Episode kehidupan (spesial): berawal dari Skype, berakhir di pelaminan

love
Salah satu sudut taman di Everland, Yongin, Korea Selatan

Tulisan kali ini menceritakan salah satu episode terpenting dalam hidup. Dituliskan di sini untuk mengingat kembali sebuah janji yang dulu terucap, akankah janji tersebut terus terjaga dengan baik atau tidak. Janji untuk saling bekerja sama dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menggapai surganya kelak. Buat pembaca juga insyaAllah ada manfaatnya. Apa itu? bagi pembaca yang masih jomblo, dengan membaca ini semoga semakin termotivasi dan punya gambaran untuk pernikahannya yang efektif dan efisien serta anti-mainstream walaupun sedang di luar negeri. Kalo jomblonya di dalam negeri bagaimana? Sama aja. Intinya bagaimana menghadirkan nuansa romansa yang efektif, efisien, dan anti-mainstream tapi tetap syar’i pada salah satu episode spesial dari kehidupan kita. Dan satu lagi, tulisan ini sudah dapat izin dari istri dan lulus sensor. 😀

***

Kamis, 11 oktober 2012: Biodata

Tampak sebuah email masuk dalam inbox emailku. Judulnya “Biodata”. Pengirimnya? Guru ngaji saya. Hehehe…dan seketika itu juga jantung bergedup kencang. Enggak normal detaknya. “Ada apa ini?” batinku. Selain sebuah dokumen sebagai lampiran, tertulis pula di dalam email tersebut sebuah pesan singkat namun padat makna. “Silahkan ‘dipelajari’ baik-baik. Tar kontak-kontak lagi ya”. Sangat singkat. Mempelajari biodata? Sejenak terbayang profesi personalia atau HRD di sebuah perusahaan yang biasanya melakukan seleksi terhadap calon pegawainya melalui CV atau biodata. “Saya bagian personalia?”. Ya sejenak jadi bagian personalia untuk diri sendiri.

Dibolak-balik lembaran kertas hasil print. Hmmm…perasaan campur aduk ga karuan. Antara iya dan tidak. Tapi kemudian saya coba untuk mencari alasan kenapa “tidak” dan membandingkannya dengan alasan2 kenapa “iya”. Terjadilah perang batin selama 3 hari hanya untuk mendapatkan jawaban “iya” atau “tidak”. Kepala agak ngebul dikit, alasan-alasan logis bercampur aduk dengan ego dan gengsi. Bahkan kerjaan sendiri sempat terlantar sejenak, ga fokus. Tiap saat bertanya pada diri sendiri “iya atau enggak”. Namun, pada akhirnya, dengan berani saya memutuskan untuk “iya” dan lanjut karena alasan-alasan untuk “tidak” ternyata sangat ga bermutu.

Selanjutnya saya pun menghubungi beliau (guru ngaji saya) untuk mengkonfirmasi jawaban sambil berharap-harap cemas. Dan tanpa disangka-sangka, jawaban dari pemilik biodata juga sama “iya” bahkan temponya lebih cepat dari saya. Dan tidak tanggung-tanggung, ayahnya langsung yang mengirimkan jawaban itu melalui SMS. Antara senang dan gugup. Kalau ditimbang-timbang, gugup lebih mendominasi daripada senang pada saat itu. Leher kaku, kepala pusing, terkena serangan komplikasi sejenak. Masuk angin. Hal yang lumrah terjadi saat musim gugur tatkala penurunan suhu terjadi dengan sangat drastis. Kalo sudah begini artinya masuk babak baru. Ya, babak selanjutnya dikenal dengan nama Ta’aruf atau terjemahan bebasnya perkenalan. Disepakatilah tanggalnya, yaitu setelah orangtuanya kembali dari tanah suci.

