Pulang kampung (dari Jepang) di masa pandemi

Protokol kesehatan. Sumber gambar: kemlu.go.id

Postingan kali ini akan membahas seputar tips pulang atau masuk ke wilayah negara kesatuan Republik Indonesia saat musim pandemi.

Langkah 1️⃣: rencanakan perjalanan

1. Cari tiket pesawat, sebisa mungkin sejak jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Misalnya sebulan sebelumnya atau lebih. Tidak harus direct flight. Sesuaikan saja dengan situasi dan kondisi keuangan masing-masing. Saya pribadi menggunakan penerbangan dg sekali transit atau tidak langsung (non-direct flight).
2. Jika menggunakan penerbangan non-direct, pastikan bahwa negara transit mengizinkan transit penerbangan. Pengalaman saya kemarin, awalnya saya beli tiket penerbangan melalui Taiwan sbg negara transit. Aturan di bandara Taiwan adalah transit tidak boleh lebih dari 8 jam. Jadi perlu diperhatikan juga lama transitnya. Negara lain yg mengizinkan transit adalah Korea Selatan.
3. Di Jepang, hanya ada 2 gerbang untuk keluar dan masuk: Osaka (KIX) dan Tokyo (NRT dan atau HND). Jadi pastikan tiket yg dipesan melalui gerbang tersebut. Pengalaman saya, tiket saya dicancel oleh maskapai karena tidak melalui salah satu dari gerbang tsb dan juga terlalu lama waktu transitnya di Taiwan (11 jam). Sehingga pihak maskapai meng-cancel tiket saya. Dan konsekuensinya adalah butuh waktu untuk refund uang yg sudah dikeluarkan dan cari tiket lainnya.
4. Bagi yang akan kembali ke Jepang (re-entry) harap mengajukan semacam surat rekomendasi (lupa namanya apa, nanti diedit klo inget 😁) dari perusahaan tempat bekerjanya. Ini dilakukan paling tidak 2 Minggu sebelum keberangkatan.
5. Setelah tiket didapat, selanjutnya adalah rencanakan tes PCR. Satu-satunya tes yg memiliki akurasi terbaik adalah tipe molecular test (bukan serology ataupun rapid antigen test), entah itu metodenya nucleic acid amplification menggunakan Saliva atau yang lainnya seperti RT-PCR. Informasi lebih lengkap tentang klasifikasi tes covid dapat dibaca di sini. Yang perlu diperhatikan dari tes ini selain metodenya adalah harga dan timingnya. Ingat sertifikat tes berlaku maksimal 7 hari sejak tes dilaksanakan (untuk masuk Indonesia). Maka perlu mengatur waktu tes dan lama waktu dikeluarkannya sertifikat. Adapun harga cukup variatif dalam rentang 12.000 – 40.000 Yen (1.7 s.d 6 jutaan rupiah). Saya ambil yg harga termurah yaitu 12.000 Yen di rumah sakit Kurate dg metode nucleic acid amplification test dari Saliva (air liur). Kita cukup diminta untuk mengumpulkan ludah sebanyak 2 ml untuk keperluan tes tsb dan hasilnya keluar dalam waktu 3-5 jam.

Langkah 2️⃣: selama perjalanan

1. Jangan lupa passport, tiket penerbangan, sertifikat tes PCR, dompet, dan alat tulis. Sediakan satu set pakaian ganti untuk nanti saat tiba di bandara tujuan.
2. Sedia masker, hand sanitizer, body temperature, dan sajadah. Karena pengalaman transit di Incheon kemarin, prayer room (기도실) ditutup untuk mencegah penyebaran virus Corona, kata bagian informasinya begitu.
3. Sediakan makanan atau cemilan yg cukup. Di bandara tempat transit ataupun bandara asal keberangkatan, banyak restoran yg ditutup sementara selama masa ini, termasuk restoran yg muslim friendly. Sedangkan makanan di pesawat belum tentu halal, bagi maskapai-maskapai tertentu.
4. Petugas counter akan menanyakan dokumen sertifikat tes PCR saat kita check-in atau drop baggage (bagi yg online check-in).
5. Sesaat setelah check-in atau drop baggage (bagi yg online check-in), petugas di counter akan mengingatkan bahwa nanti kita akan melawati sensor suhu badan, dan kalau suhu badan kita lebih dari 37.8, maka kita dilarang untuk boarding.
6. Selalu jaga 3 protokol: protokol keimanan, kesehatan, dan kebugaran. Protokol keimanan bisa sambil tilawah di pesawat, banyak dzikir, jaga wudhu, dll. Protokol kesehatan dg pakai masker, cuci tangan dg sabun atau dg hand sanitizer, dan jaga jarak aman. Protokol kebugaran dg melakukan stretching ringan ketika penerbangan. Pengalaman kemarin sebelum mendarat menggunakan pesawat as***a, tepat sebelum mendarat ada instruksi untuk melakukan gerakan stretching ringan di tempat duduk yg instruksinya disiarkan di monitor pesawat.

