Sifat Munafiq dalam surat At-Taubah:79

Suatu ketika, sesaat setelah Rasulullah memberikan pelajaran tentang infaq, maka para sahabat bersegera untuk melaksanakannya. Ada dua orang yang memberikan sedekah dalam jumlah fantastis.

Yang pertama adalah Abdurrahman bin Auf. Siapa yang tidak kenal dengan saudagar yang satu ini. Abdurrahman bin Auf mensedekahkan 2000 dirham. Jika disesuaikan dengan kondisi sekarang, 1 dirham kira-kira setara dengan Rp 70,000 [ref. wakalanusantara], maka total yang ia sedekahkan sebesar kurang lebih Rp 140.000.000 (140 juta rupiah). Sebuah nilai yang fantastis.

Yang Kedua adalah ‘Ashim bin ‘Adi, dia mensedekahkan 100 wasaq kurma [1 wasaq = 60 sha’, 1 sha’ = 2,176 kg] atau sekitar 13.000 kg kurma. Bila dikonversi, harga kurma (dalam hal ini kita ambil kurma terbaik, yaitu kurma ajwa) adalah Rp 350.000 per kg-nya [ref. syifastore, harga pasaran 325-400rb per kg, ambil harga tengah walaupun di beberapa toko harganya lebih mahal dari ini]. Maka sedekah yang ia keluarkan adalah sebesar Rp 4.550.000.000. Sebagai perbandingan lainnya, untuk kurma yang standar/biasa2 aja/yang paling murah, harga per kg-nya adalah Rp. 65.000 [ref. alifkorma], maka nominal infaq ‘Ashim bin ‘Adi sebesar Rp. 845.000.000. Subhaanallah. Kisarannya juga fantastis, antara Rp. 845 juta sampai Rp. 4,5 M.

Namun ceritanya masih berlanjut, setelah dua sedekah dengan jumlah fantastis ini kemudian ada orang yang berkata, “Ah, dua orang itu kan bersedekah demikian besar untuk pamer, agar orang tahu bahwa mereka itu adalah orang kaya yang dermawan.”

Kemudian tidak lama muncul seseorang yang bernama Abu ‘Aqil, dia hanya bisa membawa 1 sha’ kurma, atau sekitar 2,176 kg kurma untuk disedekahkan. Lagi-lagi ada yang bersuara, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang miskin ini”

Maka Allah membalas suara-suara sumbang itu dengan sebuah ayat:

(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. (At-Taubah: 79)

***
Tidak ada seorang pun yang luput dari celaan dan cemoohan mereka dalam semua keadaan, hingga orang-orang yang taat bersedekah pun tidak luput dari cercaaan mereka. Jika ada seseorang dari mereka yang taat datang dengan membawa zakat yang banyak, maka orang-orang munafik mengatakan, “ini pamer”. Jika seseorang datang dengan membawa zakat yang sedikit jumlahnya, maka mereka berkata, “sesungguhnya Allah Mahakaya dari sedekah orang ini”. [Tafsir Ibnu Katsir]

  1. Semoga kita terhindar dari sifat ini. Sifat yang Allah beri label sebagai seorang munafiq. Yaitu orang yang selalu ‘nyinyir’ ketika ada orang lain berinfaq (infaq harta khususnya, jenis infaq/kontribusi lainnya pada umumnya).
  2. Semoga kita bisa berinfaq layaknya Abdurrahman bin ‘Auf dan ‘Ashim bin ‘Adi. Mari persiapkan finansial diri menjelang Ramadhan, mari berlomba berinfaq, minimal infaq kurma. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s