Ramadhan: Mencontoh interaksi Salafush shalih dengan Quran

khatam-alquran-bulan-ramadhan-1c

Sering kita mendengar kisah-kisah menakjubkan bagaimana para ulama di zaman sahabat dan tabi’in dulu dengan Al-Quran. Ada yang khatam quran 60 kali selama Ramadhan, ada yang khatam dalam 2 malam, ada yang 3 malam, dan lain-lain. Selain decak kagum, mungkin muncul beberapa tanya di kepala kita, apakah kisah itu nyata? Kalau itu kisah nyata, siapa mereka? Darima sumber ceritanya? Lalu bagaimana tinjauan syariatnya, apakah dibolehkan atau tidak? Kalau boleh, trus bagaimana mereka membagi waktunya? Pertanyaan-pertanyaan itu saya coba jawab dengan meninjau literatur yang ada di dalam maktabah syamilah untuk memverifikasi kisah dan juga eksperimen pribadi terhadap interaksi dengan Al-Quran di bulan Ramadhan selama beberapa tahun terakhir.

Pada bagian pertama, saya coba ulas mengenai kisah-kisah menakjubkan tersebut sekaligus referensinya. Bagian kedua, berisi tentang beberapa tinjauan syariat yang berkaitan dengan interaksi kita dengan Quran terutama dalam hal memperbanyak tilawah dan mengkhatamkannya dalam waktu cepat. Dan bagian terakhir adalah eksperimen pribadi yang bertujuan menguji sekaligus membuktikan kebenaran cerita interaksi ulama salaf dengan Al-Quran tersebut.

Kisah para salafush shalih dalam interaksinya dengan Al-Quran selama Ramadhan

Menurut Imam al-Nawawi dalam al-Tibyan fi Adabi Hamlati al-Qur’an, para ulama terdahulu memiliki aneka pola yang beragam dalam membaca/mengkhatamkan Alquran mereka. Semuanya pada prinsipnya bergantung kepada kebiasaan masing-masing dan tentu saja kecintaannya terhadap Alquran itu sendiri.

Seperti yang dikutip Imam al-Nawawi dari Ibn Abi Dawud, ada berbagai pola para ulama dalam mengkhatamkan Alquran. Berikut diantara pola-polanya,

  • Dua Bulan Sekali
  • Satu Bulan Sekali
  • Sepuluh Malam/Hari Sekali
  • Dua Hari Sekali
  • Sehari Sekali
  • Sehari Dua Kali/TIga Kali/Delapan Kali.

Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata,

كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ

“Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” [Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51]. Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan.

Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. [Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51]

Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,

كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” [Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276]

Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman,

كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً

“Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. [Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36]. Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah …

Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya,

وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار

“Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” [Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562]

Tinjauan Syariat

Ada dua hal yang menjadi pokok bahasan pada bagian ini:

  1. Bagaimana hukum membaca quran? Apakah wajib mengkhatamkan?
  2. Berapa lama waktu yg disyariatkan untuk mengkhatamkannya? Bagaimana dengan prilaku para salafush shalih yang telah disebutkan di atas?
  3. Mana yang lebih utama dilakukan di bulan Ramadhan: memperbanyak tilawah tanpa mengetahui artinya atau tilawah beserta memahami maknanya?

Pertanyaan 1: Bagaimana hukum membaca quran? Apakah wajib mengkhatamkan?

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. [Lihat At-Tibyan, hal. 72.]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?”

Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754)

Pertanyaan 2: Berapa lama waktu yang disyariatkan untuk mengkhatamkannya? Bagaimana dengan perilaku para salafush shalih tersebut di atas?

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ »

“Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. [‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212]

Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah.

Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.”

Pertanyaan 3: Mana yang lebih utama dilakukan di bulan Ramadhan: memperbanyak tilawah tanpa mengetahui artinya atau tilawah beserta memahami maknanya?

