Beriman, mengajarkan kita menata mindset

Iman

Saya yakin bahwa sebagai seorang muslim pasti hafal rukun iman yang enam. Apa ada yang baca tulisan ini tapi tidak atau belum hafal rukun iman? Kalau ada,  miris sekali. Hafalkan dulu ya. Karena rukun iman itu bagian dari pemahaman mendasar yang diajarkan saat kita masih sekolah di tingkat dasar. Jadi, kalau ada diantara pembaca masih ada yang tidak hafal, kebangetan.

Baiklah mari kita mulai dengan mengenalkan rukun iman yang enam ini sebelum kita bahas yang lainnya. Saya ambilkan redaksi dari kumpulan hadits arbain An-Nawawi no. 2 berikut ini:

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “

Dari redaksi hadits di atas kita dapatkan enam poin rukun iman, yaitu:

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat-malaikat Allah
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada rasul-rasul Allah
  5. Iman kepada hari akhir
  6. Iman kepada takdir yang baik maupun yang buruk

Sudah hafal ya. Setelah hafal mari kita merenungi lebih dalam makna dari rukun iman yang enam tersebut dan di bagian akhir nanti, saya juga coba sajikan dampak positif atau buah yang seharusnya ada atau muncul dalam diri kita dari hasil iman.

Apa arti “rukun iman”?

“Rukun Iman”, terdiri dari dua kata yang keduanya berasal dari bahasa arab “ruknun” (ركن) dan bentuk pluralnya “arkan” (أركان) dan “imaan” (إيمان). Dalam bahasa arab, rukun iman ini disebut dengan istilah “arkaanu al-iimaan” (أركان الإيمان) dengan menggunakan bentuk plural (arkan) dan di-idhafahkan kepada kata “iimaan” dengan menambahkan alif-lam (ال) di depan kata “iimaan”.

Kata “ruknun” secara bahasa (etimologis) memiliki makna bagian yang kokoh (الجانب الأقوى منه) sedangkan secara istilah (terminologis) berarti pondasi dasar yang kokoh yang melandasi berdirinya sesuatu dan tanpa pondasi ini maka tak akan berdiri bangunan tersebut. Ibarat rumah, maka pondasi rumah analog dengan definisi rukun ini. Dan jika kata ini di-idhafahkan (disandarkan) pada kata benda, dalam hal ini kata “iimaan” dalam bahasa arab adalah kata benda (isim), maka maknanya menjadi pondasi atau tiang pancang keimanan. Adapun kata Iman itu sendiri bermakna membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh. Definisi iman ini, bahasa singkatnya adalah integritas, yang menurut KBBI integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Disebut kesatuan yang utuh karena antara amalan hati yang tak tampak dengan lisan dan anggota tubuh yang tampak menunjukkan keselarasan. Jadi, bisa dikatakan secara sederhana bahwa rukun iman adalah pondasi integritas seorang mukmin.

Mengapa dan ada apa dengan 6 butir rukun iman itu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya coba menggunakan pendekatan logika, karena saya yakin sudah banyak para ulama yang membahas dari sudut pandang atau pendekatan nash wahyu baik Quran maupun hadits. Tujuan saya menuliskan dengan pendekatan logika adalah agar lebih mudah diterima logika manusia terutama bagi mereka yang ragu terhadap atau tidak paham akan kebenaran nash. Biarlah pembahasan iman dari sudut pandang nash menjadi bagian para ulama untuk menjelaskannya. Adapun bagian saya, saya gunakan pendekatan lainnya.

Manusia dengan segala kompleksitas struktur dan perilaku yang ada di dalam tubuhnya tidaklah tercipta dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakannya. Dan sang penciptanya, sejak pertama kali menciptakan manusia, katakanlah sejak manusia dilahirkan, sudah ter-install potensi untuk mengenali Sang Pencipta. Hal ini terbukti dengan terkoneksinya antara hati manusia dengan fenomena-fenomena alam. Rasa takut, takjub, dan lain-lain muncul berkaitan erat dengan fenomena-fenomena alam sehingga dari sana tidak sedikit mereka akhirnya membuat bentuk-bentuk atau bangunan tertentu sebagai simbol lalu mereka melakukan ritual terhadapnya. Fenomena-fenomena ini mudah sekali ditemukan hampir di semua tempat di muka bumi ini bahkan di negara-negara yang teknologinya sudah maju sekalipun seperti Jepang atau Korea Selatan, dua negara yang pernah saya tinggal lama di dalamnya. Kadang saya menjumpai ada batu yang ditumpuk-tumpuk di susun sedemikian rupa lalu ada semacam taburan bunga di batu tersebut. Itu setidaknya menunjukkan, bahwa di dalam diri seorang manusia ada potensi untuk mengenali adanya kekuatan yang besar di luar kendali mereka. Begitu pula misalnya saat kita naik sampan sendirian ke tengah samudera, terombang-ambing ombak tidak menentu. Saat itulah muncul ketakutan atau kekhawatiran terbesit dalam diri kita, bahwa ada kekuatan yang luar biasa di luar sana yang diluar kendali kita. Saat-saat seperti itulah pada hakikatnya kita mengenali adanya Tuhan. Yang oleh Max Jammer dalam bukunya berjudul “Einstein and Religion” mengutip pandangan Einstein tentang Tuhan yang disebutkan sebagai entitas energi. Persoalannya adalah manusia itu sendiri, tanpa adanya petunjuk yang jelas atau kabar yang definitif, tidak akan pernah mengetahui siapa nama Tuhan, apa fungsinya, bagaimana karaktersistiknya, dan lain-lain.

