Mengenang beliau yang mengajariku cara mengepakkan sayap ‘tuk terbang tinggi ke angkasa, Ust. Damanhuri S.T

Membuka kembali lembaran foto jadoel berisi kenangan. Ini adalah foto sesaat setelah menyelesaikan duel di atas meja beradu kecepatan dan ketepatan dalam mengolah angka. Waktu itu tim dari pesantren berhadapan dengan tim SMAN 2 Kuningan dalam lomba matematika.

team lomba

Terkenang kembali raut-raut wajah yang pernah mengisi kehidupan saya. Salah satu sosok yang mengubah hidup saya adalah ust. Damanhuri ST (Cak Noor), seorang lulusan teknik Kimia ITB yang memilih mengabdikan diri di Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Awal perkenalan kami terjadi pada sekitaran tahun 2000-2001 saat saya masih kelas 2 atau 3 MTs. Saat itu pesantren memasuki era baru, berani bertanding dalam keilmuan sains dengan sekolah-sekolah lain yang menjadi sekolah favorit. Waktu itu saya diminta oleh beliau menggantikan posisi Karim Abdullah dalam lomba matematika yang akan diselenggarakan di wilayah 3 Cirebon. Bisa dikatakan ketika itu beliaulah pelopor sekaligus pelatih santri yang akan berlaga di ajang lomba-lomba sains. Saat itu, belum begitu dekat dengan beliau, tapi benih semangat itu sudah mulai tertanam.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya, saya diikutsertakan oleh beliau dalam lomba-lomba sains, terutana matematika dan kimia. Beberapa diantaranya sukses meraih kemenangan tertinggi, dan pastinya tidak sedikit pula kegagalan kami raih. Salah satu prestasi yang bisa kami raih saat itu adalah bisa masuk dalam olimpiade matematika sampai tingkat propinsi. Satu pencapaian yang mungkin dikatakan agak mustahil dilakukan oleh santri pondok pesantren. Jujur saja, kalau disebut kata-kata “santri” atau “pesantren”, image yang muncul di kepala kita adalah kitab kuning, quran, peci, baju koko, dan mungkin sajadah. Ga ada tergambar rumus dan sejenisnya. Dan image itu saat itu berubah saat kami dilatih oleh beliau masuk ke ajang lomba-lomba sains.

Pertengahan tahun 2001 sampai 2002 saat menginjak MA / SMA, disitulah kami mulai sangat dekat. Beliau juga diamanahi oleh bagian pembinaan untuk menjadi pembimbing saya bersama beberapa kawan yang lain, total 10 orang. Bukan sekedar pembimbing lomba saja, tapi sekaligus pembimbing aspek ruhiyah dan akhlaq (Murabbi). Pernah suatu ketika sebelum bertanding, saya diminta merenungi satu ayat di dalam surat Al-Anfal oleh beliau.

Kayak apa sih dekatnya saya dan beliau? Hmmm….kayak apa ya…yang jelas dulu saya sering diminta untuk menginap di rumah beliau, membantu kerjaan beliau seperti menulis buku rapor, mengoreksi jawaban ujian, pinjam komputer pribadi beliau untuk membuat laporan PPM (Praktik Pengabdian Masyarakat), tak ada yg dipinjami oleh beliau kecuali kelompok saya, dan masih banyak yang lainnya. Tak heran kalau teman-teman saya mengatakan kalau saya adalah anak beliau. Sampai-sampai sempat mendapat panggilan “Jabir” oleh beliau dan teman-teman. Yang dimaksud adalah Jabir Ibnu Hayyan, seorang kimiawan muslim dalam sejarah islam.

Sampai akhirnya tibalah saat masa study saya di pesantren usai. Ketika ditanya oleh orangtua “kamu mau lanjut sekolah kemana?”, spontan saya jawab “ITB”. Orang tua bingung, ada anak lulusan pesantren, keseharian berkutat dengan quran, fiqih, dll cita-citanya masuk ITB. Padahal ekspektasi orang tua, minimal lanjut ke LIPIA lah. Saat itu saya cuma berkata “Biarlah LIPIA buat tempat melanjutkan teman-teman saya yang lain, yang sangat memiliki keinginan melanjutkan di sana, ya itung-itung mengurangi saingan buat mereka. Biarlah saya pilih ‘arena bermain’ yang lain”.

