Catatan penjelajahan Eropa (Bagian 4): silaturahim

Punggawa IMUSKA 2012-2013
Beberapa punggawa IMUSKA periode 2012-2013

Satu hal yang tidak disangka adalah perjumpaan kembali dengan teman-teman lama yang dulu pernah menghiasi kehidupan kita. Perjumpaan yang tidak direncana itu terkadang menghadirkan perasaan emosional tersendiri, terlebih jika waktu telah mengubah banyak hal. Setidaknya itulah yang saya alami saat menjelajah Eropa. Pada awalnya nggak ngeh kalau ada teman di sana. Karena rentang waktu yang lama menjadi pemisah, pikiran kita pun kadang dipenuhi hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan kita dalam beberapa waktu terakhir, seperti pekerjaan, keluarga, dan lain-lain.

Pada mulanya, saya hanya mengingat beberapa kawan yang dulu satu almamater di ITB yang kemungkinan masih ada di Belanda dan mungkin bisa diajak ketemuan. Tetapi tanpa disangka, begitu tiba di Belanda, seorang kawan yang dulu pernah sama-sama di Korea menyapa saya melalui media sosial dan mengajak bertemu. Rupanya beliau di Belanda. Beliau adalah Ahmad Nasikun. Dulu kita sama-sama aktif di IMUSKA dan KMI. Sekarang beliau di Delft, Belanda, melanjutkan studinya ke jenjag doktoral. Dan status beliau pun sudah berubah, baik status profesi maupun keluarga. Profesi beliau saat ini adalah dosen di salah satu universitas papan atas, bahkan lebih atas dari almamater saya dulu di negeri +62. 😀 Sedangkan status saya, masih sama, hanya seorang pengembara. Atau ungkapan yang lebih tepat untuk menggambarkan kondisi saya saat itu adalah “full time traveller, part-time PhD”. hehehe…

Adapun status lainnya, beliau sudah mendapatkan amanah seorang istri dan anak kembar yang pada saat kita bertemu, keluarganya belum diajak ke Belanda. Ini benar-benar pertemuan yang istimewa buat saya. Dua bapak yang sama-sama diamanahi anak kembar, bertemu di luar negeri dan sedang terpisah dari keluarganya. Kira-kira dengan kondisi seperti itu apa yang akan dilakukan dua bapak ini? Tentunya pertemuan kami kali ini tidak membicarakan teknis mengundang ustadz ke Korea atau membicarakan agenda dan teknis acara taklim, sebagaimana yang dulu pernah kami lakukan bersama baik di IMUSKA maupun di KMI. Kami melalui hari dengan berjalan-jalan berkeliling Utrecht Centrum sekaligus mencicipi hidangan di warung Turki. Pada awalnya beliau mengajak menginap di rumahnya di Delft, namu karena jarak Enschede dan Delft cukup jauh, maka kita putuskan bertemu di tengah-tengah antara dua kota tersebut dan cukup strategis (ketersediaan masjid, sarana transportasi masal yg baik, dan makanan halal), yaitu Utrecht.

Me n Nasikun
Bersama Nasikun mengelilingi Utrecht Centrum (dokumentasi pribadi)

utrecht to pregue

Tak lama waktu yang kami habiskan bersama di Utrecht. Sekitar kurang lebih 9-10 jam saja, karena setelah ini saya harus berangkat menuju Republik Ceko untuk menghadiri conference di Brno. Dan perjalanan menuju Republik Ceko ditempuh dengan menggunakan bus membelah daratan Jerman. Perjalanan yang cukup panjang, diperkirakan sekitar 17-18 jam, tetapi pada kenyataannya sekitar 20 jam karena keterlambatan bus lainnya saat transit di Mannheim Busbahnhof.

