Beberapa kebijakan pemerintah Jepang menarik

Screenshot berita dari Kyodo news

Kebijakan baru pemerintah Jepang. Tapi ini baru akan diberlakukan bulan April tahun depan. Begini cara pemerintah Jepang mendorong warganya untuk menikah (dan memiliki keturunan): dikasih insentif.

Menikah, dapat insentif 600.000 yen atau sekitar 84.5 juta rupiah (kurs 1 yen = 140.91) untuk memulai kehidupan baru. Tentunya syarat dan ketentuan berlaku.

Kebijakan ini melengkapi beberapa kebijakan sebelumnya, yang meliputi:

  1. Melahirkan anak, dapat bantuan 420.000 yen/anak yg dilahirkan atau sekitar 60 juta rupiah per-anak (kalau kembar berlaku kelipatannya). Tapi ini biasanya habis untuk bayar biaya persalinan. Pada kondisi tertentu boleh jadi bersisa, dan boleh jadi nombok. Tapi kalaupun nombok, ya ga terlalu besar lah. Tergantung kondisi. Tapi setidaknya ga pusing mikirin biaya persalinan.
  2. Fasilitas kesehatan bagi anak usia 0-3 tahun gratis, termasuk di dalamnya imunisasi. Usia di atas 3 tahun s.d entah usia berapa gitu, dikenakan biaya 500 yen/bulan/anak atau sekitar 70rb rupiah/bulan/anak. Jadi kalau dalam sebulan 2 kali kunjungan ke klinik, ya cukup membayar 500 yen tadi.
  3. Dapat tunjangan kesejahteraan anak sebesar 15rb yen/bulan/anak (sekitar 2.1juta rupiah) untuk anak usia 0-3 tahun. Adapun usia 3 – sebelum lulus SD besarannya 10rb yen/bulan/anak (sekitar 1.4 juta rupiah). Pengalaman saya tentang poin 1 s.d 3 di atas, saya tuliskan di sini.
  4. Biaya sekolah gratis (lupa apakah biaya masuknya saja atau beserta spp nya dan sampai jenjang apa. Kebijakan ini kalau tidak salah saya baca di berita sekitar setahun yg lalu, tahun 2019).

Belum lagi dengan berbagai kebijakan yang ada selama masa pandemi, baik untuk warga biasa dan para pengusaha. Warga biasa dibayar 100.000 yen (sekitar 14 juta rupiah) untuk tidak kemana-mana, diam saja di dalam rumah. Adapun untuk pelaku usaha, mereka diberikan insentif pula untuk mempertahankan usahanya.

Beberapa dari kita mungkin akan fokus pada jumlah uangnya. Bahkan mungkin sudah ada yang mulai berangan-angan menikahi orang Jepang lalu melahirkan anak di Jepang juga, dst. Hayo ngaku…hehehe….😁

Kalau saya, saya tertarik pada bagaimana pemerintah Jepang mengelola keuangan negaranya padahal menteri keuangan Jepang tidak mendapatkan predikat sebagai menteri keuangan terbaik di dunia dan negara ini juga tidak punya sumber daya alam yang melimpah seperti Indonesia. Lalu apa yang membuat Jepang bisa maju? Jawabannya adalah kualitas sumber daya manusia. Jepang, saat ini, secara umum memiliki kualitas SDM yang lebih baik dari SDM Indonesia. Begitu juga dengan negara tetangganya, Korea Selatan, yg sama-sama menitikberatkan pada pengembangan SDM mereka. Kalau ditanya ttg bagaimana meningkatkan kapasitas SDM, ya tentu jawabannya adalah pendidikan. Pendidikan yg seperti apa? Nah, ini perlu dicari jawabannya lebih lanjut.

Problem yg dihadapi Jepang saat ini adalah menurunnya angka kelahiran sehingga jumlah penduduk usia produktif menurun yang tentunya akan berdampak pada roda perekonomian mereka. Kalau tidak ada intervensi kebijakan dari pemerintah, dipastikan akan mengalami kepunahan dalam beberapa puluh tahun ke depan. Oleh karenanya pemerintah Jepang menawarkan solusi yg secara logika masuk akal. Setidaknya, nalar sederhana kita menyatakan sesuai lah untuk menyelesaikan problem yg dihadapi. Atau malah boleh jadi aneh (tapi menguntungkan warganya) apalagi saat ini Jepang dalam masuk resesi.

Problem yg dihadapi Indonesia saat ini (salah satunya) adalah angka pengangguran dan akan adanya bonus demografi. Adapun solusi yg ditawarkan pemerintah adalah mengimpor pekerja asing dengan dalih SDM bangsanya tidak paham dg teknologi. Padahal kalau mau melirik para buruh migran asal Indonesia di negara seperti Korea dan Jepang, mereka diterima dengan baik dan tidak sedikit yang menjadi andalan pabrik-pabrik di sana. Yang tidak saya pahami adalah kenapa pemerintah ga membidik pengembangan SDM bangsanya. Kenapa tidak melatih saja para pekerja buruh di dalam negeri untuk menjadi tenaga pekerja pada industri strategis yang sedang dibangun? Bukankah dari sisi biaya yang akan dikeluarkan juga bisa lebih menghemat dibandingkan mempekerjakan orang asing ya? (CMIIW) Padahal Indonesia akan menghadapi bonus demografi, sehingga pengembangan SDM menjadi salah satu investasi jangka panjang dan tentunya sesuai dengan visi Indonesia 2045.

Sumber berita: https://english.kyodonews.net/news/2020/09/a959cab43647-japan-newlyweds-can-receive-up-to-600000-yen-to-start-new-life.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s