Sabtu, 9 November 2012: Ta’aruf on Skype (ToS)

Siang itu, saya berada di daerah Ochang, propinsi Chungcheongbuk, sekitar 2 jam perjalanan ke arah selatan dari Seoul menggunakan bus, untuk menghadiri sebuah acara workshop di kantor pusat. Dalam perjalanan pulang dari Ochang, tiba-tiba HP berdering. Dan di layar HP tertera sebuah nama. “Hmmm…ada apa ya kok tiba-tiba telepon?” gumamku. “APA??” (jreng…jreng…) Orangtuanya ternyata meminta agar acara ta’aruf dipercepat menjadi malam ini. Padahal seharusnya, berdasarkan jadwal yang telah disepakati, ta’aruf akan dilakukan pada tanggal 10 November. Bingung dan gugup. “Malam ini kan jadwal nginep di mushola. Masa iya ta’aruf di tengah ‘keramaian’ jama’ah mushola? ya walaupun via skype, tapi kan…tapi kan…ga bisa leluasa ngeluarin suaranya”, membatin di dalam bus AKAP. Perlu diketahui bahwa setiap sabtu malam, aktifitas saya adalah menginap di mushola bersama dengan puluhan jama’ah yang mayoritas adalah para pekerja migran Indonesia. Mereka berkumpul untuk mengaji dan menghidupkan malam serta mempererat tali silaturahim dengan sesama. “Ah, ya sudahlah, maju-terus-pantang-mundur-wow-keren lah pokoknya. Diterima atau enggak, pasrahin aja sama Allah. Kalo ga diterima ya cari yang lain“. Begitulah kita, manusia. Kadang benar-benar menuntut sekali coba langsung berhasil. Sehingga tak jarang muncul kekhawatiran yang berlebih dalam diri, bahkan sampai ada yang sangat ekstrem, yaitu munculnya rasa takut yang pada akhirnya tidak mau mencoba karena tidak mau gagal. Padahal manakala rasa pasrah itu muncul, di sanalah kekuatan sebenarnya dari diri kita muncul.

investigator-png-3-png-image-detective-footprint-png-459_317
Ilustrasi (Sumber: google images)

Sepanjang perjalanan mikir, mau ngomong apa aja ya. Jangan sampe ketika udah berhadapan trus diem-diem malu-malu ga jelas. Akhirnya, saya keluarkan print out biodatanya dan mulailah corat-coret di sana-sini. Menandai bagian mana aja yang mau ditanyakan dan dikritisi. Mirip seperti ketika merevisi paper yang mau di-submit. Hihihi… 😀 Satu-persatu saya cermati dengan mendetail. Mulai dari nama. Ada apa dengan namanya? Kenapa orang tuanya memberi nama tersebut? Kira-kira doa dan harapan apa yang dipanjatkan oleh kedua orang tuanya dengan memberi nama tersebut? Adakah ayat Quran yang memuat kata dari namanya? Alhamdulillah semua pertanyaan ketemu jawabannya. Namanya mirip sebuah nama kitab klasik. Potongan katanya pun dapat ditemukan di dalam Quran. Setidaknya kutemukan kata tersebut pada 4 ayat di dalam Quran. Kubandingkan dengan biodata lainnya seperti berapa banyak hafalan qurannya, dan sebagainya. Urusan nama dan perkiraan sifatnya serta harapan dan doa orang tuanya kepadanya, setidaknya sedikit menemukan titik terang. Selanjutnya, jenjang pendidikan. Sekolah dimana saja? Lingkungan seperti apa yang membentuk pola pikirnya? Kubandingkan pula dengan orang-orang di sekelilingnya. Background orang tua, adik dan kakaknya. Alhamdulillah berada di tengah-tengah orang-orang yang baik dan taat kepada Allah. Bahkan sempat kugunakan google untuk membantu pencarian, apakah dia aktif di dunia maya dengan foto-fotonya atau tidak? Semua celah kuteliti. Sayangnya tak kutemukan banyak informasi dari google. Artinya, dia tidak terlalu aktif di dunia maya. Fotonya pun sulit didapatkan. Artinya, dia tak suka mengumbar informasi tentang dirinya. Aha, nemu akun twitternya. Scrolling semua cuitannya, apakah ada yang berlawanan dengan ketentuan Allah atau tidak. Alhamdulillah tidak. Pokoknya kalau ingat masa itu, serasa menjadi detektif.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam, Alhamdulillah tiba di mushola dengan selamat walaupun kepala masih terus berfikir, teknisnya gimana dan mau ngobrol apa. Satu jam kemudian, barulah agenda dimulai. Dan saat itu, skype menjadi media penghubung antara Korea Selatan dan Depok. Teng… Di sudut biru, ada saya didampingi oleh juru bicara, dan di sudut merah ada sang pemilik biodata didampingi ayah dan ibunya. (kok jadi kayak arena tinju ya..hihihi..) Suasana saat itu mencekam, sunyi, seraaamm, ditambah saya yang tiba-tiba gugup, sulit mengeluarkan suara, dan keringat bercucuran padahal musim dingin. Di layar laptop, kulihat dia didampingi kedua orang tuanya. Harus kuakui pada malam itu dia tampil dengan raut wajah agak kusut seperti baju belum disetrika, nyaris tanpa senyum sedikitpun. Hmmm…jangan-jangan moodnya lagi ga beres nih. Apalagi ditulis di biodatanya orangnya moody. Benar-benar malam yang mencekam. Bagaimana tidak mencekam? Berada di tengah kerumunan orang (yg sedang tidur di mushola, sekitar 20-30 orang), tengah malam, dingin, berkeringat, sunyi, dan tanpa senyum. Belakangan (setelah menikah) baru kuketahui kalau saat itu dia baru saja dibangunkan dari lelapnya. Jadi agak segan untuk bertanya dalam situasi seperti itu. Keringatpun mulai membasahi jidat, satu sensor tubuh bekerja lebih cepat, pertanda ketegangan meningkat.