Gelar sajadah di Incheon international airport karena prayer room ditutup sementara untuk mencegah penyebaran virus.

Langkah 3️⃣: tiba di tanah air

Sedikit saya berikan gambaran saat tiba di bandara Soekarno-Hatta:
1. Sebelum landing, pastikan telah menulis lembar kesehatan yg diedarkan oleh pramugari di dalam pesawat.
2. Begitu keluar pesawat, semua akan digiring menuju ke sebuah lokasi dimana di situ wajib mengisi klirens kesehatan (health clearance). Siapkan sertifikat tes PCR. Jika tidak memiliki sertifikat PCR, maka ada dokumen tambahan yang harus diisi: surat penyataan karantina.
3. Setelah mengisi, kita menuju loket pertama yg dilengkapi dg sensor temperatur. Di loket pertama ini akan dicek hasil tes PCR, saturasi oksigen, suhu badan, dan detak jantung. Siapkan juga passport.
4. Setelah itu, kita akan menuju loket kedua untuk validasi dokumen. Intinya di loket ini dokumen yg kita bawa tadi dari loket pertama, distempel “valid” dan diberi “surat jalan”. Udah gitu aja intinya.
5. Sebelum masuk ke loket ketiga, yaitu loket imigrasi, ada anggota TNI yg berjaga dan memeriksa dokumen. Ini hanya formalitas aja sih.
6. Di loket imigrasi, prosedur standar seperti biasa.
7. Baggage claim, ambil bagasi. Jangan lupa jaga jarak. Setelah ini masih ada 2 pos lagi yg dijaga TNI. Saya ga ngerti maksudnya apa. Yang mereka lakukan hanya cek dokumen tadi. Lagi-lagi ini formalitas dan menurut saya ga penting.
8. Pos terakhir adalah penyerahan dokumen kepabeanan kepada petugas.
9. Hal yg pertama kali harus dilakukan setelah keluar adalah cari toilet dan ganti baju. Tujuannya adalah meminimalisir dampak perjalanan jauh. Apalagi diberitakan sebelumnya bahwa virus ini mampu bertahan di udara dan di pakaian. Jadi sebaiknya ganti pakaian. Kalau belum sholat, ya setelah itu cari mushola untuk sholat.
10. Setelah itu kita diminta karantina mandiri selama 14 hari. Jika tidak sabar untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari, maka sebaiknya ambil tes swab lagi untuk memastikan bahwa selama perjalanan kemarin kita tidak terinfeksi virus.

Mengisi lembar health clearance (klirens kesehatan). Jika tidak memiliki sertifikat tes PCR, maka harus mengisi dokumen pernyataan karantina.
Loket pertama dilengkapi dengan thermal scanner. Antre untuk pemeriksaan dokumen PCR, saturasi oksigen, suhu tubuh dan detak jantung.
Loket kedua untuk validasi dokumen dan rilis surat jalan.
Langkah terakhir, ganti pakaian di bandara.

Kalau harus melanjutkan penerbangan domestik menuju daerah lain di Indonesia, maka sediakan waktu transit (saat membeli tiket pada langkah 1) paling tidak 2 jam. Karena perpindahan dari terminal internasional ke domestik dengan melalui prosedur seperti di atas tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Oleh karenanya, sebaiknya sediakan waktu transit di bandara Soekarno-Hatta sekurang-kurangnya 2 jam.

Kira-kira seperti itu pengalaman saya kemarin. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s