Setelah menempuh perjalanan panjang tersebut akhirnya tibalah di kota Prague, Czech Republic. Masuk ke kota ini disuguhi dengan pemandangan tata kota abad pertengahan. Perbedaan yang cukup kontras dengan Belanda. Setidaknya pemandangan inilah yang sangat mencolok ketika memasuki kota Prague. Dari sana masih harus menempuh 2.5 jam perjalanan menuju Brno. Dan tiba di Brno pada 22 Juli 2018 jam 18.00.

Tak lama kemudian, masuklah sebuah pesan, dan lagi-lagi dari salah satu mantan punggawa IMUSKA. Pada awalnya saya tidak tau kalau di Ceko ada salah satu orang yang saya kenal. Bahkan sebelum menuju Ceko, saya sempat berkomunikasi dengan salah satu anggota PPI Ceko meminta informasi berkaitan dengan tempat tinggal, makanan halal, sarana transportasi, atm, dsb. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ada salah satu teman yang tinggal di negeri ini. Beliau adalah mas Toha Ardi Nugraha, yang juga merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Dan beliau di Ceko saat itu masih terpisah dengan keluarganya di Indonesia. Beliau bisa dikatakan baru memulai kehidupan di Ceko saat itu. Dulu kita pernah sama-sama di Korea, walaupun tempat tinggal kita terpisah ratusan km, saya di Yongin dan beliau di Gumi. Dan tak menyangkan akan bertemu beliau di tempat asing ini.

Dan tentunya silaturahim lagi…lagi…dan lagi…dan lagi-lagi bertemu dengan salah satu mantan punggawa IMUSKA era 2013-2014. Dalam kunjungan ke Ceko kali ini bertemu dengan salah satu mantan anggota bidang dakwah IMUSKA yang dulu mendiami wilayah Gumi, Korea Selatan. Tak ada yang kita lakukan selain ngobrol, makan-makan dan jalan-jalan. Beliau menemani saya sudah layaknya tour guide professional, hampir memahami seluk beluk sudut kota Prague, tau tempat-tempat mana saja yang eksotis (halah…) yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara dan juga wisatawan dadakan macam saya ini. hehehe…Dari beliau juga saya tau makanan mana saja yang dapat dikonsumsi. Bahkan beliau juga mengetahui masjid-masjid di Prague. Dan tentunya mengajari saya cara menggunakan sarana transportasi di sana. Karena transportasi di Ceko sedikit unik dan berbeda dengan negara lain yang pernah saya singgahi seperti Belanda, Korea, dan Jepang. Luar biasa memang mantan bidang Dakwah IMUSKA ini.

Me n Toha
Bersama Toha berkeliling Prague Centrum (dokumentasi pribadi)

Dan tentunya perjumpaan dengan beliau tidaklah lama, hanya sampai jam 22.00 saja. Jam 22.00 adalah jam saat matahari tenggelam waktu itu. Jadi baru masuk waktu maghrib kurang lebih. Namun, dari perjumpaan yang sebentar ini, banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapat dari beliau terutama mengenai Ceko.

Melihat pengalaman pertemuan dengan para mantan punggawa IMUSKA di dua negara berbeda, menjadikan saya mengingat-ingat dan mencari-cari, barangkali ada mantan punggawa IMUSKA lainnya di negara Jerman yang akan menjadi destinasi saya selanjutnya setelah Ceko sebelum kembali ke Jepang. Aha..ketemu. Ternyata ada satu lagi yang sedang berkuliah di Jerman, beliau adalah Fathoni A. Musyaffa. Namun sayangnya, karena kesibukan beliau dan waktu tinggal saya di Jerman yang hanya 2 hari, kita tidak dapat bersilaturahim. Sempat dihubungi juga oleh salah satu aktivis IMUSKA lainnya yang tinggal di Denmark, Syahnada Jaya Syaifullah. Tetapi lagi-lagi tidak dapat bersilaturahim dengannya.