Dan tak terasa, 2 jam sudah terlalui. Diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan dari kedua belah pihak, diiringi dengan beberapa kali mati listrik. Sangat unik peristiwa malam itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan ada satu episode kehidupanku yg seperti itu. Mungkin diantara pembaca ada yang bertanya-tanya, dalam proses ta’aruf itu apa sih yang dibicarakan atau ditanyakan? Hmmm…Pertama yang saya tanyakan adalah mengkonfirmasi mengenai hafalan quran yang ditulis. Pertanyaan lainnya, mengenai penerimaan terhadap keluarga saya, karena perbedaan jenjang pendidikan antara keluarga saya dan dia, yang saya prediksi boleh jadi dalam beberapa kesempatan di masa depan akan menimbulkan problematika. Dan pertanyaan terakhir adalah tentang poligami. Yup, saya tanyakan itu di depan orang tuanya. Saya ajukan pertanyaan itu, bukan bermaksud untuk praktik berpoligami. Saya hanya ingin tau saja, apa pendapatnya tentang poligami. Apakah jawabannya menolak syariat Allah atau sebaliknya. Poligami itu dalam rumah tangga merupakan ilmu tingkat tinggi yang tidak semua orang mampu termasuk saya. Dalam hal ini, jika menolak poligami sebagai bagian dari syariat Allah akan mengindikasikan ada masalah dengan keimanannya. Adapun mengenai kesanggupan dalam tataran praktis, itu hal yang lain lagi karena poligami punya hukum, syarat dan ilmu tersendiri dalam islam. Jadi, seandainya jawaban dia setuju pun belum tentu saya akan poligami. Cuma mau tau saja dan tak lebih dari itu. Dan bagi pembaca yang akan melakukan ta’aruf, untuk pertanyaan terakhir, kalau mau dicoba silahkan, tapi resiko ditanggung sendiri ya. 😀

Di akhir pembicaraan, saya meminta tenggat waktu pada ayahnya untuk berkonsultasi. Ya, konsultasi kepada Sang pembolak-balik hati. Maksimun 1 pekan, minimum 3 hari. Di pagi hari, kudapati 2 orang jama’ah mendekati sambil tersenyum-senyum dan berbisik, “semalam ngobrol sama siapa kang?“. Oh tidak, ada jama’ah yang nguping rupanya. #blushing #facepalm. “Ah sudahlah…” pikirku. 😀

