Melahirkan anak di Jepang

Melahirkan Anak di jepang

Kalau kita melakukan pencarian dengan kata kunci seperti judul di atas pada mesin pencari google, maka akan kita dapat banyak sekali hasil pencarian. Artinya, sebenarnya sudah banyak warga negara Indonesia di Jepang yang mengalami proses melahirkan anak di Jepang. Lalu apa bedanya postingan saya dengan postingan teman-teman lainnya? Setidaknya ada beberapa perbedaan, diantaranya:

  1. Yang saya alami adalah sebuah proses melahirkan yang bukan dari awal. Maksudnya adalah istri saya sudah hamil sejak sebelum tiba di Jepang. Ketika sampai di Jepang usia kehamilan sudah 6 bulan. Apakah bisa diproses di Jepang?
  2. Rata-rata postingan bercerita tentang prosedur untuk kehamilan bayi tunggal. Nah, Istri saya hamil bayi kembar. Apakah sama atau beda?
  3. Mungkin beberapa bercerita tentang kelahiran normal, sedangkan istri saya mengalami proses kelahiran sesar. Bagaimana prosedurnya?
  4. sebelum proses lahiran, istri harus dirawat selama 10 hari di RS karena konstraksi rutin namun usia kandungan belum cukup. Apa yang harus dilakukan?

Jadi, setidaknya ada 4 poin perbedaan: tidak dari awal, bayi kembar, sesar, dan dirawat 10 hari sebelum melahirkan karena ada kontraksi rutin.

Baiklah, kita bahas satu-persatu. Karena ada 4 poin tersebut, tentu tulisan ini akan menjadi panjang. Kalau anda tidak sabar, baiklah, saya akan kasih kesimpulannya di awal. Mungkin terdengar aneh, karena biasanya kesimpulan diletakkan di akhir, tetapi yang ini karena saya sendiri penganut mazhab anti-mainstream (apasih…??), maka saya letakkan di awal pembahasan. hehehe…

Kesimpulan

  1. Bisa melakukan proses atau menyambung proses kehamilan-kelahiran dari Indonesia ke Jepang. Kok bisa? silahkan baca keterangan lebih lanjut di bawah.
  2. Prosedurnya sama dengan pada umumnya. Yang membedakan hanya jumlah buku, hadiah dari pemerintah Jepang, dll yang masing-masing jumlahnya disesuaikan dengan jumlah bayi yang dilahirkan. Kalau kembar dua, maka semuanya dikalikan dua termasuk hadiah dari pemerintah Jepang yang berupa uang. Hadiah ini sebenarnya digunakan untuk biaya persalinan.
  3. Pada umumnya di Jepang kelahiran normal sangat diprioritaskan dibandingkan sesar. Begitu juga dengan istri saya yang mengandung bayi kembar dan memiliki riwayat PPCM (baca postingan saya sebelumnya tentang PPCM) direkomendasikan oleh dokter di Jepang untuk tetap melakukan proses kelahiran normal. Tetapi kami memilih sesar demi keselamatan dan tercukupinya suplai ASI setelah melahirkan bayi kembar. Karena kami khawatir tak dapat memberikan ASI lagi jika PPCM muncul pasca melahirkan sedangkan ketersediaan susu formula yang halal juga masih minim.
  4. Nah, kalau yang ini silahkan baca ya.

Baiklah, saya akan bahasa satu per-satu. Saya bagi pembahasan menjadi 3 periode: Pra-melahirkan, sesaat akan melahirkan, dan pasca melahirkan. Secara umun, gambarannya seperti gambar berikut ini.

