Episode kehidupan no #201501: Sebuah catatan tentang Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) 

Prolog

Sudah menjadi hal yang sangat lumrah bagi seorang suami merasa senang ketika mendapati istrinya hamil untuk pertama kalinya. Pada saat itulah suami seolah mendapatkan energi tambahan untuk melakukan aktifitasnya. Seperti itulah kiranya yang saya rasakan begitu mendengar istri akan memperoleh momongan setelah hampir setahun menunggu datangnya amanah itu. Alhamdulillah.

Enam bulan pertama masa kehamilan kami lalui di negeri ginseng Korea Selatan, karena saat itu saya masih dalam status bekerja di salah satu perusahaan di sana. Hingga terdengar kabar bahwa akan ada pemindahan kantor ke propinsi lain yang jarak perjalanannya lebih dari 2 jam dari rumah dengan akses ibadah dan makanan halal yang tidak mudah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, saya putuskan untuk membawa istri pulang ke Indonesia saat libur lebaran 2014 dan melanjutkan proses kehamilan sampai melahirkan di Indonesia.

Tiga bulan setelah itu, tepatnya bulan Oktober, lahirlah anak pertama kami dengan proses persalinan normal. Saya tak sempat menemani istri saat melahirkan karena saat anak lahir, saya masih berada di bandara Incheon dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Sebulan lamanya saya menjaga anak dan istri di Indonesia dan saat itu tak ada kekhawatiran apapun saat akan meninggalkan lagi kembali ke Korea, karena saat itu memang tidak ada tanda-tanda apapun. Hingga pada usia anak 2.5 bulan, istri mulai menunjukkan tanda-tanda sakit. Namun, saat itu saya mengira hanya penyakit ringan, karena gejalanya batuk dan agak sesak. Sampai akhirnya saya putuskan untuk “Back for Good” dari Korea. Begitu sampai di Indonesia, saya periksakan istri ke Dokter dan melakukan banyak uji medis. Awalnya heran, karena dilempar-lempar dari dokter penyakit dalam ke dokter jantung. Sampai akhirnya hasil uji tersebut keluar dan dokter menyatakan bahwa penyakit yang diidap istri adalah Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) dan harus menjalani rawat inap. Apa itu PPCM? Apa penyebabnya? Apa dampaknya? Bagaimana mengobatinya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya insyaAllah akan saya coba tuliskan di sini. Tujuan saya menuliskan ini adalah memberikan pengetahuan seputar PPCM ini berdasarkan pengalaman, diskusi, dan membaca beberapa artikel ilmiah kedokteran.

 

Apa itu PPCM?

Peripartum Cardiomyopathy, dari sisi Bahasa terdiri dari beberapa kata:

  • Peri = near/dekat (waktu), around/sekitar (waktu)
  • Partum = melahirkan (childbirth)
  • Cardio = jantung (heart)
  • Myopathy = penyakit yang menjangkiti otot (any disease of muscle)

Jadi, dari sisi Bahasa setidaknya kita dapat menangkap maknanya, “penyakit yang ada pada otot jantung yang terjadi pada saat dekat-dekat melahirkan (sebelum atau setelah)”. Atau kalau dalam terminologi medis “Peripartum cardiomyopathy (PPCM) is an uncommon disorder associated with pregnancy in which the heart dilates and weakens, leading to symptoms of heart failure” [M.M.Givert, Circulation. 2013;127:e622] yang kurang lebih artinya bahwa PPCM ini adalah sebuah ‘kekacauan’ pada jantung (melemahnya jantung) yang tidak biasa yang terkait dengan kehamilan dan mengarah pada gagal jantung.

Kaget? Pasti kaget, karena ada kata-kata “gagal jantung”. Ini urusannya sama jantung. Kita akan langsung berfikir ke arah kematian. Eitss…Tenang…tenang…yang namanya kematian itu adalah suatu hal yang PASTI, pasti akan terjadi pada siapapun dengan adanya penyakit jantung ataupun tidak. Semua pasti mati. Yang TIDAK PASTI adalah kapan, dimana, dan oleh sebab apa kita mati, ini yang tidak kita ketahui. Oleh karenanya tenang dulu ya, jangan berfikir terlalu jauh, mikir yang deket-deket aja… 😀

Gagal jantung itu sendiri apaan sih?

