Istilah-istilah dalam silsilah keluarga dalam budaya jawa

Saya/Anda/kita pasti mempunyai ayah. Lalu kita pun akan mendapati bahwa ayah kita juga memiliki ayah. Ayahnya-ayah kita sebut dengan istilah kakek. Selanjutnya, jika kita tarik urut ke atas, kita pun akan mendapati kembali bahwa kakek kita memiliki ayah, dan begitu seterusnya, bagaimana kita harus menyebutnya?. Begitu pula dengan putra saya/Anda/kita. anaknya anak kita, kita namakan cucu. Tetapi anaknya cucu dan terus ke bawah, harus kita sebut apa dia dengan istilah yang tepat?.

Kekacauan panggilan semacam ini, dalam keluarga masyarakat Jawa tidak akan terjadi. Karena mulai dari titik diri kita sendiri, seluruh garis keturunan sepuluh keatas dan sepuluh kebawah, semuanya memiliki istilah panggilannya. Berikut ini adalah istilah dalam silsilah keluarga jawa, 10 ke atas dan 10 ke bawah:

10. Galih asem (Mbah Galih Asem)
9. Debog Bosok (Mbah Debog Bosok)
8. Gropak Sente (Mbah Gropak Sente)
7. Gantung Siwur (Mbah Gantung Siwur)
6. Udeg-udeg (Mbah Udeg-udeg)
5. Wareng (Mbah Wareng)
4. Canggah (Mbah Canggah)
3. Buyut (Mbah Buyut)
2. Embah
1. Bapak
0. Kita atau Anda
1. Anak
2. Putu
3. Buyut (Putu Buyut)
4. Canggah (Putu Canggah)
5. Wareng (Putu Wareng)
6. Udeg-udeg (Putu udeg-udeg)
7. Gantung Siwur (Putu Gantung Siwur)
8. Gropak Sente (Putu Gropak Sente)
9. Debog Bosok (Putu Debog Bosok)
10. Galih Asem (Putu Galih Asem).

Sumber lain menyebutkan istilah 18 keturunan sebagai berikut:

Keturunan ke-1. Anak
Keturunan ke-2. Putu,  dalam bahasa Indonesia disebut “cucu”
Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut “cicit”
Keturunan ke-4. Canggah
Keturunan ke-5. Wareng
Keturunan ke-6. Udhek-udhek
Keturunan ke-7. Gantung siwur
Keturunan ke-8. Cicip moning
Keturunan ke-9. Petarangan bobrok
Keturunan ke-10. Gropak senthe
Keturunan ke-11. Gropak waton
Keturunan ke-12. Cendheng
Keturunan ke-13. Giyeng
Keturunan ke-14. Cumpleng
Keturunan ke-15. Ampleng
Keturunan ke-16. Menyaman
Keturunan ke-17. Menya-menya
Keturunan ke-18. Trah tumerah.

Dari kedua sumber di atas, terdapat perbedaan istilah sejak keturunan ke-8. Saya sendiri pun bingung, mana yang lebih tepat. Sejauh ini, saya belum menemukan buku referensi yang bisa dirujuk untuk memperkuat keterangan di atas kecuali hanya tulisan di blog saja. Sumber pertama lebih banyak dituliskan oleh penulis lepas, sedangkan sumber kedua beberapa saya temukan penulisnya merupakan akademisi.

Sumber:
1. Sumber 1

2. Sumber 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s