Nah, di dalam rukun Iman yang pertama, yaitu iman kepada Allah, kita dikenalkan bahwa Tuhan itu bernama Allah. Dialah Sang Pencipta, Sang Pemberi Rezeki, dan Sang Maha Segalanya. Maka sebagai konsekuensi dari itu semua, kita harus mengabdi (beribadah) kepada-Nya semata, tidak boleh kepada yang lainnya.

Lho darimana kita tahu namanya “Allah”?

Allahlah yang mengirimkan kepada kita berupa utusan-utusan berwujud manusia seperti kita dengan membawa pesan yang disampaikan oleh pesuruh-Nya yaitu yang bernama Malaikat. Diantara pesan yang dititipkan kepada para utusan tadi adalah bahwa nama pencipta manusia dan semua makhluk hidup yang ada di dunia ini adalah “Allah”. Ini semua terangkum dalam poin rukum iman yang 2, 3, dan 4, yaitu Iman kepada Malaikat, Kitab, dan Rasul (utusan). Malaikat sebagai perantara wahyu kepada para Rasul, dan adapun kitab adalah kumpulan wahyu-wahyu tersebut.

Apa buktinya?

Maka disertakanlah pada para utusan tersebut mukjizat-mukjizat, fenomena-fenomena luar biasa yang tujuan sebenarnya adalah untuk melemahkan argumentasi mereka yang mempertanyakan itu semua. Perhatikanlah kisah-kisah para Nabi dan Rasul, ada banyak sekali mukjizat yang telah ditunjukkan kepada kaumnya. Sebagian besar mukjizatnya kasat mata, terlihat langsung, tetapi tidak sedikit mereka yang mengabaikannya. Itu sebagai bukti bahwa saat itu rata-rata otak manusia masih belum mampu mencerna, rasionalitas belum berkembang. Adapun mukjizat yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah Al-Quran yang isinya berisi pedoman hidup sepanjang zaman, bahkan bukti-bukti ilmiah yang orang dulu tidak mengetahuinya, justru di era modern lah itu semua terbukti. Ini juga merupakan bukti bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah suatu kebenaran, hanya saja bentuknya berbeda karena manusia modern sudah mampu mengunyah beragam informasi.

Jadi pondasi keimanan no 1-4, Iman kepada Allah, Malaikat, Rasul dan Kitab, adalah satu paket, sifatnya ghaib (bahkan untuk para Rasulpun, bagi kita adalah ghaib, karena kita tidak pernah bertemu langsung dengan mereka, tetapi bukti-bukti keberadaan mereka di muka bumi ini ada banyak tersebar di dalam buku-buku yang dikisahkan secara turun-temurun). Dengan memahami ini cara kita berinteraksi dengan Sang Pencipta menjadi lebih terarah, tidak perlu repot-repot mencari karena sudah ada contohnya dan tata pelaksanaannya, tidak nyeleneh, nyentrik ataupun neko-neko.

Adapun pondasi keimanan 5, ia berbicara tentang tujuan akhir dari hidup manusia, yaitu kembali kepada sang Pencipta. Namun sebelumnya, ada pengadilan Allah kelak di akhirat. Inipun sifatnya ghaib, karena belum terjadi. Berbeda dengan Iman kepada Rasul tadi, dunia ini sudah melalui masa tersebut, tetapi meninggalkan jejak. Diantara jejaknya adalah Al-Quran itu sendiri. Inilah yang memacu kita memiliki pandangan jauh ke depan atau istilah kerennya adalah visioner. Kita selalu mempertimbangkan seluruh langkah yang kita ambil dalam menjalani hidup ini dengan penuh tanggung jawab kepada Allah. Jika anda adalah seorang mahasiswa S1, S2, atau bahkan S3, kita selalu dihadapkan pada sebuah agenda laporan pertanggung jawaban riset menjelang diputuskan lulus atau tidaknya dari sebuah institusi pendidikan. Dan saat sidang berlangsung, anda diberondong beragam pertanyaan dari para penguji mengenai metode penelitian maupun hasil serta analisanya. Nah, kurang lebih seperti itulah nanti gambaran kita di akhirat kelak. Kita akan mempertanggung jawabkan segala yang diamanahkan kepada kita semasa hidup di dunia ini. Tetapi sayangnya, pada saat itu, lidah kita tidak mampu untuk berbohong, melainkan anggota tubuh kita akan memberi kesaksian atas semua yang telah kita perbuat semasa hidup. Dan hasil dari itu semua adalah apakah kita akan ‘lulus’ atau ‘tidak lulus’.

