Mengenang masa itu…

Di penghujung masa-masa mahasiswa kampus gajah duduk (baca: ITB) tahun 2008

Hari ini, 3 Juli 2020 adalah 100 tahun hari lahirnya sekolah teknik di Indonesia sebelum akhirnya nanti berganti nama menjadi ITB. Jadi teringat masa-masa kuliah dulu. Di media sosial tidak sedikit yang menuliskan pengalamannya berkuliah di sana sampai bertemu dengan jodohnya. Jadi ikutan mengenang masa-masa itu. Flashback zaman itu (2004-2008):

  1. Ga nyangka dulu bisa kuliah di sini, padahal pas SPMB ga yakin bisa lolos. Ya wajarlah, jebolan pesantren, sedangkan ini kampus teknik. Sekilas emang ga nyambung. Tapi karena terinspirasi dari guru-guru yang mengajar saya di pesantren, beberapa diantaranya lulusan ITB, jadi sempat ada impian untuk bisa kuliah di tempat ini. Nyari yg anti-mainstream gitu.
  2. Ada juga teman di pesantren dulu yg ngasih bet bordiran logo ITB jadul pas acara perpisahan sambil ngedoain semoga saya bisa masuk ITB. Dan ternyata Alhamdulillah lulus. Sekarang beliau (yg ngasih saya bet) mendapat amanah sebagai anggota dewan.
  3. Daftar ulang dalam kondisi tangan kiri masih diperban, dislokasi sendi pergelangan tangan karena jatoh dari motor.
  4. Saat OSKM juga tangan kiri masih diperban. Dapat pita merah yg punya ‘keistimewaan’, disuruh minggir kalo ada hukuman fisik (push-up). 😁Tapi pesan danlap selalu teringat, “sangkar besi tidak akan mengubah rajawali menjadi burung nuri”.
  5. Sebulan pertama hidup di Bandung, numpang tinggal di rumah teman yg jarak rumahnya lumayan jauh dari kampus. Telat masuk kelas, udah pasti pernah.
  6. Pernah akrobat di jalan (baca: alay) pas mau menghadiri suatu acara, naik motor bertiga, satu orang pegang stang kanan, satu lagi pegang stang kiri, yg lain mengendalikan rem kaki dan gigi. Alhamdulillah selamat sampai tujuan. 🙈
  7. Pernah ngulang mata kuliah mekanika. Trus dinasehati sama dosen wali, “tingkat dua biasanya kalian baru akan sadar bahwa kalian salah jurusan”. Dan IP drop di bawah garis kemiskinan. Pelajaran pentingnya adalah bahwa melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri dan bergengsi apalagi dari asal sekolah yg underdog, memang butuh mental baja. Jadi ya woles aja yg penting terus berusaha sekuat tenaga.
  8. Pernah juga dapet IP sempurna (ya setidaknya pernah lah sesekali merasakan rasanya dapet IP sempurna). Tentunya karena banyak ambil KU. Strategi perbaikan IPK.
  9. Berteman dengan orang yg baru sadar ada ujian beberapa jam sebelumnya tapi nilainya tertinggi di kelas. Sedangkan saya yg belajar sejak 3 hari sebelumnya harus puas dapat nilai setengahnya. Mungkin harus ditambah 3 hari lagi belajarnya, biar terpenuhi setengah sisanya. Hahahaa…🤣
  10. Masa-masa sering main futsal, paling enggak 1 kali seminggu. Setelah lulus jarang banget main futsal lagi.
  11. Begitu gabung di lab, sering nginep di lab, eksperimen sekaligus jadi rileks-er, duet maut sama teman di lab. Kalau dia lagi eksperimen, saya bantu akses rileks, begitu juga sebaliknya. 🙈
  12. Aktivitas lainnya: pengajian bersama MAIFI, ikutan MATA salman, dan ngajar bimbel. Bimbelnya juga bikin sendiri bareng teman-teman dari jurusan lain.
  13. Target yang ga tercapai zaman kuliah di sini adalah nikah sebelum lulus. Karena ga diizinkan orang tua. 😁

#100TahunITB #FisikaITB2004

100 tahun ITB dan pendidikan tinggi teknis di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s