Biaya hidup di Kitakyushu, Jepang

p_20190513_182415363676822807009214.jpg

Kali ini saya iseng mau berbagi mengenai biaya hidup mahasiswa dengan keluarganya di Kitakyushu. Lho kok iseng? Iya, awalnya mau buang sampah slip tagihan listrik, air dan gas yang sudah menumpuk begitu banyak. Sejak datang ke Jepang, setiap selesai bayar tagihan, slipnya hampir dipastikan saya simpan. Sejenak melihat tumpukan tagihan, jadi terpikir, mungkin tumpukan sampah slip tagihan itu bisa jadi sebuah tulisan yang bermanfaat sebagai informasi bagi mahasiswa baru yang akan datang ke Kitakyushu untuk memperkirakan biaya hidupnya. Atau bisa juga mengatur strategi keuangan agar tidak terlalu boros dengan mengetahui pos-pos pengeluaran rutin bulanan. Oleh karena itu, pada ulasan kali ini saya sertakan pula beberapa analisa dan tips menghemat pengeluaran di Kitakyushu. Satu hal yang perlu diingat adalah tulisan ini memuat rincian biaya hidup dengan keluarga (anak dan istri). Jadi, kalau belum menikah, biaya hidupnya mungkin tidak sebesar ini.

Kembali kepada lembaran slip tagihan, ibarat kepingan puzzle, slip tagihan tersebut saya susun berdasarkan urutan tahun dan bulan. Tidak terlalu lengkap memang, tetapi mayoritas ada, bahkan kalau ditinjau berdasarkan musim juga masih feasible. Melihat itu semua, muncul ide tambahan untuk menambah data ini dengan beberapa biaya-biaya lainnya seperti asuransi, telepon, internet, dan rumah. Maka jadilah audit kecil-kecilan terhadap pengeluaran rutin bulanan yang telah saya lakukan selama hidup di Kitakyushu, Jepang dan sampah slip tagihan tadi akhirnya bisa saya buang. 🙂

Biaya hidup yang saya tuliskan pada tulisan ini mencakup biaya sewa rumah, listrik, air, gas, asuransi, internet, telepon, dan perkiraan kasar kebutuhan pangan setiap bulannya. Khusus untuk pengeluaran kebutuan pangan, saya hanya menggunakan perkiraan kasar karena tidak selalu menyimpan slip belanja. Jadi, dikira-kira saja. Dan satu hal yang perlu dicatat, pengeluaran rutin ini khusus wilayah Kitakyushu tempat saya tinggal saja. Karena belum tentu di kota yang lain besarannya sama.

Setelah semua data berhasil saya susun, langkah selanjutnya adalah mengklasifikasikan semua komponen pengeluaran rutin tersebut ke dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah mengenai biaya bulanan yang besarannya cenderung statis (tidak berubah terhadap waktu), seperti biaya sewa rumah dan asuransi kesehatan. Bagian selanjutnya adalah mengenai biaya listrik, air, dan gas yang bergantung pada musim, besarnya penggunaan dan jumlah pengguna di rumah tersebut. Perkiraan kasar kebutuhan bahan makanan saya masukkan dalam bagian ini. Bagian terakhir adalah berkaitan dengan tagihan telepon selular dan akses internet. Terakhir, saya tutup tulisan ini dengan kesimpulan.

Bagian 1: Kategori pengeluaran statis

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, saya namakan demikian karena besaran tagihannya cenderung statis, tidak berubah terhadap waktu. Adapun komponen yang masuk dalam kategori ini adalah biaya sewa rumah dan biaya asuransi.

Biaya bulanan sewa rumah

Perlu diketahui, bahwa setahun pertama (Oktober 2016 s.d Oktober 2017) saya menempati sebuah apato tipe 2K dengan luas 31.7 m2. Setelah itu, terhitung sejak akhir Oktober 2017 s.d saat tulisan ini dibuat, saya menempati Danchi dengan tipe 3.5LDK. Bagi yang belum tau apa itu danchi, alasan pindah ke sana, dan bagaimana cara menempati danchi, silahkan baca tulisan saya di sini. Adapun biaya pengeluaran sewa rumah bulanan saya sajikan dalam bentuk grafik, agar mudah membandingkan antara apato dan danchi, serta efek dari diberlakukannya genmen (減免) atau pengurangan biaya sewa danchi.

Grafik biaya sewa rumah selama tinggal di Kitakyushu, Jepang (update Oktober 2020)

Dari grafik tersebut kita dapatkan sebuah informasi penting bahwa danchi dan genmen nya memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap penghematan pengeluaran bulanan. Dengan pindah ke danchi, biaya pengeluaran untuk sewa rumah bulanan dapat direduksi sampai 50% bahkan 70% jika mengajukan keringanan. Tertarik pindah ke danchi? Silahkan baca ulasan saya tentang danchi di sini.

