23 Poin Keajaiban Korelasi Surat Yusuf dengan Surat Al-Qashash tentang Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa alaihimassalam  

Headtohead dua surat
Head-to-head QS. Yusuf dan QS. Al-Qashash

1. Surat ke-28 dinamakan surat al-Qashash (Kisah-Kisah), sedangkan kisah Nabi Yusuf AS di surat Yusuf (surat ke-12) disebut dengan ahsanal qashash” (kisah terbaik) (Yusuf: 3):

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ (3)

2. Surat Yusuf menyajikan sebagian besar episode kehidupan Nabi Yusuf AS sejak masa kecilnya hingga beliau menjadi pembesar Mesir.
Sementara kisah Nabi Musa AS meskipun tersebar di berbagai surat Al-Qur’an, namun di surat al-Qashash dikisahkan lebih utuh sejak masa kecil beliau hingga kehancuran Fir’aun.

3. Hubungan yang erat antara kedua surat ini dimulai dengan awal surat yang sangat mirip:

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ (1)

طسم (1) تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ (2)

4. Kemiripan juga terlihat saat kedua surat ini mengungkapkan masa kematangan Nabi Yusuf dan Nabi Musa alaihimassalam, dan bahwa keduanya sama-sama orang yang ihsan. (Yusuf: 22 & al-Qashash: 14):

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آَتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (22)

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آَتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (14)

5. Cerita Nabi Yusuf AS dengan keluarganya berawal di luar Mesir dan berakhir di Mesir. Sementara cerita Nabi Musa AS dengan Fir’aun berawal di Mesir dan berakhir di luar tanah Mesir.

6. Kedua Nabi ini sama-sama mengalami masa kecil yang penuh kesulitan. Yusuf menghadapi konspirasi orang-orang yang ia cintai (Yusuf: 4-5), sementara Musa dilahirkan di tengah kebencian musuh bangsanya yaitu ancaman pembunuhan atas seluruh bayi laki-laki Bani Israil oleh rezim Fir’aun (al-Qashash: 4):

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَاأَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (4) قَالَ يَابُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ (5)

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (4)

7. Kedua Nabi sama-sama meraih ending kemenangan berupa tamkin (pengokohan kedudukan) dari Allah. Yusuf meraih tamkin dengan menyelamatkan rakyat Mesir dari kelaparan di musim kering dan tamkin atas saudara-saudaranya dengan kekuasaan di Mesir (Yusuf: 56, 100). Musa meraih tamkin menyelamatkan ummatnya dengan tenggelamnya Fir’aun. (al-Qashash: 5, 6):

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (56)
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَاأَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (100)

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ (5) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ (6)

8. Sosok “ayah” dengan cintanya begitu dominan pada kisah Yusuf, juga kesedihannya berpisah dengan sang putra (Yusuf: 8, 84).
Sosok “ibu” dengan cinta serta kesedihannya karena terpaksa berpisah dari putranya (meski tak lama) ditampilkan dalam kisah Musa (al-Qashash: 10):

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا (8) وَقَالَ يَاأَسَفَا عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ (84)

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (10)

9. Surat Yusuf menampilkan sifat iri para kakak laki-laki Yusuf yang menjadi sebab “perpisahan” adik mereka dengan ayahanda puluhan tahun. (Yusuf: 8-9)
Surat al-Qashash menonjolkan peran tulus kakak perempuan Musa dalam memantau peti bayi adiknya yang dibawa aliran sungai, dan bagaimana ia menawarkan jasa ibu susu dan perawat bayi kepada istana, semuanya menjadi sebab kembali dan berkumpulnya sang adik ke pangkuan bunda. (al-Qashash: 10-13):

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (8) اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ (9)

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (11) وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ (12) فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (13)

10. Yusuf dan Musa alaihimassalam sama-sama dilemparkan (al-ilqaa).
Yusuf dilemparkan karena “benci” ke dasar sumur. Endingnya ia diangkat tinggi di atas saudara-saudaranya. (Yusuf: 10)
Musa dilemparkan karena “cinta” ke sungai Nil (al-Qashash: 7). Endingnya, musuh yang memaksa sang bunda menghanyutkan bayi tercintanya ke sungai, Allah tenggelamkan di air bah laut Merah:

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ (10)

فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ (7)

11. Nabi Yusuf dan Nabi Musa sama-sama dipungut (iltiqaath) untuk mengantarkan mereka berdua ke istana sebagai anak angkat. (Yusuf: 10 & al-Qashash: 8):

يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ (10)

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ (8)

12. Inisiatif mengangkat Yusuf sebagai anak berasal dari ayah angkatnya, seorang pembesar istana. Sedangkan Musa diangkat anak oleh inisiatif istri Fir’aun, ibu angkatnya. Terdapat kemiripan antara ungkapan ayah angkat Yusuf kepada istrinya dengan ungkapan ibu angkat Musa kepada suaminya saat keduanya menyatakan niatnya mengangkat mereka sebagai anak (Yusuf: 22 & al-Qashash: 9):

أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا (22)

قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا (9)

13. Kedua Nabi sama-sama menghadapi ujian setelah berada di istana.
Nabi Yusuf AS menghadapi ujian ajakan zina di dalam istana, dan berhasil menghindarinya (Yusuf: 32). Nabi Musa AS menghadapi ujian perkelahian di luar istana dengan seorang Qibti (asli Mesir) karena membela seorang dari Bani Israil, kemudian tanpa sengaja membunuh Qibti tersebut, dan beliau amat menyesal (al-Qashash: 15-16):

وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ .. (32)

فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ (15) قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (16)

14. Dalam surat Yusuf, salah satu keluarga istri pembesar Mesir justru bersaksi membela Nabi Yusuf (Yusuf: 26-27).
Di dalam surat al-Qashash sebaliknya perilaku seorang dari Bani Israil malah memberatkan Nabi Musa, ditambah dengan kesaksian seorang dari Qibti yang juga memberatkannya (al-Qashash: 18-19):

وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27)

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ قَالَ لَهُ مُوسَى إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ (18) فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَامُوسَى أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ إِنْ تُرِيدُ إِلَّا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ (19)

15. Akibat dari kasus tersebut, Yusuf yang tidak bersalah dijebloskan ke dalam penjara (Yusuf: 32-33). Sementara Musa yang bersalah dan belum diutus Allah kepada Firaun, berhasil melarikan diri ke Madyan (al-Qashash: 20-21):

وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ (32) قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ (33)

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَامُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ (20) فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (21)

16. Sifat malu terutama pada seorang wanita adalah sebab kemuliaannya. Sedangkan kehilangan sifat malu adalah faktor kehinaan yang hanya dapat dihapus dengan taubat.
Kehilangan sifat malu dan terbawa nafsu menyebabkan istri pembesar Mesir tercoreng kemuliaannya juga kemuliaan keluarganya (Yusuf: 23):

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ (23)

Sebaliknya, sifat malu pada diri gadis putri orang tua shalih dari Madyan mengantarnya menjadi istri pemuda pilihan yaitu Musa AS (al-Qashash: 23, 25, 27):

قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) … فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا .. (25) قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ .. (27)

17. Kedua surat menyebutkan kata “burhan” (argumentasi nyata) dari Allah yang telah menyelamatkan Yusuf dan Musa alaihimassalam.
Burhan dari Allah – berupa ma’iyatullah atau sesuatu yang diperlihatkan Allah kepada Nabi Yusuf – menyelamatkannya dari godaan perempuan (Yusuf: 24). Sementara Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun dengan burhan dari-Nya berupa tongkat (al-Qashash: 32):

.. وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ (24)

.. فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ (32)

18. Kedua surat menyebutkan pengakuan orang lain tentang sifat amanah (al-amin) kedua Nabi alaihimassalam (Yusuf: 54 & al-Qashash: 26) :

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ (54)

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)

19. Kedua surat menyebutkan nasihat, yang satu tentang nasihat palsu, yang lain nasihat tulus.
Nasihat saudara Nabi Yusuf saat mereka merencanakan penyingkirannya adalah palsu (Yusuf: 11).
Sementara nasihat simpatisan Nabi Musa yang datang dari ujung kota kepada Nabi Musa adalah nasihat yang tulus (al-Qashash: 20):

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ (11)

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ (20)

20. Kedua surat menyebutkan kata “syaikh kabir” (orang tua yang sudah sepuh). Di surat Yusuf yang dimaksud adalah ayah Nabi Yusuf AS (ayat 78), sedangkan di surat al-Qashash (ayat 23) yang dimaksud adalah ayah mertua Nabi Musa AS:

قَالُوا يَاأَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (78)

وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23)

21. Kedua surat menyebutkan kata ‘ushbah (sekelompok orang). Saudara-saudara Nabi Yusuf menyatakan bahwa mereka pasti bisa menjaga Yusuf dari serigala karena mereka adalah ‘ushbah (Yusuf: 14).
Sedangkan surat al-Qashash menyebutkan kekayaan Qarun – salah satu ummat Nabi Musa – yang kunci-kunci gudang kekayaannya perlu dibawa oleh ‘ushbah yang kuat (ayat 76):

قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ (14)

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (76)

22. Kedua surat berpesan kepada Rasulullah ﷺ agar terus berdakwah (Yusuf: 108 & al-Qashash: 87):

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108)

وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آَيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (87)

23. Surat Yusuf menyebutkan kata bashirah yaitu kejelasan ilmu dan pandangan (ayat 108), sementara surat al-Qashash menyebutkan bentuk jamaknya (basha-ir) di ayat 43 :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108)

وَلَقَدْ آَتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (43)

#12Ramadhan1441H #DiRumahAja #TadabburQuran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s