Berbagi pengalaman belajar beragam bahasa

Komunikasi
Ilustrasi bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia

Bahasa adalah sarana komunikasi. Dari sanalah banyak aktivitas interaksi antar-manusia di muka bumi ini terjadi, baik itu yang sifatnya positif seperti perdagangan / bisnis, kerjasama di berbagai bidang, dan lain-lain, maupun yang negatif seperti permusuhan. Semuanya bermula dari permasalahan komunikasi, dan bahasa adalah salah satu bentuk komunikasi antar manusia. Ya, salah satu bentuk saja dari komunikasi. Karena ada beberapa bentuk komunikasi lainnya seperti misalnya gesture (bahasa tubuh), dan lain-lain. Dan di dunia ini, saat ini ada banyak sekali ragam bahasa. Di negara Indonesia saja itu ada sekitar 721 ragam bahasa daerah. Yang artinya setiap daerah memiliki cara komunikasi tersendiri. Nah, pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas tentang bahasa Indonesia, karena sudah pernah saya tuliskan. Pada kesempatan kali ini saya ingin menuliskan tentang bahasa dunia, diantaranya yang saya pernah pelajari.

Selama 34 tahun hidup di dunia ini (sampai tahun 2020), 22 tahun diantaranya saya habiskan di perantauan. Dan selama menjalani kehidupan di perantauan, saya berkesempatan mempelajari beberapa jenis bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Bahasa daerah saya pelajari saat merantau di Kuningan dan Bandung saat menjalani pendidikan SMP-SMA di Pondok Pesantren Husnul Khotimah (6 tahun) dan Institut Teknologi Bandung (4 tahun). Selama 10 tahun itu, saya banyak berinteraksi dengan warga asli sunda. Di samping itu, saya juga sempat berinteraksi dengan santri-santri dari berbagai daerah seperti Padang dan Palembang. Dari mereka saya sedikit demi sedikit menghafal kosakata daerah mereka. Adapun bahasa asing saya dapatkan saat mulai merantau ke luar negeri sejak tahun 2009 – 2020, 5.5 tahun pertama saya habiskan di Korea Selatan dan sejak 2016 sampai sekarang di Jepang. Selama di luar negeri tentu komunikasi dasar yang saya gunakan adalah bahasa Inggris. Sisanya, bahasa setempat. Di Korea Selatan saya sempat belajar bahasa Korea (한국어) dan di Jepang saya belajar bahasa Jepang (日本語).
Mungkin ada yang bertanya, berapa banyak bahasa yang sudah saya pelajari sampai saat ini?

Alhamdulillah sampai saat ini ada kurang lebih sebanyak 9 bahasa yang sudah saya pelajari: (1) Indonesia, (2) Inggris, (3) Arab, (4) Korea, (5) Jepang, (6) Jawa, (7) Sunda, (8) Padang, dan (9) Palembang. Dan diantara 9 bahasa itu, yang benar-benar bisa dipraktikkan dan masih aktif sampai sekarang hanya 7 saja. Dua bahasa lainnya karena jarang dipakai jadi sudah banyak yang lupa, yaitu bahasa Padang dan Palembang. Karena dulu belajar kedua bahasa itu untuk mengetahui percakapan yang dilakukan diantara santri-santri asal Padang dan Palembang. Kepo amat? ya dulu ada banyak ungkapan bully an dalam bahasa daerah, makanya untuk tau kita dibully apa, ya saya pelajari bahasanya.
Bagaimana cara belajar bahasa yang efektif?

