Episode kehidupan (spesial): berawal dari Skype, berakhir di pelaminan

love
Salah satu sudut taman di Everland, Yongin, Korea Selatan

Tulisan kali ini menceritakan salah satu episode terpenting dalam hidup. Dituliskan di sini untuk mengingat kembali sebuah janji yang dulu terucap, akankah janji tersebut terus terjaga dengan baik atau tidak. Janji untuk saling bekerja sama dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menggapai surganya kelak. Buat pembaca juga insyaAllah ada manfaatnya. Apa itu? bagi pembaca yang masih jomblo, dengan membaca ini semoga semakin termotivasi dan punya gambaran untuk pernikahannya yang efektif dan efisien serta anti-mainstream walaupun sedang di luar negeri. Kalo jomblonya di dalam negeri bagaimana? Sama aja. Intinya bagaimana menghadirkan nuansa romansa yang efektif, efisien, dan anti-mainstream tapi tetap syar’i pada salah satu episode spesial dari kehidupan kita. Dan satu lagi, tulisan ini sudah dapat izin dari istri dan lulus sensor. 😀

***

Continue reading Episode kehidupan (spesial): berawal dari Skype, berakhir di pelaminan

Menikah di luar negeri? Mungkinkah?

nikah di luar negeri
Pernikahan campur (mix-married) WNI dan WNK pada sekitar tahun 2013

Pertanyaan ini mungkin menghinggapi hampir semua jomblo yang akan berkelana ke luar negeri baik dalam rangka studi maupun bekerja. Dan pertanyaan itupun tidak berhenti hanya sampai di situ, tetapi juga memunculkan berbagai pertanyaan lainnya seperti berapa estimasi biaya, bagaimana teknisnya, dan lain-lain. Namun, tulisan kali ini tidak membahas cara mencari jodohnya apalagi mencari jodoh di luar negeri baik itu sesama WNI atau dengan WNA, melainkan hanya terbatas pada seputar pernikahan  WNI di luar negeri, seperti teknis dan perkiraan biaya dan termasuk di dalamnya mungkin panduan syariat mengenai nikah secara online (atau selanjutnya saya singkat dengan nikah online atau nikah jarak jauh). Dan saya menuliskan ini berdasarkan apa yang pernah saya saksikan (bukan saya alami, karena saya menikah di Indonesia) terhadap pernikahan WNI di dua negara, Korea Selatan dan Jepang.

Continue reading Menikah di luar negeri? Mungkinkah?

Menjadi peneliti di sebuah perusahaan di Korea Selatan

SFC office yongin
Meja kerja saya sewaktu bekerja di SFC co.ltd, Yongin, Korea Selatan

Tulisan ini kelanjutan seri kehidupan di Korea Selatan. Setelah sebelumnya saya tuliskan hasil penelitian selama menempuh pendidikan jenjang magister di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), maka pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang apa yang saya lakukan selepas lulus dari sana.

Continue reading Menjadi peneliti di sebuah perusahaan di Korea Selatan

Dua Setengah Tahun di HUFS

HUFS
Salah satu gedung HUFS kampus Yongin

Sebenarnya saya tinggal di Korea selama kurang lebih 5.5 tahun (12 Agustus 2009 – 17 Januari 2015) di Kota Yongin, sebuah kota kecil di pinggiran Kota Seoul. Pada awal kedatangan saya ke Korea adalah sebagai mahasiswa S2 di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). Saya selesaikan S2 dalam waktu 2 tahun. Setelah itu, terbetik niat untuk melanjutkan S3 di tempat yang sama, sehingga saya sempat melanjutkan S3 di sana. Pada saat itu sebenarnya niat S3 belum terlalu kuat karena ada keinginan untuk bekerja juga. Akhirnya saya memilih untuk berhenti S3 setelah 1 semester berjalan karena alhamdulillah diterima bekerja di salah satu perusahaan di Korea.

Continue reading Dua Setengah Tahun di HUFS

Rihlah ke Jebu-do (제부도)

Tulisan kali ini merupakan selingan dari 2 tulisan saya sebelumnya yang mencoba membahas mengenai teknologi display yang saat ini merupakan bidang yang sedang saya tekuni. Kebetulan beberapa hari ini saya mendapatkan jatah libur cukup panjang karena perayaan Chuseok (추석), 29 September – 1 Oktober 2012, yang kemudian bertemu dengan hari libur nasional (개천절), 3 Oktober 2012. Jadilah hari selasa dianggap libur dan dapat kesempatan untuk jaln-jalan. Terlebih jika jalan-jalannya tidak sendiri (berjama’ah), maka tentu akan lebih seru. 😀 Selain itu, tulisan ini juga ditujukan untuk mengambil nilai-nilai positif dan kemudian (berharap) bisa diterapkan di negeri sendiri. Jadi tulisan ini tidak bermaksud mempromosikan daerah wisata Korea Selatan, tapi lebih kepada mengambil sisi-sisi positif/belajar dari mereka.

Continue reading Rihlah ke Jebu-do (제부도)