Episode kehidupan no #201704: Tiga Keajaiban

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan episode kehidupan saya sebelumnya, yaitu tentang PPCM. Sebagaimana yang saya tulis di dalam artikel tersebut, bahwa kisah itu ada kelanjutannya. Saya putuskan untuk menuliskan kisah kelanjutan ini karena melihat ada beberapa pelajaran yang sangat berharga dari itu semua dan sangat baik untuk disampaikan kepada banyak orang, terutama kepada para pembaca blog saya yang mungkin salah satunya ada yang mengalami episode hidup seperti saya.

Tiga keajaiban, adalah judul untuk artikel kali ini. Karena pada episode ini, ada tiga kejadian yang membuat saya terkejut dan tersungkur bersujud seraya memuji Allah Sang Maha Pencipta. Gejolak emosi jiwa, keimanan yang bertengkar dengan logika sains manusia, dan linangan air mata turut mewarnai tiga kejadian tersebut. (tsaaah…bahasanya kece badai bos). Saya sebut dengan keajaiban untuk mendeksripsikan sebuah kejadian yang unik, yang sulit saya terima dengan nalar saya.

Kisah ini bermula saat istri saya merasa gelisah dan resah karena dirinya yang tak kunjung didatangi tamu bulanannya. Kejadian itu terjadi sekitar akhir September dan awal Oktober 2016. Akhirnya istri saya memberanikan diri melakukan serangkaian tes. Dan ternyata hasilnya 2 garis, positif. Awalnya bingung, harus meluapkan ekspresi apa, senang atau sedih. Lho kok sedih, harusnya senang dong? Betul sekali seharusnya memang senang. Yang membuatnya menjadi sedih adalah dirinya masih dalam tahap pemulihan dari PPCM. Timbul kekhawatiran dalam dirinya, apalagi setelah menemukan artikel kedokteran berkaitan dengan kehamilan dan PPCM. Kekhawatiranpun semakin menjadi manakala menyadari bahwa suaminya akan meninggalkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan di Jepang dan hanya tersisa waktu seminggu sebelum keberangkatan. Suaminya (saya sendiri) pun ikutan bingung, sambil memikirkan bagaimana cara menenangkan hati istri yang sedang dalam kondisi seperti itu. Dalam kondisi seperti itu, yang dapat saya lakukan hanya mengajaknya berwisata kuliner guna mengendurkan sejenak ketegangan dan kekhawatiran jiwa.

Singkat cerita, tibalah jadwal konsultasi ke dokter spesialis jantung. Dokter memeriksa data-data yang didapatkan dari EKG dan keluarlah sebuah kesimpulan dari bibir beliau “Dek, ini jantungnya sudah bagus ya. Tapi tetap dijaga aktifitasnya. Karena masih ada potensi kambuh. Dan sebisa mungkin tidak hamil dulu dalam rentang waktu 3-5 tahun untuk pemulihan“. Mendengar itu, kami saling berpandangan. Belum kering bibir beliau berucap, saya sampaikan kepada dokter tersebut bahwa istri saya saat itu sudah dalam keadaan hamil lagi. Berharap mendapatkan respon dari dokter mengenai apa yang sebaiknya harus kami lakukan. Apakah menggugurkan kandungan atau membiarkan janin tumbuh dan berkembang? Sempat terfikir seandainya dokter merekomdasikan untuk menggugurkan, ya kami mungkin akan mengikuti saran dari dokter tersebut. Apalagi setelah saya cari-cari artikel fatwa ulama, saya sudah dapatkan informasi sejauh mana batasannya sampai pada keputusan menggugurkan kandungan. Di luar dugaan, respon dokter sangatlah tenang dan menyejukkan. Mengembalikan ingatan materi-materi dasar keimanan di pesantren dulu. “Dek, rekomendasi yang saya sampaikan tadi (tentang penjedaan kehamilan) itu cuma ilmu kami, manusia saja. Kalau sekarang ternyata janin sudah terbentuk di dalam rahim, artinya dia sudah ada kehidupan. Tuhan sudah kasih kehidupan itu. Jadi saran saya lanjutkan saja, jangan digugurkan. InsyaAllah nanti dia akan lahir dengan caranya sendiri“, begitu ucapnya. Ucapan ini sangat menyentak saya. Ini pelajaran dasar tentang rukun iman, tentang takdir. Sedangkan saya masih pada mindset berpikir rasional. Saya coba tunjukkan hasil penelitian, saran dokter tetap dan tidak berubah. Terlihat istri masih dalam kondisi sedikit shock dan bingung. Mau melanjutkan tapi kok ga PeDe dengan kondisi kesehatan, mau tidak dilanjutkan tetapi dokter tidak merekomendasikan. Akhirnya kami ambil opsi “second opinion” dengan bertanya pada dokter kandungan.