Cara belajar bahasa yang efektif adalah dengan menghindupkan lingkungan dan praktik langsung. Cara ini berdasarkan pengalaman mempelajari bahasa. Sejak SMP saya belajar bahasa inggris, tetapi sampai akan ke Korea sebenarnya bahasa inggris saya belum lancar. Sedangkan pada saat yang bersamaan saya belajar bahasa sunda sejak SMP, dan alhamdulillah lumayan lancar bahkan terpakai sampai saat ini. Kenapa bisa begitu? Apa bedanya? Bedanya adalah saat belajar bahasa inggris sejak SMP s.d lulus kuliah, nuansa lingkungan tidak mendukung, hanya belajar grammar dari buku saja tanpa ada dukungan lingkungan yang baik. Walaupun di pesantren sudah diwajibkan hanya menggunakan 2 bahasa, Arab dan Inggris, tetapi mayoritas santri kala itu lebih memilih berbahasa Arab ketimbang Inggris. Oleh karenanya kemampuan bahasa Inggris saat di pesantren tidak terlalu terbentuk. Saat kuliah, walaupun mayoritas diktat kuliah berbahasa inggris dan ada juga mata kuliah khusus bahasa Inggris, tetapi praktik di luar kelas masih menggunakan bahasa Indonesia atau Sunda. Jadilah kemampuan bahasa Inggris tidak terasah dengan baik. Barulah saat terjun langsung ke luar negeri, terpaksa harus berbicara dengan bahasa Inggris. Walaupun di sana mereka juga tidak terbiasa bahasa Inggris, tetapi muncul motivasi dalam diri untuk harus terus berbicara dalam bahasa Inggris, karena hanya itulah bahasa satu-satunya yang digunakan untuk berkomunikasi terutama di dalam kelas dan lab serta semua aktivitas akademik. Jadi, dari sini kita dapat simpulkan bahwa lingkungan menjadi faktor penting dalam merangsang kemampuan kita dalam berbahasa selain kosakata dan grammar.
Apa yang sulit dalam belajar bahasa?

Yang sulit adalah pronunciation. Ini butuh latihan setiap saat. Dan kadang aksen atau logat bawaan seringkali terbawa saat berkomunikasi dengan bahasa tertentu. Tips untuk membantu merangsang kemampuan ini adalah dengan sering melakukan listening. Pendekatan yang dapat dilakukan dapat melalui lagu atau film. Tapi ingat, ini hanya untuk sekedar melatih pronunciation saja ya. Dan, believe me or not, lidah orang Indonesia sangat mudah dibentuk untuk meniru aksen atau logat bahasa manapun. Kenapa? Karena disadari atau tidak, ada banyak kata serapan dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa lain. Contoh dari Belanda, silakan baca tulisan saya yang satu ini saat melakukan penjelajahan di Eropa.
Diantara bahasa yang sudah dipelajari, bahasa mana yang sulit?

Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin dapat dilihat gambar di bawah ini. Gambar ini adalah survey lama waktu yang dibutuhkan untuk dapat menguasai bahasa tersebut. Survey ini dilakukan oleh orang Amerika, artinya lidah bawaannya adalah lidah orang Amerika yang terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris.

Hardest_Languages_02-1

Dari gambar di atas, diantara bahasa asing yang sudah pernah saya pelajari, tiga diantaranya masuk dalam kategori susah untuk dipelajari, yaitu bahasa Arab, Korea, dan Jepang. Apakah benar tiga bahasa itu sulit? Nah, ini pertanyaan menarik. Saya coba bahas satu persatu dari tiga bahasa itu ya.
Bahasa Arab (اللغة الغربية, baca: Al-lughah al-‘arabiyah)

Ada beberapa tulisan saya mengenai bahasa arab di web ini. Sampai saat ini, sejauh yang saya ketahui dari bahasa arab adalah bahwa bahasa ini memiliki derivatif (turunan) kosakata yang memungkinkan terciptanya banyak kosakata baru. Belum lagi pemisahan berdasarkan jenis kelamin dan jumlah benda. Bahkan untuk kata ganti aja ada 14 jenis kata ganti (dhamir, ضمير). Silakan baca di sini. Kalau melihat dari sudut pandang orang Amerika, kesulitan pertama adalah dari sisi alfabet yang digunakan, berbeda dengan alfabet yang biasa mereka gunakan sehari-hari, penulisannya pun berbeda, dari kanan ke kiri. Dan kalau kita meninjau dari aspek kamus yang berisi daftar kosakata, salah satu kamus bahasa arab yang terlengkap adalah Lisaanul ‘Arab (لسان العرب). Kamus ini terdiri dari 15 jilid dengan jumlah halaman per jilid nya bisa mencapai 500-an halaman (versi al-maktabah asyamilah). Bandingkan ini dengan kamus bahasa Inggris misalnya. Tentu berbeda jauh dari sisi jumlah halamannya. Penulis kamus ini, Ibn Manzhur, menuliskan kosakata sebanyak itu berdasarkan pada beberapa kamus pendahulunya seperti

  • Tahdzib Al-Lughah karya Abu Manshur Al-Azhari (895-981);
  • Taj Al-Lughah wa Shihah Al-‘Arabiyyah (biasanya disingkat jadi Al-Shihah) karya Ismail bin Hammad Al-Jawhari (wafat 1009);
  • Al-Muhkam wa Al-Muhith Al-A’azham karya Ibn Sidah (1007-1066);
  • Al-Nihayah karya Ibn Atsir Al-Jazari (1160-1233); dan
  • Kitab Al-Tanbih wa Al-Idhah karya Ibn Al-Barri (1261–1331).

