Empat tipe manusia terhadap perintah

Ilustrasi (sumber: google)

Oleh: Ust. Irsyad Syafar

Di dalam Al Quran terdapat banyak sekali perintah Allah Ta’alaa kepada hamba-hambaNya. Baik perintah itu langsung dari KalamNya yang mulia, maupun yang Dia sampaikan melalui lisan hamba-hambaNya di dalam ayat-ayatNya. Menyikapi perintah-perintah tersebut, beragam pula tipe manusia dalam menyikapi dan meresponnya. Setidaknya ada 4 tipe manusia dalam merespon perintah Allah Ta’alaa:

1. Saran dianggap perintah

Yaitu seseorang yang menyikapi sebuah saran atau pendapat sebagai sebuah perintah. Ini merupakan sikap yang paling mulia dan terhormat. Contohnya adalah ketika Nabi Ismail as. mendapatkan saran atau pendapat dari ayahnya Nabi Ibrahim as, maka ia menyikapi itu sebagai sebuah perintah. Dan ia dalam posisi siap patuh atas perintah tersebut dan bersabar menunaikannya.Simak dialog sang ayah dengan anaknya yang diabadikan Allah dalam kandungan surat Ash Shafat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Hai anakku, aku melihat dalam mimpiku, bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?”Dengan spontan, sang anak menjawab, “Wahai ayahnda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan dapati aku sebagai orang yang sabar.”

Sebagai seorang anak, inilah tipe anak yang shaleh lagi santun. Walaupun bahasa ayahnya terkesan seperti saran dan pendapat, tapi ia menyikapinya sebagai sebuah perintah dan instruksi. Sehingga jawabannya layaknya orang yang beriman: “Sami’naa wa atha’naa” (Kami dengar dan kami taat). Dalam konteks yang lebih luas, beginilah harusnya sikap seorang anak buah terhadap tuannya, karyawan kepada atasannya, dan prajurit kepada panglimanya. Dan inilah tipe yang paling baik dan level yang paling tinggi.

2. Perintah dianggap perintah

Ini adalah tipe level kedua. Ini merupakan level standar, yang seharusnya setiap muslim minimal bersikap seperti ini. Dimana, ketika ada perintah, maka ia sikapi itu sebagai sebuah perintah. Tidak perlu dibantah atau diperdebatkan. Banyak contoh terkait tipe ini dalam Al Quran. Sebab memang ini adalah tipe standar yang seharusnya ada. Contohnya, dialog antara Nabi Sulaiman as. dengan burung Hud-hud, ketika Beliau memerintahkannya untuk mengirim surat kepada Ratu Balqis, dalam kandungan surat An Naml ayat 27-30:

قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ﴿٢٧﴾ اذْهَب بِّكِتَابِي هَـٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ ﴿٢٨﴾ قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ ﴿٢٩﴾ إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣٠﴾ 

Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Nabi Sulaman as. berkata: “Pergilah engkau membawa suratku ini, lemparkan surat tersebut kepadanya (Ratu Balqis)!”. Dengan patuh, burung hud-hud berangkat membawa surat Nabi Sulaiman as. Ia tak berani membantah, bahkan untuk beralasan istirahat sejenakpun tidak ia lakukan. Dan misi (tugas) ia tuntaskan dengan sempurna. Padahal jarak antara kerajaan Nabi Sulaiman dengan kerajaan Saba, sangat jauh. Lebih dari 1500 km. Dan ia baru saja terbang dari sana. Lalu sekarang ia harus terbang lagi. Namun hud-hud tidak mengeluh dan tidak mencari-cari alasan untuk mengelak dari perintah. Inilah kompetensi minimal seorang prajurit yang baik, bawahan yang teladan atau karyawan yang berdedikasi.

3. Perintah dianggap saran

Tipe ini adalah tipe yang buruk. Memiliki jiwa yang sombong lagi pembangkang. Sudah jelas yang datang kepadanya adalah sebuah perintah, tapi dianggapnya itu hanya sekedar saran. Dan ia mencari pilihan dan tugas lain diluar perintah tersebut. Simaklah kandungan dialog antara Nabi Nuh as. dengan anaknya, saat tsunami raksasa sudah menghantam bumi dalam penggalan surat Hud ayat 42-43:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ ﴿٤٢﴾ قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّـهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ ﴿٤٣﴾ 

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

“Wahai anakku, kemarilah, naiklah ke kapal bersama kami, jangan kamu jadi orang kafir!” kata Nabi Nuh as. Tapi, si anak tidak mematuhi perintah ayahnya. Dianggapnya itu hanya sekedar saran dan pendapat. Menurutnya ada pilihan lain yang lebih baik untuk menyelamatkan diri. Si anak menjawab, “Aku akan berenang ke bukit tersebut. Aku akan selamat disana dari hantaman banjir ini.”Akibat sikap pembangkang ini, si anak celaka. Ia tenggelam ditelan oleh besar dan tingginya tsunami tersebut. Begitulah nasib bila seorang anak durhaka, atau prajurit pembangkang ataupun bawahan yang tidak patuh.

4. Perintah dilawan dengan perintah

Ini adalah tipe manusia yang paling buruk dan level paling rendah. Mereka adalah yang orang yang melawan perintah dengan memberikan perintah pula kepada yang memberikan perintah. Simaklah kandungan dialog Nabi Musa as dengan kaumnya Bani Israil ketika akan memasuki bumi Baitul Maqdis dalam untaian Surat Al Maidah ayat 21-24:

 يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّـهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ ﴿٢١﴾ قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِن يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ ﴿٢٢﴾ قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّـهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّـهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٢٣﴾قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ ﴿٢٤

“Wahai kaumku, masuklah kalian ke tanah suci baitul maqdis. Jangan kalian berpaling!”Mereka membantah dan tidak bersedia masuk ke sana karena takut menghadapi pasukan musuh yang ada disana. Lalu dua orang dari kaum Nabi Musa as mengingatkan lagi perintah Nabi Musa untuk masuk Baitul Maqdis dan pasti akan menang.Mereka malah menjawab, “Pergilah engkau (Musa) bersama Tuhanmu, berperanglah berdua. Kami duduk disini menunggu.”Inilah tipikal prajurit yang kurang ajar. Perintah dan instruksi dari panglimanya dibalas dengan melawan dan mengeluarkan pula perintah kepadanya. Bani Israil sangat terkenal sebagai kaum pembangkang. Slogan mereka seringnya adalah: “Sami’naa wa ‘ashainaa.” Sungguh sangat tercela orang tipe ini. Baik sebagai anak, bawahan, karyawan ataupun prajurit.

Wallahu A’laa wa A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s