Fathoni
Fathoni A. Musyaffa, mahasiswa PhD di University of Bonn
Me n Jaya
Syahnada Jaya Syaifullah, mahasiswa PhD di University of Copenhagen, Denmark. Foto ini diambil saat berjumpa di Masjid At-Tiin Taman Mini Indonesia Indah. (dokumentasi pribadi)

Terakhir, lagi-lagi saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka semua. Jazakumullah ahsanal jaza. Semoga Allah balas kebaikan-kebaikan mereka selama saya repotin dengan kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda. hehehe… Dan semoga study mereka di luar negeri (Belanda, Ceko, Jerman, Denmark) lancar jaya selalu dan berkah.

***

Sejenak teringat sabda baginda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ . رواه البخاري.

“Tujuh golongan yang dinaungi Allah di dalam naungannya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu (1) imam yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, (3) seseorang yang hatinya bergantung di dalam masjid, (4) dua orang saling mencintai yang bertemu dan berpisah karena Allah swt., (5) seorang laki-laki yang diminta (digoda) seorang perempuan yang memiliki pangkat dan berparas cantik namun ia berkata “Sungguh aku takut Allah”, (6) seorang laki-laki yang menshadaqahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dishadaqahkan oleh tangan kanannya dan (7) seseorang yang menyebut/ingat Allah ketika sendiri hingga kedua matanya menangis. (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari memberikan penjelasan mengenai makna “naungan” dalam hadits tersebut yaitu

قَوْله : ( فِي ظِلّه ) إِضَافَة الظِّلّ إِلَى اللَّه إِضَافَة تَشْرِيف , وَكُلّ ظِلّ فَهُوَ مِلْكُهُ . وَقِيلَ : الْمُرَاد بِظِلِّهِ : كَرَامَته وَحِمَايَته ، كَمَا يُقَال : فُلانٌ فِي ظِلّ الْمَلِكِ . وَقِيلَ : الْمُرَاد ظِلّ عَرْشه وهو أرجح

Pada kata “dalam naungan-Nya”, adanya idhafah (penyandaran) kata “naungan” kepada Allah memberikan maksud untuk memuliakan. Dan maksud dari “naungan-Nya” adalah memberikan kemuliaan, penghormatan, dan pemeliharaan. Namun, Ibnu Hajar mengatakan yang paling rajih maknanya adalah naungan ‘arsy-Nya.

Bisa kita bayangkan bahwa pada hari itu pun digambarkan sangat panas sekali, matahari yang dulunya terasa jauh di atas langit pada hari itu terasa dekat. Bila ketika kita hidup di dunia ini ketika merasakan panas matahari, kita dapat menggunakan payung untuk menghalau panas tersebut, atau berteduh sejenak di bawah pohon, atau sebagainya. Tetapi di akhirat, saat kondisinya seperti itu, Allah hanya memberikan naungan pada 7 golongan saja. Jika mayoritas manusia saat itu merasakan panasnya matahari sedangkan hanya ada 7 golongan saja yang mendapatkan naungan, maka kita dapat simpulkan, orang-orang yang masuk dalam 7 golongan tersebut adalah orang-orang yang spesial di mata Allah.

Siapakah orang-orang spesial itu?

  1. Pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya
  3. Seseorang yang hatinya bergantung di dalam masjid
  4. Dua orang saling mencintai yang bertemu dan berpisah karena Allah swt.
  5. Seorang laki-laki yang diminta (digoda) seorang perempuan yang memiliki pangkat dan berparas cantik namun ia berkata “Sungguh aku takut Allah”
  6. Seorang laki-laki yang menshadaqahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dishadaqahkan oleh tangan kanannya
  7. Seseorang yang menyebut/ingat Allah ketika sendiri hingga kedua matanya menangis

Dan setelah bertemu dengan teman-teman saya di atas, saya merenungi bahwa pertemuan kita di Masjid dan tidak melupakan Masjid. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita semua bagian dari golongan orang-orang yang spesial itu di akhirat nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s