Integritas dan visioner, modal paling berharga dalam hidup

Majalah Al-mujtama’, Kuwait 1994

Foto ini berasal dari majalah Al-mujtama’ berisi wawancara Erdogan dengan redaksi majalah al-mujtama’ Kuwait di tahun 1994 saat masih menjadi walikota Istanbul. Di dalam majalah tersebut beliau mengatakan (kurang lebih artinya) “kami akan mengembalikan wajah islam di Istanbul dan Hagia Sofia akan kembali menjadi masjid untuk umat muslim”. Lalu di tahun 2020 ia tepati ucapannya terdahulu. Ada jeda waktu 26 tahun dari narasi menjadi realita. Dan 26 tahun itu bukan waktu yang sebentar apalagi untuk memegang ucapan atau janji, dan janji itu ditunaikan dengan baik.

Sejatinya saya bukanlah fans berat Erdogan. Prinsip saya adalah siapapun orangnya, selama memperjuangkan kepentingan umat muslim, baik itu melalui kebijakannya atau cara-cara lainnya yang tentunya tidak melanggar ketentuan syariat, maka saya mendukungnya. Pada tulisan kali ini, saya cuma mau menggarisbawahi pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa ini ditinjau dari sudut pandang kepemimpinan: selain integritas (kesatuan ucapan dan tindakan), visioner adalah aspek penting yang harus dimiliki bagi seorang pemimpin. Di zaman sekarang, pemimpin berintegritas dan visioner itu tidak banyak.

Maka pertanyaan penting selanjutnya adalah, bagaimana caranya agar dapat membentuk manusia agar memiliki karakter seperti itu? Supaya karakter manusia seperti ini bisa diduplikasi dan diperbanyak.

Hmmm…menurut saya, konsep rukun iman yang 6 butir ditambah rukun Islam yang 5 butir dan ihsan, sebenarnya membentuk karakter yang berintegritas dan visioner. Kalau integritas itu didefinisikan sebagai keselarasan antara ucapan dan tindakan, maka definisi iman juga merupakan integritas, adanya keselarasan antara hati, ucapan dan perbuatan. Kalau visioner didefinisikan sebagai tujuan jangka panjang yg ingin dicapai, maka salah satu rukun iman yaitu iman kepada hari akhir, yaitu meyakini adanya pengadilan Allah di akhirat kelak, inipun juga visioner. Karena dengan meyakini hari akhir, maka segala ucapan dan tindakan kita menjadi lebih hati-hati, terencana, terstruktur, terukur dan harus penuh tanggung jawab. Lebih pengkapnya, saya pernah tuliskan khusus mengenai hal ini di sini. Konsep ini lalu ditumbuh kembangkan melalui ibadah seperti shalat, puasa, dll dengan menghadirkan sikap ihsan (merasa selalu diawasi oleh Allah). Saya kira inilah konsep dasar yg dulu menaikkan level umat muslim. Berarti kalau sekarang umat ini terpuruk, maka yang perlu dievaluasi dan diperbaiki terus menerus adalah sejauh mana internalisasi nilai iman, Islam, dan ihsan di dalam diri umat.

Wallahu a’lam bishawab.

#Leadership #Iman #Islam #Ihsan #Integritas #Visioner

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s