Di dalam kata pengantarnya, Ibn Manzhur mengaku tidak menambahkan hal-hal baru atas apa yang telah disusun para pendahulunya, khususnya karya Al-Azhari yang hidup dan bergaul dengan orang-orang asli Arab atau Ibn Sidah yang, kata Ibn Manzhur, memiliki kecerdasan dan ingatan yang mampu menyimpan dan memahami bahasa dengan cepat. Bahkan, dia menulis bahwa kedua orang itu telah melakukan tugas mereka dengan sempurna hingga hampir-hampir tidak meninggalkan celah bagi penerusnya untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan.Dan mereka yang sudah pernah belajar di negara-negara Arab saja belum tentu menguasai bahasa arab seluruhnya, apalagi kita atau saya yang hanya belajar ketika di pesantren atau mungkin ada pula yang hanya dengan metode sekian jam, dsb. Tetapi, bagi seorang muslim, belajar bahasa Arab menjadi keharusan karena ia bagian dari agama islam. Buta dengan bahasa Arab, dapat berdampak pada buta pula dengan syariat.

Bahasa Korea (한국어, baca: hangugeo)

Kenapa bahasa Korea susah? Pertama, karena aksara atau alfabet yang digunakan berbeda. Begitupula dengan sebaliknya, bagi orang Korea sangat sulit berbicara dengan bahasa Inggris yang menggunakan alfabet. Kedua, dari sisi grammar, ada hirarki penggunaan syntax dan kosakata. Yang saya maksud di sini adalah kata yang digunakan untuk anak kecil dengan teman sebaya dan orang tua atau yang tidak kita kenal, semuanya berbeda. Agak sedikit mirip dengan bahasa Jawa atau Sunda yang memiliki hirarki dari yang paling halus (kromo inggil) sampai dengan yang kasar. Begitupula panggilan orang kadang berdasarkan jenis kelaminnya. Misal:

  • laki-laki memanggil kakak perempuan dengan sebutan “noona” (누나),
  • perempuan memanggil kakak laki-lakinya dengan sebutan “oppa”(오빠).
  • perempuan memanggil kakak perempuan dengan sebutan “eonni”(언니),
  • laki-laki memanggil kakak laki-laki dengan sebutan “hyeong” (형).

Hal lainnya yang membuat bahasa Korea menjadi sulit berdasarkan pengalaman pribadi saya adalah penggunaan partikel dalam kalimat. Ini mirip dengan Jepang yang memilki banyak partikel. Namun bedanya, di dalam bahasa Jepang, dalam percakapan keseharian, ada beberapa partikel yang boleh dihilangkan sedangkan dalam bahasa Korea, sepanjang yang saya tau, tidak ada. Hal yang lainnya lagi adalah dalam hal penomoran, teutama kata untuk menyatakan hitungan jam dan menit berbeda. Adapun jika ditinjau dari jumlah kosakata, kosakata bahasa Korea tidaklah sebanyak bahasa Arab. Selain itu, ada beberapa kata yang berasal dari bahasa China atau cara baca Korea atas kanji, disebut hanja. Cara yang mudah untuk mempelajarinya adalah dengan mengenal budayanya, apalagi sekarang budaya Korea sudah merasuki sebagian besar generasi milenial Indonesia. Tapi ingat, gunakan itu hanya untuk belajar bahasa saja, budaya-budaya yang buruk dari mereka tak perlu kita ikuti.