Datanglah kami ke dokter kandungan yang telah kami kenal sejak kelahiran anak pertama kami. Diperiksalah istr menggunakan USG. Di sinilah kami terkejut, karena mendapatkan keajaiban yang pertama. Dokter mengatakan “Ini ada dua kantung ya, jadi anaknya kembar. Selamat ya“. Mendengar ucapan itu, seketika teringat sebuah harapan yang pernah terucap di awal-awal pernikahan kami. Saat itu kami menanti datangnya buah hati yang tak kunjung datang setelah hampir setahun menikah. Adalah istri saya yang entah dilandasi keinginan apa pada saat itu berucap “kayaknya enak ya punya anak kembar, dorong stroller nya dua“. Air mata tak bisa terbendung lagi. Tak menyangka bahwa ucapan itu berubah menjadi doa dan kenyataan tanpa kami sadari. Allah titipkan janin kembar dalam kondisi istri yang masih dalam tahap pemulihan. Very emotional moment ever. Sampai pada titik ini, yang awalnya istri masih bingung mau ambil keputusan, akhirnya terjawab. Dengan keyakinan tinggi, istri memutuskan untuk membiarkan janin terus berkembang di dalam rahimnya dan siap dengan segala resiko yang akan terjadi di kemudian hari. Kami sampaikan pula kepada dokter tersebut mengenai kondisi pompa jantungnya. Dokter kandunganpun merekomendasikan hal yang sama seraya menjelaskan kepada kami tentang apa sebenarnya PPCM itu, dan tidak perlu terlalu dipikirkan atau ditakutkan. Maka pulanglah kami dengan tenang setelah beberapa hari sebelumnya jiwa dipenuhi dengan kegundahan yang luar biasa. Suasana haru dan bahagia pun menyelimuti keluarga kami. Apalagi ketika kami sampaikan ini kepada kedua orang tua, tak ada satupun yang tidak bahagia, Alhamdulillah semua bahagia.

Tibalah saat perpisahan sementara. Saya pergi seorang diri ke Jepang. Rencananya setelah semua urusan awal kependudukan di Jepang selesai, saya akan undang keluarga (istri dan anak) untuk tinggal bersama dan melahirkan di Jepang.

