Penentuan waktu shalat (Bagian-1): Dalil waktu shalat

Perbedaan waktu shalat

Suatu ketika, saat bulan Ramadhan pertama di Jepang, saya mendapati sebuah kondisi dimana terjadi perbedaan pendapat mengenai azan subuh dan maghrib, 2 waktu sholat yang paling krusial terutama saat bulan Ramadhan. Masing-masing berpegang pada aplikasi android yang mereka install di HP mereka. Sehingga muncullah istilah “azan subuh versi MuslimPro” atau kalimat-kalimat sejenisnya. Perlu diketahui oleh para pembaca bahwa salah satu realitas kehidupan muslim di negeri minoritas ini adalah kita jarang sekali mendengar suara azan kecuali melalui HP, itupun kalau aplikasinya di-set untuk mengumandangkan azan. Kalau tidak, ya tidak ada suara azan, dan yang ada hanyalah semacam alarm tanda masuk waktu shalat. Itu saja. Kembali pada kisah tadi, kalimat-kalimat tersebut seolah meligitimasi bahwa MuslimPro dan sejenisnya merupakan ‘madzhab’ dalam penentuan waktu sholat. Karena sebab itulah tidak jarang terjadi perbedaan pendapat dan bahkan meruncing hingga pada perdebatan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Waktu itu saya sempat berfikir, pasti ada jawaban yang sangat rasional dibalik itu semua dan rasanya sangat baik jika saya bisa menjelaskan atau berbagi pengetahuan dibalik perbedaan-perbedaan itu sehingga tidak perlu ada lagi yang berdebat tanpa dasar pengetahuan yang memadai atau bahkan yang lebih parah dari itu. Oleh karena itu, tulisan kali ini terinspirasi dari kisah di atas.

Untuk mengurai benang kusut ini, pertama, ada baiknya jika kita tinjau dasar hukum waktu-waktu shalat tersebut. Kalau dikatakan dasar hukum, terutama untuk perkara syariat, berarti mengacu pada dalil-dalil Quran dan Sunnah. Setelah itu kita akan tinjau bagaimana implikasi di lapangan terutama di zaman sekarang dengan teknologi yang tentunya sudah lebih maju dibandingkan saat Rasulullah masih hidup. Lalu, kita juga coba mengulas bagaimana peran para ahli astronomi dan matematika dalam penyesuaian waktu sampai akhirnya muncul perbedaan penentuan waktu shalat. Dan dalam tulisan ini insyaAllah ada penjabaran matematisnya supaya lebih meyakinkan, sekaligus mengulas beberapa kriteria yang dikenal umum dalam dunia konversi waktu. Oleh karena itulah tulisan kali ini aka nagak panjang dan berseri. Untuk memudahkan bagi mereka yang awam dengan dunia sains, saya juga akan tuliskan kesimpulan besarnya dari ulasan matematis.

Dalil waktu shalat

Dalil waktu shalat ada di dalam dua rujukan utama, Quran dan Sunnah. Dalil dari Quran, redaksinya bersifat masih sangat umum, seperti di dalam surat An-Nisa: 103, Hud: 114, Al-Isra: 18, dan Thaha: 12. Adapun dalil dari hadits, redaksinya sudah lebih spesifik, mengarah pada teknis waktu.

حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَى النَّبِىِّ ( حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الظُّهْرَ حِينَ مَالَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا كَانَ فَىْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ جَاءَهُ لِلْعَصْرِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ  فَصَلِّ الْعَصْرَ . ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ جَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْمَغْرِبَ فَقَامَ فَصَلاَّهَا حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ سَوَاءً ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ الشَّفَقُ جَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْعِشَاءَ فَقَامَ فَصَلاَّهَا ثُمَّ جَاءَهُ حِينَ سَطَعَ الْفَجْرُ فِى الصُّبْحِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ . فَقَامَ فَصَلَّى الصُّبْحَ ثُمَّ جَاءَهُ مِنَ الْغَدِ حِينَ كَانَ فَىْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ . فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ جَاءَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حِينَ كَانَ فَىْءُ الرَّجُلِ مِثْلَيْهِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلّ.ِ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْمَغْرِبِ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ وَقْتاً وَاحِداً لَمْ يَزُلْ عَنْهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ . فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الأَوَّلُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ . فَصَلَّى الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ . فَصَلَّى الصُّبْحَ فَقَالَ ” مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ كُلُّهُ ”

