Belajar dari Ibrahim ‘alayshissalaam: Dialog dengan ayahnya

2019-11-30-09-08-265374786084967135858.jpg
Quran Surah Maryam: 41-48

Surat Maryam: 41-48 sejatinya menyuguhkan sebuah dialog antara anak (Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam) dengan ayahnya. Secara umum, delapan ayat tersebut selain memberikan pengajaran seputar adab seorang anak terhadap ayahnya dalam bertutur kata (menggunakan kata panggilan terbaik), saya menangkap bahwa delapan ayat ini juga memberikan deskripsi atau karakteristik seorang juru dakwah atau bahkan (mungkin) diplomat (dalam lingkup yang lebih luas). Tidak hanya berhenti sampai di sana, bahkan karakteristik ini pun saya kira cocok sekali bagi para saudagar. Apa saja karakteristik itu?

  1. Memiliki argumentasi yang kokoh, sebagaimana ditunjukkan pada ayat 42 saat Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam memberikan argumentasinya terhadap apa yang dilakukan ayahnya. Pada ayat selanjutnya, kita akan dapati bahwa argumentasi ini tidak dapat dibantah oleh ayahnya. Dan argumentasi sejenis ini juga pernah juga disampaikan oleh Nabi Ibrahim ‘alayhissalam dalam kesempatan lain seperti saat berhadapan dengan penguasa saat itu. Dan ketika sebuah argumentasi tak mampu dijawab oleh yg ditanya, maka yang tersisa hanya luapan emosi dan ancaman/teror psikis dan fisik, sebagaimana yang nanti dapat kita jumpai pada ayat selanjutnya (atau bahkan ayat-ayat lain pada kisah yang sama ataupun kisah lainnya di dalam Quran). Dalam dunia bisnis/dagang, jawaban dari pertanyaan “why people need your products?” masuk dalam kategori ini. Karena jawaban itulah yg akan menjadi argumentasi kita saat berhadapan dengan konsumen / customer.
  2. Memiliki wawasan yang luas, sebagaimana ditunjukkan pada ayat 43, bahwa Nabi Ibrahim dianugerahi Allah pengetahuan yang lebih dibandingkan ayah dan kaumnya saat itu. Dan kunci membuka wawasan itu ada pada kemampuan literasi. Dalam dunia bisnis, wawasan pun harus selalu di update. Karena dunia bisnis adalah dunia yg dinamis, perubahan dapat cepat terjadi.
  3. Memahami strategi musuh / lawan, sebagaimana ditunjukkan pada ayat 44. Musuh utama dalam konteks dialog ini (dan tentunya dalam keseharian kita) adalah syaithan yang selalu menggoda dan selalu berusaha menjerumuskan manusia kepada perbuatan-perbuatan tidak terpuji, baik dari kalangan jin dan manusia itu sendiri.
  4. Memiliki visi dan orientasi yang jelas dan abadi (akhirat), sebagaimana ditunjukkan pada ayat 45. Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam tentunya memahami akan adanya perjumpaan kembali di akhirat kelak, dan tentunya untuk dapat berjumpa kembali pada kehidupan yang kekal nanti, ada syarat dan ketentuan yang berlaku yang harus dipenuhi. Kalau diterjemahkan dalam dunia dagang, maka orientasi akhirat ini sifatnya mutlak bagi para saudagar muslim.
  5. Memiliki kesiapan mental, sebagaimana ditunjukkan pada ayat 46 saat ayahnya tak mampu membalas argumentasi Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam maka ancamanlah yang keluar dari lisannya. Dan inilah bagian daripada resiko yang harus dihadapi.
  6. Menjaga hubungan baik dan mendoakan, sebagaimana ditunjukkan pada ayat 47. Ditolak, it’s okay. Tugas utama untuk mengingatkan sesama manusia sejatinya sudah selesai. Selanjutnya serahkan pada Sang Maha penggenggam dan pembolak-balik hati. Kadang aspek ini yang tanpa disadari seringkali terlupa, fokus kita hanya tertuju pada upaya-upaya manusiawi semata tanpa menyadari adanya aspek lain yang tak kalah pentingnya.
  7. Memiliki keteguhan prinsip, sebagaimana ditunjukkan pada ayat 48. Nabi Ibrahim tetap teguh pada prinsip utama dan tidak goyah sedikitpun.

Dan semua dialog itu dikemas dengan menggunakan tutur bahasa yang halus dan lembut tanpa ada kesan menggurui. Ditambah lagi, delapan ayat ini memiliki irama yang serupa di setiap akhir ayatnya sehingga membuat para pembaca tidak hanya kagum dengan suguhan irama syairnya, tetapi juga diksi yang dipilih sekaligus isi kisah dan ‘ibrah-‘ibrah yang luar biasa.

Sayup-sayup terngiang sebuah syair lawas*:
Sering kita merasa taqwa…
Tanpa sadar terjebak rasa…
Dengan sengaja mencuri-curi…
Diam-diam ingkar hati…

Pada Allah mengaku cinta…
Walau pada kenyataannya…
Pada harta pada dunia…
Tunduk seraya menghamba…

Belajar dari Ibrahim…
Belajar taqwa kepada Allah…
Belajar dari Ibrahim…
Belajar untuk mencintai Allah…

Malu pada bapak para anbiya’…
Takut dan taat pada Allah semata…
Tanpa pernah mengumbar kata-kata…
Jalankan perintah tiada banyak bicara…

*Yang baca bait syair sambil nyanyi, jangan-jangan kita seumuran…😁

#RenunganMalam
#TadabburQuran
#SuratMaryam
#BelajarDariIbrahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s