Beberapa hari kemudian, hidup dipenuhi dengan renungan. Merenung sembari berkomunikasi dengan diri sendiri, meminta fatwa pada hati, “iya” atau “tidak”, “siap” atau “tidak siap”, semua harus difikirkan termasuk konsekuensinya. Buka lagi biodatanya, mengingat-ingat perkacapan dan bahasa tubuhnya saat berkomunikasi di malam itu. Lihat lagi fotonya, karena wajahnya malam itu tidak tersimpan baik dalam memori kepala karena sesekali saya masih menundukkan pandangan, tak terbiasa. Tidak berani catch-on-her-eye. Ditambah juga bangun malam untuk ‘konsultasi’ kepada Sang Pemilik Hati. Sebenarnya ini bukan hal yang sangat sulit sehingga harus berfikir rumit, tapi juga bukan hal yang sangat mudah sehingga dianggap remeh. Ya gampang-gampang susah lah. Dan butuh keteguhan sikap. Namun, pada akhirnya hati ini mengatakan “iya” dan “siap”, dalam waktu kurang dari 3 hari. Ketika itu kesiapan masih berada pada kisaran 70-80%. Lho kok gitu? Iya karena belum ketemu langsung sama orangnya. Hmmm…apa yang harus saya lakukan? Baiklah, kirim orang untuk menemuinya. Siapa orang yang cocok untuk mengemban misi ini? Intel bayaran? Ga usah kirim intel bayaran, mahal ongkosnya. Kukirim 2 orang yang paling kucintai di dunia ini, 2 orang yang sudah mengenyam pahit-getirnya hidup, 2 orang yang juga berpengalaman dalam menilai orang, 2 orang yang usianya jauh lebih tua dari saya, 2 orang yang saya banggakan, mereka adalah bapak dan ibu saya. Biar mereka yang datang langsung sekaligus observasi lapangan sehingga bisa mengambil data dan menyimpulkan, siapa calon menantunya dan bersediakah menjadi orang tuanya.

Ahad, 16 Desember 2012: Pertemuan bilateral

Satu hari sebelumnya, orang tua mengabari saya, katanya akan silaturahim ke Depok. Pada hari yang sama kukirimkan foto keluargaku kepadanya, dengan tujuan agar mereka dapat dikenali dengan mudah. Ini adalah kunjungan perdana dari kedua orang tua saya. Sementara di Indonesia terjadi pertemuan penting dua negara, jauh di Korea sana ada yang berharap agar hubungan bilateral berjalan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan penting. Sorea hari, saya mencoba menghubungi kedua orang tua, seraya menanyakan bagaimana pertemuan hari ini, bagaimana pendapat mereka dan keputusan apa saja yang dihasilkan dari pertemuan tersebut. Ini udah kayak pertemuan dua negara aja yak. 😀 Alhamdulillah, hasilnya positif.

my family
Foto Keluarga saat kelulusan S1 ITB tahun 2008

Langkah selanjutnya adalah memikirkan teknis bertemu langsung, lamaran, dan juga akad nikah. Bertemu langsung ini sangat penting bagi saya. Karena selama ini komunikasi dilakukan jarak jauh dan tidak bertemu langsung, hanya melalui media saja. Kata Rasulullah, haruslah melihat langsung supaya tidak ada dusta diantara kita. hehehe… 😀 Dan akhirnya disepakati bahwa tiga langkah selanjutnya terjadi dalam satu pertemuan dalam satu hari.

Jumat, 25 Januari 2013: January in hurry

Semenjak pertemua bilateral itu, banyak hal yang unik terjadi dalam kehidupan saya. Bapak yang selalu mengeluh pusing. Ketika ditanya jawabannya klasik “masuk angin”. Padahal, kalau di cross-check dengan jawaban dari paman yang juga ikut dalam kunjungan bilateral tersebut, jawabannya berbeda. Ada semacam beban yang sedang memenuhi kepala bapak. Belum lagi hujan deras yang mengakibatkan rumah bapak tak mampu lagi bertahan. Harus diperbaiki segera. Tetapi dibalik itu semua Allah berikan jalan keluar yang tak terduga. Perusahaan tempat saya bekerja memberikan bonus akhir tahun sebesar 1 bulan gaji dan Alhamdulillah dari gaji itulah saya bisa membantu bapak meringankan beban pikirannya. Rumah dapat diperbaiki dan mahar dapat terbeli melalui bonus tersebut.