 

Prosedur
Prosedur melahirkan anak di Jepang

Bagian 1: Pra-Melahirkan

Picture1

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa istri memiliki resident card (KTP Jepang) dan kartu asuransi (National Insurance / Hoken). Dua kartu ini sangat penting di Jepang. Dan untuk mendapatkannya tentu bukan dalam status wisatawan (visa turis), tetapi dengan visa dependen (baca prosedurnya di sini). Bagaimana kalau sedang dalam wisata? Sepertinya tidak bisa, karena syarat untuk berpergian dengan pesawat bagi ibu hamil adalah maksimum usia kehamilan 6 bulan. Memang ada kasus ibu hamil yang melahirkan di pesawat, bukan berarti ibu tersebut tidak mendapatkan izin, tetapi saya kira itu kondisi khusus seperti yang pernah terjadi di sini. Ada seorang ibu yang sedang hamil tua (usia kandungan 9 bulan) diminta kembali ke Indonesia karena jahitan operasi sesar sebelumnya tidak rapi dan dokter di sini tidak berani ambil resiko, sehingga sang ibu diminta pulang ke Indonesia. So, pastikan bahwa istri sudah terdaftar sebagai residen di Jepang dengan memiliki resident card dan asuransi kesehatan.

Selanjutnya adalah memastikan kehamilan. Untuk keperluan ini tentunya butuh pemeriksaan medis. Pemeriksaan medis untuk pertama kali di Jepang pasti membutuhkan 2 kartu tadi, resident card dan kartu asuransi untuk registrasi di rumah sakit. Bukti kehamilan dari Indonesia tidak berlaku di sini. Artinya harus diperiksa lagi walaupun usia kehamilan bukan lagi usia muda. Begitu juga terjadi pada istri saya.

Bagaimana dengan dokternya? Bisakah memilih dokter perempuan? Biasanya pertanyaan ini menghinggapi setiap muslim yang hidup di Jepang. Jawabannya tentu bisa. Tinggal kita mengajukan permintaan saja ke pihak rumah sakit. InsyaAllah ada. Kalaupun di rumah sakit tersebut tidak ada, maka bisa juga meminta rekomendasi dari sana berakaitan dengan rumah sakit yang sesuai dengan kriteria kita.

Setelah memastikan kehamilan, proses selanjutnya adalah melaporkannya ke pemerintah kota setempat. Salah satu tujuannya adalah mendata sekaligus mengawasi. Biasanya mereka akan bertanya mengenai kekhawatiran kita dalam menjalani proses kehamilan sampai melahirkan. Bahkan mereka menyiapkan konsultan jika dibutuhkan. Pada langkah ini, kita akan diberikan beberapa pertanyaan terkait dengan kondisi ibu, dll. Setelah itu mereka juga akan memberikan 2 buah buku, 1 buku buat ibu dan 1 buku lagi buat bayi. Dua buku ini harus selalu dibawa ketika kontrol kandungan. Selain dua buku tersebut, ada juga kantong plastik sampah dan beberapa buku untuk anak.

Screenshot_24
Dua buku wajib dibawa ketika kontrol kandungan

Selain itu, petugas di kantor pemerintah kota juga akan menghubungi kita sesaat sebelum istri melahirkan untuk memastikan semua persiapan persalinan seperti ruang inap di rumah sakit dan sebagainya sudah beres. Jika ada yang belum beres, mereka akan membantunya. Begitu juga nanti setelah melahirkan, mereka juga akan mengirimkan petugasnya untuk datang ke rumah memeriksa kondisi bayi seperti berat badan, tinggi, lingkar kepala, dll.

Bagian 2: Sesaat jelang melahirkan

Picture2

Screenshot_20171224-173305

Jelang waktu melahirkan, biasanya dokter akan memberikan beberapa alternatif tanggal lengkap dengan informasi usia kandungan. Perlu dicatat bahwa selain proses persalinan normal diutamakan, usia kehamilan juga diperhitungkan. Maksudnya begini, dokter baru akan melakukan proses persalinan jika dan hanya jika usia kandungan sudah memasuki usia minimum, yaitu 37 minggu. Bagaimana jika sebelum 37 minggu tapi sudah terjadi kontraksi rutin? Nah, inilah yang terjadi pada istri saya. Pada usia kehamilan 35 minggu 5 hari sudah terjadi kontraksi rutin. Karena usia belum mencukupi, maka dokter memutuskan agar istri menginap di rumah sakit sampai melahirkan dan menghambat kontraksi yang terjadi dengan menyuntikkan inhibitor ke dalam tubuh sampai usia kandungan 37 minggu sambil terus memonitor kondisi bayi.

