SALJU [눈 / 雪 / ثلج]

DSC03055

Bagi penduduk tropis, melihat salju untuk pertama kalinya di negeri dengan 4 musim adalah hal yang luar biasa. Biasanya mereka rela berdingin-dingin ria hanya untuk dapat mengabadikan momen tersebut. Tak terkecuali saya. hehehe…Pertama kali melihat salju turun pada Desember 2009 di dalam bus 1500-2 dalam perjalanan pulang dari SNU ke tempat tinggal di Yongin. Sesampainya di rumah, berfoto bersama dengan berbagai gaya. Dan ujungnya masuk angin. hehehe…

Tahun ini, alhamdulillah Allah masih berikan kesempatan untuk melihat salah satu fenomena alam tersebut di negeri sebelahnya, Jepang. Ketebalan salju di daerah tempat tinggal saya kali ini tidaklah setebal tempat tinggal dulu di Korea. Dulu ketebalan salju bisa mencapat 10-20 cm, di sini kira-kira hanya beberapa mm atau cm saja karena lokasinya lebih selatan.

Salju adalah kata dalam bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab ثلج (baca: tsaljun) atau kadang ditulis juga الثلج (baca: ats-tsalju) yang berarti salju atau es, sebuah ungkapan yang mendeskripsikan kondisi air pada titik bekunya. Kalau dialih-bahasakan ke dalam bahasa Korea dan Jepang, masing-masing adalah 눈 (baca: nun) dan 雪 (baca: yuki). Jika dibandingkan antara bahsa Korea, Jepang, dan Indonesia, maka seperti tak ada kemiripan dari sisi pengucapan. Oleh karenanya, kata “salju” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa arab tadi.

Kemudian muncul pertanyaan, kira-kira dari mana munculnya istilah salju dalam bahasa Indonesia sedangkan penduduk Indonesia tidak pernah melihatnya karena beriklim tropis? Karena kata ini serapan atau dekat pengucapannya dengan bahasa arab, maka ada kemungkinan kata ini didapat dari salah satu sumber rujukan islam, Al-Quran atau hadits. Setelah saya cari ternyata tidak didapati adanya kata tersebut di dalam Al-quran, tetapi ada dalam hadits. Hadits yang mencakup kata ini, dalam praktiknya, biasa kita dapati dalam doa iftitah ketika sholat atau bacaan setelah takbir ke-3 dalam sholat ghaib atau jenazah. Penggalan kalimatnya adalah sbb:

اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ
…Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)

اللهم اغفر له وارحمه، وعافه ،واعف عنه ،وأكرم نُزُله ، ووسع مُدخلهُ ، واغسله بالماء والثلج والبرد
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan air dingin… (HR Muslim 2/663)

Lalu muncul pertanyaan, apa dan kenapa mencuci kesalahan dengan air, es, dan air dingin? Pertanyaan ini juga pernah ditanyakan kepada Ibnu Taymiyah. Beliau menjawab:

الخطايا توجب للقلب حرارة ونجاسة وضعفا، فيرتخى القلب وتضطرم فيه نار الشهوة وتنجسه، فإن الخطايا والذنوب له بمنزلة الحطب الذى يمد النار ويوقدها ولهذا كلما كثرت الخطايا اشتدت نار القلب وضعفه، والماء يغسل الخبث ويطفئ النار، فإن كان باردا أورث الجسم صلابة وقوة، فإن كان معه ثلج وبرد كان أقوى فى التبريد وصلابة الجسم وشدته، فكان أذهب لأثر الخطايا.

Dosa-dosa itu membuat hati menjadi panas, kotor dan lemah, hati lalu menjadi lunak, kemudian api syahwat menyala dan mengotorinya. Dosa-dosa bagi hati adalah laksana kayu bakar yang menyalakan dan mengobarkan api. Karena itu semakin banyak dosa-dosa semakin besar pula api dalam hati sehingga menjadikannya lemah. Sedangkan air itu membersihkan kotoran dan memadamkan api. Jika air itu dingin maka akan menguatkan dan mengeraskan badan. Jika dengan salju dan air yang dingin maka pendinginan itu semakin mantap dan tubuh menjadi lebih kuat. Dan yang demikian itu lebih mampu menghilangkan dosa-dosa.

Dalam keterangan di atas ada empat unsur; dua unsur inderawi dan dua unsur maknawi. Kotoran atau najis yang dapat dihilangkan dengan air dan air itu sendiri adalah dua unsur inderawi (dapat dilihat dan dirasa oleh indera manusia). Dan dosa-dosa yang bisa dihilangkan dengan taubat dan istighfar serta yang menghilangkannya adalah dua unsur maknawi. Kebaikan hati, kehidupan dan kenikmatannya tidak akan bisa dicapai kecuali dengan keempat unsur tersebut. Maka ketika Rasulullah mengingatkan suatu bagian maka beliau juga mengingatkan bagian lain. Dan sabda Beliau itu mencakup keempat unsur itu dengan sangat ringkas dan penjelasan yang amat baik.

Mari awali hari dengan membersihkan hati dari api dan kotoran yang melemahkan dengan memperbanyak istighfar kepada-Nya.

#CatatanPagi
Kitakyushu, 24 Januari 2018

Referensi:
Ighatsatul Lahfan fi Masyayidis Syaithan, Ibnu al-Qayyim Al-Jauziyah

One thought on “SALJU [눈 / 雪 / ثلج]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s