Catatan penjelajahan Eropa (Bagian 2): budaya riset dan kehidupan lab

 

Twente
University of Twente, dokumentasi pribadi

Delapan belas hari, bukanlah waktu yang lama. Memang kalau dihitung-hitung ada 432 jam waktu yang tersedia hidup di Belanda. Tetapi teryata tidak terasa selama setengah bulan lebih berlalu sampai akhirnya tiba saatnya harus beranjak pergi, berpindah posisi. Ada banyak pengalaman dan pelajaran menarik yang didapat dari sini, terutama mengenai keilmuan dan budaya penelitian. Pada bagian ke 2 ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman melakukan riset di Belanda, tepatnya di University of Twente. Pengalaman ini kemudian saya bandingkan dengan budaya riset di Jepang dan Korea Selatan. Belanda sebagai representasi Eropa, sedangkan Jepang dan Korea Selatan sebagai representasi Asia Timur.

Kalau di Jepang sana (terutama lab saya), professor berkata untuk tidak mengkhawatirkan waktu karena lab terbuka 7×24 jam, bahkan setiap anggota lab mendapatkan satu kunci lab agar dapat masuk kapan saja. Sedangkan di Belanda ada larangan berada di lab sendirian di atas jam 6 sore. Bahkan jam 5 sore saja, beberapa diantara anggota lab sudah tidak ada di ruangan. Begitu pula hari Sabtu dan Minggu, mereka dilarang datang ke lab. Kondisi ini jelas kontras perbedaannya dengan di Jepang dan di Korea Selatan.

Progress report, adalah sarana melaporkan hasil riset selama periode tertentu. Kadang riset selama seminggu, atau dua minggu, atau periode-periode lainnya. Di Jepang, progress report ini dikenal dengan sebutan “zemi” (ゼミ). Saat zemi adalah saat yang sangat menakutkan di Jepang maupun di Korea. Semua muka serius serasa berada dalam tekanan dahsyat, harus menyiapkan laporan formal dalam format powerpoint. Adapun di Belanda cukup membawa segelas kopi atau teh serta alat tulis. Boleh bawa laptop jika diperlukan. Tak perlu membuat powerpoint. Suasana diskusi juga sangat asyik.

Begitu pula kehidupan sosial di lab. Di Belanda, kondisi kehidupan sosial di lab cenderung lebih cair daripada di Jepang. Entah apa penyebabnya. Apa karena tekanan di Jepang yang lebih tinggi dari di Belanda, atau karena di Belanda aturan nge-labnya yang lebih enak. hehehe… 😀 Tetapi, di Jepang setiap mahasiswa mendapatkan perlindungan dari negara (undang-undang). Ada yang namanya undang-undang harrasment. Jadi, kalau terjadi kekerasan dalam dunia akademis seperti ancaman tidak diluluskan, itu bisa menjadi delik sendiri dan bisa menyeret profesor ke ranah hukum. Dan tau sendiri kan, bahwa orang Jepang itu sangat patuh dengan hukum. Anyway, terasa sekali bedanya kehidupan sosial di lab di Jepang dan di Belanda.

Hal lainnya adalah saat melakukan kesalahan dalam eksperimen. Sebenarnya melakukan kesalahan adalah hal yang wajar dalam dunia eksperimental di lab, tetapi penyikapan atas kesalahan itulah yang berbeda. Di Jepang, pastinya diberi ‘tausiyah’ yang kadang mengguncang batin atau bahkan melemahkan mental dulu baru kemudian cari solusi. Itupun kalau sensei ngasih solusi. Sepanjang pengalaman saya di Jepang, jarang sekali solusi dari sensei itu solusi yang memuaskan isi kepala. Kenapa bisa demikian? Entahlah. Saya merasa sensei tidak banyak tau tentang apa yang sedang saya kerjakan padahal ide asalnya dari beliau. Sedangkan di Belanda, begitu kita menghadapi permasalahan dalam eksperimen, professor langsung mengajak berdiskusi dan mencari solusi tanpa marah-marah terlebih dahulu.

Sempat berfikir, kenapa bisa seperti itu perbedaan perlakuannya? Ternyata, di Eropa terutama di Belanda, S3 di sana dianggap sebagai kolega atau rekan kerja. Sedangkan di Jepang atau Korea atau mungkin di negara-negara Asia Timur lainnya, mahasiswa S3 ya tetap mahasiswa yang butuh bimbingan. Walaupun apa yang saya rasakan hampir tidak ada bimbingan, hanya ada bentakan dan perintah yang kadang tidak kita ketahui alasan atau latar belakang dari perintah itu sendiri apa.

Dari sisi publikasi, masing-masing sudah pernah mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal ber-impact factor (IF) tinggi. Yang di Jepang sudah pernah publish di “nature communication”, sedangkan professor di Belanda sudah pernah publish di “nature materials”. Tema keduanya sama-sama leading di bidang tersebut.

Dan keduanya berada di dua negara yang memiliki hubungan sejarah sangat erat dengan Indonesia. Yang di sana konon tercatat dalam 3.5 tahun sejarah Indonesia, di sini tercatat 350 tahun.

Ya tentunya setiap negara ada plus dan minus nya. Budaya riset itu tentunya dipengaruhi pula oleh tata kelola pendidikan serta kondisi warga negaranya. Dan setidaknya ada yang bisa kita pelajari dari dua negara yang berbeda budaya dan benua ini. Kalau di Indonesia, kira-kira menganut budaya riset yang mana kah atau kalau kita memiliki lab dan menjalankan aktivitas riset, manakah yang sesuai dengan kondisi Indonesia? 😀

Selain itu, selama 18 hari di Univ. Twente, saya mendapatkan ‘mainan’ baru. Nama-namanya pun menyeramkan: Python, Anaconda, Spyder. Biasanya bermain dengan bahan kimia dan alat-alat pengukuran untuk nanomaterial dan nanodevice, sekarang tambah lagi mainannya, “ngoding”. Rasanya terlalu melebar tapi butuh. Mudah-mudahan mainan ini tidak hanya berguna untuk pengukuran dan mengolah data di lab tapi juga ada keuntungan lainnya yang bisa dikonversi menjadi ‘sesuatu’ di masa depan.

Anaconda navigator

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s