Mengutip ucapan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili yang mengatakan (kurang lebih isinya seperti ini): “Mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak-banyaknya meskipun tanpa tahu artinya, karena para ulama dibulan Ramadhan ini mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak-banyaknya.” Namun setiap hari ada sesi khusus mentadaburi Al Qur’an dengan terjemahannya meskipun sedikit demi sedikit.

Eksperimen pribadi

Sampai pada hari ini, saya sudah melalui lebih dari 25 kali Ramadhan. Mungkin para pembaca ada yang sudah lebih dari saya atau bahkan kurang dari jumlah tersebut. Dan dari jumlah yang begitu banyak, tentu ada banyak pengalaman bagaimana berinteraksi dengan Al-Quran selama bulan Ramadhan. Tujuannya adalah mengkhatamkan, memperbanyak interaksi dengan Quran, dan lain sebagainya. Adapun cara atau teknis, sudah banyak juga yang saya tempuh. Dari semua cara dan jenis interaksi, setidaknya ada dua hal yang sangat mendasar dalam berinteraksi dengan al-Quran, terutama dalam kaitannya mencapai tujuan tersebut, yaitu niat yang lurus karena Allah, motivasi yang kuat dan istiqomah atau konsistensi. Ketiganya sangat dibutuhkan dan penting dalam proses interaksi dengan Al-Quran di bulan Ramadhan.

Andaikan motivasinya sekedar khatam, maka biasanya tenanganya hanya bertahan di 1 minggu pertama atau paling lama 15 hari. Setelah itu, semangat anda akan menurun dan interaksi dengan quran pun menjadi melemah. Andaikan niatnya bukan karena Allah, pun demikian. Hanya bertahan beberapa hari saja, setelah itu akan kembali seperti sedia kala. Buah dari niat dan motivasi tadi adalah konsistensi. Oleh karenanya ketiganya menjadi faktor yang sangat penting.

Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa pada bagian yang ketiga ini saya mencoba berbagi hasil eksperimen pribadi yang bertujuan menguji sekaligus membuktikan kebenaran cerita tersebut. Eksperimen ini bermula dari sebuah pertanyaan apakah mungkin kita dapat mengkhatamkan quran dalam sehari semalam dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk itu? Metode yang saya gunakan adalah mengambil beberapa sampel bacaan (beberapa juz dari quran) yang saya sudah hafal betul (dibuktikan dengan ijazah yang saya dapatkan sewaktu menyetorkan hafalan tersebut sewaktu dulu di pesantren). Ini dimaksudkan untuk meminimalisir kesalahan membaca (lahn khafiy maupun lahn jaliy). Karena membaca quran juga ada aturannya dan harus dijaga sesuai dengan aturan tersebut. Aturan itu yang kita kenal dengan ilmu tajwid. Lalu saya membaca juz-juz tersebut dengan menggunakan tempo hadr (cepat dengan tajwid yang disesuaikan). Setelah itu mengukur lama waktu tilawah per juz. Pengukuran tidak menggunakan stopwatch, hanya menggunakan penanda awal mulai tilawah dan akhir dari tilawah sebanyak 1 juz.

Hasilnya adalah, dengan menggunakan metode tersebut, ternyata saya berhasil menuntaskan tilawah dengan lama waktu 20 menit per juz, atau 3 juz per jam. Hasil ini konsisten untuk beberapa juz yang saya memang sudah hafal. Jika dibandingkan dengan tilawah normal, maka metode memangkas waktu setengahnya, yakni dari yang biasanya 40 menit per juz menjadi 20 menit per juz. Jika kita ambil setiap juz itu terdiri dari 10 lembar atau 20 halaman, maka saya berhasil menuntaskan tilawah 1 halaman dalam waktu 1 menit. Dengan menggunakan hasil eksperimen tersebut, lalu jika diasumsikan saya sudah hafal 30 juz, maka untuk menuntaskan tilawah sebanyak 30 juz dengan metode yang sama hanya membutuhkan waktu 10 jam saja dari 24 jam yang kita miliki dalam sehari. Berhubung eksperimen di atas saya lakukan hanya pada beberapa juz saja yang saya sudah hafal, maka semua hitung-hitungan di atas tentu tidak lepas dari sebuah asumsi. Asumsinya adalah konsistensi dalam membaca sehingga durasi waktunya dapat dipertahankan konstan untuk setiap juz nya.