Heart failure is a common cardiac condition in which the heart is unable to pump blood at a sufficient rate to meet the demands of the body.” [M.M.Givert, Circulation. 2013;127:e622]

Jadi, gagal jantung adalah sebuah kondisi dimana jantung tidak dapat memompa darah dengan debit yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

 

Blausen_0165_Cardiomyopathy_Dilated
Source: wikimedia

Gambar di atas menunjukkan perbandingan kondisi jantung normal dan kondisi jantung dengan PPCM. Tampak pada gambar tersebut pembengkakan pada Ventrikel kiri (Left Ventricles). Makanya, setelah dilakukan rontgen, biasanya dokter akan berkomentar, “ini ada pembengkakan ya jantungnya…kita uji EKG ya, biar lebih jelas penyakitnya apa…”. Barulah setelah dilakuka EKG, didapatkan gambaran kondisi jantung. Salah satu faktor yang menjadi fokus utama adalah kemampuan pompa jantung.

 

Seberapa bahayakah PPCM ini?

Salah satu resiko dari PPCM ini adalah kematian. Ya kematian. Lho, ini baru aja disuruh tenang, kok sekarang malah ditakut-takuti?? Lha iya tho, lha wong yang sakit jantungnya. Tapi ingat: tadi saya menyebutkan “salah satu”, artinya masih ada peluang sembuh kok. Jangan khawatir, kalaupun kematian menghampiri, insyaAllah syahid kata Rasulullah. Ga percaya? Nih penjelasannya: https://konsultasisyariah.com/16603-wanita-yang-mati-karena-melahirkan-syahid.html. Dah ya, tenang…insyaAllah masih ada peluang sembuh dan kembali normal. Beneran? Ya benar, walaupun tidak 100% sembuh normal, karena tergantung pada kondisi pompa jantungnya.

 

Emang penyebabnya apa sih, kok cuma karena hamil dan melahirkan bisa memicu penyakit gagal jantung? Apa mending ga usah hamil dan melahirkan aja sekalian?

Berbicara mengenai penyebab, dari beberapa artikel kedokteran yang saya baca, mereka menuliskan seperti ini:

The pathogenesis is poorly understood, however, infectious, immunologic, and nutritional causes have been hypothesized.” [M.Moioli et.al, Arch Gynecol Obstet (2010) 281:183–188]

“A full comprehension of pathophysiological mechanisms that underpin PPCM appears to be lacking.” [P. A. Patel et.al, Clinical Medicine 2017 Vol 17, No 4: 316–21]

The underlying cause of PPCM has not been clearly defined.” [M.M.Givert, Circulation. 2013;127:e622]

Jadi Bahasa gampangnya begini, PPCM ini masih belum diketahui secara pasti penyebab utamanya apa, para dokter masih pada tahap penelitian sampai saat ini (tahun 2017). Mereka masih menduga-duga (hipotesa) mengenai penyebabnya. Ada yang menduga ini karena

  1. genetik (faktor keturunan),
  2. faktor hormon,
  3. faktor kekurangan nutrisi,
  4. kejang arteri koroner (coronary artery spasm),
  5. small-vessel disease,
  6. defective antioxidant defenses.

Walaupun ada beberapa faktor resiko yang berkaitan dengan PPCM, seperti usia hamil di atas 30 tahun, mengandung anak kembar, tekanan darah tinggi, mengkonsumsi kokain, tetapi tetap saja factor utama yang menyebabkan PPCM ini belum diketahui.

Kok belum diketahui sih penyebabnya apa?

Karena PPCM ini masuk kategori penyakit yang langka, maksudnya tidak banyak yang mendapatkan ‘ujian’ ini. Di Amerika, Kanada, dan Eropa peluang terjadinya kasus PPCM ini adalah 1 berbanding 2500-4000 pada tahun 2000 – 2010 [M.M.Givert, Circulation. 2013;127:e622], di Inggris sekitar 1 berbanding 5000 – 10000 [P. A. Patel et.al, Clinical Medicine 2017 Vol 17, No 4: 316–21]. Bayangkan, dari 5000 orang, cuma ada 1 yang terkena PPCM, jadi sangat jarang. Sehingga sulit bagi dokter untuk melakukan analisa yang mendalam. Setidaknya dari sini kita tahu, bahwa PPCM ini jarang terjadi, maka JANGAN TAKUT hamil dan melahirkan.