Screenshot_40
Rute perjalanan hidup manusia. Ujung dari perjalanan ini hanya 2, surga atau neraka.

Dan pondasi keimanan yang terakhir adalah berakitan dengan bagaimana sikap kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Memandang baik atas semua yang tengah terjadi atau menimpa diri kita selama menjalani kehidupan. Dengan berpandangan baik atas semua takdir Allah, maka kita mampu menumbuhkan sikap sabar, syukur, tawakkal dan ikhlas sehingga membentuk kepribadian kita menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Penjelasan lebih mendalam mengenai semua rukun iman ini dapat merujuk pada penjelasan para ulama. 

Lalu bagaimana hubungan antara iman dengan dimensi kehidupan?

Mari perhatikan diagram alir berikut ini. Diagram alir ini memudahkan kita memahami bagaimana hubungan antara iman dan kehidupan.

fb_img_15866109176478210634842335230169.jpg
Menyelaraskan antara iman dan tawakkal sebagai implementasi dari rukun iman yang ke-6, yaitu iman terhadap Qadha dan Qadar. Sumber gambar: @reefcool

Diantara contoh mindset yang nyeleneh tapi terlihat keren (padahal semu) adalah yang saya tuliskan di sini. Beberapa mindset seperti di tulisan tersebut tampak logis dan masuk akal, tetapi masuk akal saja tidak cukup untuk dikatakan benar dan selamat (saliim) terlebih untuk persoalan aqidah, karenanya logika perlu dibingkai dengan pemahaman terhadap wahyu (berupa dalil dalam Al-Quran dan Sunnah) yang benar agar hubungan kita dengan Allah sebagaimana digambarkan dalam diagram di atas, tidak hilang atau rusak.

rukun iman
Rukun iman: kedudukan dan buah yang didapatkan darinya

Inilah pondasi-pondasi keimanan. Inilah yang Rasulullah ajarkan di awal-awal kenabian di Makkah kepada para sahabatnya. Beliau meluruskan cara pandang atau mindset para sahabat ketika itu. Cara pandang terhadap Sang Khaliq, tentang kekuasaan-Nya, tentang kehendak-Nya dan bagaimana cara beribadah kepada-Nya yang pada waktu itu telah mengalami distorsi dari ajaran Ibrahim ‘alayhissalam sebelumnya. Lalu cara pandang terhadap kehidupan di dunia yang tiadalah abadi, tentang tanggung jawab akan hidup kita di dunia di akhirat kelak, dan tentang bagaimana mindset menjalani kehidupan di dunia ini. Karena pada hakikatnya, mindset lah yang sangat mempengaruhi perilaku kita.

Pernahkah kalian hadir dalam seminar-seminar motivasi atau bisnis? Jika pernah, maka yang dilakukan pertama kali oleh mereka adalah memberikan materi yang berkaitan dengan cara pandang baru untuk kita adaptasi ke dalam otak kita. Kenapa begitu? Agar kita dapat mengubah perilaku kita, menyiapkan mental kita, untuk menjadi seperti yang mereka harapkan jika ingin menempuh jalur kesuksesan seperti mereka. Maka, analog dengan rukun iman. Pada hakikatnya rukun iman ini membentuk pola pikir (mindset) kita. Kerangka pola pikir yang dimaksud di sini tentu lebih luas cakupannya dibandingkan dengan pola pikir yang diajarkan oleh para motivator itu. Karena yang motivator ajarkan hanya sebatas duniawi saja, adapun rukun iman menuntun kita pada titik yang lebih jauh dari sekedar dunia.

Kalau mindset atau pola pikir kita benar, sesuai dengan yang Allah inginkan, maka kita akan tumbuh integritas dalam diri kita dan seharusnya menjadi benarlah tingkah laku (akhlaq dan adab) kita, sehingga itu membawa kita pada kesuksesan dunia dan akhirat insyaAllah sebagaimana para sahabat Rasul yang mulia, ada 10 orang diantaranya yang mendapatkan jaminan masuk surga. Itulah mengapa iman menjadi penting, bahkan untuk menjadi seorang pemimpin sekalipun. Ya, untuk meraih kesuksesan itu bermula dari mindset. Dan konsep mindset yang luar biasa itu ada pada rukun iman. Maka modal utama dalam menempuh kesuksesan hidup di dunia dan akhirat adalah rukun iman. Maka berbahagialah anda yang masih memiliki iman. Selanjutnya jika anda merasa belum merasakan adanya perbaikan dalam mindset maupun tingkah laku, maka perbaikilah perlahan-lahan setiap hari. Karena menanamkan mindset memang tidaklah mudah, butuh waktu, keteguhan, dan kesabaran.

Lalu, bagaimana cara melatih, memupuk dan menumbuh kembangkan mindset tersebut? InsyaAllah bersambung pada tulisan selanjutnya tentang berislam.

Wallahu a’lam bishawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s