Singkatnya, perusahaan memberikan saya izin untuk pulang ke Indonesia untuk bertunangan. Saya bahasakan demikian kepada pihak perusahaan. Penerbangan dijadwalkan pagi hari jam 9 dengan sekali transit di Guangzhou Baiyun International Airport. Jarak rumah dengan bandara sekitar 2 jam menggunakan airport bus yang durasi keberangkatannya 1 jam sekali. Artinya kalau ketinggalan bus, harus menunggu 1 jam kemudian. Karena tak mungkin jika harus start dari rumah, kamis malam saya menginap di salah satu mushola di daeran Ansan. Jarak Ansan-Airport hanya 1 jam dengan intensitas bus menuju bandara relatif lebih sering dibandingkan dari rumah.

Tiba di bandara sudah mendekati waktu tutup counter check-in. Sejak turun dari airport bus, kaki tak berhenti berlari. Bahkan saat di imigrasi pun harus melobi antrian paling depan agar diizinkan untuk mendahului karena waktunya sudah sangat mepet. Petugas bandara sudah memanggil-manggil penumpang. Petugas maskapai pun ada yang sudah memanggil nama saya. Begitu bertemu dengan petugas maskapai tersebut, ia langsung menghubungi petugas lain yang stand by di pintu pesawat agar menunda sejenak penutupan pintu boarding karena masih ada penumpang yang tertinggal. Alhamdulllah, I can make it, I catch the flight. Sepanjang perjalanan kembali merenung mencari jawaban dari sebuah pertanyaan “Apa yang mau dilakukan selesai akad nikah nanti?”. PIlihan jawaban mulai bergelayutan di pikiran. Pulang ke Bekasi bersama rombongan atau tinggal di Depok? 😀

Ahad, 27 Januari 2013: Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui

Tibalah hari yang paling mendebarkan, klimaks dari kisah ini. Perjalanan Bekasi-Depok pun dilakukan pada pukul 9.30 pagi beserta rombongan. Adapun rombongan yang ikut mayoritas adalah keluarga inti serta pak RT dan pak RW. Nazhar (melihat langsung) dan khithbah (lamaran) hanya terjeda 5 menit. Begitupula khithbah dan akad nikah, hanya terjeda kurang lebih 10-15 menit. Acara dimulai sekitar pukul 10.45 dan berakhir 12.00 saat azan Dhuhur berkumandang. Kurang dari 2 jam, 3 langkah (nazhar – khithbah – akad) terlampaui. Teringat akan sebuah peribahasa, “sekali dayung dua – tiga pulau terlampaui“. Sekali berkunjung, dia sah menjadi istri. Prikitiw…

valentin vs pengantin
Akad nikah di masjid Al-Qudwah, Depok
Unforgettable moments
Selepas akad, memakaikan cincin ke jari istri

Masa penantian berakhir, begitupula masa-masa menegangkan. Namun, kebersamaan dengan istri tidaklah lama. Hanya 2 hari. Karena pada Selasa pagi, saya sudah harus kembali ke Korea dan baru akan kembali lagi 3 bulan kemudian untuk walimah dan memboyongnya ke Korea. Ya begitulah kehidupan. Ada senang dan ada pula sedih. Sedih karena harus berpisah dan menjalani hubungan jarak jauh (LDR).

Jumat-Sabtu, 12-13 April 2013: Walimah

Tak banyak yang bisa diceritakan pada bagian ini. Karena pada bagian ini lebih banyak tentang pesta pernikahan (walimah), upaya memboyong istri ke Korea, dan juga tentang kita berdua. Bagian ini sudah anti-klimaks. Kalau di dalam film-film, jagoannya udah menang. Dan kalau jagoan udah menang, maka film pun selesai. Begitu pula dengan kisah ini, selesai sampai di sini. Jarak dari ta’aruf s.d menikah hanya 2 bulan saja. Itupun 3 proses (bertemu langsung, lamaran dan akad) kurang dari 2 jam.

Semoga pembaca dapat mengambil manfaat dan pelajaran dari kisah ini. Dan pelajaran itu bukan pada cepatnya proses, melainkan pada menjaga proses ibadah dari hal-hal yang bernilai non-ibadah semata-mata karena mengharap berkah dari Allah yang Maha pemberi Rahmah. Cepat atau lambatnya proses tersebut hanyalah masalah teknis semata.

 

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s