hari minggu yang merupakan akhir pekan. Teringat lebaran di tahun 2009, ketika pertama kali saya sampai di Korea. Saat itu lebaran juga jatuh pada hari ahad dengan jumlah jamaah sekitar 5000 orang (malah lebih dari itu kayaknya). Tetapi saat itu cuaca cerah. Berbeda dengan sholat idul adha tahun 2011 kemarin yang dilakukan pada hari minggu dengan curah hujan cukup deras. Saat itu sholat dilakukan 2 kali mengingat banyaknya jamaah yang datang ke KBRI walaupun beberapa masih tidak bisa mengikuti sholat karena terjebak hujan di stasiun subway. Lebaran tahun ini (2012) jatuh hari minggu dengan prakiraan cuaca hujan. Saat melihat prakiraan cuaca (yang hampir benar) saya hanya berharap hujan tidak deras dan kalaupun iya, hujannya setelah sholat saja, jangan seperti lebaran tahun 2010 yang hujan deras terjadi ketika sholat sedang berlangsung. Tetapi untungnya, pihak KBRI sudah menyiapkan tenda (dari sponsor) di pelataran, ini yang baru dari sholat ied tahun ini di KBRI. Berita ini memang cukup membuat tenang.

Malam takbiran…ketemu di Itaewon, memastikan 1 syawal sekaligus ‘takbir keliling’… 😀

Seperti yang sudah saya prediksi, jamaah akan mulai memenuhi KBRI sejak sabtu sore/malam. Persis seperti tahun 2009, malam itu selepas takbiran saya tidur di pelataran KBRI bersama jamaah yang lain yang hanya beratapkan langit dan beralaskan tikar. Malam takbiran yang unik. Seadanya. Semua serba apa adanya. Tetapi itu tidak mengurangi rasa syukur kami di sini sebagai perantau. Takbiran tetap berjalan walaupun sedikit diguyur hujan. Dan kami sudah menganggap KBRI ini sebagai kampong kami semua. Semuanya mudik ke sini dan tanpa macet. Alhamdulillah. 🙂

***

Ahad, 19 Agustus 2012, KBRI – Seoul

Suasana pagi idul fitri benar-benar terasa. Ya terasa sekali. Semua orang rapi mengenakan pakaian terbaiknya untuk menunjukkan rasa syukur mereka atas nikmat dari Allah yang tak terkira. Kalaulah tak ada iman di dada mereka, boleh jadi idul fitri terasa hambar. Setelah melalui madrasah ramadhan selama sebulan, dengan aktivitas yang tak berkurang sedikitpun, dan dengan jam puasa yang lebih panjang dari Indonesia, serta kegiatan-kegiatan lain di malam hari, mereka dapat melaluinya dengan baik. Semoga mereka menjadi alumni-alumni ramadhan yang memenuhi kriteria-kriteria yang khatib sampaikan saat khutbah ied kemarin, sehingga kualitas ketaqwaan mereka meningkat.

Berikut ini adalah foto-foto kemeriahan Idul fitri 1433 H di KBRI Seoul.

[Dokumentasi milik: Pak Wasito Achmad, KBRI]

KBRI ‘kebanjiaran’ manusia

Subhanallah…Pemandangan yang menakjubkan…

Jamaah yang tidak kebagian tempat, sholat di jalan kecil di samping gedung KBRI

Konsumsi untuk jamaah

Ya begitulah suasana Idul Fitri di Korea Selatan, terutama untuk wilayah Seoul dan sekitarnya. Idul Fitri yang subhanallah ‘sesuatu’ banget. 😀 Walaupun jauh dari keluarga dan sanak saudara, tapi di sini kami adalah keluarga. Keluarga besar Republik Indonesia.

Bersama ini pula, saya pribadi mengucapkan

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum…

Kullu ‘aam wa antum bikhair…

la’allaha an yaj’alana minal muttaqiin…

Minal aidin wal faizin..

Mohon maaf atas segala khilaf dan salah..

Mohon maaf atas segala ucapan, tulisan, sikap, dan tingkah laku…

Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama Ramadhan….

Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik selepas Ramadhan…

Repost from Facebook.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s