Bahasa Jepang (日本語、baca: nihonggo)

Bahasa Jepang memiliki kemiripan dengan Bahasa Korea baik dari sisi gramatikal maupun kosakata. Gramatikal yang dimaksud adalah susunan kata dalam kalimat, dimana pada bahasa Jepang dan Korea menggunakan susunan yang sama yaitu S-O-P dengan menggunakan partikel sebagai penanda mana subjek dan mana objek. Begitupula untuk kosakata, ada banyak kemiripan. Sebagai contoh untuk kata “foto” dalam kedua bahasa memiliki pelafalan yang mirip. Dalam bahasa Jepang, foto berarti shashin (写真、しゃしん) sedangkan dalam bahasa Korea berarti sajin (사진). Dan masih banyak kosakata lainnya yang memiliki kemiripan. Kenapa bisa mirip? Ini tidak lepas dari faktor historis kedua negara. Ya, bahasa yang merupakan alat komunikasi tidak bisa dilepaskan dari faktor sejarah. Hal lainnya mengenai bahasa Jepang adalah dalam bahasa Jepang dikenal 3 model penulisan yang dikenal dengan Hiragana (ひらがな), Katakana (カタカナ), dan kanji (漢字). Pernah saya bertanya kepada teman Jepang mengenai perbedaan hiragana dan katakana, mereka sendiri tidak terlalu paham letak perbedaan dalam penggunaan. Ada yang mengatakan kalau katakana hanya untuk kata serapan, tetapi kadang saya juga menemukan kata serapan ditulis dalam hiragana dan ketika saya tanyakan lagi, mereka kebingungan. Adapun kanji, ini merupakan serapan dari bahasa China, mirip dengan Hanja dalam bahasa Korea. Dalam bahasa Jepang, umumnya mereka menggunakan kanji dalam penulisan. Dan untuk kanji sendiri nantinya ada dua cara baca, yaitu dikenal dengan sebutan kunyomi (訓読み) dan onyomi (音読み). Lebih jelasnya silakan pelajari sendiri ya, salah satunya di video ini yang mengupas perbedaan antara bahasa Korea, Jepang dan sedikit disinggung tentang hubungannya dengan bahasa China.

Lagi-lagi untuk memudahkan mempelajari bahasa Jepang adalah bersentuhan dengan budayanya dan salah satu budaya yang terkenal adalah anime. Pengalaman saya, saya lebih banyak menangkap banyak kosakata dari anime walaupun kata-katanya kasar. Kosakata yang didapat ini kemudian ‘dihaluskan’ dengan mempelajari gramatikal dan budaya keseharian.

Diantara 4 bahasa yang sulit tadi, tiga diantaranya sudah pernah saya pelajari. Hanya satu yang belum saya pelajari yaitu bahasa China. Sepertinya bahasa ini lebih kompleks walaupun ada kemiripan dengan bahasa Jepang dan Korea karena tiga negara ini memiliki sejarah yang saling terhubung satu dan lainnya.

2 thoughts on “Berbagi pengalaman belajar beragam bahasa

  1. Pak, saya mau bertanya. Bagaimana cara nya belajar bahasa inggris sendiri di rumah tanpa kursus menurut pengalaman bapak?
    Apa bapak punya rekomendasi ebook atau website untuk bahasa inggris?
    dan juga Bagaimana mempelajari grammar secara efektif dan baik?
    Terimakasih sebelumnya.

    Like

    1. Kalau menurut pengalaman saya, fokuskan pada kemampuan berbicara dulu. Berani ngomong dulu walaupun salah, sambil dikit2 perbaiki grammar. Tujuannya adalah supaya memahami fungsi dan penggunaan grammar itu seperti apa dan pada keadaan apa. Kalau ini sudah lancar, dengan sendirinya nanti grammar akan kita kuasai. Salah satu rekomendasi saya untuk belajar sendiri bisa follow fanpage “Guruku Mr. D”. Beliau orang Amerika dan bisa berbicara bahasa Indonesia. Banyak dari video beliau mengajarkan untuk tidak terpaku pada grammar, berani ngomong dulu. Beliau juga jelaskan penggunaan beberapa kosakata pada beberapa keadaan. Ini lebih dibutuhkan di awal. Karena orang Amerika atau Inggris sendiri, kalau ditanya ttg grammar pun, tidak 100% bisa menjawab. Karena inti dari belajar bahasa adalah bisa berkomunikasi sehingga dari sana bisa terjadi transfer pengetahuan, informasi bahkan sampai pada kegiatan bisnis. Jadi fokuskan pada bisa dan berani dulu berbicara. Adapun jika ada minat belajar ke luar negeri, maka perlu ada kursus khusus untuk dapat skor TOEFL atau TOEIC atau sejenisnya. Tujuan dari adanya skor tersebut hanya sebagai bukti sejauh mana kita bisa berkomunikasi dengan baik dalam bahasa inggris, baik lisan, maupun tulisan. Ini hanya syarat administrasi di awal saja.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s