“Khairunnaas”, sebaik-baik manusia. Siapa?

Siapa sebaik-baik manusia

Ditinjau dari sisi bahasa, “Khairu An-naas” (خير الناس) berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari 2 kata: khair (خير) yang berarti baik dan an-naas (الناس) yang berarti manusia. Kata “khair” tersebut di-idhafahkan (mudhaf-mudhaf ilayhi) atau disandarkan kepada kata “An-naas”, sehingga secara keseluruhan berarti “sebaik-baik manusia” atau “manusia yang paling baik”. Dari sini muncul tanya:

Definisi “baik” ini apa? menurut siapa? apa rujukan / patokan /  referensinya? Siapa mereka? Adakah ciri-cirinya? Apa saja?

Kata “baik” ini biasanya, dalam keseharian kehidupan kita, masuk dalam kategori kata sifat yang relatif dan bisa saja penilaiannya subjektif berdasarkan pandangan orang tertentu. Boleh jadi menurut si A, si B adalah orang baik, belum tentu si B menurut si C atau si D juga baik. Untuk menghindari penilaian yang subjektif tersebut, maka definisi baik yang dimaksud di sini kita kembalikan kepada suatu yang nilainya absolut, bukan dari sudut pandang manusia, yaitu “baik” menurut Allah dan Rasul-Nya yang tertuang dalam Al-Quran dan sunnah Rasul-Nya. Jadi, kalau ada pertanyaan, apa ciri-cirinya, tentu untuk mendapatkan jawabannya perlu kita kembalikan kepada rujukan utamanya, yaitu Al-Quran dan sunnah.

Sebaik-baik manusia
“Khairunnaas” di dalam sunnah nabawiyah

Dari beberapa sabda Rasulullah, didapat beberapa petujuk siapakah sebaik-baik manusia, diantaranya sebagai berikut:

  1. Sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Quran (Shahih Al-Bukhari no. 5027)
  2. yang paling baik perangainya (Shahih Al-Bukhari no. 3559)
  3. yang paling diharapkan kebaikannya dan keburukannya dijaga (Sunan At-Tirmidzi no. 2263)
  4. (suami) yang paling baik terhadap keluarganya (Sunan Ibnu Majah no. 1977)
  5. yang memberikan makanan dan menjawab salam (Musnad Ahmad no. 23926)
  6. yang umurnya panjang dan baik perbuatannya (Sunan At-Tirmidzi no. 2392)
  7. yang paling bermanfaat bagi manusia (Al-Mu’jam Al-Awsath no 5787)
  8. yang paling baik kepada kawannya dan tetangganya (Sunan At-Tirmidzi no. 1944 dan Musnad Ahmad no. 6566)

Dari beberapa poin di atas, jika kita tinjau dari sudut pandang ungkapan tanpa memahami esensi haditsnya, beberapa orang yang membacanya akan merasa adanya pertentangan diantara hadits-hadits tersebut. Misalnya, satu sisi sebaik-baik manusia adalah yang paling baik terhadap keluarganya, tapi di sisi lain, justru yang bermanfaat bagi orang lain, atau bahkan sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Quran. Seolah tampak bias. Maka muncul pertanyaan lainnya, apakah hadits-hadits tersebut di atas saling bertentangan satu sama lain?

Jawabannya adalah hadits-hadits di atas tidaklah bertentangan satu dan yang lainnya. Karena,

  1. Hadits adalah segala perkataan, perbuatan dan ketetapan atau persetujuan Rasulullah yang direkam oleh para Sahabat dan ditransmisikan melalui jalur sanad yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sehingga sampai pada kita. Umumnya kita tidak tau secara detail, ada peristiwa apa yang menyebabkan Rasulullah mengeluarkan sabda tertentu. Sehingga dari sudut pandang ini, kita dapatkan bahwa Rasulullah biasanya menjawab pertanyaan para sahabat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan para sahabat tersebut. Jika kita telah paham ini, maka wajar jika Rasulullah memberikan jawaban berbeda kepada setiap penanya.
  2. Hadits-hadits di atas, jika dilihat redaksi lengkapnya menggunakan kata “خيركم” yang berarti “yang terbaik diantara kalian” atau “خير الناس” yang berarti “sebaik-baik manusia”. Secara umum, kedua makna di atas sama, karena sabdanya ditujukan kepada para sahabat yang tidak lain adalah manusia juga. Amal-amal kebaikan yang disebutkan di atas tidak memerlukan amal mutlak di setiap tempat, tetapi mungkin amal ini dibatasi dengan atau tanpa kondisi tertentu. Sehingga kalimat (misalnya) “sebaik-baik kalian adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya”, memiliki pengertian bahwa ketika seseorang belajar Quran maka pada saat itulah ia termasuk ke dalam golongan “sebaik-baik manusia”.

Setidaknya dua poin ini dapat menjawab pertanyaan tadi. Jawaban ini saya dapatkan dari sini (islamqa)

Mari terus berusaha menjadi sebaik-baik manusia.

#JumuahMubarakah

2 thoughts on ““Khairunnaas”, sebaik-baik manusia. Siapa?

    1. Terima kasih sebelumnya atas koreksinya. Setahu saya penomoran hadits itu berbeda-beda tiap buku dan penerbit. Tapi gpp. Setidaknya informasi ini jadi pelengkap. Terima kasih.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s