Catatan penjelajahan Eropa (Bagian 3): Masjid

Masjid Kampus Twente
Mushola kampus, University of Twente, Enschede terletak di gedung no 47, Vrijhof

Salah satu yang tersisa dari #JelajahEropa adalah Rihlatul Masaajid, mengunjungi masjid-masjid yang ada di kota-kota tersebut. Melihat dan mengenali keunikan-keunikan di dalamnya, berinteraksi dengan jamaah di dalamnya, dan lain-lain. Setidaknya ada 5 masjid dan 1 mushola kampus yang saya kunjungi, 2 masjid di Belanda (Enschede and Utrecht) + mushola kampus, 2 masjid di Ceko (Praha dan Brno), dan 1 masjid di Jerman (Düsseldorf). Sayangnya masjid di Jerman ketika berkunjung ke sana sedang tidak ada siapa-siapa.

Satu hal yang menarik adalah ada muslim dari bangsa lain yang cukup dominan selain Turki di Eropa yaitu Maghribi (Maroko). Kalau muslim Turki dominan di Eropa, mungkin itu hal yang wajar karena ada hubungan historis di masa lampau. Setidaknya dengan adanya warung kebab di sana, maka setidaknya ada komunitas bangsa Turki di sana. Tapi Maroko, ini historisnya apa? Sampai sekarang belum dapat jawabannya. Tapi menurut informasi dari teman, ada kerjasama ketenagakerjaan antara Belanda dengan Maroko. Oleh karenanya, banyak warna negara Maroko di Belanda. Seperti dua masjid yang ada di Belanda dan 1 masjid di Jerman, ini dibangun oleh komunitas muslim Maroko. Bahkan yang di Jerman itu ada di dalam kompleks perumahan yang dihuni oleh muslim Maroko. Cirinya sangat khas, Masjidnya besar, ada sekolah (madrasah) serta perpustakaannya yang berisi kitab-kitab klasik yang lumayan lengkap.

Masjid IVEO Enschede
Islamitische Vereniging Enschede en Omstreken (IVEO), Enschede, Belanda
Masjid Utrecht
Utrecht Ulu Camii Moskee (Dar el Maghrib), Belanda

Adapun masjid di Ceko, masjid Praha yang saya kunjungi ini ta’mir nya Su’udiy (muslim Saudi) dan yang di Brno ta’mir nya Mishriy (muslim Mesir). Untuk masjid di Ceko ini belum diketahui dari komunitas mana yang dominan. Tapi yang jelas, masjid itu ada karena adanya komunitas muslim di sana. Selain itu, masjid di Brno walaupun kecil ternyata memiliki ruangan yang berfungsi sebagai ruang pendidikan (Skola – dalam bahasa Ceko).

Masjid Praha
Islámská nadace v Praze (Pražská mešita), Prague, Czech Republic
Masjid Brno
Islámská nadace v Brně (Brně mešita), Brno, Czech Republic

Bagaimana dengan komunitas muslim Indonesia di sana? Kalau di Belanda saya yakin ada, karena berdasarkan data diaspora Indonesia, ada sekitar 2 juta WNI yang tersebar di Belanda. Hanya saja kemarin tidak banyak bertemu dengan WNI. Adapun di Ceko, WNI hanya berjumlah kurang lebih sekitar 100an orang.

Melihat kenyataan di atas, kita dapat melihat bahwa negara-negara muslim yang memiliki andil dalam mewarnai Eropa dengan islam adalah Maroko dan Turki. Dari komunitas kedua negara itulah lahir beberapa masjid yang cukup besar di negara-negara Eropa. Memang benar, bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan sejarah, salah satunya adalah kesultanan Turki Utsmani yang cukup erat singgungannya dengan bangsa Eropa. Adapun Maroko, memiliki kerjasama ketenagakerjaan dengan beberapa negara Eropa. Dari sini muncullah sebuah angan, kapan kiranya Indonesia dapat mengukir sejarah seperti itu, menjadi yang terdepan dalam membantu mengenalkan islam kepada bangsa lain? Salah satu prasasti yang mudah dilakukan adalah dengan membangun masjid. Kalau di Jepang dan Korea Selatan, komunitas muslim Indonesia sudah mulai berlomba membangun masjid sebagai salah satu tonggak bahwa Islam ada di sana, bagaimana dengan diaspora Indonesia di Eropa? Sudah adakah masjid Indonesia di sana? Saya kurang tau. Mungkin sudah ada. Semoga suatu saat, bangsa Indonesia menjadi qudwah bagi bangsa-bangsa lainnya dalam mewarnai dan menyebarkan islam ke seluruh pelosok dunia.

