QS. Al-Falaq & QS. An-Naas: Dua surat perlindungan (Al-Mu’awwidzatain)

Al-muawwidzatain
Bagan al-mu’awwidzatain

Dua surat ini, yakni surat Al-Falaq dan An-Naas, menempati dua urutan terakhir surat yang ada di dalam mushaf dengan jumlah total ayat kedua surat adalah 11 ayat. Dua surat ini masuk dalam kategori dua surat favorit yang mungkin selalu menjadi surat yang selalu dibaca dalam shalat-shalat kita. Tetapi pernahkah kita mengetahui dan merenungkan apa isi dari kedua surat ini? Pernahkah dalam shalat kita, ketika membaca ini, kita meresapi apa yang sedang kita baca layaknya saat kita membaca buku novel atau yang lainnya? Kalau belum, yuk kita tadabburi bersama isi dari kedua surat ini.

Kita akan mulai mentadabburi dua surat ini dengan meninjau status atau klasifikasi kedua surat ini. Sebenarnya status kedua surat ini diperselisihkan di kalangan ulama tafsir, ada yang memasukkan dalam Makkiyah dan ada pula yang memasukkan dalam kategori Madaniyah dengan meninjau asbabun nuzulnya. Tetapi jika kita tengok mushaf yang kita miliki saat ini, kedua surat ini masuk dalam kategori Makkiyah. Apa itu surat Makkiyah? Surat Makkiyah adalah klasifikasi surat dalam Al-Quran yang turun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam hijrah ke Madinah. Dari sini, kita dapatkan sebuah infromasi bahwa dua surat ini turun saat Rasulullah masih di Makkah dengan segala rintangan dakwah yang dihadapi kaum muslimin saat itu. Dan karakteristik dari surat-surat Makkiyah adalah kontennya yang berisi aqidah (tauhid), ajakan beribadah, kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu serta argumentasi-argumentasi dari para Nabi dalam mengajak umatnya, informasi hari akhir, akhirat, surga dan neraka. Dapat kita katakan bahwa surat-surat yang masuk dalam klasifikasi ini, lebih banyak berbicara pada aspek pondasi keimanan dan anjuran untuk beribadah kepada Allah. Sebagai tambahan informasi, dua surat yang turun bersamaan, satu paket, yaitu di urutan ke-20 (Al-Falaq) dan 21 (An-Naas). [Sumber: Dr. Muhammad bin Abdurrahman Asy-Syayi’ “Al-Makki wa Al-Madani fi Al-Quran Al-Kariim”, 1997]

Apa isi dari kedua surat ini?

Mari kita telaah berdasarkan redaksi kedua surat tersebut.

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ . قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ  ﴿١﴾  مِن شَرِّ مَا خَلَقَ  ﴿٢﴾  وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾  وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ  ﴿٤﴾  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ  ﴿٥﴾

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ . قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

Mari perhatikan kedua surat tersebut. Di dalam surat Al-Falaq kita meminta perlindungan kepada Allah menggunakan satu sifat-Nya saja yaitu “Rabb waktu subuh” (“rabbil falaq”) dari tiga jenis kejahatan (“syarr”): kejahatan di waktu malam, penyihir, dan pendengki (hasad). Sebagai informasi, kata “Rabb” dalam bahasa arab maknanya mencakup bahwa Allah lah Sang Pencipta alam semesta beserta isinya serta yang menjamin rezeki semua makhluq-Nya yang hidup di dalamnya. Jenis kejahatan pertama adalah kejahatan di waktu malam. Ada apa di waktu malam? Di waktu malamlah biasanya para pelaku kejahatan melancarkan aksinya, termasuk di dalamnya para penyihir. Mengapa pilih waktu malam? karena di waktu itu kejahatan yang dilakukan tidak tampak jelas pelakunya dan saat malam adalah saat dimana sebagian orang berada di dalam rumahnya untuk beristirahat. Dan Allah menutup surat ini dengan hasad, sebagai peringatan bahayanya perkara ini. Hasad adalah memusuhi nikmat Allah. Dan peristiwa pembunuhan pertama kali yang terjadi di atas muka bumi ini, terjadi karena adanya sifat hasad. Bahkan Nabi Yusuf ‘alayhissalam pun dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri, itupun tersebab oleh hasad. Maka berhati-hatilah dengan sifat ini.

Bagaimana ciri hasad itu? Sebagian Ahli Hikmah mengatakan bahwa hasad itu dapat dilihat dari lima ciri:

  1. Membenci suatu nikmat yang nampak pada orang lain;
  2. Murka dengan pembagian nikmat Allah;
  3. Bakhil (kikir) dengan karunia Allah, padahal karunia Allah diberikan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya;
  4. Tidak mau menolong wali Allah (orang beriman) dan menginginkan hilangnya nikmat dari mereka;
  5. Menolong musuhnya yaitu Iblis. [Sumber: Al Jaami’ liahkamil Qur’an]

Dari sini, kita dapati bahwa ketika kita membaca surat ini, sejatinya kita sedang berdoa kepada Allah, meminta perlindungan kepada-Nya dari tiga jenis kejahatan tersebut yang boleh jadi akan menimpa kita sewaktu-waktu.

Sebaliknya, di dalam surat An-Naas, kita berlindung kepada Allah menggunakan tiga sifat-Nya: “Rabb, Malik, dan Ilah manusia” (“rabbinnass”, “malikinnaas”, “ilahinnaas”) sekaligus, dari satu kejahatan saja yaitu bisikan setan. Mengapa demikian? Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan dalam kitabnya Mafatih al-ghaib: “hal ini menunjukkan bahwa kerusakan iman dan agama disebabkan bisikan setan jauh lebih berbahaya dari pada penyakit fisik duniawi yang disebabkan oleh kejahatan pelaku kriminal, tukang sihir dan pendengki”.

Surat Al-Falaq mengajarkan kita agar senantiasa meminta perlindungan kepada Allah dari bahaya kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukan orang lain atau makhluq Allah yang tampak oleh mata, sementara surat An-Naas mengajarkan kita agar senantiasa meminta perlindungan kepada Allah agar kita tidak menjadi pelaku kejahatan dan kemaksiatan (karena dipicu bisikan setan).

Dan dua surat ini pula setidaknya menegaskan sebuah ayat di dalam surat Al-Fatihah yang menjadi inti surat tersebut, yaitu “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”, “hanya kepada Engkaulah ya Allah, kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Satu ayat ini mengisyaratkan kepasrahan dan ketundukan kepada Allah, bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk yang lemah tanpa pertolongan Allah. Tak ada yang mampu memberikan pertolongan dan menolak kemudharatan kecuali atas kehendak-Nya subhanahu wata’ala, apalagi di saat wabah tengah melanda dunia saat ini. Maka, selalulah kita meminta pertolongan HANYA kepada Allah saja, tidak kepada yang lainnya, dan Allah maha Kuasa atas segala sesuatu. Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah melalui dzikir, baik dzikir tilawah, dzikir doa-doa dalam berbagai aktivitas harian, maupun dzikir al-ma’tsurat pagi dan petang yang di dalamnya terdapat dua surat ini sebagai bagian dari kumpulan dzikir tersebut. Dan hanya dengan berdzikirlah, hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih dan fokus, dan insyaAllah iman dan imun pun terjaga dengan baik. Di bulan Ramadhan ini, dan mumpung masih hari pertama ramadhan, mari azzamkan dalam diri untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita dengan meningkatkan interkasi kita dengan Al-Quran dan dzikir dalam berbagai kesempatan. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua.

Wallahu a’lam bishawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s