 

Bagaimana dengan peluang hidup?

Pasti akan muncul pertanyaan aneh lagi, seperti pertanyaan yang satu ini. Berikut ini datanya.

data ppcm

Data ini didapat dari 1230 pasien di RS John Hopkins pada rentang waktu 1982-1997 [M.M.Givert, Circulation. 2013;127:e622]. Dari grafik tersebut kita bisa lihat, 90% pasien hidup selama 5 tahun. Artinya peluang hidup, secara hitung-hitungan di atas kertas, masih ada. Saya katakan “hitung-hitungan di atas kertas”, karena sesungguhnya yang mematikan dan menghidupkan kita hanya Allah saja, dokter tak bisa menghidupkan atau mematikan. So, jangan takut.

 

Apa sih ciri-ciri PPCM ini?

Ada beberapa ciri-ciri PPCM [M.M.Givert, Circulation. 2013;127:e622]:

  1. Sesak nafas
  2. Merasa cepat/gampang lelah
  3. Kaki bengkak, (biasanya kembali normal setelah 1 bulan melahirkan)
  4. Nyeri perut, kembung
  5. Batuk, dada sakit
  6. Tekanan darah tinggi (lebih tinggi dari 120/80)
  7. Detak jantung cepat (deg-degan padahal ga ada apa-apa)
  8. Pompa jantung melemah (normalnya 55-75%, penderita PPCM lebih rendah dari itu). Ini bisa diketahui setelah pemeriksaan menggunakan EKG.

 

Trus proses penyembuhannya gimana dong klo belum diketahui penyebabnya?

Dokter biasanya hanya memberikan obat yang berfungsi mengurangi cairan dalam tubuh dan vitamin untuk jantungnya. Obat yang mengurangi cairan ini tujuannya untuk mengurangi beban kerja jantung. Dampak dari obat ini adalah berat badan istri akan turun. Sedangkan vitamin berguna untuk menguatkan otot jantung. Dokter lebih tau yang satu ini, jenis obat apa yang perlu diberikan beserta dosisnya. Dan proses pengobatan ini akan berlangsung dalam jangka waktu yang lumayan lama. Untuk kasus istri saya, yang hasil EKG nya menunjukkan pompa jantungnya hanya 30%, butuh waktu sekitar 22 bulan sampai dokter spesialis jantung menyatakan “ini jantungnya udah bagus ya…”

 

Apakah sekarang jantung istri saya 100% kembali normal?

Kalau kata dokter yang menangani istri saya dulu, tidak bisa 100% kembali normal dan itu bergantug pada kondisi jantung dan aktifitasnya. Jadi, kalau dokter berkata “ini jantungnya udah bagus ya…” itu artinya saat itu kondisi jantung sudah membaik dan tetap harus dijaga agar tetap dalam kondisi itu. Artinya aktifitasnya pun masih tetap dibatasi, jangan sampai terlampau berat. Karena jika terlampau berat, maka sesak nafas itu akan muncul kembali. Kalau sudah muncul lagi, artinya kerja jantung saat itu sangat keras. Sehingga harus beristirahat dan mengevaluasi, kira-kira aktifitas apa yang memberatkan.

 

Trus, bagaimana dengan menyusui?

Nah, untuk yang satu ini, saya kutip lagi dari salah satu jurnal kedokteran:

Patients with PPCM may choose to breastfeed after delivery, but this should be discussed with their caregivers. ACE inhibitors, β-blockers, and diuretics are generally considered safe in this setting.” [M.M.Givert, Circulation. 2013;127:e622]

Jadi, pada intinya boleh-boleh saja menyusui dengan mengkonsumsi obat-obatan jantung tersebut, tetapi sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokternya apakah aman atau tidak. Untuk kasus istri saya, istri saya berhenti menyusui dan sebagai gantinya susu formula (di masa transisi dan setelah 6 bulan) dan donor ASI. Alhamdulillah, masih dapat ASI eksklusif.