Sebenarnya, begitu pihak rumah sakit mengetahui bahwa bayi yang dikandung kembar, pihak rumah sakit sudah memprediksi akan kemungkinan masuk rumah sakit lebih cepat dari perkiraan. Oleh karenanya dalam proses diskusi dengan pihak rumah sakit mereka sudah memberikan arahan-arahan bahkan untuk kondisi yang buruk sekalipun. Salah satu kondisi buruk itu adalah bila terjadi kontraksi rutin seperti yang istri saya alami dan kemungkinan sesar beserta biaya dan bagaimana cara meringankan biayanya. Dalam proses diskusi dengan pihak rumah sakit, mereka menerangkan sekilas profil rumah sakit, lalu instruksi jika ada kontraksi lebih cepat harus menghubungi nomor mana, lalu jenis barang yang harus dibawa ketika akan memulai persalinan, serta prosedur sesar.

Untuk masalah biaya, sebenarnya biaya medis di Jepang cukup mahal dan pemerintah mewajibkan asuransi. Dengan asuransi ini kita cukup membayar 30% saja dari total biaya pengobatan. Khusus untuk persalinan, biayanya tidak dicover oleh asuransi. Mengingat biaya yang cukup besar untuk proses persalinan, maka pemerintah Jepang memberikan biaya sebesar 420.000 yen per-bayi yang dilahirkan. Jadi, kalau bayinya kembar, ya dikalikan saja dengan jumlah bayi yg dilahirkan. Sebenarnya, tujuan dari pemberian biaya ini adalah untuk menstimulus warga Jepang agar mau melahirkan banyak anak, mengingat jumlah populasi Jepang mengalami penurunan karena banyak kaum mudanya yang tidak mau menikah. Pemerintah Jepang mengharapkan dengan adanya stimulus ini, kaum muda di Jepang tidak takut untuk memiliki anak hanya karena biaya persalinan yang besar. Jadi, setiap bayi yang lahir di negeri sakura ini, mereka mendapat hadiah dari pemerintah Jepang sebesar 420.000 yen (jika 1 yen=120 rupiah, maka ya hitung sendiri). Jika biaya persalinan kurang dari 420.000 yen, maka sisanya akan diberikan kepada keluarga bayi. Sebaliknya, jika biaya persalinan lebih dari 420.000 yen, maka keluarga bayi menanggung kekurangannya. Untuk kota Kitakyushu, biaya sebesar itu insyaAllah cukup untuk melakukan proses persalinan normal dengan biaya inap pasca melahirkan selama 5 hari (sudah termasuk makan 3 kali sehari). Berkaitan dengan hal ini, kita akan diminta menanda-tangani sebuah surat yang berisi klausul tentang bantuan pemerintah. Proses pembayaran ada 2 metode: dari pemerintah langsung ke rumah sakit lalu jika ada kekurangan atau kelebihan akan diberi tau oleh pihak rumah sakit sebelum kita pulang dari sana, atau kita bayar sendiri lalu reimburse ke pemerintah kota. Dalam hal ini saya pilih yang pertama karena tidak memiliki uang sebanyak itu.

Picture2
Surat pernyataan menerima bantuan biaya persalinan dari pemerintah Jepang

Adakah biaya deposit? Pada beberapa rumah sakit ada yang meminta deposit dan ada yang tidak. Untuk rumah sakit tempat istri saya bersalin tidak meminta uang deposit. Dan berdasarkan pengalaman keluarga PPI Kitakyushu, saya belum pernah mendapatkan informasi tentang uang deposit ini. Jadi saya tidak tau banyak. Perlu dicatat, di luar Kitakyushu mungkin agak sedikit berbeda aturannya.

kartu keringanan biaya
kokumin kenkohoken gendo-gaku tekiyo hyojun futan-gaku gengaku nintei-sho (国民健康保険限度額適用.標準負担額減額認定証) atau bahasa inggrisnya Certificate of National health insurance limit applicable standard burden amount reduction.

