Menjadi merdeka

Dirgahayu Indonesia ke 75

Memperingati kemerdekaan Indonesia yang ke-75 tahun 2020 ini, saya ingin menuliskan sebuah kisah yang agung mengenai kepemimpinan dalam konteks penegakan hukum yang melibatkan kekuasaan. Kisah ini mengambil setting waktu saat kepemimpinan Khalifah Rasyidah ke-2, yaitu Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Kisah ini dapat dijumpai di dalam kitab Tafsir Al-Manaar, karangan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha.

Continue reading “Menjadi merdeka”

Catatan penjelajahan Eropa (Bagian 5): Bahasa

2019-09-14-22-27-551335496941783775533.jpg
Tempeh = Tempe

Dalam penjelajaha Eropa, terutama ke negeri kincir angin (Belanda), dan tinggal di sana selama kurang lebih 20 hari, ada beberapa hal yang menarik menjadi sebuah sarana perenungan dan pembelajaran. Terutama saat saya berbelanja di sebuah supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan untuk keperluan makan sehari-hari. Saya hampir tidak menemukan penghalang dalam bahasa, karena ternyata beberapa nama produk diantaranya dapat dengan mudah dibaca walaupun itu menggunakan ejaan lama yang belum disempurnakan.

Continue reading Catatan penjelajahan Eropa (Bagian 5): Bahasa

Catatan kemerdekaan ke-74: Pengakuan dunia Internasional atas kemerdekaan dan berdirinya negara Indonesia

Proklamasi (sumber: google)

Sebagaimana yang kita ketahui, Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia (de facto) pada 17 Agustus 1945. Tetapi, dalam hukum internasional, syarat berdirinya suatu negara tidak cukup secara de facto, tetapi perlu adanya pengakuan dari negara-negara lain (de jure).

Pada point ini, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc., diplomasi luar negeri kita tertolong oleh negara Palestina dan Mesir.

Buku berjudul “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” karya M. Zein Hassan Lc 

Dukungan Palestina diwakili oleh mufti besar Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini yg secara terbuka mengucapkan selamat untuk Indonesia pada 6 September 1944 melaui radio Berlin yg disiarkan selama 2 hari berturut-turut. Dukungan ini sudah dimulai setahun sebelum proklamasi. Bentuk dukungan lainnya adalah berasal dari salah seorang saudagar Palestina pada saat itu yang bernama Muhammad Ali Taher, secara spontan menyerahkan kekayaannya melalui bank Arabia kepada Indonesia untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Rakyat Palestina pun melakukan gelombang demonstrasi besar untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Selain Palestina, negara lain yang juga memberikan dukungan atas kemerdekaan bangsa Indonesia adalah Mesir. Ketika terjadi peristiwa 10 November 1945 yg menewaskan ribuan penduduk Surabaya, rakyat Mesir melakukan sholat ghaib secara serentak di lapangan-lapangan terbuka Mesir. Pada kesempatan lainnya, ketika terjadi agresi militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus, ribuan rakyat Mesir dan buruh pelabuhan, di Port Said, berkumpul di pelabuhan, melakukan blokade terhadap kapal asing yg akan menuju Indonesia. Dan yang paling mencolok pada saat itu ribuan rakyat Mesir menggunakan kapal-kapal boat dengan mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda cinta rakyat Mesir & dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Terharu. 😢

Jadi, kalau kita saat ini ikut mendukung kemerdekaan Palestina & stabilnya Mesir, adalah suatu kewajaran. Karena mereka pernah melakukan hal yang sama, mendukung penuh kemerdekaan Indonesia.

Semoga kemerdekaan Palestina pun segera tercipta. Mesir segera stabil. Indonesia betul-betul merdeka. Tak ada lagi penjajahan dalam bentuk apapun di dunia sesuai amanat undang-undang dasar 1945.

Happy Independence Day of Indonesia.
Semoga makin cinta tanah air

🇮🇩7⃣4⃣🇮🇩

Baca juga Catatan kemerdekaan ke-73