Selain perihal komunitas muslim dan kontribusinya dalam mengenalkan islam pada bangsa Eropa, ada hal lain yang menarik yang hampir tidak dijumpai di Indonesia. Apa itu? mengenai perbedaan bacaan Quran berikut dengan mushafnya. Di dalam Islam, ini dikenal dengan Qiraat atau madzhab dalam membaca Al-Quran. Di Indonesia memang tidak dijumpai perbedaan cara membaca Al-Quran yang mencolok karena mayoritas menggunakan Qiraat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim melalui jalur Asy-Syathibiyah. Adapun yang saya jumpai ketika mengunjungi masjid IVEO misalnya, mereka memiliki setidaknya dua ragam qiraat, Qiraan Imam Warsy dan Qiraat Imam Hafs. Ini sangat tampak jelas pada susunan mushaf yang ada di rak di dalam masjid.

Lho memangnya ada yang berbeda dari isi Qurannya jika ditinjau dari jenis Qiraat?

Secara keseluruhan tidak ada yang berbeda. Tidak ada satu huruf pun dari Al-Quran yang hilang jika kedua jenis mushaf tersebut disandingkan dan dibandingkan. Letak ayat mungkin berbeda, karena pada dasarnya penandaan ayat itu, jika kita tinjau dari sejarahnya, sifatnya ijtihadiyah (hanya pendapat para ulama Quran) dan  bukan bersifat tauqifi (yang langsung dari Allah dan Rasul-Nya). Yang membedakan hanyalah tata cara membacanya atau kaidah tajwidnya. Sehingga pengkhususan mushaf tersebut dimaksudkan agar jamaah yang tersbiasa dengan tata cara baca menurut Imam Warsy merasa lebih nyaman dan tidak bingung, begitu pula sebaliknya.

Rak Quran IVEO.jpg
Rak Mushaf Al-Quran di dalam masjid IVEO dipisahkn berdasarkan jenis qiraatnya

Memang pelajaran apa yang kita dapat dari sini?

Ada pelajaran yang sangat besar, yaitu mengenai perbedaan dan begitu luasnya keilmuan dalam islam. Lho kok bisa gitu, kan itu cuma mushaf aja? Benar memang itu cuma mushaf, tapi itu menandakan bahwa di masjid tersebut, jamaahnya luas, tidak hanya menggunakan satu jenis qiraat saja, tapi setidaknya dua. Kalau dalam membaca quran mereka menggunakan beberapa variasi, menandakan tingkat pemahaman dan toleransi antar mereka cukup tinggi. Dan saya yakin, di dalamnya tidak hanya menggunakan satu jenis madzhab fiqih saja, boleh jadi beragam. Dan tentunya tidak menjadi masalah. Berbeda dengan di Indonesia yang mayoritas Syafi’iyah dan tidak dikenalkan dengan yang lain kecuali sedikit (karena memang tidak ada yang bersanad langsung ke madzhab yang lain) walaupun mengakui madzhab yang lainnya. Begitu pula dengan membaca Al-Quran, hanya mengenal qiraat Imam Hafs saja, dan tidak mengenal yang lainnya kecuali hanya segelintir orang saja. Sehingga ketika muncul sedikit perbedaan di kalangan umat islam Indonesia, dampaknya cukup besar. Adapun dampak dari perbedaan riwayat bacaan quran ini diantaranya adalah pada perbedaan tafsir dan istinbath hukum fiqih, sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr. Nabil bin Muhammad Ibrahim Ali Ismail dalam buku yang ia karang berjudul ‘ilmu al-qiraat, nasy-atuhu, athwaaruhu, atsaruhu fii al-‘ulum asy-syar’iyyah pada halaman 323-432. Bagaimana memduplikasi suasana ini di Indonesia? Tentu jawaban paling utama adalah pendidikan. Dan masjid memiliki fungsi untuk itu, sebagai pusat transfer keilmuan, bahkan awal mula peradaban islam juga dimulai dari sebuah masjid yang didirikan di Madinah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s