***

Sepeninggal saya, ada satu kisah yang menarik untuk dikisahkan, yaitu saat istri kontrol kandungan di sebuah rumah sakit di Depok. Kisah inilah yang berkaitan dengan keajaiban yang kedua. Saat itu istri berjumpa dengan seorang ibu yang juga hamil dan akan melakukan kontrol kandungan pada dokter yang sama. Uniknya adalah, ibu tersebut hamil padahal kondisinya sudah vasektomi, pemutusan jalur sel telur. Ternyata, walaupun jalur sel telur sudah diputus, si ibu masih dapat mengandung. Kalaulah kita pikirkan tinjauan sainsnya, kita akan sampai pada teori kemungkinan. Mungkin ada sel telur yang sudah sampai di rahim sehingga dapat dibuahi. Tetapi spekulasi teori ini masih menyisakan tanya buat saya. Karena faktanya, vasektomi sudah lama dan hasil uji juga menyatakan bahwa jalur itu sudah teputus. Pertanyaan pertama yang muncul adalah berkaitan dengan keberadaan sel telur, apakah sel telur tidak ‘expired’ menjadi darah haid dalam rentang waktu itu? Bukankah darah haid itu asalnya adalah dari sel telur yang tidak terbuahi? Tidakkah mereka yang melakukan vasektomi langsung masuk masa menopause? Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Penjelasan yang saya dapatkan sampai saat ini masih dalam kategori “mungkin”. Sedangkan sains, yang selama ini saya berkutat di dalamnya dan saya pelajari, tidak mengenal kata “mungkin”. Teringat dulu saat presentasi salah satu mata kuliah fisika di hadapan dosen, saya lontarkan kata “mungkin”, hasil yang saya terima adalah omelan. Hal itu menunjukkan sains yang saya pelajari sangat deterministik sekali, dan inilah yang membentuk mindset saya. Walaupun ada celah probabilitas dalam teori kuantum, tetapi tetap probabilitas terbesar yang biasanya muncul dan digunakan dalam rangkaian analisa. Kembali kepada peristiwa tadi, penjelasan seperti apa kiranya yang cocok untuk menjelaskan fenomena seperti itu?

***

Singkat cerita, setelah melalui banyak hal, Alhamdulillah istri dan anak sampai di Jepang. Sayapun segera mengurus keperluan terkait prosedur melahirkan di negeri yang terkenal dengan bunga sakura. Prosedur kepindahan dan juga beberapa catatan EKG dari dokter jantung dan kandungan di Indonesia. Adapun prosedurnya saya tuliskan di artikel lain di blog ini.

Usia kandungan saat istri tiba di Jepang adalah sekitar 6 bulan, dan itu di akhir musim dingin tahun 2017. Seiring dengan padat dan ketatnya aktifitas eksperimen di lab, tanpa terasa usia janin terus bertambah. Dan tak terasa cuacapun berganti, temperatur di luar berangsung menghangat, musim berganti semi, bunga-bunga indah mulai bermekaran, menampakkan keindahannya pada manusia sehingga membuat berjuta pasang mata yang memandangnya terkagum dan tergerak untuk mengabadikannya. Kami pun turut serta larut dalam indahnya nuansa sakura dan mengabadikan momen itu.

Tibalah suatu hari, istri mulai merasakan kontraksi rutin. Selain itu, istri melaporkan ada cairan yang sempat keluar. Waktu itu janin masih berusia 32 minggu dan hari libur. Saya tidak bisa membawa istri ke rumah sakit waktu itu dan harus menunggu sampai hari Senin. Begitu datang hari Senin, saya kunjungi rumah sakit di belakang rumah. Kebetulan rumah sakit jaraknya dekat dengan rumah tempat kami tinggal. Begitu diperiksa oleh dokter, istri dipastikan harus menginap di rumah sakit. Dan mengenai proses persalinan harus menunggu 10 hari. Rupanya kontraksi rutin itu memang sinyal untuk segera melahirkan padahal kondisi janin belumlah sempurna. Oleh karenanya, dokter menyarankan untuk menginap di rumah sakit agar dapat dipantau terus kondisinya sekaligus diberikan injeksi penghambat kontraksi. Sepertinya rumah sakit di sini tidak mengizinkan seorang bayi lahir dalam kondisi tidak sempurna. Dan setelah menunggu selama 10 hari, akhirnya lahirlah si kembar melalui proses sesar.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, keajaiban apa yang terjadi di sini? Keajaibannya ada pada perkataan dokter spesialis jantung, bahwa anak ini akan lahir dengan caranya sendiri. Ya benar. Anak kami lahir di Jepang yang biayanya ditanggung dengan pelayanan yang super mantap. Ada seorang suster Jepang yang bahkan rela menemani di malam hari saat istri mengalami kontraksi rutin. Ada juga suster lainnya yang berdoa untuk keselamatan istri seraya memberikan semangat di saat suaminya tidak diizinkan menemani saat-saat istri berada di rumah sakit. Keajaiban lainnya adalah, masih dari perkataan dokter spesialis jantung yang mengatakan bahwa ilmu ini hanyalah ilmu manusia. Gejala PPCM yang secara teori (hasil penelitian) akan memiliki dampak pada kehamilan selanjutnya bahkan dampak terburuknya adalah kematian, ternyata tidak muncul sama sekali baik sebelum maupun setelah melahirkan. MasyaAllah. Allahu Akbar.