Asuransi kesehatan

Pada tulisan ini kita tidak membahas asuransi dari sudut pandang syariah, atau hukum halal atau haramnya. Biasanya bagi seorang muslim kalau sudah mendengar kata “asuransi”, bayangannya langsung kepada aspek hukum fiqihnya. That’s good. But, terlalu panjang jika harus saya uraikan hukum fiqih dari asuransi itu sendiri. Kalaulah boleh saya persingkat, fiqih tentang asuransi masuk dalam kategori fiqih ikhtilaf, fiqih perbedaan pendapat. Maksudnya adalah terdapat banyak ijtihad dari para fuqoha, sehingga hasil ijtihad antar ulama tersebut berbeda (khilafiyah).

Asuransi kesehatan di Jepang, hukumnya wajib. Setiap orang yang tinggal menetap di Jepang hukumnya wajib memiliki asuransi kesehatan. Dan aplikasinya terintegrasi dengan data kependudukan di kantor kecamatan. Jadi, begitu anda sampai di Jepang untuk keperluan studi, maka anda akan diminta untuk mengurus dokumen kependudukan di kantor kecamatan. Salah satu dokumen yang harus diurus adalah asuransi kesehatan. Keuntungan dari asuransi kesehatan ini adalah setiap kali pemeriksaan di klinik kecil ataupun rumah sakit besar, kita hanya membayar sebesar 30% dari total, tentunya dengan pelayanan ekstra memuaskan. Biaya yang kita bayarkan atau yang dimintakan dalam slip itu sudah 30% nya. Dan perlu dicatat bahwa biaya yang ditanggung oleh asuransi tidak termasuk biaya administrasi klinik atau rumah sakit tersebut.

Adapun besaran premi atau iuran asuransi kesehatan di Jepang ini bergantung pada jumlah jiwa yang kita tanggung. Semisal kita membawa keluarga, maka biaya asuransi bergantung pada jumlah keluarga. Untuk kasus saya, pada awalnya saya datang ke Jepang tanpa keluarga selama 5 bulan. Setelah itu istri dan anak saya menyusul ke Jepang dengan visa dependen (untuk prosedurnya silahkan baca ulasan saya di sini). Dua bulan setelah kedatangan anak dan istri ke Jepang, istri saya melahirkan anak kembar (silahkan baca di sini). Dari fakta tersebut, maka bisa dipastikan besaran premi asuransi kesehatan yang harus saya bayarkan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah populasi di rumah yang ada dalam tanggungan saya. Awalnya saya hanya membayar untuk satu orang, lalu 3 orang, dan sekarang menjadi 5 orang. Berikut adalah data penarikan secara otomatis besaran premi yang saya dapatkan dari catatan rekening koran tabungan saya.

Premi hoken
Grafik premi asuransi kesehatan

Tercatat bahwa ada beberapa bulan yang tidak terdapat rekaman pengeluaran premi asuransi kesehatan. Sampai saat ini saya tidak tau alasan dibalik ini. Pembayaran premi asuransi kesehatan, saya buat pembayaran otomatis dengan memotong langsung dari rekening.

Bagian 2: Biaya listrik, air, gas, dan kebutuhan pangan

Biaya listrik, air dan gas

Biaya listrik, air dan gas ini fluktuatif bergantung musim, kuantitas (sebagai fungsi dari penggunanan beberapa peralatan elektronik), dan jumlah pengguna. Ketiga jenis pengeluaran ini saya sajikan dalam bentuk tabel di bawah ini. Data yang tertulis dalam tabel tersebut memang tidak sempurna, tidak semua kepingan puzzle ada. Ada beberapa data yang hanya menampilkan besaran penggunaan tanpa ada besaran biaya. Data besaran penggunaan bulan sebelumnya biasanya dituliskan pada tagihan bulan selanjutnya, tanpa menyertakan besaran biaya yang dikeluarkan.

Jika dipetakan berdasarkan penggunaan, maka listrik, biasa digunakan dalam waktu yang cukup lama dan berulang untuk peralatan seperti AC, microwave, charger HP, laptop, kulkas, mesin cuci, TV, dan rice cooker. Adapun air digunakan untuk toilet, memasak, mencuci, dan minum. Sebagai informasi air yang mengalir ke dalam rumah di Jepang, dapat langsung diminum tanpa perlu dimasak terlebih dahulu. Sedangkan gas digunakan untuk aktifitas memasak dan mandi air hangat saat musim dingin.

Biaya listri air gas
Table biaya listrik, air, dan gas selama tinggal di Kitakyushu Jepang berdasarkan musim (update: oktober 2020)

Kita sandingkan dengan data cuaca, terutama temperatur kota Kitakyushu dari Oktober 2016 sampai dengan tulisan ini dibuat.