Selama di ITB, intensitas pertemuan kami tentunya sangat jarang, paling banter SMS (waktu itu masih eranya SMS). Lulus dari ITB, arena bermain saya makin jauh, Korea Selatan dan Jepang. Santri yang aneh, anti-mainstream.  Setelah lulus dari pesantren, sesekali menyempatkan diri berkunjung ke pesantren sekaligus bertemu beliau. Selalu saya sempatkan untuk bertemu dengan beliau. Terakhir kami bertemu saat acara reuni nasional ikatan alumni santri yang diselenggarakan di Husnul Khotimah, Kuningan pada tahun 2016. Saat itu, saya pandangi tubuh beliau yang semakin kurus. Saat itu masih belum sadar kalau beliau selama ini menahan rasa sakitnya.

Awal Maret 2018, saya mendapat kabar kalau beliau masuk rumah sakit. Dari sinilah saya baru sadar bahwa selama ini beliau menahan rasa sakitnya bahkan sejak saya masih berstatus “santri”. Dan kemarin, Kamis 22 Maret 2018 jam 21.40 WIB, Allah memanggil beliau. Innalillahi wa inna ilayhi roji’un.

Beliau adalah sosok guru teladan. Hampir semuanya membekas dalam diri saya. Gaya mengajarnya menarik, selalu mempersiapkan materi dengan baik, inipun berusaha saya tiru dalam setiap momen “berbagi ilmu”, saya berusaha menyiapkan materinya sebaik mungkin. Tulisan tangannya pun apik, itu pula yang saya tiru dari beliau. Murah senyum, to-the-point. Dan saat ini saya merasa masih punya hutang dengan beliau. Pertemuan terakhir dengan beliau, sempat saya mengusulkan kepada beliau untuk sedikit meng-upgrade metode mengajarnya. Saya mengusulkan ada beberapa pengembangan materi ajar kepada beliau karena melihat perkembangan zaman yang semakin cepat dengan tujuan supaya santri memiliki pemahaman yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan / tantangan zaman. Namun apalah daya, konsep usulan tsb belum sempat saya bagikan ke beliau.

Terima kasih ustadz Daman atas dedikasimu selama ini. Semoga Allah balas semua jasamu, semua amalmu di dunia dengan pahala yang sangat banyak sehingga memberatkan timbangan amal kebaikanmu di akhirat.

اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْر
آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

Semoga ustadz Damanhuri husnul khotimah, sesuai dengan nama pesantren tempat beliau mengabdikan diri. Dan seluruh Keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan keridhaan dan kesabaran.

Saya bersaksi, bahwa beliau adalah orang yang sangat baik, sholeh, da’i dan selalu menjaga ibadah semasa hidupnya.

prosesi

Selamat jalan gurunda

Tunai sudah tugasmu mendidik kami semua
Sepulang umroh, dosa-dosamu terhapus
Dilanjut sakitmu, juga menghapus dosa
Wafatmu di hari kamis malam jum’at
Yang menyolatkanmu ribuan jama’ah 
para penghafal quran
Insya Allah engkau husnul khotimah

في الدنيا نجتمع وفي الجنة نلتقي إن شاء الله

Di dunia kita berkumpul, dan insyaAllah di surgaNya nanti kita berjumpa kembali…

Doa kami muridmu mengirimu pergi ke hadirat ilahi rabbi…

 

Ajari kepakkan sayapku tuk terbang

Mennuju langit tinggi meraih bintang

Kau selalu kukenang

Seluruh pengabdian yang engkau beri

Meski kucoba dengan sepenuh hati

Tak akan terganti

Terima kasih oh guruku

Kau selalu jadi pahlawanku

 

Muridmu,

Hadiyawarman

Kitakyushu, 23 Maret 2018

Jepang

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s