 

Trus, ada pantangan ga?

Ada.

  1. JANGAN biarkan istri melakukan aktifitas berat yang memaksa jantung bekerja keras memompa darah ke seluruh tubuh seperti naik-turun tangga, gendong bayi, mandiin bayi sambil jongkok, dan aktifitas lainnya. Jadi intinya, JANGAN tinggalkan istri sendirian, BANTU dia, atau paling tidak, ada yang membantunya jika suaminya tidak memungkinkan secara langsung membantunya. Ini saran keras buat para suami. Hehehe…
  2. Untuk makanan, sejauh ini saya belum menemukan informasinya. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah kandungan garam dalam makanan. Karena garam dapat meningkatkan tekanan darah. Kok bisa? Apa hubungannya? Di dalam garam ada bahan kimia (natrium) yang mampu mengikat air dalam darah dengan mudah sehingga darah menjadi pekat. Kalau darah pekat, maka tekanan darah naik dan sirkulasi darah menjadi bermasalah. Dan kalau sirkulasi ini bermasalah karena pekat tadi, maka jantung yang tugasnya memompa darah, akan mengeluarkan energi yang lebih besar dari biasanya. Kalau ini terjadi, sedangkan otot jantung sedang lemah, maka yang timbul kemudian adalah sesak nafas, tekanan darah tinggi, detak jantung meningkat. Setidaknya ini analisa pribadi saya. Itulah kenapa bagi penderita hypertension (tekanan darah tinggi) dianjurkan untuk mengontrol kandungan garam dalam makanan. Tssaaahh…analisanya keren yak… 😀
  3. Pantangan lainnya adalah dianjurkan untuk tidak hamil lagi dalam waktu 3-5 tahun setelah ‘sembuh’ dari PPCM ini, karena ada potensi PPCM ini akan muncul kembali pada kehamilan selanjutnya. Dalam kasus istri saya, setelah dokter mengatakan “ini jantungnya udah bagus ya, kalo bisa jangan hamil dulu 3-5 tahun ke depan”, saya bilang ke dokter “Dok, ini justru istri saya hamil lagi…kembar pula dok…” hohoho… :0. Ga usah nanya “trus reaksi dokternya gimana?” karena ga akan saya jawab. Tulisan ini hanya membahas tentang PPCM saja ya, yang lainnya tak usahlah kalian kepo-kepo amat. Hehehe… Kisah yang satu ini bersambung di tulisan episode kehidupan yang lain, insyaAllah.

 

Berapa biayanya?

Hmmm…untuk yang satu ini tergantung rumah sakitnya. Untuk kasus istri saya, tidak menggunakan BPJS, tetapi menggunakan biaya sendiri. Biaya awal masuk RS, rawat inap 5 hari dll, sekitar 7-8 juta. Setiap nengok dokter sambil mendengarkan ‘tausiyah’ beliau paling enggak 500ribu rupiah. Kalau ditambah EKG, ya bisa 1 juta lah. Biasanya di awal-awal, nengok dokter itu setiap 1 atau 2 minggu sekali. Setelah itu 1 bulan sekali. EKG biasanya 3 atau 6 bulan. Ya hitung aja sendiri lah ya. Ambil kalkulator biar gampang. Hehehe…

 

Kesimpulan

Apa kira-kira kesimpulannya? Silahkan disimpulkan sendiri aja ya. Intinya tetap tenang ketika menhadapi ujian dari Allah. Ubah sudut pandang. Karena tersebab PPCM ini peyakit yang langka, maka Allah memilih kita karena kita mampu menghadapinya. Yakinlah akan ada jalan keluar. Mati pun adalah salah satu jalan keluar, tetapi memilih mati sebagai jalan keluar tidak dibenarkan dalam islam. Kesimpulan lainnya jangan takut sama PPCM, istri saya malah hamil lagi setelah PPCM. Hehehe…padahal ketika tau istri hamil lagi, saya tegang juga. Hehehe…ya begitu aja ya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

 

Trus, kalau hamil lagi gimana?

Silahkan baca kelanjutannya di sini.