Itulah tiga keajaiban yang terjadi dalam salah satu episode kehidupan saya. Dari rangkaian peristiwa tersebut, seolah Allah ingin berkata kepada saya, “Hey Hadi, Aku ini Maha Pengatur segala sesuatu. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Ku. Jika Aku berkehendak, tiada siapapun dapat menghalangi“. Dari peristiwa ini, saya merasa seakan diingatkan kembali oleh Allah. Bahwa logika manusia ada batasnya. Hidup ini ibarat sebuah problematika dalam persamaan diferensial orde 2, sains hanyalah salah satu solusi parsial, dan bukan solusi umum yang didalamnya mencakup solusi parsial tadi.

Jadi apa kesimpulannya?

Kesimpulannya adalah pasrahkan semuanya kepada Allah. Pasrah bukan berarti menyerah, tetapi ada upaya terbaik yang dilakukan. PPCM, memanglah penyakit langka. Dan namanya penyakit, tentu tidak ada yang menginginkannya hinggap pada dirinya. Dan pada kondisi tertentu memang memiliki potensi yang berbahaya. Tetapi, itu tidaklah menjadikan kita menyerah dan tak berusaha. Terusalah upayakan yang terbaik dan perbanyak doa. Sisanya serahkan pada Allah Yang Maha Kuasa. Ini jauh lebih menenangkan insyaAllah.

Yakinlah setiap takdir dari Allah itu adalah cerita indah yang telah ditulis untuk kita. Oleh karena itu, tiada sebab untuk kita kecewa dalam hidup ini.

4 thoughts on “Episode kehidupan no #201704: Tiga Keajaiban

  1. Assalamu’alaikum Mas Hadi dan istri. Perkenalkan, sy Gita, ibu 1 orang anak dan sbg PPCM survivor juga, saat ini masih dlm proses pemulihan, masih konsumsi carvedilol 🙂
    Sy sudah membaca dari episode kehidupan saat pertama kali istri mas divonis PPCM. Waahh…terima kasih sudah berbagi melalui tulisan ini ya mas. Sbg penderita PPCM, episode kedua ini buat sy terharu, selamat ya utk mas dan istri atas kelahiran keduanya. Tulisan mas ini sangat menenangkan ketika sy jatuh pada rasa “meragukan” kehendak Allah, bertanya-tanya apa mungkin hamil lg, apa anak sy akan menjadi anak tunggal, dsb dsb. Akhirnya setelah sy baca tulisan mas, sy lebih optimis utk sembuh, dan spt diberi harapan bahwa kemungkinan utk bs punya anak lagi itu sangat sangat ada.
    Baik, rasanya sudah lumayan panjang komentar sy, hehe. Sy hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah berbagi pengalaman. Sebenarnya banyak pertanyaan dlm benak sy menyangkut PPCM di kehamilan kedua istri mas, tp mungkin sy pendam saja dl, mungkin akan saya tanyakan ketika nanti Allah ijinkan sy hamil lg, hehe inshaa Allah, aamiin…

    Like

    1. Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh
      Alhamdulillah. Semoga ibu segera pulih dari PPCM. InsyaAllah untuk mendapatkan keturunan, walaupun mengidap PPCM, masih bisa. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Semoga tulisan saya di atas bermanfaat.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s