Hari Jumat, sebaiknya kita me-review hidup kita

Screenshot_40

Bagi mereka yang berprofesi sebagai peneliti atau mahasiswa yang berkutat dengan publikasi ilmiah (jurnal), pastinya kata-kata “Review Paper” sudah tidak asing di telinga. Review, atau dalam bahasa Indonesia “tinjauan”, biasanya berisi informasi yang komprehensif tentang tema tertentu. Oleh karenanya, bagi mereka yang baru akan melakukan riset atau penelitian tentang tema tertentu, ada baiknya jika paper yang pertama kali dibaca adalah review paper, karena di sana biasanya dipaparkan secara garis besar apa saja yang sudah dilakukan peneliti lain di belahan dunia yang lain, seperti tujuan penelitian (aplikasi), permasalahan yang dihadapi dilengkapi dengan metodologi menyelesaikan masalah, hasil dari penelitian, serta arah dari penelitian selanjutnya. Konsep review ini sebenarnya juga bermanfaat bagi mereka yang menggeluti bidang lain, seperti perniagaan. Jika kita berada pada tahap akan memulai bisnis misalnya dan bingung mau berbisnis apa, mungkin diperlukan adanya review mengenai bisnis-bisnis yang tumbuh di sekelilingnya, permasalahan-permasalahan yang ada dan solusi yang sudah diberikan dalam bentuk produk, dan lain sebagainya. Sehingga dari sanalah kita akan dapati sebuah peluang produk kita untuk masuk segmentasi pasar. Jadi, bisa dikatakan review adalah sebuah aktifitas yang mencakup 3 hal pada 3 dimensi waktu: evaluasi masa lampau, lalu mengingat tujuan akhir (goals), sehingga kita mampu menetapkan langkah yang efektif dan efisien yang akan ditempuh selanjutnya untuk saat ini untuk mencapai goals tersebut di masa yang akan datang.

Lalu apa hubungannya dengan hari jumat?

Seketika lamunan kembali saat dulu masih jadi santri, hampir setiap pekan di hari Jumat imam sholat subuh selalu membaca 2 surat yang sama disertai dengan sujud tilawah dan biasanya imamnya khusus. Dua surat itu adalah surat As-Sajdah pada rakaat pertama dan Al-Insan pada rakaat kedua. Belakangan saya ketahui bahwa ternyata dua surat ini juga sering dibaca oleh Rasulullah di setiap shalat subuh di hari Jumat melalui sebuah hadits dalam kumpulan shahih Muslim:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِ (الم تَنْزِيلُ) فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى وَفِى الثَّانِيَةِ ( هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at “Alam Tanzil …” (surat As Sajdah) pada raka’at pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro” (surat Al Insan) pada raka’at kedua.”

Kemudian, muncullah tanya, kenapa Rasulullah melakukannya? Apa yang membuat beliau melakukannya? Atau, apa yang membuat dua surat ini (ditambah surat Al-Kahfi, yang juga merupakan surat yang dianjurkan untuk dibaca di hari jumat) seakan menjadi spesial di hari Jumat?

Ibnu Taymiyah menjelaskan hadits tentang dua surat ini dengan menyebutkan hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan hari Jumat seperti diciptakannya Adam AS pada hari Jumat, dimasukkan ke dalam surga juga pada hari Jumat, dikeluarkan dari sana juga pada hari Jumat, dan kiamat juga terjadi pada hari jumat.

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ

Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan.” (HR. Abu Daud no. 1047, An Nasai no. 1374, Ibnu Majah no. 1085 dan Ahmad 4: 8. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR.  Muslim no. 854).
Kalau kita bandingkan dengan konten dari kedua surat tadi, surat As-Sajdah dan suart Al-Insan, maka kita akan dapati konten yang serupa dengan hadits-hadits di atas. Adapun kontennya adalah sebagai berikut:

❶ As-Sajdah ❷ Al-Insaan Ref.
No. urut surah 32 76

القرآن الكريم

Urutan turun 73 / 75 98 / 99

المكي والمدني في القرآن الكريم (د. محمد بن عبد الرحمن بن صالح الشايع)

Jumlah ayat 30 31

القرآن الكريم

Status surah Makkiyah Makkiyah / Madaniyah

l  القرآن الكريم

l       المكي والمدني في القرآن الكريم (د. محمد بن عبد الرحمن بن صالح الشايع)

l       في ظلال القرآن (سيد قطب)