30 thoughts on “Episode kehidupan no #201501: Sebuah catatan tentang Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) 

  1. Tulisannya sangat membantu dan memberikan saya informasi lebih banyak lg mengenai ppcm. Istri saya divonis ppcm setelah 2 minggu melahirkan putra ke-2, saat ini sedang dirawat di HCCU RS. Al Islam Bandung. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan lahir batin kepada kita semua. Amiin..

    Like

      1. Aamiin, waktu awal sekali diperiksa hanya 22% pak, karena memang belum ketahuan penyakitnya itu hampir 3 minggu, awalnya dikira hanya batuk biasa taunya jantungnya sudah ada pembengkakkan. Sekarang sudah dirawat 5 hari di rumah sakit Alhamdulillah sudah ada perkembangan lebih baik. Menurut dokter masih harus bed rest sampai 2 atau 3 hari lagi. Mungkin ada saran dan masukan dari pengalaman pak Hadi jika istri hamil lagi setelah terkena PPCM apa yg harus dilakukan? Karena istri cukup down juga mendengar kabar jika setelah terkena PPCM tidak disarankan untuk hamil lagi sedangkan usia kami saat ini masih di bawah 30 tahun.

        Like

      2. hmmm…
        Pertama, jangan terlalu khawatir masalah vonis dokter. Istri down itu pasti karena istri saya dulu juga begitu di awal-awal.

        Kedua, resapi dan pahami kembali bahwa kita ini makhluk ciptaan Allah dan Allah yang mengatur kita. Dalam Aqidah kan seperti itu pak. Jadi pasrahkan saja semuanya kepada Allah. Pasrahkan sepasrah-pasrahnya. Dan pahami bahwa wilayah kerja kita sebagai manusia hanya pada usaha dan doa. Jadi fokuskan pada 2 titik itu, maksimalkan dan optimalkan. Sisanya (hasil) serahkan pada Allah.

        Ketiga, fokus pada pemulihan kondisi istri. Jangan biarkan istri menggendong bayi sambil berdiri, naik dan turun tangga, dan aktifitas-aktifitas lain yg membuat jantung bekerja keras. Suami harus back up. Kalau sibuk dengan urusan pekerjaan, solusinya bisa mempekerjakan pembantu. Atau meminta tolong kepada orang tua jika kondisinya memungkinkan.

        Keempat, nasehat dokter jantung istri saya waktu kami beri tau bahwa istri hamil adalah “rekomendasi yang saya sampaikan ini (tidak hamil lagi dalam rentang waktu 3-5 tahun) hanyalah ilmu yang kami pelajari saja pak. Kalau ternyata istri bapak hamil lagi dalam kondisi seperti ini, apalagi sudah ketahuan hamil, berarti Allah sudah menyiapkan jalan bagi kelahirannya nanti pak. Jadi ga usah khawatir. InsyaAllah ada jalan keluarnya nanti.” Begitu nasehat beliau waktu itu.

        Kelima, untuk kehamilan yg selanjutnya memang sebaiknya dijeda. Tetapi kalau ternyata Allah mentakdirkan hamil lagi dan lebih cepat, pilih sesar sebagai cara melahirkannya.

        Alhamdulillah saat istri melahirkan yang kedua, ppcm itu tidak muncul pak. Tetapi tetap kami upayakan menjaga kondisi jantungnya.

        Seperti itu mungkin berbagi sedikit pengalaman dari saya. Semoga bermanfaat.

        Like

      3. Subhanalloh, terima kasih atas saran dan masukannya pak, ini menjadi motivasi bagi saya dan istri untuk selalu semangat menjalani ikhtiar proses penyembuhan, selebihnya berserah diri kepada Allah yang maha menyembuhkan. Alhamdulillah jumat kemarin istri sudah boleh pulang dari RS.