Temperature Kitakyushu
Data temperatur selama rentang waktu tertentu dari http://www.worldweatheronline.com

Kita akan dapati beberapa fakta menarik, diantaranya:

  1. Perubahan musim membuat pengeluaran fluktuatif.
  2. Saat musim dingin, penggunaan listrik dan gas meningkat. Ini menandakan pemanas seperti AC dan air hangat sering digunakan. Berbeda jika saat musim dingin lebih sering menggunakan penghangat minyak tanah, tentu penggunaan listrik dapat ditekan.
  3. Saat musim panas, penggunaan listrik dan air meningkat. Ini menandakan pendingin seperti AC sering digunakan. Adapun meningkatnya penggunaan air menandakan sering mandi, mencuci, dan (mungkin) memasak.
  4. Selain pengaruh pergantian musim, jumlah populasi di dalam rumah juga memiliki andil dalam fluktuasi besaran biaya yang dikeluarkan.
  5. Faktor yang sangat kuat mempengaruhi besaran penggunaan air adalah jumlah populasi di dalam rumah. Karena semakin banyak jumlah populasi, frekuensi aktifitas mencuci pakaian dan alat masak/makan, mandi, toilet, dan memasak meningkat.

Demikian interpretasi saya mengenai data-data di atas.

Kebutuhan pangan

Adapun kebutuhan pangan, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak seperti saya (anak 3), estimasi kasar sekitar 10.000 yen/minggu. Dari mana angka estimasi ini muncul? Setiap kali saya ambil uang di hari Jumat untuk keperluan seminggu sebesar 10.000 yen. Saya katakan estimasi kasar, karena kadang uang tersebut dibelanjakan juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sabun cuci, dll. Belum lagi jika ingin makanan tertentu, maka butuh biaya sedikit lebih tinggi dari biasanya. Jadi dengan asumsi tersebut, maka dalam satu bulan, kurang lebih akan menghabiskan sekitar 40.000-50.000 yen/bulan. Kalau dirata-ratakan, biaya makan per sekali makan per orang sekitar 100 yen. Tentu setiap orang berbeda-beda dalam hal ini.

Bagaimana tips menghemat pengeluaran pangan ini?

Gampang, PUASA sambil diniatkan ibadah. 🙂

Bagian 3: biaya telepon selular dan internet

Nah, akhirnya tiba di bagian akhir, mengenai biaya telepon seluler dan internet. Data yang saya sajikan ini berdasarkan sebuah fakta bahwa saya tidak membeli perangkat telepon seluler di Jepang, cukup dengan membeli nomor saja dan mengambil paket internet. Harga bergantung dari jenis provider yang kita beli. Saya tidak mengulas tentang cara memilih provider (provide mana yang paling bagus versi saya) pada tulisan ini. Karena yang saya pahami, provider di Jepang cukup rumit. Mayoritas provider memberlakukan kontrak 2 tahun. Dan ini kadang sangat riskan bagi orang asing yang tinggal di Jepang. Riskannya karena tidak dapat berbahasa Jepang dengan baik, sedangkan uang dapat dengan mudah meninggalkan rekening bahkan tanpa sepengetahuan kita sang pemiliknya. Tips saya untuk membeli kartu ini sederhana saja, cari provider yang tanpa kontrak dan bisa diputus kapan saja. Emang ada? Ada, tapi saya ga mau sebut merek. 😀 Adapun untuk akses internet di rumah, karena di rumah ada anak-anak dan istri, untuk hiburan dan sarana pendidikan mereka, saya menggunakan pocket wifi dengan harga flat untuk data unlimited, yaitu sebesar kurang lebih 4.700 – 5.000 yen/bulan.

Kesimpulan

Dengan pengelompokan seperti di atas, tampak bahwa sewa rumah merupakan pengeluaran terbesar. Tetapi pengeluaran itu dapat direduksi dengan beberapa cara. Bagi mahasiswa yang belum berkeluarga, maka asrama mahasiswa adalah salah satu pilihan terbaik utnuk menghemat itu semua. Adapun bagi mahasiswa yang sudah berkeluarga, jika keluarganya ingin dibawa serta ke Jepang, maka daftar danchi adalah cara penghematan terbaik, karena mampu menghemat pengeluaran sangat signifikan. Adapun bagian lainnya, seperti listrik, gas, air, dan internet, semua bergantung pada gaya hidup (lifestyle) masing-masing. Seandainya setelah melakukan penghematan di berbagai sisi ternyata secara data belum mampu menurunkan pengeluaran, maka itu tandanya harus mencari pemasukan dari pintu lainnya, tidak hanya mengandalkan beasiswa.

Data yang tersaji di atas, hanyalah data dari 1 keluarga saja, yaitu keluarga saya. Kalaulah ingin mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang biaya hidup di Kitakyushu Jepang, layaknya statistika, maka semakin banyak sample yang kita kumpulkan semakin baik pula gambaran kisaran biaya hidup di Kitakyushu Jepang. Dengan berakhirnya tulisan ini pada bagian kesimpulan, maka slip-slip tagihan tadi pun dapat berakhir di tempat sampah. 🙂

Baca serial kehidupan di Jepang lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s