Menjadi ayah…

Menjadi Ayah sejatinya adalah memutuskan untuk menerbitkan harapan bagi peradaban. Jika seorang penyair pernah mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka Ayahlah kepala sekolahnya. Menjadi kepala sekolah, berarti mendesain bingkai dan visi pendidikan di sekolah tersebut demi sebuah peradaban yang gemilang di masa depan.

Dan untuk menjadi ayah yang hebat, sebenarnya tidak perlu gelar akademis yang tinggi.

Ketika seorang Ayah berhasil mengajak anak untuk tunduk dan taat pada semua perintah dan larangan Allah, itulah ayah yang hebat. Itu saja.

Mari saksikan apa yang dilakukan oleh Zakariya ‘alayhissalam sebelum dikaruniai keturunan: tidak pernah putus asa berhenti berdoa dan berprasangka baik pada Allah demi lahirnya generasi penerus karena mengkhwatirkan masa depan sebuah peradaban dari keturunan Ya’qub ‘alayhissalam. Sampai akhirnya, setelah puluhan tahun lamanya, Allah karuniakan rahmat berupa anak bernama Yahya ‘alayhissalam. (Maryam: 1-15)

Mari saksikan pula bagaimana peran seorang Luqman dalam mendidik anaknya sehingga Allah abadikan namanya di dalam Al-Quran agar menjadi teladan bagi generasi sesudahnya. Perhatikan bingkai utama pendidikan yang Luqman terapkan pada anaknya adalah dalam kerangka hubungan kepada Rabb-nya, yaitu mengenalkan anaknya kepada Rabba tersebut agar selalu bersyukur dan tidak menyekutukan-Nya. (Luqman: 12-19)

Perhatikan pula bagaimana Nuruddin bin ‘Imaduddin Zanki menanamkan visi besar pada anaknya Yusuf seraya berkata: “Aku tak menikahi ibumu untuk melahirkan anak yang bermain saja! Kau dilahirkan untuk bebaskan Al-Aqsha!” Sehingga nama anaknya pun tercatat tinta emas sejarah dengan nama “Salahuddin Al-ayyubi”.

Bagaimana sikap ayah kepada anak perempuan dan keluarganya? Perhatikan ini, Ayah yang rela istri & anak perempuannya menebar aurat pada lelaki lain, takkan dapat mencium angin Surga; begitulah “Dayyuts”, kata Rasulullah.

Begitupula saat seorang ayah sudah mendekati ajalnya. Ia memastikan bahwa anak-anaknya tetap istiqamah taat pada Allah; sebagaimana Ibrahim dan Ya’qub ‘alayhimassalam contohkan pada keturunannya. Ia tidak bertanya, “apa yang akan kau makan setelah aku mati?” Namun memastikan, “Siapa yang akan kau sembah setelah aku mati?” wasiat Ibrahim ‘alayhissalam. (Al-baqarah: 132-133)

Begitulah beberapa deskripsi ayah yang hebat. Ia memastikan masa kecil dan muda sang anak serta sepeninggalnya, selalu terbimbing dalam celupan Illahi; mendengar, melihat, berucap, melangkah dalam keberkahan.

Semoga negeri kita Allah hadiahi dengan Ayah-ayah yang hebat, sehingga bangsa ini tak lagi minus akhlak. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang memiliki peradaban tinggi di masa depan dengan hadirnya para ayah yang hebat.

#RenunganSore
#SelfReminder
#SelamatHariAyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s