Kalau ingin seperti Imam Syafi’i yang sebulan khatam 60 kali (sehari 2 kali khatam), maka saya membutuhkan waktu 20 jam sehari. Dan perlu diingat, data yang saya sampaikan di atas tadi semuanya adalah hasil eksperimen saya pribadi yang tentunya dari sisi kualitas tilawah dan interaksi dengan quran masih kalah jauh dari Imam Syafi’i. Seandainya hal tersebut dilakukan oleh seorang yang hafidz quran dan mutqin, ada kemungkinan 1 juz itu dapat dituntaskan kurang dari 20 menit. Jika demikian, maka 2 kali khatam quran dalam sehari memanglah mungkin secara hitung-hitungan di atas kertas. Adapun pembagian waktunya, saya sendiri masih belum tau caranya seperti apa apalagi jika dibandingkan dengan zaman sekarang. Dari sinilah saya berkesimpulan, kisah tersebut benar adanya dan sangat mungkin untuk kita lakukan bahkan di zaman ini. Tetapi tentunya syarat dan ketentuan berlaku.

Sebagai tambahan informasi, mari kita tinjau tilawah para qari masa kini yang rekamannya tersebar banyak di internet maupun youtube. Saya ambilkan 10 Qari’ yang biasa saya dengar murattalnya. Kita akan dapatkan data sebagai berikut:

No. Qari’ Jumlah surat Total Durasi (hh:mm:ss)
1 Abdullah Al-Mathrud 114 27:18:35
2 Abdurrahman As-Sudais 114 22:03:46
3 Abu Bakar Asy-Syathiri 114 23:30:44
4 Ali Al-Hudzaifi 114 30:05:12
5 Hani Ar-Rifai 114 25:14:58
6 Idris Abkar 114 22:54:03
7 Mishari Rasyid Al-Afasi 114 29:54:18
8 Sa’ad Al-Ghamidi 114 24:44:46
9 Su’ud As-Syuraim 114 18:15:56
10 Wadi’ Al-Yamani 114 29:08:34

Dari tabel di atas kita dapat melihat, untuk mengkhatamkan tilawah Al-Quran dalam satu hari adalah mungkin. Tabel di atas memperlihatkan tilawah dengan tempo tartil. Seandainya para Qari’ tersebut tilawah dengan tempo hadr, maka waktu yang dibutuhkan sangat mungkin kurang dari durasi waktu yang ditunjukkan oleh tabel di atas.

Sebagai penutup, mengkhatamkan quran dalam sehari itu hal yang mungkin dan dapat dilakukan. Dari sanalah, kita juga dapat simpulkan bahwa kabar berita mengenai ulama salaf yang mampu mengkahatamkan quran 2 kali dalam semalam adalah benar. Hanya saja, berkaitan dengan pembagian waktunya, itu yang saya tidak ketahui. Hal lainnya yang perlu ditekankan di sini adalah, yang sebenarnya diharapkan dari interaksi dengan quran adalah lama dan konsistensinya, bukan cepat dan banyak tetapi tidak konsisten. Karena bertilawah secara normal (tidak menggunakan tempo hadr) jauh lebih nikmat dibandingkan dengan tempo hadr tersebut, setidaknya untuk saya pribadi yang memang tidak terbiasa bertilawah dengan tempo hadr. Hanya pada eksperimen ini saja saya menggunakannya. Selain dari itu, tidak pernah atau jarang sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s