Menjadi merdeka

Dirgahayu Indonesia ke 75

Memperingati kemerdekaan Indonesia yang ke-75 tahun 2020 ini, saya ingin menuliskan sebuah kisah yang agung mengenai kepemimpinan dalam konteks penegakan hukum yang melibatkan kekuasaan. Kisah ini mengambil setting waktu saat kepemimpinan Khalifah Rasyidah ke-2, yaitu Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Kisah ini dapat dijumpai di dalam kitab Tafsir Al-Manaar, karangan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha.

سَاوَى خَلِيفَتُهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بَيْنَ ابنِ فَاتِحِ مِصْرَ وَقَائِدِ جَيْشِهَا وَحَاكِمِهَا الْعَامِّ (عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ) وَبَيْنَ غُلَامٍ قِبْطِيٍّ؛ إِذْ تَسَابَقَا، فَسَبَقَ الْقِبْطِيُّ ابْنَ الْحَاكِمِ، فَصَفَعَهُ هَذَا، وَقَالَ: أَتَسْبِقُنِي وَأَنَا ابْنُ الْأَكْرَمَيْنِ؟ فَلَمَّا رُفِعَ الْأَمْرُ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمْ يَرْضَ إِلَّا أَنْ يَصْفَعَ الْقِبْطِيُّ ابْنَ الْفَاتِحِ الْحَاكِمِ كَمَا صَفَعَهُ، وَقَالَ لِعَمْرٍو كَلِمَتَهُ الذَّهَبِيَّةَ الْمَشْهُورَةَ: يَا عَمْرُو مُنْذُ كَمْ تَعَبَّدْتُمُ النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ أَحْرَارًا؟

Khalifah Umar bin Al-Khattab telah menyamakan antara anak dari Sang Pembuka Mesir yang sekaligus Pemimpin Pasukannya yang sekaligus juga Gubernurnya (Amru bin Al-Ash) dengan seorang anak koptik, ketika keduanya berlomba, lalu sang Koptik menang dari anaknya Amru bin Al-Ash sehingga kemudian anaknya menampar sang Koptik dan berkata “Apakah kamu mendahuluiku sedangkan aku anaknya dua orang yang mulia?”..

Dan ketika kasus ini diangkat kehadapan Umar Radhiyallahu’anhu maka Ummar tidak ridho kecuali jika sang Koptik membalas menampar balik anaknya Amru bin Al-Ash sebagaimana ia telah menamparnya, kemudian Ummar berkata kepada Amru bin Al-Ash sebuah kata-kata emas yang terkenal:

يَا عَمْرُو مُنْذُ كَمْ تَعَبَّدْتُمُ النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ أَحْرَارًا؟

“Wahai Amr, Sejak kapan kalian memperbudak manusia padahal Ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Ungkapan yang serupa dengan kata-kata Umar Radhiyallahu ‘anhu dapat kita jumpai pula terlontar dari lisan Syaikh Umar Al-Mukhtar, seorang pejuang pembebasan Libya dari penjajahan Italia. Kisah tentang beliau pernah diangkat ke layar lebar berjudul “Lion of the Desert” pada tahun 1981. Beliau pernah juga mengungkapkan makna merdeka, yaitu sebagai berikut:

إن الله خلقك حراً .. فكن حراً كما خلقت
الحر هو الذي لا يبيع عقله ولا فكره ولا موقفه ولا وطنه للآخرين

“Sesungguhnya Allah telah menciptakanmu dalam kondisi merdeka, maka jadilah merdeka sebagaimana engkau diciptakan. Orang yang merdeka adalah yang tidak menjual akal, pikiran, sikap, dan tanah airnya untuk orang lain.”


Seperti itulah islam, sebuah agama yang memerdekakan, bukan memperbudak apalagi menjajah. Tidak akan pernah kita dapati dalam sejarah bahwa islam itu masuk ke sebuah negara untuk menjajah negeri tersebut. Maka tidaklah heran manakala kita baca kembali sejarah negeri kita, maka kita akan dapatkan sebuah fakta bahwa kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI), saham terbesarnya adalah berasal dari perjuangan kamu muslimin (para kyai, habaib, ustadz, santri, dll). Saya tidak menafikan adanya saham lain dari pemeluk agama lainnya, oleh karena itu saya sebut dengan istilah “saham terbesar”, sebagaimana yang diberitakan oleh media masa di zaman tersebut.

Surat kabar Kedaulatan Rakjat

Oleh karena negeri kita dibebaskan dari penjajah melalui perjuangan para kyai, habaib, ustadz, santri dan umat muslim kala itu, maka pada hakikatnya kita yang hidup saat ini mewarisi perjuangan mereka. Dan saat ini, saat negeri ini sudah ke 75 kali nya memperingati kemerdekaannya, kita dihadapkan pada persoalan ketidakadilan dalam hal penegakan hukum di negeri ini. Dan wajah ketidakadilan itu tergambar jelas dalam berbagai media masa akhir-akhir ini. Maka ini menjadi tanggung jawab kita bersama, terutama kita selalu umat muslim, untuk meluruskan atau mengembalikan ruh kemerdekaan ke track awalnya, agar di kemudian hari tidak terjadi lagi ketidakadilan penegakan hukum antara pemimpin atau penguasa dengan rakyat. Kita berupaya dan selalu mendoakan agar Indonesia menjadi negeri yang maju, adil, dan makmur.

“All human beings are born #free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.”

(The Universal Declaration of Human Rights, Article 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s