Nilai kejujuran di Jepang

Taken from google

Sumber: Abdul Muizz P, Mie University

Ada kasus mahasiswa mencontek di kampus kami semester ini, di fakultas teknik. Sensei kepala lab kami bercerita, bahwa lantaran seorang mahasiswa mencontek itu, dekan fakultas akan harus menyampaikan permohonan maaf secara resmi dalam pertemuan eksekutif tingkat universitas. Iya, pak dekan sendiri. Bliau harus bisa menjelaskan kenapa dan bagaimana mahasiswa ybs mencontek. Jika ada investigasi terkait kasus ini, harus dilaporkan hasilnya.

Kepala lab kami ini juga adalah seorang mantan dekan fakultas teknik, sekitar 2 periode yang lalu. Di masa itu, bliau juga mengalami hal yang sama, harus memohon maaf dan melaporkan juga di forum eksekutif universitas lantaran seorang mahasiswa yang mencontek. Uniknya, kasus mencontek tsb sebetulnya bukan terjadi di masa kepemimpinan bliau, tapi di periode dekan sebelumnya. Hanya saja dekan yang sebelumnya itu pas sudah akan pensiun, dan sensei kami inilah yang saat itu terpilih menjadi dekan baru.

Lha, kok jadi dekan yang ketiban nangka dan ikut menanggung malu gegara seorang mahasiswa nyontek? Iya, karena dekan adalah pemimpin, dekan bertanggung jawab pada semua yang terjadi di fakultasnya. Dekan yang harus tampil ke muka, tidak ada cerita lempar tanggung jawab. Tapi bukan hanya dekan dan jajarannya saja, para profesor/dosen di departemen tsb juga akan sibuk sekarang. Investigasi tentang kenapa pelanggaran ini bisa terjadi adalah tanggung jawab mereka. ‘Untungnya’ kali ini yang mencontek ‘hanya’ 1 orang, jadi penyelidikannya relatif sederhana. Coba kalau lebih dari seorang yang terlibat, apalagi mereka terindikasi kerjasama, investigasinya akan jauh lebih sulit. Lalu setelah itu entah berapa banyak berkas administrasi yang harus diisi. Selanjutnya, para dosen/profesor ini harus memberikan laporannya ke fakultas.

Lalu saya tanya, mahasiswanya sendiri bagaimana? Kata sensei kami, untuk si mahasiswa yang berkasus mencontek, seluruh kredit (SKS)nya semester ini akan dicoret. Tidak ada cerita peringatan satu-dua, tidak ada cerita mengulang ujian, tidak ada cerita nilai E hanya untuk mata kuliah itu saja. Semua SKSnya satu semester ini langsung hangus. Ini sanksi yang lumayan berat, setelah berlelah-lelah kuliah satu semester penuh. Tapi menurut saya, sanksi sesungguhnya adalah malu. Sekarang, saya rasa si mahasiswa akan sangat terkenal di jurusannya, minimal di kalangan para dosen dan profesor, selanjutnya di fakultas teknik, dan setelah itu namanya akan dilaporkan di pertemuan eksekutif tingkat kampus. Dikenal sebagai orang yang pernah tidak jujur itu pasti tidak enak rasanya.

Jadi, jangan main-main dengan yang namanya kejujuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s