Tema (Ahdaf) Penjelasan dalil-dalil al-haq dan pemandangan-pemandangan yang dengannya alquran diturunkan termasuk di dalamnya tentang hakikat penciptaan dan kondisi manusia Pengingat manusia akan asal muasalnya dan hikmah penciptaannya serta perjalanan hidupnya di dunia dan akhirat. Disebutkan pula kenikmatan surga bagi orang-orang yang beriman

n المختصر في تفسير القرآن الكريم (جماعة من علماء التفسير)

n خواطر قرآنية نظرات في أهداف سور القرآن (عمرو خالد)

n   في ظلال القرآن (سيد قطب)

Isi 1 – 3: pembuktian turunnya al-Quran

4 – 9: beberapa dalil kekuasaan dan keesaan Allah

10 – 14: pengingkaran musyrikin akan adanya hari kebangkitan dan kondisi mereka pada hari itu

15 – 19: sifat mukminin dan balasan yg mereka dapatkan

20 – 22: balasan bagi orang-orang kafir dan perpalingan mereka dari ayat-ayat Allah

23 – 25: diturunkannya Taurat kepada Musa AS

26 – 30: pembuktian kekuasaan Allah dan hari kebangkitan

1 – 3: penciptaan manusia dan petunjuk kepada salah satu dari dua jalan

4 – 22: Azab dan nikmat di akhirat

23 – 31: Pengarahan kepada Rasulullah dan kaum mukminin

 

Sampai sini kita dapat simpulkan, bahwa setidaknya ada 2 hal yang mendasar yang kita dapatkan dari dua surat tadi, yaitu evaluasi masa lampau dengan mengingat hakikat penciptaan manusia dan mengingat kembali tujuan akhir dari kehidupan di dunia (goals). Goalsnya secara spesifik dijelaskan, hanya ada 2 tempat muara dari perjalanan panjang hidup ini, yaitu surga atau neraka. Dari 2 hal inilah setidaknya kita bisa merenungi kembali diri kita sebagai manusia, makhluk ciptaan Allah, yang masih dalam perjalanan menuju tujuan akhir kita.

Selain itu pula, dalam hadits lainnya diketahui bahwa Rasulullah juga senang membaca surat Al-Kahfi di hari jumat. Muncullah pertanyaan lainnya, ada apa dengan surat Al-Kahfi?

Amru Khalid dalam bukunya Khawathir Quraniyah menyebutkan bahwa surat Al-Kahfi berbicara tentang ujian-ujian yang dilalui oleh manusia dalam kehidupannya. Jenis-jenis ujian ini dibungkus dengan menggunakan empat buah kisah, yaitu kisah ashabul kahfi (penghuni gua), kisah shohibul jannatain (pemilik 2 kebun), kisah nabi Musa AS bertemu dengan Khidhr, dan terakhir kisah Zulkarnain. Pada setiap akhir kisah diselipkan nasihat sebagai pengingat. Empat potong kisah tersebut masing-masing berisi tentang ujian keimanan (Ashabul Kahfi), ujian harta (Shohibul Jannatain), ujian ilmu (Nabi Musa AS dan Khidhr), dan ujian kekuasaan (Zulkarnain). Disamping itu pula, Rasulullah pernah bersabda mengenai Dajjal dan kaitannya dengan surat Al-Kahfi ini. Maka jelaslah bahwa surat Al-Kahfi ini berbicara tentang ‘ishmatul fitan (menjaga diri dari fitnah/ujian), baik itu ujian keimanan, ujian harta benda, ujian ilmu, dan ujian kekuasaan yang umumnya keempat jenis ujian ini hadir dalam keseharian hidup kita, maupun ujian atau fitnah akhir zaman dengan munculnya Dajjal. Pembahasan mengenai hal ini saya tuliskan secara khusus di sini.

Sekarang, jika kita susun semua kepingan puzzle tadi, surat As-Sajdah, surat Al-Insan, dan surat Al-Kahfi, maka kita akan dapati benang merahnya yaitu mirip sebuah review yang memiliki 3 dimensi waktu, evaluasi masa lampau termasuk di dalamnya ujian-ujian dalam keseharian hidup kita dan goals reminder (akhirat/surga). Oleh karenanya, tidak berlebihan jika saya menyebut bahwa hari jumat adalah hari dimana kita sebaiknya me-review kembali kehidupan kita di dunia ini. Apa saja yang telah kita lakukan semenjak kita dilahirkan ke dunia sampai saat ini? Apakah semua itu masih berada dalam track untuk mencapai tujuan akhir (goals) yang hakiki? Atau bahkan masih adakah kebiasaan-kebiasaan yang justru menjauhkan diri dari “the ultimate goals”? Bagaimana posisi kita terhadap 4 ujian harian (keimanan, harta, ilmu, dan kekuasaan)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s