        Like

      4. Saya ga bisa tidur Pak. Jadi mata nutup.tapi ga lelap. Apa efek obat ya?kepala saya juga nyut2 an .

        Like

      5. Dilalui dengan sabar bu, banyak zikir, dan upayakan badan istirahat dari aktivitas berat. Proses pemulihannya butuh waktu yang tidak sebentar. Saya kurang tau apakah itu efek obat atau bukan. Semoga cepat sembuh ya bu…

        Like

  2. Selamat pagi Pak..saya Anne dari Sukabumi..Pak saya baru melahirkan 1 bulan yang lalu..minggu lalu saya sesak nafas selama 3 hari..tapi yang paling parah adalah senin minggu lalu..saya sampai ke IGD katena ga kuat sesaknya..akhirnya di oksigen dan cek jantung..kata mereka saya harus k poli jantung ..saya pun di cek darah dan rontgen..ternyata kata Dr Jantung …jantung saya bengkak..dan itu tanda PPCm krna katanya kemungkinan dari darah tinggu saat melahirkan..saya disuruh pengobatan dulu sebulan yaitu obat untuk pipis terus dan tensi..gejala yang saya alami ga ada pembengkakan..ga ada mual muntah..tapi lebih ke sesak nafas. Cepat lelah. Gampang keringetan.dan saya pun jadi malas makan banyak..berat badan saya juga turun drastis.. dokter suruh saya stop asi karena katanya obatnya keras. Yang saya mau tanyakan..apakah pernah istri Bapak kambuh lagi penyakitnya atau tetap istri Bapak mudah lelah? Apakah tetap harus minum obat walau pengobatan sudah beres dan jantung sudah sehat? Apakah aktifitas tetap dijaga walau sudah sehat jantungnya? Bagaimana pola makan istri Bapak saat pengobatan?maaf Pak saya banyak tanya…terima kasih banyak Pak informasinya..

    Like

    1. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya mengenai PPCM. Semoga informasinya bermanfaat dan semoga ibu cepat sembuh dan pulih kembali.

      1. Apakah pernah kambuh?
      Pada intinya kondisi jantung setelah didiagnosa PPCM bergantung pada seberapa besar daya pompa hasil EKG nya. Daya pompa normal jantung berada di kisaran 55-75%. Untuk pasien PPCM biasanya lebih rendah dari itu sehingga jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Makanya bagi penderita mereka akan merasakan peningkatan pada detak jantung. Semakin rendah kemampuan detak jantung semakin lama waktu yg dibutuhkan untuk recovery. Dan walaupun nantinya bisa recovery, kondisinya tidak 100% seperti sebelum PPCM. Oleh karenanya, kemungkinan kambuh pasti ada jika beban aktivitas tidak dijaga. Begitu juga dengan istri saya. Kalau aktivitasnya sudah melampaui batas tertentu maka rasa sesak di dada akan muncul. Dan itu tandanya harus istirahat untuk mengurangi beban kerja jantungnya.

      2. Apakah tetap harus minum obat walaupun jantung sudah sehat?
      Ini bergantung pada saran dokter. Kalaupun sudah dinyatakan sehat tetapi kadang masih suka kambuh, biasanya dokter akan memberikan resep obat yg bisa digunakan sewaktu-waktu untuk ditebus di apotek. Biasanya untuk yg satu itu bentuknya vitamin jantung.

      3. Apakah aktivitas tetap dijaga walaupun jantungnya sudah sehat?
      Ya, harus tetap dijaga. Karena kondisi jantung tidak kembali 100% seperti sebelum PPCM.

      4. Bagaimana pola makan saat pengobatan?
      Pola makan biasa saja. Kurangi garam. Hanya saja memang ada obat yg diberikan dokter tugasnya mengurangi cairan dalam tubuh agar kerja jantung tidak terbebani secara berlebih. Saat berat badan meningkat maka kerja jantung pun meningkat. Oleh karenanya obat di sini menjadi fungsi kontrol terhadap beban kerja jantung. Dan memang berat badan akan turun drastis terutama di awal-awal proses pengobatan.

      Like

      1. Terima kasih banyak informasi nya Pak..sangat berguna bagi saya…Moga kita semua diberi kesehatan oleh Allah..aamiin

        Like

      2. Saya sekarang tambah kecil badan dan sekarang jadi lemas banget dan kurang nafsu makan dan kalau berdiri suka kaya lengleyengan…Saya dikasih dokter obat furosemide dan ramiphril…furosemide 1×1 tiap pagi dan ramiphril setengah tablet tiap malem…apakah itu harus rutin diminum?saya pipis terus…

        Like

      3. Kalau mengenai obat, ikuti kata dokter aja. Dokter lebih tau tentang dosis dan juga jenis obatnya. Kalau diminta rutin minum, ya harus rutin. Memang begitu di awal-awal. Dulu istri saya juga begitu.