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi Jibril Alaihissallam lalu ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bangun dan shalatlah!” Maka beliau shalat Zhuhur ketika matahari telah tergelincir. Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat ‘Ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ‘Ashar ketika bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya. Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat Maghrib dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam. Kemudian Jibril mendatanginya saat ‘Isya’ dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat ‘Isya’ ketika merah senja telah hilang. Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat Shubuh dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Shubuh ketika muncul fajar, atau Jabir berkata, “Ketika terbit fajar.” Keesokan harinya Jibril kembali mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Zhuhur dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat Zhuhur ketika bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya. Kemudian dia mendatanginya saat ‘Ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat ‘Ashar ketika panjang bayangan semua benda dua kali panjang aslinya. Kemudian dia mendatanginya saat Maghrib pada waktu yang sama dengan kemarin dan tidak berubah. Kemudian dia mendatanginya saat ‘Isya’ ketika pertengahan malam telah berlalu -atau Jibril mengatakan, sepertiga malam,- lalu beliau shalat ‘Isya’. Kemudian Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hari sudah sangat terang dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat Shubuh kemudian berkata, ‘Di antara dua waktu tersebut adalah waktu shalat. (Sunan an-nasai 1/170 dan Tirmizi. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa Imam Bukhari berkata, “Riwayat paling shahih tentang waktu shalat adalah hadits Jabir”).

Dari hadits di atas kita dapatkan setidaknya dua informasi:

Pertama, informasi mengenai waktu shalat yang fardhu (5 waktu) beserta batas-batasnya (awal dan akhir), yang kalau dirangkum menjadi seperti ditunjukkan tabel di bawah ini.

Shalat

Waktu shalat

Zhuhur Awal: matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat (tergelincirnya matahari = zawalus syamsi)

Akhir: panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri

Asar Awal: ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis (lihat akhir waktu shalat zhuhur)

Akhir: ketika matahari tenggelam di ufuk barat

Maghrib Awal: terbenamnya matahari (lihat akhir waktu shalat asar)

Akhir: hilangnya syafaq (mega merah atau merah senja)

Isya Awal: berakhirnya waktu maghrib

Akhir: fajar shidiq terbit

Subuh Awal: terbitnya fajar shadiq

Akhir: terbitnya matahari

Kalau kita urutkan terhadap waktu, maka sejak matahari tepat berada di atas kepala dan agak condong ke barat (tergelincirnya matahari) sampai dengan matahari terbit di pagi hari, di sanalah terdapat 5 waktu sholat yang wajib secara berurutan dari Zhuhur sampai dengan Subuh dengan batas antara waktu sholat yang jelas seperti yang telah disebutkan di atas. Kita hanya memiliki waktu ‘break’ (tidak ada shalat wajib) yaitu dari matahari terbit sampai dengan tergelincirnya matahari.

Kedua, penggunaan waktu yang mengacu pada fenomena astronomis seperti bayangan benda, warna kuning matahari, dan lain-lain dalam menentukan waktu awal dan akhir shalat. Tentu ini berbeda dengan kondisi saat ini dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah maju pesat.

Muncullah pertanyaan selanjutnya, bagaimana konversi waktu-waktu yang ada dalam hadits tersebut ke dalam waktu (jam) yang sekarang kita hidup dengannya? Jawaban singkat untuk pertanyaan tersebut adalah kita harus menenjemahkan fenomena astronomis tadi ke dalam angka-angka. Bagaimana caranya? Teori apa saja yang digunakan? Bagaimana proses perhitungannya?

Bersambung insyaAllah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s