Bagaimana dengan biaya persalinan sesar? Persalinan sesar ini menjadi opsi kedua setelah persalinan normal (ya iyalaaahhh…. 😀 ). Ada beberaa kondisi yang bisa menyebabkan dilakukan persalinan sesar, seperti kondisi bayi, kondisi ibu bayi, dsb. Persalinan sesar ini tentu akan menambah jumlah biaya yang dikeluarkan dalam proses persalinan. Bagi mahasiswa, atau secara umum yang pendapatannya tidak besar, dapat meminta keringanan biaya dengan mengajukan kokumin kenkohoken gendo-gaku tekiyo hyojun futan-gaku gengaku nintei-sho (国民健康保険限度額適用.標準負担額減額認定証) atau bahasa inggrisnya Certificate of National health insurance limit applicable standard burden amount reduction. Kartu ini gunanya untuk mereduksi lagi jumlah yang kita tanggung. Keringanan ini dibagi berdasarkan besar penghasilan bulanan. Kartu ini dapat kita peroleh dari kantor pemerintah kota (Com City) di bagian insurance (lantai 4, loket 24-25). Diharapkan kartu ini sudah kita peroleh sebelum melakukan operasi sesar.

Apa saja yang harus disiapkan untuk operasi sesar? Sebenarnya sama saja dengan persalinan normal, bedanya di dokumen. Ada beberapa dokumen yang perlu disepakati antara dokter dan keluarga, seperti tindakan transfusi darah jika dalam proses operasi sesar ibu mengeluarkan banyak darah beserta resikonya. Salah satu resikonya adalah AIDS atau virus yang terkandung dalam darah pendonor. Tetapi probabilitasnya sangat kecil. Dalam dokumen yang saya tanda tangani disebutkan bahwa probabilitasnya seper sejuta. Tetapi itu disebutkan dan diberi tau kepada keluarga.

Bagian 3: Pasca melahirkan

Picture3

Setelah bayi lahir, maka dokter akan membawa bayi ke ruangan NICU untuk dilakukan serangkaian tes seperti tes pendengaran, detak jantung, metabolisme tubuh, dll. Biaya lagi dong? Tidak semua tes tersebut biayanya kita tanggung, ada yang ditanggung oleh pemerintah. Yang ditanggung oleh pemerintah artinya wajib, sedangkan yang ditanggung sendiri berarti pilihan.

Selain serangkaian tes pada bayi, ada beberapa dokumen yang harus diurus pasca melahirkan terutama terkait kependudukan, kesehatan, dan status kewarganegaraan. Dokumen yang paling utama harus diurus adalah kependudukan dan kesehatan atau resident card dan health insurance. Kenapa health insurance? Karena pasca lahir, ada beberapa kasus yang terjadi, seperti tingginya angka bilirubin sehingga bayi butuh pertolongan. Supaya tidak tambah biaya lebih banyak lagi, maka bisa dikurangi dengan adanya asuransi kesehatan ini. Apa saja dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan ini?

  1. Surat keterangan lahir dari rumah sakit. (Shussei Shoumei Sho / 出生証明書)
  2. Buku boshi kenkou techou (母子健康手帳). Selama proses persalinan buku ini dipegang oleh pihak rumah sakit. Pastikan dokter atau pihak rumah sakit sudah mengisi bagian yang perlu mereka isi dari buku tersebut.
  3. Insurance card orang tua bayi
  4. Stamp (inkan)
  5. Buku rekening tabungan untuk keperluan tunjangan anak. Jadi setelah daftar kependudukan dan asuransi kesehatan, selanjutnya adalah daftar tunjangan anak. Tunjangan yang diberikan sebesar 15.000 yen per bulan untuk anak dengan usia di bawah 3 tahun.
fb_img_15608587372332856426475189100428.jpg
Anak umur 0-3 tahun mendapatkan tunjangan sebesar 15.000 yen setiap bulannya dan dibayarkan setiap 4 bulan sekali pada tanggal 10 bulan ke 2, 6, dan 10 setiap tahunnya

