Catatan lebaran 1441 H: lupa takbir zawaid

Tahun ini tepat 10 kali sudah lebaran jauh dari keluarga, tepatnya karena sedang di luar negeri. Dan tahun ini lebaran yang ke-3 berjauhan dari istri dan anak semenjak menikah.

Pertama kali merasakan Ramadhan dan idul Fitri jauh dari keluarga adalah tahun 2009 saat sedang menempuh pendidikan magister di Korea Selatan. Dan semenjak itu, beragam kondisi lebaran sudah pernah dirasakan, seperti hanya dapat izin setengah hari untuk dapat melaksanakan sholat idul Fitri (setelah sholat masuk lab atau bahkan berangkat untuk menghadiri conference di luar kota), lebaran bertepatan dg hari libur kerja sehingga jamaah membludak, sampai dengan pengalaman lebaran dalam kondisi pandemi seperti tahun ini.

Dan diantara itu semua mungkin tahun ini yang luar biasa. Melalui Ramadhan dalam kondisi sendiri jauh dari anak-istri dan tak ada kegiatan ibadah berjamaah sama sekali karena pandemi. Tetapi Alhamdulillah idul Fitri dapat berjamaah walaupun dengan penyesuaian kondisi baru.

Tahun ini, saya melaksanakan sholat idul Fitri berjamaah di tempat parkir sebuah pabrik pengecoran logam di kota Nogata bersama para pekerja training (kenshusei) asal Indonesia. Kota ini hanya berjarak sekitar 18 km dari rumah (40 menit perjalanan kereta). Lokasinya melalui jalan kecil dan menanjak setelah turun dari kereta.

Di kota ini selama masa pandemi hanya ada 1 kasus covid saja dan itupun terkonfirmasi di awal bulan April. Dan sejak itu tidak ada penambahan kasus baru. Tetapi walaupun demikian, dalam menjalankan sholat idul Fitri berjamaah dengan jumlah jamaah yang tidak sedikit, tetap menerapkan protokol keselamatan seperti menggunakan masker dan physical distancing sebagai kewaspadaan dan upaya mencegah menyebarnya virus. Dan ternyata tidak mudah menerapkan kaidah “new normal” apalagi dalam nuansa idul Fitri seperti ini.

Selain itu ada juga yang unik dari idul Fitri tahun ini. Walaupun sudah sering diminta mengimami sholat ‘id, untuk pertama kalinya saya lupa takbir zawaid di rakaat kedua sholat. Begitu bangkit dari sujud rakaat pertama, tak sadar langsung membaca Al-Fatihah. Saat sedang membacanya, sayup-sayup terdengar makmum mengucap “subhanallah”, sejenak menghentikan bacaan sambil mengoreksi apa ada yang salah. Ternyata lupa takbir zawaid. Padahal sebelum memulai saya sudah menyampaikan kepada jamaah sholat akan ada takbir zawaid 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua. “Lanjut atau mengulang takbir?” Saya putuskan lanjut Al-Fatihah tanpa ada takbir zawaid di rakaat kedua dan tidak melakukan sujud sahwi. Dan saya harus menjelaskan ini kepada jamaah setelah selesai sholat. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa ga takbir zawaid aja?

Entah kenapa malam hari sebelum sholat idul Fitri, ga sengaja saya membaca artikel mengenai lupa takbir zawaid dalam sholat id. Benar-benar ga sengaja. Dan ternyata kejadian beneran. Dalam artikel itu memang dituliskan tatacaranya demikian, karena takbir zawaid hukumnya Sunnah hai-at yang kalau kelewat karena sengaja atau lupa tak perlu diulangi dan tidak diganti dengan sujud sahwi. Selain itu, memotong bacaan Al-Fatihah lalu melakukan takbir zawaid (karena lupa takbir tadi) dapat membatalkan sholat.

Dari kejaidan ini saya menangkap sinyal bahwa Allah ingin saya belajar menghadapi situasi yang mungkin jarang terjadi dalam sholat ‘id dan saya sendiri belum pernah mengalaminya, yaitu lupa takbir zawaid. Allah arahkan dulu untuk membaca teorinya, besoknya langsung diminta praktik. Sempat juga merenung, kenapa kok bisa saya lupa? Satu sisi, hanya Allah lah yang maha sempurna adapun selain-Nya tentu ada cela termasuk diantaranya sifat lupa. Oleh karenanya ada sebuah ungkapan bahwa manusia tempatnya salah dan lupa. Dan respon terbaik dari itu adalah meminta maaf atas segala salah, seperti yang biasa dilakukan di hari lebaran, bermaafan. Sisi lainnya, adalah mungkin faktor rindu. Rindu keluarga, rindu kepada 3 krucil ini. Sejak malam takbiran sudah tidak bisa tidur, lalu dalam perjalanan naik kereta juga inget betapa senangnya mereka dulu saat diajak jalan-jalan naik kereta.

Trio “HA”: Hana, Haruka, Haruko

Ya Allah, angkatlah Corona dari muka bumi, baik dengan ditemukannya obat / vaksin atau hilang karena physical distancing. Supaya mereka yang terpisah dari keluarganya seperti para tenaga medis dan yang lainnya dapat kembali berkumpul dengan keluarga mereka. Karena ternyata rindu itu berat. (Cukup kata-katanya sampai sini aja, tak perlu dilanjutkan). 😊😁

Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏

Kitakyushu, 1 Syawal 1441 H (24 Mei 2020)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s