        Like

      4. Pak Adnan Pak Warman saya sekarang dirawat d RS d Sukabumi karena semalam jam 1 shubuh saya hilang kesadaran dan ditemukan suami dikamar pingsan tapi henti nafas sejenak. Akhirnya dirawat sehari ini kejadian itu terjadi total kambuh 4x. Besok kamis baru ada Dokter Jantung. Saya mau tanya drop nya Istri istri Bapak saat masuk HCu atau dirawat dirumah sakit apa saja? Karena kepala saya setiap lengleyengan hilang sadar sejenak. Terima kasih infonya

        Like

      5. Selamat malam pak, saya pernah menderita PPCM saat saya hamil anak kedua yang menyebabkan sesak napas dan anak di kandungan saya meninggal saat usia kehamilan 9 bln. Saat ini setelah 6 bln rawat jalan saya di nyatakan sembuh namun tidak disarankan hamil dalam waktu dekat. Yang ingin saya tanyakan apakah istri bapak menggunakan KB?karena sekarang saya menggunakan KB suntik 1 bln, namun kata dokter KB suntik tidak di sarankan untuk mantan penderita PPCM. Maaf pak, boleh saya minta link grup PPCM nya..terimakasih pak

        Like

    2. Apa kabar pak Hadiyawarman? Semoga sehat selalu ya. Alhamdulillah kondisi istri saya semenjak vonis PPCM dari Februari 2019 sampai saat ini kondisi sudah membaik, hasil EF (Ejection Fraction) di bulan mei kisaran di 48% masih di bawah 55% memang. Untuk bu Anne Inshallah setiap penyakit pasti ada obatnya yg penting kita tetap berikhtiar, berdoa, dan sabar menjalaninya, tambahan saran dari saya sebaiknya tetap di Echocardiograf/EKG Jantung seperti saran pak Hadi, supaya perawatan dan terapi obatnya bisa sesuai. Istri saya semenjak berobat sudah tidak memberikan ASI lagi dan mau tidak mau sikecil pakai Formula tp alhamdulillah sikecil pun sekarang sehat. Untuk lamanya pengobatan dari setiap orang bisa berbeda2 tergantung dari berapa tingkat EF nya saat didiagnosa. Tapi kadang memang ada juga yg EF nya sudah diatas 50% bisa turun lagi dibawah 40% karena beraktifitas terlalu berat dan tidak teratur minum obat. Untuk pola makan tidak ada yang khusus, tapi kurangi garam dan batasi minum/cairan masuk kedalam tubuh max 1.5 liter per hari. Kalau dari paparan dokter jantung yg biasa merawat istri saya sesak terjadi karena ada penumpukan cairan di jantung hingga memenuhi paru2 maka dari itu dokter berikan obat furosemide untuk membuang semua cairan itu. Waktu istri saya pas hari pertama ketauan ppcm karena kondisinya sudah telat dan parah dan EF hanya berkisar 22% hari itu juga masuk ke ruangan HCU selama 3 hari diberi obat injeksi agar cairan bisa keluar cepat dan setelahnya bed rest total di rawat inap selama 5 hari baru diperbolehkan pulang. Awal2nya saya minta saran untuk berobat dirumah saja tapi dokter tidak mengijinkan karena kondisi EF nya saat itu sangat kecil sekali. Semoga membantu dan segera sehat kembali bu Anne. Aamiin..

      Liked by 1 person

      1. Alhamdulillah saya sehat pak. Bagaimana kabar pak Adnan? Semoga dalam kondisi sehat juga. Alhamdulillah senang dengar kabar perkembangannya pak Adnan. Dari 22% sampai sekarang sudah 48%. Luar biasa. Semoga istri dan anak sehat selalu pak Adnan. Salah dari kami sekeluarga.

        Like

      2. Aamiin,.Alhamdulillah sehat pak, dijalani ikhlas saja dan terus ikhtiar berobat selebihnya pasrah saja sm Allah, Inshallah pasti ada hasilnya.