Perlu dicatat bahwa batas waktunya adalah 15 hari sejak bayi lahir. Kalau lebih dari 15 hari apa yang terjadi? Saya tidak tau apa yang akan terjadi. Sebaiknya segera diurus setelah bayi lahir.

Selesai dari proses pertama ini, jangan lupa untuk meminta print out Jyuminhyo atau sejenis kartu keluarga, sebuah dokumen yang menyatakan hubungan kekeluargaan antara anak dengan orang tuanya. Jyuminhyo ini digunakan untuk mengambil resident card di kantor imigrasi. Dan jyuminhyo hanya bisa didapatkan di kantor pemerintah kota (Com City). Jadi, supaya tidak bolak-balik, sebaiknya minta Jyuminhyo selagi masih di Com City.

Picture4
Contoh Shussei Shoumei Sho / 出生証明書. (Sumber: google)

Selanjutnya, urus biaya keluar rumah sakit. Minta kepada bagian administrasi terkait informasi biaya selama proses persalinan, apakah ada kelebihan atau kekurangan dari biaya yang diberikan oleh pemerintah. Biasanya diizinkan pulang 5 hari setelah melahirkan atau bisa lebih cepat bahkan bisa lebih lambat tergantung kondisi ibu dan bayi. Kalau ternyata berlebih, maka kelebihannya bisa kita laporkan ke Com City dengan membawa bukti biaya persalinan dari rumah sakit. Kalau ternyata kurang, maka bisa kita lunasi saat itu juga di loket administrasi.

Setelah urusan administrasi rumah sakit selesai, ambil residence card di kantor imigrasi terdekat. Untuk Kitakyushu, kantor imigrasi terdekat ada di dekat stasiun Nishi-Kokura. Lihat peta di sini. Dokumen yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut:

  • Jyuminhyo,
  • surat keterangan kelahiran,
  • Boshitechou,
  • Passport kedua orangtua,
  • Resident Card kedua orang tua,
  • Buku nikah (dan kalau ada yang terjemahannya)
  • formulir aplikasi

Batas waktunya: 30 hari setelah bayi lahir

Selanjutnya adalah akta kelahiran dari pemerintah Indonesia di Jepang, dalam hal ini adalah KBRI Tokyo atau KJRI Osaka. Adapun dokumen yang dibutuhkan dapat dilihat di sini. Setelah akta kelahiran, selanjutnya adalah passpor. Akta kelahiran dan paspor dapat dibuat secara bersamaan. Keterangan lebih lanjut dapat dibaca di sini. Keduanya bisa diproses dengan hanya mengirimkan dokumen syarat melalui pos.

Akhirnya selesai juga tulisan ini. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh keluarga PPI Kitakyushu, karena tulisan ini lahir berdasarkan pengalaman mereka.  Tulisan ini disiapkan juga dalam format ppt.

Credit to: Keluarga besar PPI Kitakyushu

Baca serial kehidupan di Jepang lainnya.

Picture5

 

2 thoughts on “Melahirkan anak di Jepang

  1. assalamualaikum mas Hadi..

    Salam kenal, saya mengikuti blog mas Hadi dari mulai cara membawa istri ke Jepang dan Prosedur kelahiran anak di Jepang. Terima kasih infonya,kedua-duanya memberi pencerahan buat saya yg berencana membawa istri ke Jepang.

    Anyway saya jg tinggal di Kitakyushu, semoga kalo ada kesempatan kita bisa bersilaturahmi..
    Terima kasih..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s