Rihlah ke Jebu-do (제부도)

Tulisan kali ini merupakan selingan dari 2 tulisan saya sebelumnya yang mencoba membahas mengenai teknologi display yang saat ini merupakan bidang yang sedang saya tekuni. Kebetulan beberapa hari ini saya mendapatkan jatah libur cukup panjang karena perayaan Chuseok (추석), 29 September – 1 Oktober 2012, yang kemudian bertemu dengan hari libur nasional (개천절), 3 Oktober 2012. Jadilah hari selasa dianggap libur dan dapat kesempatan untuk jaln-jalan. Terlebih jika jalan-jalannya tidak sendiri (berjama’ah), maka tentu akan lebih seru. 😀 Selain itu, tulisan ini juga ditujukan untuk mengambil nilai-nilai positif dan kemudian (berharap) bisa diterapkan di negeri sendiri. Jadi tulisan ini tidak bermaksud mempromosikan daerah wisata Korea Selatan, tapi lebih kepada mengambil sisi-sisi positif/belajar dari mereka.

Jebu-do…hmmm….kata “do” di belakang biasanya menunjukkan makna pulau atau propinsi dalam bahasa korea. Dan dalam hal ini, yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pulau Jebu yang terletak di sebelah barat Seoul, dekat dengan Incheon. Pulau ini sangat kecil. Kita bisa mengelilingi pulau cukup dengan berjalan kaki yang kira-kira hanya memakan waktu satu jam saja. Sangat kecil bukan? Lalu apa yang menarik dari pulau ini? Baiklah, saya coba beri gambaran seperti apa pulau ini.

Peta pulau Jebu

Pertama, laut yang mengering.

Hmmm….sepertinya kurang cocok sebutan “laut yang mengering” untuk menggambarkan fenomena ini. Kenapa saya katakan dengan kalimat tersebut? Jadi begini, sebenarnya pulau Jebu dan pulau besar Korea itu terpisah oleh lautan (jika dilihat dari peta di atas). Tetapi yang unik adalah kita bisa menyeberang ke pulau Jebu dengan menggunakan bus atau mobil biasa tanpa bantuan kapal/perahu. Bagaimana bisa? Ya bisa. Yaitu dengan memanfaatkan kekuatan bulan. Nah lho bingung ya? Bulan memiliki gaya gravitasi. Dan sebagai salah satu efeknya adalah terjadinya fenomena pasang-surut air laut. Nah, untuk menuju pulau ini dengan menggunakan mobil/bus, tentu membutuhkan jalan darat. Pemerintah Korea kemudian membuat jalan yang menghubungkan kedua pulau tersebut. Jalan ini hanya bisa digunakan ketika laut sedang dalam keadaan air laut sedang surut. Dan ini terjadi di siang hari. Dan ini jaraknya sekitar ratusan meter.

Dan fenomena ini kemudian disebut oleh orang Korea sebagai “The miracle of Moses” (모세가적). Sebenarnya ini terlalu lebay kalo menurut saya. Lha wong ini memanfaatkan tenaga alam yang kemudian dimanipulasi dengan menggunakan jalan kok trus disebut dengan “The miracle of Moses”. Tapi, ya begitulah Korea. Untuk menarik minat pengunjung dan meningkatkan pemasukan dari bidang pariwisata, maka dibuatlah promosi yang lebay Bombay. Dan memang kenyataannya berhasil. Hmmm…mungkin Indonesia perlu meniru cara-cara yang kreatif tersebut (tanpa lebay) untuk meningkatkan pariwisata. Karena terus terang, alam Indonesia jauh lebih bagus secara alami dibandingkan alam di sini yang notabene sudah ada campur tangan manusia (manipulatif).

Jalan yang menghubungkan 2 pulau

Kedua, keindahan alam pulau kecil ini

Memang pulau ini menyimpan berbagai keindahan alam. Pesona pemandangan yang bagus ditambah udara yang mendukung, ditambah lagi dengan beberapa fasilitas penunjang keindahan alam, tentu menjadikan pulau kecil ini memiliki nilai ‘jual’ di mata para pengunjung/turis. Ada beberapa fasilitas-fasilitas yang menurut saya bagus, yaitu jembatan yang mengitari salah satu bagian sisi pulau yang sudah terhantam oleh air laut. Pemerintah setempat membuatkan jembatan yg menghubungkan sisi pulau tersebut ditambah dengan beberapa spot yang sangat bagus untuk mengambil gambar (foto). Selain itu juga dilengkapi dengan teropong yang dapat memperlihatkan suasana di pulau seberang. Dilengkapi juga dengan mercusuar dan arsitektur jembatan yang menarik. Ditambah lagi dengan adanya penginapan-penginapan yang pelayannya bagus. Dan yang ga kalah penting adalah masalah kebersihan. Wah, pokoknya bagus lah. Indonesia perlu meniru hal-hal positif ini untuk bisa menarik lebih banyak lagi turis asing, sehingga mereka bisa mengenal alam Indonesia yang supeeerrr. 😀

The beauty of Jebu island

Ketiga, restoran seafood

Menurut saya, yang menjadi daya tarik lain dari pulau ini adalah restoran seafoodnya. Emang sih ga terkenal banget, saya sendiri juga baru dengar. Tetapi, yang mereka sajikan adalah fresh seafood. Maknyus deh bagi yang suka kuliner seafood. Begitu juga cara mereka menarik pengunjung agar mau mampir ke restoran mereka. Masing-masing restoran menapilkan gaya-gaya yang unik. Ada yang berpakaian ala koboi, superman, dan bahkan tokoh-tokoh dalam film kartun. Kalau kita melihat, tentu akan tertawa. Pelajaran yang bisa diambil dari sini, mungkin di Indonesia perlu ada perubahan marketing untuk para pedagang yang berada di daerah pariwisata dengan cara-cara unik juga.

Kostum unik untuk menarik pengunjung

Hal-hal seperti inilah yang seharusnya patut dicontoh oleh Indonesia dari Korea, bukan k-pop nya, bukan jingkrak-jingkraknya, bukan juga pakaian-pakaian penyanyi wanita yang seakan mengisyaratkan kekurangan bahan, bukan gaya rambutnya, dan bukan hal-hal yang tidak / kurang ada manfaatnya. Yah, mungkin itu saja tulisan selingan kali ini. 🙂

Foto-foto lainnya bisa dilihat di FB saya. 😀

Jama’ah IKMI Guro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s