        Liked by 1 person

      3. Selamat sore Pak..terima kasih informasinya Pak…dulu waktu istri Bapak dikasih furosemide badan tambahbkurus . Jadi lemas dan lengleyengan tidak? Saya furosemide 40mg 1×1. Terus furosemide nya diminum rutin atau saat terjadi keluhan seperti sesak nafas atau bagaimana?terima kasih

        Like

      4. Gejalanya sama dengan istri saya juga tetapi tidak sampe pingsan sih, sesuai saran pak Hadiyawarman seharusnya memang bed rest total sampai EF betul2 membaik dan heart rate stabil di 80bpm, istri saya pas pertama drop itu HR di kisaran 120 bpm dan langsung masuk HCCU 3 hari sampai di kisaran 100 bpm pindah ke ruangan rawat inap hingga total 6 harian HR sudah di kisaran 80 baru boleh pulang. Saran saya segera minta Echocardiografi juga kalau nanti dokter Jantungnya sudah ada. Info dari istri saya kalau mau gabung aja ke group wa ppcm mungkin bisa sharing disitu dan banyak yang support juga, berikut link nya: https://chat.whatsapp.com/FJBlUF4gsKGLAiq65xigtR

        Semoga lekas sembuh ya..Aamiin

        Like

      5. Pak Adnan Pak Warman saya sekarang dirawat d RS d Sukabumi karena semalam jam 1 shubuh saya hilang kesadaran dan ditemukan suami dikamar pingsan tapi henti nafas sejenak. Akhirnya dirawat sehari ini kejadian itu terjadi total kambuh 4x. Besok kamis baru ada Dokter Jantung. Saya mau tanya drop nya Istri istri Bapak saat masuk HCu atau dirawat dirumah sakit apa saja? Karena kepala saya setiap lengleyengan hilang sadar sejenak. Terima kasih infonya

        Like

      6. Belum tahu Pak. Dokter jantungnya baru ada besok. Jadi jantung saya berdebar kencang. Terus keleyengan hilang sadar. Istri Bapak dulu pas awal2 drop gejala apa ajj?

        Like

      7. Dulu istri saya juga begitu, jantung berdebar kencang, keleyengan, hilang kesadaran. Solusi sementara (sampai diperiksa dokter jantung besok): istirahat untuk mengurangi aktivitas yg dapat membuat jantung bekerja keras. Jangan menggendong bayi, naik turun tangga, angkat-angkat berat, dll.

        Like

      8. Assalamualaikum, saya tika..saya, saya mau tanya tadi yg pak adnan info sesak terjadi karena adanya penumpukan cairan diparu2 sehingga mesti dikasih obat injeksi..apakah itu disuntik atau bagaimna?
        mohon infonya terima kasih

        Like

      9. Waalaikumsalaam ibu tika, mungkin tergantung diagnosa/hasil pemeriksaan dokter dan dokter akan memberikan pengobatan yang berbeda bagi tiap2 pasien. Kalau kasus istri saya saat pertama masuk rumah sakit masa rawat inap di HCu diberikannya yang injeksi suntik sampai dokter tentukan berapa banyak cairan yang harus dikeluarkan dan akhirnya bs pindah ke ruang rawat inap. Selain itu istri juga tidak boleh terlalu banyak asupan cairan maksimal 1.5 liter per hari. Saat sudah boleh pulang dan berobat jalan diberikan yang obat biasa. Alhamdulillah setelah mau hampir 20 bulan menjalani pengobatan, dosis saat ini sudah berkurang dan rencana oktober ini akan Echo kembali, semoga hasilnya semakin baik.

        Like

  3. Maaf pak Adnan baru membalas..apakah obat injeksinya akan disuntikan pada bagian paru2 atau bagaimana pak?
    Alhamdulillah pak,semoga hasil echo istri bpk ada kemajuan terus yaa..
    Sebenarnya saya tanya ini utk suami saya pak yg kasusnya adalah chf..saya baca artikel pak warman bahwa kasusnya hampir sama makanya saya bertanya pak..dan juga kondisi suami saya EF nya ada penurunan ketika kondisi awal dan untuk saat ini belum echo lg..sedang rawat jalan setelah sempat rawat inap juga..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s