Refleksi 34 tahun perjalanan hidup, berawal dari mimpi

Pemandangan dari langit Dusseldorf, Jerman (2018). Melihat dari atas semakin terlihat indah dunia ini.

Dulu menjelang lulus dari pesantren, kepingin kuliah di kampus umum dengan beasiswa. Kampus umum yg dimaksud waktu itu adalah kampus berlogo gajah, itupun juga tidak lepas dari pengaruh beberapa guru yang lulusan sana. Dan Alhamdulillah kesampean kuliah di sana dengan beasiswa (ekonomi).

Menjelang lulus dari kampus gajah, kepingin lanjut kuliah. Tapi kali ini mimpinya agak muluk, kuliah di luar negeri dan dengan beasiswa. Negara tujuan yang menjadi sasaran antara Jepang atau Jerman. Sempat ikut daftar dan tes IGPAS – MEXT dan gagal. Tapi Alhamdulillah dapat beasiswa untuk lanjut kuliah ke Korea Selatan. Yah, nyerempet dikit lah dari mimpi awal.

Saat menjalani perkuliahan di sana, pernah juga bermimpi dapat bekerja di Korea Selatan. Saat itu yang terbayang adalah paling tidak linear dengan bidang yang selama ini digeluti, selain tergiur besarnya gaji yang akan diterima. Kepengen tau ujung dari semua ilmu yang dipelajari ini muaranya kemana dan seperti apa dunia kerja di bidang itu dan bagaimana proses dari penelitian di lab sampai ke pasar. Sempat mendaftar dan ikut tes bersama ribuan orang untuk bisa kerja di Samsung. Selain itu, pernah juga interview dengan salah satu bidang R&D di LG electronics. Semuanya ga ada yang berhasil. Akhirnya memutuskan untuk lanjut sekolah. Tapi di tengah jalan memutuskan berhenti karena pergolakan batin yang sudah tidak tahan untuk segera menikah. Orang tua saya tidak mengizinkan untuk menikah kalau belum bekerja, begitu kurang lebih keadaan yang saya hadapi. Dan Alhamdulillah saya diterima bekerja di salah satu perusahaan rekanan Samsung untuk pengembangan bahan baku display (OLED) sebagai asisten peneliti (research assistant).

Mimpi yang sempat tertunda tadi (sekolah di Jepang) akhirnya terkabul di tahun 2016, sekitar dua tahun setelah resign (mengundurkan diri) dari perusahaan dan kembali ke Indonesia. Pada awalnya memang tidak menyangka akan dapat bersekolah lagi karena beberapa alasan. Tetapi di luar dugaan ada banyak kemudahan-kemudahan yang didapat saat proses aplikasi dan seleksi beasiswa MEXT, sebuah beasiswa yang bergengsi karena berasal dari pemerintah Jepang.

Pernah pula bermimpi mengunjungi berbagai negara di Eropa. Dan Alhamdulillah itupun tercapai setelah di tahun 2018 kemarin diminta supervisor untuk internship sekaligus menghadiri conference di Belanda dan Ceko. Walaupun sebenarnya hanya dua negara tujuan saja, tetapi dua negara itu dipisahkan oleh Jerman. Sehingga jadilah kita jalan-jalan di tiga negara Eropa dengan ‘dibiayai’ oleh dana penelitian dan kampus.

Ya, semua bermula dari sebuah mimpi. “Ingin ini, ingin itu, banyak sekali”. Dari mimpi-mimpi itulah tumbuh motivasi, keinginan yang kuat untuk mencapainya. Dari keinginan yang kuat itulah, lahir tindakan-tindakan dan upaya-upaya yang keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya. Sejenak teringat salah satu potongan kata Hasan Al-Banna:

أحلام الأمس حقائق اليوم

Mimpi-mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini.

Maka teruslah bermimpi. Jangan takut untuk bermimpi. Bermimpi itu gratis. Bermimpi itu hak setiap manusia. Bahkan kalau perlu bermimpi lah menjadi presiden RI. Mimpi itu tidak salah dan tidak menyalahi konstitusi di negara kesatuan republik Indonesia.

Dan saat inipun, walaupun salah satu target hidup yaitu menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) sudah saya capai, saya masih berusaha mengejar mimpi dan target-target lain yang belum tercapai. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dapat dilalui, maka semakin indah melihat tapak kaki yang telah dilalui, bagaikan saat kita sudah berada di puncak gunung setelah melalui berbagai aral rintangan lalu memandang jauh ke bawah, ke belakang, ke jalur yang kita lalui selama masa pendakian. Dan diantara target yang belum tercapai dan ingin sekali dicapai adalah menyelesaikan hafalan Qur’an dan menunaikan ibadah haji bersama keluarga. Sekitar 5 tahun yang lalu (tepatnya tahun 2015) saya sudah pernah bermimpi sholat di Masjidil haram. Semoga Allah masih memberikan nikmat usia hingga nanti saya dapat mencapai mimpi tersebut. Amiiin.

Apapun mereka bilang

Tekadku takkan hilang

Jalanku masih panjang

Garis akhir yang kupandang

Kitakyushu, 12 Juni 2020

2 thoughts on “Refleksi 34 tahun perjalanan hidup, berawal dari mimpi

  1. Nangis bacanya Pak,…Speechless. Mohon izin kontak Bapak via telepon apakah ada? Senang sekali jika kami (para PNS Kementa), bisa mendengarkan motivasi dari Bapak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s